Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 57



Cliff memutar-mutar tombak di tangannya lalu ia menghantamkannya ke tanah.


Alice melirik tombak itu dengan seksama. ia merasakan sesuatu yang berbeda darinya, tidak hanya tekanan auranya tapi ada sesuatu dalam dirinya yang berkata bahwa senjata itu sangatlah berbahaya.


Lilia sendiri masih memikirkan tentang tombak yang terasa familiar itu. Ia terus menelusuri ingatannya dan akhirnya ia tahu jenis tombak apa yang Cliff pegang saat ini.


"Gungnir.. Senjata itu..." Lilia terkejut, ia kehabisan kata-kata saat mengetahui sejarah tentang senjata itu. Walau itu hanyalah mitos legenda dari kehidupan ribuan tahun silam tapi ia tak menyangka kalau Gungnir benar-benar ada dan hadir di hadapannya.


Tombak Gungnir sebenarnya adalah salah satu dari sekian banyaknya senjata legenda milik pahlawan pertama di Aria. Dalam legenda penduduk setempat, Gungnir merupakan tombak yang digunakan pahlawan saat melawan Raja Iblis. Konon senjata itu mampu menembus kedelapan kepala hydra dan membuatnya kehilangan kemampuannya untuk beregenerasi.


Hydra sendiri adalah monster raksasa yang hampir mirip seekor ular dan memiliki sembilan kepala. Kala itu, setelah Sang Pahlawan menghabisi kedelapan Kepala hydra, ia menyisakan satu kepalanya dan menyegelnya di sebuah tempat bersama dengan tombak itu. Tubuh hydra yang dikenal abadi dan memiliki kemampuan regenerasi luar biasa akhirnya tertahan oleh kekuatan tombak itu. Begitulah cerita dari buku dan masyarakat yang ada di wilayah utara.


Kembali ke pertarungan Alice. Cliff tiba-tiba menghilang dari tempatnya, dalam sekejap ia telah berada di udara di atas kepala Alice. Dengan sekuat tenaga, Cliff mengarahkan ujung tombaknya ke bawah dan ingin menghantam Alice. Alice segera melompat mundur cukup jauh. Daya ledak tombak itu tidak main-main kuatnya.


Cliff sekali lagi bergerak sangat cepat dan telah berdiri di belakang Alice, seolah ia bergerak layaknya cahaya. Tapi, untuk kedua kalinya serangannya gagal. Seolah Alice bisa melihat masa depan, ia menangkis serangan Cliff yang mengarah ke punggungnya dengan pedangnya tanpa melihat kebelakang.


Alice memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah leher Cliff. Cliff mengelak, ia lalu mengayunkan tombaknya dari atas, Alice menahannya. mereka terus bertarung dengan sangat intens.


Suara pedang dan tombak yang saling beradu begitu nyaring berbunyi di ruangan itu, bahkan ledakan udara dari hantaman keduanya membuat Lilia berpikir dua kali jika seandainya ia harus masuk ke sana.


Keduanya lalu beradu kekuatan, senjata itu saling menggesek dan mereka saling mendorong. Alice dan Cliff saling menatap dengan rasa ingin menjatuhkan lawannya.


"Aku tidak menyangka gadis muda seperti mu bisa menahan tombak dewa ini." Ucap Cliff tampak tenang.


Alice tersenyum sinis "Dan aku tidak menyangka tubuh kurus lemah mu itu ternyata jauh lebih kuat dari yang kuduga."


Cliff tersinggung, urat nadi di pelipisnya menegang. Ia merasa tubuhnya normal, tidak kurus tidak gemuk. Sifatnya yang egois dan keras kepala membuat ia merasa lebih baik dari orang lain hingga akhirnya ia sangat tidak menerima ketika seseorang mengkritiknya apalagi tentang penampilannya yang cukup ia banggakan.


Keduanya saling mendorong dengan kuat dan terlempar kebelakang, kaki mereka terseret di atas lantai. Hanya butuh beberapa detik saja, mereka kembali melompat maju dan saling menyerang.


Mata Lilia tidak bisa mengikuti gerakan mereka, pertarungan mereka berada jauh di atas levelnya. Lilia Menggenggam erat tangannya, bagaimanapun ia harus memberi tahu Alice tentang tombak itu. Lilia berteriak dari tempatnya. "Alice! Tombak Gungnir itu adalah senjata yang memiliki kesadarannya sendiri."


Alice menoleh ke arah Lilia, ia lalu meninggalkan bayangannya di hadapan Cliff dan berdiri di samping Lilia. "Gungnir? Senjata yang memiliki kesadaran?"


Lilia tanpa menoleh dan tak melepaskan matanya dari Cliff menjawab Alice. "Aku tidak yakin apakah itu sungguh Gungnir yang asli atau hanya replika saja tapi, kekuatan suci yang tombak itu pancarkan sangatlah kuat. Menurut legenda, Gungnir tersegel di suatu tempat dan hanya seseorang yang terpilih yang bisa memakainya. Aku tidak percaya kalau Cliff memiliki kualifikasi itu." Lilia menolehkan kepalanya dan melihat Alice sedikit khawatir. "Kalau memang tombak itu adalah replika dan berhasil menyalin kekuatan dari tombak yang asli. Aku yakin pasti ada batasan dalam menggunakannya. Bagaimanapun, Gungnir ada senjata yang memiliki kesadarannya sendiri dan ia telah memilih tuannya yaitu Sang Pahlawan ribuan tahun yang lalu."


Lilia berbalik dan meletakkan kedua tangannya di atas pundak Alice. "Aku percaya kamu pasti bisa mengalahkan Cliff tapi, tolong berhati-hati lah." Ucapnya sambil ia memejamkan matanya.


Kedua gadis itu menoleh saat mendengar Cliff, mereka lalu kembali saling menatap. "Selama ada Lilia yang membantuku, aku pasti akan baik-baik saja." Balas Alice tersenyum memperlihatkan sedikit giginya.


Alice berbalik, ia berjalan ke arah Cliff sambil menyarungkan pedangnya. "Kali ini aku tidak akan segan." Gumamnya.


Alice berhenti, ia mengambil pedangnya dan ia letakkan di depan dadanya, posisi yang sama saat ia melawan kedua iblis itu.


[Blossom! One Thousand Plum Petals First Form]


Tekanan Qi yang dahsyat meledak dari dirinya ke seluruh ruangan itu. Kelopak-kelopak bunga yang indah berwarna merah muda memenuhi tempat itu. Cliff terkejut, ia heran dengan sihir yang Alice gunakan. Sihir jenis apa ini? Cliff melirik ke sekelilingnya, ia telah terkepung oleh ribuan kelopak bunga itu. Cliff menggenggam tombaknya semakin kuat dan bersiaga.


Sementara itu Lilia tercengang, ia takjub dengan keindahan yang ada di depan matanya. Wah..., Mulutnya terbuka dan tertutup lagi saat ia melihat sosok Alice berdiri di depannya. Begitu tenang.


"Gadis manja yang selalu membuat masalah itu akhirnya tumbuh dewasa juga." Batinnya, Lilia tersenyum lirih, ia senang melihat Alice yang sekarang ini tapi ia khawatir kalau kelak, sosok Alice yang ia anggap seperti adik sendiri tiba-tiba hilang dan menjauh darinya. Bukan karena rasa benci atau sebagainya, Lilia merasa kalau Alice yang saat ini sangatlah dewasa malah, karena sifat itu Lilia tidak ingin Alice menanggung tanggung jawab yang berat karena kekuatannya.


Setelah mengukur kemampuan dan daya tempur lawannya. Akhirnya Alice mulai lebih serius. Alice melihat Cliff dengan tatapan tajam.


Bulu kuduk Cliff berdiri sejenak. " Tadi itu...apa?" Batinnya.


[ Plum Blossom Sword Technique, Eighth Style Petals Dance ]


Alice yang lenyap dari tempatnya membuat Cliff semakin waspada. Telinganya seperti mencari keberadaan Alice namun nihil, bahkan insting nya tidak bisa merasakan dimana posisi Alice saat ini. Dan tiba-tiba saja sesuatu menggores pipinya. "Ugh" Cliff mengelus lukanya dan melihat darah yang ada di tangannya. Matanya tidak percaya kalau ia terluka.


Sekali lagi, serangan Alice datang dengan tiba-tiba. Cliff menghindar dengan melompat kebelakang, ia kaget saat melihat lantai tempatnya berdiri tergores oleh sesuatu.


[ Plum Blossom Sword Technique, Seventh Style 21 Combo Shadow Sword ]


Kali ini Alice muncul di hadapannya. Melihat Alice yang membungkuk dan meletakkan kedua tangannya di sarung dan gagang pedangnya, Cliff tahu kalau Alice akan menebasnya. Cliff menahan tebasan pertama Alice tapi ia tersentak. Ia tidak menyangka tenaganya begitu kuat dan "Apa-apaan itu? Jelas aku melihatnya menebasku sekali tapi aku merasa ia mengayunkan pedangnya dua kali."


Tak ada waktu untuk berpikir lebih lama, Alice kembali menyerangnya. Cliff terpojok. Ia tidak bisa mengetahui teknik yang Alice gunakan.


Saat serangan pertama tadi, ia merasakan menangkis dua ayunan pedang dan saat serangan kedua datang, ia merasakan menangkis tiga ayunan pedang. Cliff mendecihkan lidahnya kesal, ia tak ingin terus-menerus bertahan. Cliff lalu menusuk Alice tapi sayangnya, ia terkecoh karena apa yang ia serang hanyalah sebuah bayangan yang terbuat dari kelopak bunga.


21 Combo Shadow Sword milik Alice belum selesai. Alice lagi-lagi muncul dari arah yang tak terduga dan menyerang Cliff secara beruntun.