
Ketika keduanya melangkah masuk melewati pintu besar Aula Dansa. Penampilan mereka membuat nafas orang-orang tertahan.
Ratusan pasang mata mengikuti setiap langkah keduanya seolah mereka kesulitan untuk berpaling.
Kulit putih nan mulus Alice terbungkus dalam balutan gaun berlengan pendek berwarna biru dengan beberapa motif bunga di beberapa bagiannya dan garis putih halus di sisinya. Gaun itu tidak begitu panjang hingga mencapai tanah, namun juga tidak begitu pendek untuk menunjukkan kecantikan kakinya. Penampilannya yang tidak cukup untuk dikatakan vulgar sungguh memanjakan mata orang-orang yang memandangnya. Baik pria maupun wanita, mereka merasa meleleh melihat penampilan Alice.
Bagaimana bisa penampilan sederhana Alice yang tanpa perhiasan seolah menonjolkan keindahan alami dirinya?
Beberapa diantara mereka cemburu karena keindahan itu dan beberapa diantara mereka ingin memilikinya. Tapi tidak ada yang berani bersuara karena mereka tahu siapa sosok kecantikan bak Dewi yang ada di depan mata mereka.
Langkah elegan berpadu dengan pandangan lembut serta senyum manis di bibir merah mudanya terlihat mempesona. Wajahnya yang kecil dengan hidung mungil mancung dan Rambut pirang keemasannya benar-benar tak kalah indahnya dari para highelf yang ada di ruangan itu.
Tidak bisa dipercaya kalau wanita muda yang berjalan dengan anggun di hadapan mereka adalah seorang manusia.
Begitu pula dengan Echidna yang memakai gaun hitam dan merah. Sungguh warna yang kontras dengan mata dan rambutnya. Terlihat imut, menggemaskan namun serasa sulit untuk di dekati. Apakah penampilan dari gadis mungil itu adalah perwujudan sebuah mawar?
Laksana pinang dibelah dua, orang-orang memandang mereka sebagai seorang ibu dan putrinya. Heran? Kagum? Atau takjub? Seorang wanita yang cantik jelita dan tampak masih begitu muda memiliki putri seusia Echidna, sungguh sebuah keajaiban. Orang-orang mulai bertanya-tanya dalam kepala mereka, apakah dia benar-benar manusia? Dia bukanlah keturunan dari ras kami kan?
Rahasia kecil Alice membuat mereka salah mengira, namun Alice tidak ingin bertele-tele menjelaskan itu semua. Toh Helian sendiri tidak bertanya apapun tentang itu, begitulah pikirnya.
Setelah acara penyambutan dan pidato sederhana dari Helian selesai Alunan musik merdu dan lembut mulai mengalir memenuhi ruangan itu. Orang-orang mulai menikmati waktu mereka dengan berdansa.
Banyak bangsawan dan tamu undangan dari kalangan elf biasa yang ingin berkenalan dengan Alice. Tapi mereka merasa ragu dan enggan. Sosok Dewi yang manis itu terlihat begitu dekat tapi sulit untuk dijangkau, begitulah yang mereka rasakan.
Berbeda dengan Echidna yang matanya berbinar-binar ketika melihat makanan. Ia lebih memilih untuk mencari kursi dan mengisi perut kecilnya. Anak-anak dari para orang tua melihat gadis kecil itu sendirian, lucu dan menggemaskan ketika ia mengunyah makanannya dengan pipi kecilnya. Dia terlihat seperti seekor tupai yang sedang makan.
Anak-anak itupun saling melihat dan mengangguk bersamaan. Mereka ikut mengambil makanan dan minuman lalu membawanya ke meja Echidna.
Alice memalingkan pandangannya sejenak untuk melihat keadaan putrinya. Dia tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, dia memang masih anak-anak bagiku. Dia tampak cocok untuk bergaul dengan mereka." Batinnya lalu ia tertawa kecil.
Naga ribuan tahun yang pernah menjadi panglima dan tangan raja iblis yang kejam itu bergabung dengan kelompok anak kecil. Bukankah itu sedikit lucu?
~
Alice menghela nafasnya untuk melepaskan penatnya sambil ia bersandar pada dinding pembatas balkon.
"Sudah lama aku tidak menghadiri pesta formal ala bangsawan seperti itu. Hah...Aku dulu biasanya tidak pernah merasa lelah seperti ini. Kurasa latihan atau bertarung melawan monster masih lebih baik ketimbang harus bergaul dengan para bangsawan dalam acara seperti ini." Gumamnya mengeluh.
Ketika ia ingat-ingat, dirinya yang dulu sebelum mendapatkan ingatannya adalah sosok yang suka tebar pesona. Memamerkan kekayaannya dan kekuatan keluarganya. Alicia Lein Strongfort yang dulu berdiri dengan sombong di atas orang lain menggunakan nama keluarganya.
Alice berdiri menatap taman kosong di depan sembari menyadarkan dagunya di atas pembatas balkon itu. "Itu benar-benar memalukan saat aku mengingatnya kembali."
"Ada apa dengan wajah lesu itu?" Tanya Helian yang menghampirinya tiba-tiba. "Aku senang kau datang ke negeri ini. Jika bukan karena mu, aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada kerajaan ini. Terima kasih ya atas bantuan mu."
"Kau terlalu banyak berterima kasih pada ku hari ini. Aku sudah berjanji padamu sebelumnya, lagipula aku sebenarnya cukup menyukai tempat ini."
"Benarkah? Hehe, aku merasa senang mendengarnya."
"Ternyata kau tidak berubah rupanya." Gumam Alice pelan.
"Hmm...Apa kau mengatakan sesuatu?"
Alice menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada." Ia memperbaiki posisi berdirinya kemudian menatap Helian dengan serius. "Lebih penting lagi... bagaimana kau akan menghukum mereka?"
Alice tidak peduli dengan para bangsawan yang suka semena-mena itu. Apa yang Alice maksud adalah Daeron dan Asiya.
"...."
Helian memandangi langit. Ia mengulurkan tangannya ke atas seolah dirinya ingin menggapai bintang. "Sebenarnya...aku hanya ingin hidup bebas. Aku ingin melihat dunia ini lebih banyak lagi. Aku ingin mempelajari banyak hal. Tapi, melihat kerajaan ini dan orang-orang yang kucintai. Aku berpikir, betapa kejamnya diriku ketika aku lari dari tanggung jawabku dan membuat mereka kehilangan senyuman di wajah mereka."
Helian kemudian berbalik menghadap Alice. "Tahu tidak, pohon Yggdrasil pernah mengalami kehancuran. Karenanya, negeri ini cukup kesulitan ketika mereka kehilangan kabut pelindung itu. Tinggal di tengah hutan belantara yang penuh dengan monster, kami harus selalu sigap dengan monster yang bisa saja menyerang kota saat kami sedang tertidur nyenyak."
Alice berkata dalam hatinya. "Iya aku tahu itu. Dan kau telah berjuang keras sampai sekarang ini."
"Aku tidak bisa melihat para warga menderita lebih lama lagi. Saat pertama kali dinobatkan sebagai Putri mahkota, aku mengalami kesulitan dalam menangani masalah kerajaan. Aku tidak tahu banyak dengan apa yang harus ku lakukan, aku bingung. Pernah sekali aku berpikir untuk melepas semuanya dan pergi jauh dari tempat ini."
Helian berbalik membelakangi Alice.
Melihat pundak kecil Helian, Alice mengerti akan beban berat yang ia tanggung. Menjadi pemimpin sebuah negeri itu memang tidaklah mudah. Banyak yang harus dikorbankan. Kehilangan satu dua orang yang kau cintai bahkan tidak seberapa daripada nyawa ribuan atau jutaan rakyat.
Kedua pundak Helian bergetar. Alice tanpa sadar meraih kepala Helian, ia menepuk-nepuknya perlahan lalu mengelusnya dengan lembut. "Kau sudah berjuang keras. Semua yang kau lakukan sampai saat ini sangatlah bagus. Aku bisa melihatnya. Karena mu negeri ini menjadi negeri yang indah. Kau adalah Ratu yang hebat." Bisiknya dengan lembut.
Gadis manis waktu itu benar-benar sudah tumbuh menjadi seorang Ratu yang bijaksana.
Wajah sampai telinga Helian tiba-tiba memerah layaknya sebuah tomat. Seketika dia menjadi salah tingkah "Ap-ap-apa apaan itu?!. B-baru kali ini ada orang yang berani mengelus kepalaku." Protesnya.
Meski mengeluh tapi dalam hatinya ia merasa sedikit senang. Rasa hangat dari sentuhan Alice mengingatkannya pada mendiang ibunya. Helian menarik nafasnya dalam-dalam lalu berbalik dengan wajah tersenyum. "Dan saat itulah aku bertemu dengan Elysia. Dia anak ceria yang menarikku keluar dari lubang gelap itu. Berkatnya, hari-hariku menjadi lebih berwarna. Elysia selalu menyemangati ku. Aku tidak tahu sudah berapa kali dia menolong ku. Kalau bukan karenanya, mungkin aku tidak akan berdiri di tempat ini sekarang sebagai seorang Ratu."
Helian pun berjalan kembali ke dalam ruangan. Ia berhenti sejenak lalu berbalik dan berkata. "Aku sudah tahu apa yang harus ku lakukan pada mereka. Kau tidak perlu khawatir padaku."
Kepercayaan dirinya telah kembali. Alice merasa lega karena Helian sudah terlihat lebih baik.
Setidaknya dia sudah tahu keputusan apa yang akan ia ambil untuk mereka. Bagi Alice sendiri, jika ia bisa berharap, semoga saja Helian tidak mengeksekusi mereka, terutama Asiya yang memimpin pasukan pemberontakan.
"Aku pernah membaca tentang seorang pemimpin yang menghukum mati adiknya. Setelah dia melakukan itu, rasa haus darah dan kematian menjadi sesuatu yang biasa baginya. Dia membunuh dan terus membunuh untuk melegakan hatinya. Mungkin...dia tenggelam dalam penyesalan dan kesedihan yang tidak bisa ia perbaiki lagi."
Helian belum juga beranjak dari posisinya. Ia menunduk, dengan gugup dan sikap malu-malu ia berkata pada Alice. "Y-yang barusan itu.... tolong jangan katakan pada siapapun." Ucapnya lalu ia berbalik dan meninggalkan Alice.
Alice melambaikan tangannya.
Kemudian ia berbalik dan kembali menopang dagunya di atas dinding pembatas balkon. Ia memasang ekspresi melankolis sambil bergumam dalam kepalanya. "Aku rindu dengan Ayah, Ibu dan juga Iris."