
Sulit bagi Ernard untuk percaya kalau gadis kecil itulah yang melawan dan menghabisi para monster yang menyerang kediamannya. Dan ia lebih tidak percaya lagi ketika Liana mengatakan bahwa gadis kecil itu adalah putri dari Alicia Lein Strongfort.
Ketika mengetahui kalau salah satu putri kesayangannya telah memiliki anak, kepalanya seketika mendidih. Ia merasa kalau seseorang di luar sana yang dia tidak tahu telah merebut putrinya tanpa ia sadari.
"Sayang, tenanglah. Kita belum mendengarkan penjelasan anak itu. Lagipula Alice tidak mungkin memiliki anak yang sudah berusia sepertinya." Ucap Liana dengan suara pelan.
"Baiklah, aku mengerti." Ernard menghela nafasnya.
Echidna makan dengan begitu nikmatnya. Ia terlihat menggemaskan di hadapan mereka. Apalagi saat makanan yang ada di mulut kecilnya itu belum habis dan dia tetap memasukkan makanannya lagi. Pipinya menggembung seperti mamalia kecil yang membuatnya terlihat lucu dan imut.
Di sampingnya, Iris berdiri dengan mata gemas ingin mencubit pipi mulus yang kenyal itu. Dia sudah sedikit lupa bagaimana rupa kakaknya saat masih kecil tapi makhluk kecil yang ada di hadapannya itu terlihat seperti sebuah boneka hidup.
Echidna memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Sudah lama sejak ia merasakan makanan yang begitu enak. Liana datang ke sisinya dan menyeka mulutnya yang berantakan karena noda makanan.
"Terimakasih nenek." Liana tersenyum saat mendengar suara lembut nan hangat itu.
"Dia benar-benar mirip dengan Alice waktu masih kecil. Aku tidak tahu apa terjadi, tapi bagaimana mungkin putri ku melakukan hal memalukan seperti itu." Dilema batin Ernard serasa ia ingin berteriak.
Sekalipun putrinya pernah mengecewakan dirinya dan menjadi seorang wanita yang kurang beretika, tapi dia yakin kalau Alice tidak mungkin sampai melakukan hal yang di luar moral. Apalagi mengingat perubahan sifat Alice yang seratus delapan puluh derajat berbeda, jelas hal ini menambah yakin dirinya.
"Tapi... bagaimana kalau hal itu memang benar." Ernard menggelengkan kepalanya. Pikirannya masih kalang kabut karena gelisah.
Ernard berdeham. Echidna telah selesai makan dan saat ia mengangkat kepalanya, ia melihat Ernard duduk di depannya. Dia memiringkan kepalanya lalu berkata.
"Hmm...kakek?"
Serangan mendadak dari wajah kecil Echidna mengenai hatinya. Gadis lugu itu memandangnya langsung dengan dengan tatapan polos.
"Tidak. Fokus. Aku harus menanyakan kebenarannya dulu." Benak Ernard.
"Apa benar Alicia Lein Strongfort adalah ibumu" Tanya Ernard tanpa basa-basi.
Echidna mengangguk. "Siapa ayahmu?" Lanjut Ernard bertanya.
Echidna menggelengkan kepalanya membuat kedua mata Ernard terbelalak dan Liana menahan nafasnya karena kaget.
Mereka mengira kalau gadis kecil itu begitu kasihan karena tidak mengetahui siapa ayahnya.
"Apakah dia anak adopsi? Tapi dia begitu mirip dengan Alice?" Batin Ernard masih berkecamuk.
"Baiklah. Kalau begitu, kapan dan bagaimana kau lahir? Apakah kau sungguh anak kandung dari putriku?"
Echidna menggelengkan kepalanya. Membuat ketiga orang itu heran.
Sebenarnya Echidna tidak tahu harus menjawabnya seperti apa. Secara, menurut dari apa yang ia ketahui, dirinya dan Alice memiliki keterpautan darah. Dia yakin saat ingatannya telah kembali dan meneliti tentang apa yang membuat wujudnya berubah saat terlepas dari dalam segel itu.
Samar-samar dalam ingatannya saat dia masih terbelenggu dalam segel milik pahlawan. Kala itu, ia hanya mengingat kalau ada seseorang yang mengulurkan tangan padanya. Dalam keadaan kaki dan tangan terbelenggu, Echidna merasakan tangan orang itu begitu hangat menyentuh kulitnya.
Ketika ia terpuruk dalam rasa benci dan dendam yang dalam, tangan dari orang itu membelai lembut kepalanya lalu melepaskan rantai yang membelenggunya begitu mudah seperti menarik sebuah tali.
Saat tangan orang itu membawanya melewati setitik cahaya yang menyilaukan. Echidna telah terbangun dan melihat Alice yang terbaring tak berdaya di tanah.
"Wanita ini...." Echidna mencium bau yang familier, ia juga merasakan getaran dalam hatinya saat melihat Alice. Ketika ia mendekatinya, kehangatan tubuh Alice saat ia menyentuh lengannya membuatnya terasa nyaman. Saat itulah dia mulai menyukai Alice dan menempel padanya.
Setelah kejadian itu, Echidna sesekali terbayang akan ingatan masa lalunya tapi dia takut. Dia takut karena ingatan itu terasa mengerikan baginya dan ia lebih takut ketika ingatan itu kembali, dia akan kehilangan dirinya sebagai putri dari Alicia Lein Strongfort. Keberadaannya menolak ingatan itu untuk muncul ke permukaan.
Echidna kerap kali meneliti aliran Mana dalam dirinya. Ia merasakan energi aneh seperti menekan ingatan mengerikan itu. Echidna selalu dirundung perasaan was-was. Tapi kelembutan dan rasa hangat dari energi itu sesekali membantunya untuk tenang. Hingga pada suatu waktu, seseorang berusaha menarik keluar sosok yang tersembunyi di balik ingatan mengerikan itu.
Echidna dipaksa mundur. Apalah daya ketika si pemilik tubuh datang, ia hanya bisa berharap semoga dirinya yang dikemudian hari tidak melakukan sesuatu yang membuatnya menyesal seumur hidup.
Palsu! Penyesalan itu nyata dan datang ke sisinya.
Dia sudah kehilangan cahaya hidupnya.
Kenapa? Kenapa kau begitu bodoh?! Kenapa kau begitu lama menyadarinya?! Apa gunanya dunia ini tanpa dia?!
Echidna mengutuk dirinya dengan lantang ketika ia melihat Alice terbujur kaku di atas pangkuannya.
"Semuanya sudah menjadi masa lalu..." Ucap Echidna dalam benaknya.
"Aku tidak bisa menjelaskan. Ini sedikit rumit." Jawabnya Echidna. Ia kemudian teringat kalau ia membawa sesuatu yang diberikan oleh mamanya.
Dia merogoh tas kecil miliknya dan mengeluarkan beberapa buah kristal ungu.
"Bagaimana kalau kakek tanya langsung sama mama."
"Maksudmu? Kita menggunakan benda ini?" Ernard menunjuk batu kristal itu.
Echidna mengangguk. "Ini adalah sejenis alat komunikasi dari Tanah Ras Elf. Benda ini telah ditulis dengan formulasi sihir khusus. Jadi, cukup salurkan mana dan bayangkan orang yang ingin kita hubungi, maka dia akan memantulkan wujud orang itu. Mama juga memiliki kristal seperti ini. Jadi saat kita terhubung dengannya kristal yang ada di tangannya pasti akan menyala." Terang Echidna.
"Oh, ini cuma sekali pakai. Jadi mama memberiku tiga buah. Katanya benda ini cukup mahal dan uangnya tidak cukup untuk membeli banyak."
Ernard, Liana dan Iris, wajah ketiganya menjadi lebih cerah. Apakah benar mereka bisa melihat putri mereka lagi?
Iris dengan antusias berkata. "Kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo cepat hubungi kakak."
"Baik. Letakkan tangan kalian di atas kristal ini lalu salurkan Mana kalian dan pikiran orang yang paling ingin kalian temui."
Alice.... Alice.... Alice....Kakak..... Putriku.... Putri kesayangan ku....
Kristal ungu itu tiba-tiba bersinar terang dan semakin terang. Sebuah layar persegi muncul di atas kristal itu di hadapan mereka.
"Uh...Elysia. Apakah sudah benar seperti ini?"
Suara seorang wanita terdengar dari kristal itu.
Gambar buram itu perlahan semakin jelas dan punggung kecil dari sosok seorang gadis terlihat di depan mereka hampir memenuhi layar itu.
Sebuah taman hijau dengan beberapa bunga indah berwarna-warni yang menghiasi di sekitarnya. Gadis muda yang cantik jelita itu duduk di sebuah kursi tepat di tengah layar.
"Bagaimana Ely? Apakah sudah bagus? Ini pertama kalinya aku menggunakan benda ini. Uhh, setelah sekian lama aku sedikit canggung untuk bertemu keluarga ku."
Sosok gadis muda berambut kuning keemasan dengan sikap malu-malunya terlihat di layar itu sedang merapikan rambut dan pakaiannya.
Air mata bahagia membasahi pipi Liana. Dia ingin tertawa melihat tingkah lucu putrinya yang canggung, tapi rasa rindu dan bahagia serta sedih bercampur aduk di dalam dadanya.
Liana menutup mulutnya sambil meneteskan air mata. Alice benar-benar masih hidup.
Ernard tersenyum lega setelah mendengar suara yang sudah lama ia rindukan dan wajah yang selalu ada dalam benaknya itu.
Iris menyeka air mata di sudut matanya. "Apa ku bilang, kakak ku pasti masih hidup." Benaknya.
Ketika orang-orang yakin kalau Alice telah mati, hanya dia, hanya dia seorang yang memegang janji ketika mereka berpisah kala itu. Alice telah berjanji padanya bahwa dia akan kembali pulang suatu hari nanti dan Iris percaya kalau kakaknya pasti masih hidup dan akan kembali.
"Bagaimana Ely, apakah sudah di mulai?"
Seorang gadis dengan telinga runcing memanjang terlihat di dalam layar. Dia jongkok di depan Alice, tampaknya dia sedang membantu Alice merapikan rambut dan pakaiannya.
Gadis berambut perak itu tidak kalah jauh cantiknya dari Alice. Wajahnya begitu berseri dengan kulit mulus dan rambut indah mempesona yang tergerai panjang hingga ke pinggangnya.
Gadis itu memeluk Alice dengan erat. "Nah sudah selesai." Ucapnya sambil mengangkat jempolnya. "Sekarang ibu terlihat jauh lebih cantik."