
Ketika bola hitam itu lenyap ke dalam tubuh Elysia. Elysia terkapar di tanah untuk beberapa saat.
Kemudian ia bangkit dan membuka matanya. Elysia dipenuhi dengan kebingungan dan kegelisahan. Hatinya tiba-tiba menjadi tidak tenang tak karuan dan jantungnya berdegup kencang. Perasaan tak tergambarkan yang ia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Namun ketika ia mengedipkan matanya dengan lantang berkali-kali, sosok bayangan hitam pekat berdiri di depannya. Lebih tepatnya di balik instruktur Evelyn.
Dia tidak salah lihat, orang-orang tidak menyadari sosok itu melainkan hanya dia seorang.
Sosok bayangan hitam itu menyeringai. Elysia memiliki firasat buruk dari senyuman di wajahnya. Bayangan itu mengangkat tangannya lalu tangan itu berubah menjadi sebuah bilah pedang lengkung yang melingkupi leher Evelyn.
Anehnya, Evelyn tidak merasakan atau melihat sosok bayangan hitam itu. Elysia bahkan memanggilnya berkali-kali menyuruh Evelyn untuk bergerak dari tempatnya. Tapi seolah mereka berada di dimensi yang berbeda. Tidak ada siapapun yang menyadari hal itu.
Bayangan hitam itu memiringkan kepalanya masih dengan senyum lebar yang mengerikan terpampang di wajahnya.
"Ti-tidak. Jangan. Jangan lakukan itu!" Seru tegas Elysia sambil menggelengkan kepalanya.
Ia menjadi panik. Tapi bayangan itu menikmatinya. Dalam sekejap bilah pedang lengkung itu menyayat leher Evelyn dan dia pun terjatuh bersimbah darah.
Elysia berteriak histeris. Ia berlari ke depan untuk menghentikan bayangan hitam itu. Sayangnya, sekeras apapun ia berlari, dia tidak bisa menjangkau mereka. Seperti sebuah ilusi yang membuatnya tetap di tempat.
Demikianlah, satu demi satu Elysia melihat teman-temannya di bunuh oleh sosok bayangan hitam misterius itu.
Dia menangis tersedu-sedu.
Elysia menunduk dan perlahan terjatuh di atas lututnya. "Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Huhuhu...hiks...Kenapa kau membunuh mereka? Helian, Instruktur, Aili, Reiss...." Elysia memanggil nama mereka satu persatu.
Sosok bayangan hitam itu berjalan mendekati dirinya. "Itu karena kau lemah." Bisiknya pelan. "Kau lemah, maka dari itu kau tidak bisa melindungi apapun. Kau lemah dan karena itulah orang-orang yang kau sayangi mati. Kau tidak akan bisa melindungi siapapun tapi sebaliknya, kau hanya menjadi beban bagi mereka. Lihat!"
Setelah ia mengejek Elysia dan meruntuhkan semangatnya. Bayangan hitam itu menunjukkan sebuah gambaran yang memperlihatkan Alice dan Minotaur yang sedang bertarung. Pertarungan mereka sengit. Tubuh Alice terlihat penuh luka dimana-mana.
Elysia syok seketika itu juga. "Ibu?!" Panggilnya sambil menahan mulutnya dengan kedua tangannya. Nafasnya terhenti melihat pemandangan itu. Elysia menggelengkan kepalanya karena tidak percaya. "Tidak mungkin...ibu..."
Sulit untuk di percaya, ibunya yang kuat dan selalu mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah, menjadi seperti itu di hadapan Minotaur.
Tangan dan kaki Alice berlumuran darah. Bisa dilihat dari penampilannya, bahkan wanita itu sudah terengah-engah setengah mati seolah-olah nafasnya bisa saja habis kapan saja. Ia tak sanggup lagi mempertahankan postur tubuhnya yang tegak. Pedangnya pun sudah patah dan dari sorot matanya, Elysia tahu kalau ibunya sudah diambang kematian.
Minotaur itu mengangkat palu besarnya. Palu itu telah berada di atas kepala Alice, namun Alice tidak bergerak dan mencoba untuk menghindar.
"Ibu...Ibu...! Pergi dari sana!" Teriak Elysia.
Saat palu itu jatuh dengan kuat, bayangan hitam itu memutuskan gambaran mereka.
"Bagaimana? Kau sudah melihatnya bukan? Ibumu, wanita itu juga, dan semuanya mati karena melindungi mu. Hmm~ Tidak." Bayangan hitam itu berhenti sejenak. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Elysia. Kemudian ia berbisik. "Mereka...mati karena mu."
Elysia tersentak. Seluruh tubuhnya menjadi lemas. Lengan dan kakinya kehilangan tenaga mereka.
"A-Aku... Salahku..." Bibirnya gemetar. Kedua tangannya meremas sela-sela rambutnya. "Ini semua salahku.."
"Itu benar. Itu karena kau lemah."
Air matanya semakin tak terbendung.
Saat ia menunduk, bayangan hitam itu tersenyum puas. Orang-orang mungkin tidak akan bisa melihatnya, tapi dari balik gelap dan pekatnya aura hitam yang menutupi tubuhnya, bayangan itu sebenarnya menikmati keterpurukan Elysia.
"Apakah kau ingin menjadi kuat? Katakanlah padaku. Aku punya satu cara yang mudah. Kau mungkin masih bisa menyelamatkan nyawa ibumu."
Mata Elysia melebar. Sontak ia mendongak dan menatap bayangan hitam itu. "....."
Bayangan hitam itu menciptakan sebuah sabit besar di tangannya. Warna hitam dan merah melambangkan kegelapan dan sebuah darah segar. Ia menyodorkannya pada Elysia. "Gunakan ini. Dengan senjata ini, kau bisa menyelamatkan mereka dan ibumu. Ketahuilah, mereka belum sepenuhnya mati. Mereka masih memiliki kesempatan." Ujarnya.
Dilema. Elysia melirik melihat teman-temannya. Apakah dia harus mempercayai monster itu? Bukankah dia baru saja membunuh teman-teman dan instrukturnya? Tapi...?
Melihat gadis elf itu ragu, bayangan hitam itu mendesaknya sekali lagi. "Putuskan lah segera. Aku ragu wanita itu bisa bertahan lebih lama lagi di luar sana."
Sesuatu dalam diri Elysia tiba-tiba bergejolak. Tanpa ia sadari Elysia sepenuhnya terjebak semakin jauh di dalam ilusinya.
Elysia mulai ngelantur "Aku harus menyelamatkan ibu... harus melindungi semuanya... bunuh monster itu...."
Apa yang ia lihat tidak lagi sama dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Dimata orang lain, Elysia mengamuk dan mulai menyerang mereka tanpa ragu. Tatapannya menjadi dingin dan kosong.
~
Alice melihat tubuh Elysia yang terbungkus oleh aura hitam, sementara Elysia melihat Alice sebagai salah satu monster dungeon.
Alice menggunakan teknik [Glacial Eternal Slumber] untuk menghadapi Elysia. Dalam wilayah es miliknya, gerakan cepat Elysia akan sedikit melambat.
"Teknik mu sudah bagus. Kau begitu cepat dan tangkas. Meskipun ayunan senjata mu begitu lebar tapi dengan itu kau membuat musuh berpikir bahwa mereka mendapatkan kesempatan untuk menyerang balik. Lalu dengan sigap kau segera menarik kembali sabitmu. Cerdik." Ujar Alice memuji Elysia sambil ia menghindari sabit Elysia.
Gerakan Elysia ketika mengayunkan sabitnya hampir tampak seperti permainan pedang Alice. Begitu indah dan menawan ketika ia memutar tubuhnya atau sabitnya di udara. Setiap serangan yang ia lakukan, hampir tidak ada yang sia-sia. Jika seandainya bukanlah Alice yang menjadi lawannya, maka bisa dipastikan Elysia akan menghabisi musuhnya dengan cepat.
[Freezing Palm]
Alice memukul Elysia dengan telapak tangannya namun Elysia segera menarik sabitnya dan menangkis serangan Alice.
Sabit yang ia miliki ternyata bukanlah senjata biasa, melihat dia tidak terpengaruh dengan Qi dingin milik Alice.
Apa yang Alice incar sebenarnya bukan untuk memukul Elysia, ia hanya menggunakan serangan tadi untuk melempar mundur Elysia sehingga dia bisa membuat jarak dengannya.
Tujuan Alice adalah untuk membuat Elysia kehabisan staminanya. Dan saat dia sudah lelah, Alice akan menangkap benih yang Erebos tanamkan dalam dirinya.
Duri es kembali tercipta dari lantai yang membeku dan menyerang Elysia. Sekali lagi gadis itu menghindarinya dengan lihai sambil ia berlari ke depan mencoba untuk memperpendek jarak mereka.
"Tidak akan ku biarkan." Alice membuat duri-duri kecil di udara dalam sekejap. Lalu duri-duri itu jatuh menghujani Elysia.
Elysia mendongak naik. Ia kemudian memutar sabitnya ke atas untuk menahan semua duri itu.
"Kau lengah." Alice meremas tangannya dan membuat kedua kaki Elysia membeku.
Elysia menyipitkan matanya menatap Alice. Ia menghantamkan pangkal sabitnya ke tanah dan membuat es yang membekukan kakinya hancur.
"Aku tidak menyangka ternyata senjata itu bisa melakukan hal seperti itu juga. Sangat efisien."
Elysia melompat tinggi ke udara.
Alice segera menembakkan duri-duri es namun lagi-lagi Elysia memutar sabitnya untuk menghalau serangan itu.
Ia pun menukik turun ke hadapan Alice. Lalu dengan cepat ia mengayunkan sabitnya dengan kuat.
[Mirror Mirage]
Elysia tertipu lagi dan untuk kesekian kalinya, ia terkena ledakan dari bayangan es Alice.
Elysia menyadari serangan yang datang dari balik punggungnya, ia segera berbalik dan bersiap menahan serangan itu. Tapi apa yang datang menerjangnya adalah sebuah energi Qi yang menembus ke dalam dahinya.
[Yang Soul Dispersion] Salah satu teknik jiwa untuk melenyapkan roh jahat, atau pengaruh sihir pada tubuh seseorang.
Sebelumnya Alice tidak dapat melakukannya karena tingkat kultivasinya yang rendah. Karena teknik ini bagaikan pisau bermata dua, Alice harus hati-hati dalam menggunakannya.
Jika lawan terlampau kuat atau memiliki jiwa yang kuat, maka kemungkinan besar, jiwanya yang akan terluka atau lebih parahnya, jiawanya akan di telan dalam kesadaran orang itu.
Setelah tubuh dan stamina Elysia terkuras, Alice pun mengirimkan kesadaran jiwanya ke dalam diri Elysia. Dari sanalah ia akan menghancurkan pengaruh sihir Erebos.