Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 91



Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi upacara pernikahannya selesai dan gadis muda yang ia cintai pada pandangan pertama akan menjadi miliknya. Mata Cecilion menatap setiap wajah bawahannya yang menyaksikan hari penting itu. Bibirnya masih saja merekah ke samping akan rasa senang yang tak bisa ia bendung.


Cecilion kembali melirik gadis muda itu. "Sungguh bagaikan mawar hitam yang tumbuh mempesona di tengah tanah yang gersang." Batinnya bangga seolah ia menemukan sebuah harta karun.


Rambut hitam, mata biru yang indah dengan tatapan yang tajam dan wajah mungil dengan hidung mancung juga bibir kecil merah muda itu. Cecilion sudah tak sabar ingin segera mempersunting gadis manusia itu.


Dia masih mengingat akan usaha gadis muda itu ketika saat pertama kali dirinya melihatnya. Di tengah-tengah kepungan bawahannya, gadis muda itu tetap bertahan dan berdiri untuk melawan meski Mana yang dia miliki sudah hampir habis. Sorot matanya di kala itu serta keberaniannya membuat Cecilion jatuh hati. Dalam hatinya terlintas bahwa bagaimanapun juga ia menginginkan gadis itu dan tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya.


Setelah satu hari berlalu dan membuat rencananya dengan matang. Cecilion mulai dari memberikan para hyuman sebuah umpan. Dengan kekuatannya juga dia mengendalikan pikiran beberapa prajurit ras hyuman untuk memberikan informasi palsu pada petinggi mereka. Setelah ras hyuman terpecah menjadi beberapa kelompok. Cecilion pun ikut turut serta menyerang kelompok yang dimana gadis muda itu berada di dalamnya.


Harus dia akui saat dirinya melawan gadis itu. Walau hanya level 5, namun teknik serta cara bertarungnya dengan menggunakan sihir listrik sempat membuat dirinya kewalahan. Cecilion semakin menggebu-gebu untuk memilikinya.


Cecilion sedikit bersusah payah untuk membuat gadis itu lengah dan dengan menggunakan boneka miliknya dari salah seorang manusia yang ada dalam kelompok Gadis muda itu. Pada akhirnya, Cecilion berhasil membawanya ke kediamannya.


Setelah ia mendapatkan gadis muda itu, tanpa menunggu lama. Cecilion menggunakan sihir untuk mengendalikan pikirannya. Butuh waktu dan Mana yang banyak karena tekad dan kesadaran gadis itu begitu tinggi. Tapi, nafsu dan obsesi Cecilion tidak membuatnya berhenti. Cecilion sempat berpikir untuk menggunakan segel budak agar gadis itu tunduk secara mutlak padanya, Namun bagaimana bisa seorang Ratu yang kelak akan menjadi pendamping dan pemimpin dari ras deemon adalah seorang budak atau pernah menjadi budak? Rasa sombongnya menolak ide itu. Cecilion memaksa dirinya untuk mengontrol pikiran gadis itu dan meskipun masih belum sempurna. Saat ini, setidaknya gadis itu menuruti apa yang ia sugestikan walau terkadang mantra sihirnya ingin lepas.


Acara pernikahan itu terus berjalan hingga sampai akhirnya ia akan mencium mempelai wanitanya. Cecilion yang berbangga hati tak menyadari akan apa yang terjadi di luar kediamannya. Alice semakin dekat dan telah berhasil menumbangkan para penjaga miliknya satu per satu. Setelah bertarung dengan banyak pasukan dari ras deemon. Alice akhirnya berdiri di depan pintu aula besar yang menjadi tempat pernikahan itu berlangsung. Cecilion sempat mendengar keributan di luar dan dia hanya memerintahkan bawahannya untuk menenangkan suara berisik yang mengganggu itu. Dia terlalu malas untuk beranjak dari panggung pernikahannya.


Cecilion kembali mengangkat sedikit tudung putih yang menutupi kepala gadis itu dan mulai mendekatkan wajahnya. Perlahan, hingga sedikit lagi kedua bibir mereka akan bersentuhan. Namun sayangnya, pintu besar yang tepat di hadapan panggungnya itu hancur. Di situasi hening itu, suara ledakannya sangat besar dan menarik perhatian. Sontak para bawahan Cecilion yang juga menjadi saksi dan tamu langsung berpaling ke belakang untuk melihat siapa pelaku yang berani membuat keributan itu.


Mereka heran, mereka mengernyitkan alis dan saling melirik satu sama lain. Bertanya-tanya tentang apa yang terjadi? Siapa deemon itu? Apakah dia adalah bagian dari kita? Mungkinkah dia sudah bosan hidup?


Alice memasuki ruangan itu sambil menggendong si tikus kecil. Ia terkesan sekaligus terkejut karena di aula megah itu ternyata acara pernikahan sedang berlangsung. Mungkin, dia boleh saja merasa tidak enak hati karena telah mengganggu hari penting itu tapi mengapa ia harus peduli? Kedatangannya memanglah untuk menghancurkan deemon yang bernama Cecilion itu.


Kedatangan Alice membuat urat di kening Cecilion berkedut karena kesal.


Cecilion menarik nafas panjang dan menghela nafas beratnya. "Padahal tinggal sedikit lagi!!!" Ia menoleh dan menatap tajam Alice dengan penuh amarah. Tangannya ikut gemetar serasa ingin memukul wajah deemon itu.


Sebaliknya, Alice tersenyum sinis. Ia cukup senang saat matanya melihat ekspresi kesal Cecilion. Ternyata pria sial yang ia kacau kan harinya adalah Cecilion sendiri. Baguslah. Aku tidak perlu mencarinya jauh-jauh lagi. Pikir Alice.


Alice melirik mempelai wanita yang berdiri di sampingnya. Ia menyipitkan matanya dan merasa kalau postur tubuh wanita itu terasa akrab baginya. Seperti dia mengenal wanita yang menjadi calon istri Cecilion.


"Aku tidak Ingat, sejak kapan suku oni memiliki keberanian seperti mu. Kau benar-benar tidak menyayangi nyawa mu lagi sampai harus mengganggu hari penting ku." Kata Cecilion sambil menunjuk Alice. "Kalian! Habisi dia. Aku bersumpah tidak akan memberimu kematian yang sesaat!" Lanjutnya mulai menggertakkan giginya karena marah.


"Tidak. Kalimat itu seharusnya untukmu. Kau mengacaukan hariku, menggagalkan rencana ku." Alice melangkah maju, mengambil pedang dari cincin dimensinya lalu mencabutnya.


Beberapa hari sebelumnya, Cecilion mengirim orang untuk memata-matainya, mengepungnya dan merusak suasana hatinya. Tidak hanya disitu saja, kelompok aktif yang dipimpin olehnya juga mengacaukan rencana yang selama ini membuatnya bingung. Kristal pemicu portal teleportasi dan jalan pulang ke benua Regnum seharusnya sudah di depan mata. Namun, kenyataan pahit saat dia tahu kalau ternyata benda itu telah di rebut oleh bawahan Cecilion. Dan yang parahnya adalah putri kecilnya yang dia sayangi juga di rebut darinya.


"Dimana putri ku? Kembalikan dia atau kau akan menyesalinya." Pungkasnya singkat.


"Lucu. Lelucon yang sangat bagus." Ia bertepuk tangan mendengar Alice ingin membuatnya menyesal.


"Deemon lemah sepertimu yang bahkan tidak memiliki Mana ingin membuat ku menyesal? Hahaha...Aku tidak tahu darimana datangnya kesombongan mu itu."


Para bawahan Cecilion mulai bergerak maju. Para deemon itu benar-benar menggila dan menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk menghabisi Alice.


"Karena ini adalah hari bahagia ku. Akan ku buat kau ikut menyaksikannya. Lalu setelah, kau akan mati." Kata Cecilion sambil tersenyum.


"Sungguh? Sayangnya...hari bahagia mu akan segera berakhir." Balas Alice sambil ia bertarung melawan para deemon.


Sabetan pedang Alice terdengar dari riuhnya suara teriakan dan jeritan para deemon. Setiap mereka yang datang padanya, hal itu seperti mereka mengantarkan nyawa saja. Tebasan dari pedang yang dilapisi Qi itu mampu menembus kulit ras deemon yang keras dan menghancurkan perisai sihir mereka.


Cecilion berdesis kesal. Kenapa? Hanya seorang deemon rendahan dari suku oni bisa membuat para bawahannya yang kuat kalah dengan mudahnya.


"Apa yang kalian lakukan?! Hanya deemon wanita dengan tubuh kecil--"


BANGG!!


Salah satu bawahannya dari suku ogre melintas dengan cepat tepat di antara dia dan gadis muda itu. Seketika bibir Cecilion menjadi kaku melihat tubuh ogre yang tiga kali lebih besar dari deemon yang dia hadapi Namun ogre itu dilemparkan begitu mudahnya hingga menempel dan membuat tembok menjadi retak.


"Kau bilang apa tadi? Aku tidak mendengarnya, bisakah kau mengulangi nya sekali lagi?" Tanya Alice mengejek dengan nada yang memprovokasi.


Cecilion makin naik pitam melihat senyuman menjengkelkan dari deemon wanita itu. Amarahnya sudah berada di puncak kepalanya. Cecilion mulai merapal mantra sihir pamungkasnya.


Udara tiba-tiba menjadi lebih dingin dan orang-orang di tempat itu semakin sulit bernafas. Cecilion yang fokus dengan rapalannya terlambat menyadari perubahan situasi yang mendadak itu. Apa yang sebenarnya terjadi bukanlah karena dia tapi karena musuh yang dia hadapi.


Energi apa ini? Darimana datangnya energi yang besar ini?


Dia melirik dan menoleh ke setiap arah namun tidak ada seorang pun yang berdiri tegak selain deemon wanita di hadapannya itu.


"K-kekuatan ini?!" Cecilion kaget, tidak menyangka tekanan mengerikan itu berasal dari deemon wanita yang menatap tajam dirinya.


Sebenarnya apa yang terjadi? Tidak ada yang aneh. Semuanya tetap sama. Lantas kenapa deemon wanita itu tiba-tiba mengeluarkan tekanan semengerikan ini?


Cecilion memperhatikan baik-baik kemana sorot mata deemon itu. Ia melihat ke arah... mempelai wanitanya. Kenapa? Apakah dia mengenalnya?


"Tidak hanya putri ku. Kau bahkan berani meletakkan tangan mu yang kotor itu pada adikku?!" Suara Alice itu begitu dingin begitu juga tatapannya yang mampu membuat bulu kuduk merinding seketika.