Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 117



Saat raganya lelah dan ingin kembali ke kamarnya, Zhou Yun tak sengaja mendengar pembicaraan Sang Raja dengan Kepala Kuil. Mereka berbisik dalam sebuah pelindung kedap suara. Tapi dengan kemampuannya, Zhou Yun masih mampu mendengar apa yang mereka katakan.


"Kedua orang itu tampak mencurigakan" Pikir Zhou Yun.


"Dengan Mana Heart ini, akhirnya tujuan kita untuk menguasai dunia sudah di depan mata. Kali ini, ras manusia lah yang akan berdiri di puncak dan para makhluk kotor dan rendahan itu akan menjadi budak selamanya." Sang Raja menyeringai lalu tertawa.


Kepala kuil mengangguk. "Anda benar Yang Mulia. Setelah ratusan tahun lamanya, akhirnya kita bisa berdiri di atas dunia. Bahkan dengan Mana Heart ini, kerajaan ini akan menjadi tak terkalahkan."


"Pahlawan naif. Walaupun kuat tapi dia begitu bodoh. Apanya yang keselamatan Aria?" Sang Raja terkekeh bersama dengan kepala Kuil.


Zhou Yun telah membuat kesalahan besar. Amarahnya seketika memuncak.


Pedang Zhou Yun bersinar. Dalam sekejap mata sebuah tebasan menghancurkan sisi dinding dan memotong satu tangan Sang Raja. Zhou Yun bergerak secepat kilat. Ia mengambil Mana Heart itu lalu berdiri di hadapan keduanya.


"Dua ular berbisa yang tidak pernah puas dan tenggelam dalam ketamakan."


Sang Raja meringis kesakitan. Ia menahan lengannya yang bercucuran darah. "Keparat!" Umpatnya. Raja lalu berteriak "Penjaga! Penjaga! Tangkap dan penjarakan pengkhianat ini!" Sambil ia menunjuk Zhou Yun.


Para penjaga dengan zirah besi dan tombak berkumpul mengelilingi Zhou Yun. Mereka semua adalah kesatria pilihan yang bertugas untuk melindungi Sang Raja saat dalam keadaan genting. Mereka kuat, tapi sayang nya tidak di mata Zhou Yun.


"Pahlawan berusaha membunuh Sang Raja. Dia sudah gila. Mungkinkah ini karena kutukan Raja Iblis?" Kata Kepala kuil.


Membuat cerita bohong sehingga mengalihkan opini para ksatria terhadap Sang Pahlawan. Mereka yang awalnya sedikit ragu, akhirnya yakin setelah mendengar perkataan palsu dari orang yang dikenal dekat dengan sosok Sang Dewi.


Zhou Yun lalu ditodong dengan kumpulan tombak. Kedua orang itu menyeringai dengan puas.


Mereka tidak mengira kalau rencana mereka akhirnya akan ketahuan tapi dengan kelicikannya, mereka berhasil memperdaya semua orang.


Zhou Yun melepaskan energi Mana yang kuat hingga menghempaskan para kesatria yang mengerumuninya.


Ia berbalik menatap si kepala kuil. "Kematian terlalu ringan bagimu." Zhou Yun lalu menarik pedangnya kebelakang, dengan sekali ayunan ke empat anggota tubuh si kepala kuil terpisah dari badannya. Zhou Yun menggunakan sihir es untuk menghentikan pendarahan itu agar si kepala kuil tidak mati kehabisan darah.


"Bersyukurlah karena aku tidak pandai dalam menggunakan Black magic. Jika aku bisa, akan ku buat kau lebih menderita dari ini."


Sang Raja terjatuh karena ketakutan melihat rekannya yang kehilangan kedua tangan dan kakinya. "T-tidak. Ini salahku. Jangan mendekat! K-kau tahu, dia lah yang mengusulkan semuanya. Ya. Dia memperdayai ku. Aku hanya---"


Menggelikan. Menjijikkan.


Zhou Yun tidak ingin lagi mendengar ocehan orang tua konyol itu. Dia langsung menancapkan pedangnya di atas tangan Sang Raja.


"Gaaaaahhh! " Raja berteriak kesakitan.


Kemudian Zhou Yun memadatkan sedikit Mana nya lalu membentuknya menjadi sebuah jarum. Kemampuannya dari kehidupan pertamanya belum tumpul. Ia mengunci beberapa titik saraf Sang Raja dengan jarum-jarum itu.


"A-A-" Raja terbelalak. Apa yang terjadi pada dirinya? Lidahnya keluh begitu juga seluruh tubuhnya menjadi kaku.


"Hiduplah dalam kesengsaraan hingga ajal mu datang." Zhou Yun pun berlalu melompat dari balkon.


Setelahnya...,cerita tentang pahlawan yang berkhianat dan membunuh kepala kuil serta melukai sang raja mulai tersebar dengan cepat hingga ke pelosok negeri. Tapi kebanyakan penduduk tidak percaya dengan rumor itu.


Zhou Yun diam-diam pergi keluar melewati perbatasan. Penjagaan menjadi begitu ketat.


Ia terbang melintasi laut dan berniat kembali ke rumahnya, meskipun tempat itu hanya akan membuka luka yang bahkan belum kering.


Ketika melintasi laut, tiba-tiba sebuah tangan yang entah darimana muncul ingin menangkapnya.


Zhou Yun melenceng menghindari genggaman tangan itu. Ia menarik pedangnya keluar lalu melepaskan tebasan Aura ke arah tangan besar itu.


"Tunjukan dirimu." Teriaknya. Zhou Yun ingat akan perasaan mencekam dari tangan berwarna hitam pekat dengan Mana yang terasa busuk itu. Lawannya kali ini berbahaya bahkan lebih berbahaya dari Raja Iblis yang pernah ia lawan.


Suara tawa menggelegar memenuhi langit. "Angkuh! Manusia! sadari posisi mu ketika berada di hadapan Sosok yang Agung ini."


Zhou Yun menyipitkan matanya memandangi salah satu sisi langit. Energi Mana mencekam di lepaskan dengan dahsyat oleh sosok itu untuk menekannya hingga jatuh ke tengah laut tapi Zhou Yun bukanlah pria yang mudah bertekuk lutut hanya dengan kekuatan seperti itu.


Zhou Yun terbang melesat dengan lihai. Dia memotong tangan-tangan itu sambil menghindar. Tapi berapa kali pun ia menebas mereka, Zhou Yun tidak melihat kalau serangan sosok itu akan usai begitu saja.


Zhou Yun terbang menjauh dan melayang setinggi mungkin. Ia tidak melihat sosok yang menyerangnya meski ia sudah berada di atas awan. Tapi dia yakin kalau orang itu, tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Pengecut yang menyerang diam-diam. Kalau kau memang tidak ingin menunjukkan dirimu, biar ku paksa kau untuk keluar." Tegas Zhou Yun.


Zhou Yun merapatkan telunjuk dan jari tengahnya. Ia mengayunkan jemarinya itu ke samping, ke atas lalu ke bawah.


Sosok itu khawatir, ia merasakan kekuatan aneh dari pria di depan matanya. Saat ia ingin menjauh, Zhou Yun telah selesai melepaskan mantra formasi penyegelan.


"Ketika aku melawan sosok itu, aku yakin kalau dia adalah entitas tinggi yang tidak berasal dari Aria. Ya, mungkin saja dia adalah seorang Dewa." Jelas Zhou Yun.


Alice mengernyit heran. "Dewa. Apa ini ada hubungannya dengan Erebos?" Benaknya.


"Guru. Ke depannya mungkin kau akan menemui jalan yang lebih sulit. Sosok itu memaksa untuk mendapatkan Mana Heart yang ada di tangan ku. Aku cukup kewalahan melawannya. Jadi aku menggunakan formasi penyegelan. Dengan teknik Roaring Storm Ocean aku berhasil melukainya. Aku yakin dia butuh waktu lama untuk memulihkan tubuhnya. Namun, karena dua teknik itu, aku kehabisan energi dan segera pergi. Aku yakin dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Mana Heart di tangan ku. Oleh karena itu, aku memecah jiwa ku menjadi beberapa bagian dan salah satu di antaranya membawa Mana Heart itu."


"Kalau begitu altar yang ada di lembah itu merupakan tempat dimana salah satu serpihan jiwa mu bersembunyi dan jiwa mu itu membawa Mana Heart."


Zhou Yun mengangguk. "Ya. Syukurlah guru datang lebih cepat. Aku yakin para monster yang berada dalam kendali sosok itu telah merasakan Mana Heart yang ku sembunyikan di sana."


"Apakah kau tahu seperti apa lawanmu itu?"


"Aku tidak bisa melihat sosoknya. Dia terbungkus dalam energi kegelapan yang hitam pekat. Tapi aku yakin, dia sangatlah kuat."


Zhou Yun menoleh melihat ke arah danau, ia menghela nafasnya. "Lupakanlah hal itu dulu. Guru, bagaimana kalau kita memainkan satu lagu?" Kata Zhou Yun sambil tersenyum menatap Alice.


".... Baiklah." Alice berdiri dari kursinya. Tak jauh dari sisinya. Sebuah kecapi tercipta dari kumpulan cahaya. Alice duduk bersila di hadapan kecapi itu. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


Jemarinya mulai memetik satu persatu senar kecapi itu. Lantunan melodi yang tenang dan menghanyutkan berbunyi merdu ditambah lagi dengan iringan seruling Zhou Yun yang dalam.


Alice yang sejak tadi memejamkan matanya sembari memetik senar mulai membuka matanya untuk melihat muridnya. Hatinya tiba-tiba berat seiring musik mereka semakin dalam.


Wujud Zhou Yun mulai semakin transparan di matanya. Alice menggigit bibirnya bibir bawahnya. Saat salah satu senarnya putus dengan tiba-tiba, saat itulah permainan mereka berakhir.


Zhou Yun tertawa kecil sambil ia melihat wajah Alice. Kemudian ia berjalan menghampirinya. Zhou Yun menekuk punggungnya lalu memeluk Alice dengan erat.


"Guru.." Zhou Yun berbisik memanggil lembut gurunya.


Alice terdiam mematung.


"Guru... sejak dulu aku ingin meminta maaf padamu dan akhirnya aku telah melakukannya dan sejak dulu aku ingin mengatakan hal ini juga..."


"Apa...itu..?"


"Guru, tidak, Lan You Nian. Aku...mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu."


Bisikan itu, walaupun terdengar pelan tapi mampu menggetarkan hati Alice. Alice menarik nafasnya dalam-dalam, dadanya menjadi semakin berat.


Kenapa...baru.. sekarang?


Sosok Zhou Yun mulai menghilang sedikit demi sedikit di hadapannya. Alice yang tak sanggup menahan sedihnya perpisahan itu mulai berlinang air mata.


"Jaga dirimu...guru." Bisik Zhou Yun untuk yang terakhir kalinya di telinga Alice. Lalu ia pun hilang menjadi titik-titik cahaya.


"Um." Alice mengangguk sambil meneteskan air mata. "Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu."


Kejam. Langit benar-benar kejam. Kenapa mempertemukan mereka hanya untuk berakhir dengan kesalahan pahaman lalu bertemu kembali hanya untuk berpisah meninggalkan kesedihan.


Alice tertunduk sambil menangis tersedu-sedu. Hatinya yang membeku oleh cinta kembali merasakan sakit karena cinta pula. Untuk kedua kalinya.....