
Setelah perundingan yang cukup panjang dan melelahkan, Daeron kembali ke ruangan pribadinya. Ia menyandarkan punggungnya yang kaku sambil menghela nafasnya pada kursi yang ada di belakang meja kerjanya. Daeron menatap langit-langit sambil bergumam. "Para bangsawan egois dan keras kepala itu." Keluhnya. Sekali lagi ia menghela nafasnya yang panjang dan berat.
Raja Elf Daeron Mablung, seorang mantan cendekiawan yang terkenal dengan kemampuannya baik dalam literasi, pemahaman politik, ekonomi dan penyusunan lingkaran sihir dalam pembuatan Rune. Bisa dibilang Daeron adalah sosok penting yang menyokong kestabilan kerajaan elf saat ini.
"Mereka mengajukan gagasan yang sangat tidak masuk akal. Berpikir bahwa suku high elf itu lebih unggul dari suku lainnya, itu tidak menjadikan kalian harus selalu mendongak dengan hidung yang menghadap ke langit." Gerutunya.
Sebagai raja, sudah pasti Daeron akan menolak mentah-mentah argumen para high elf itu. Bagaimana mungkin ia bisa mengorbankan rakyatnya untuk menjaga tanah ini sedangkan mereka hanya berleha-leha di balik layar sambil memegang segelas anggur dan menonton apa yang terjadi layaknya teater pertunjukan.
"Ratu akan sangat marah kalau dia mengetahui ini. Meskipun aku berkata kalau akan mendiskusikan ide mereka dengan Sang Ratu, tapi seratus persen aku yakin kalau istri ku itu tidak akan repot berpikir dua kali untuk mendengarkan penyataan konyol mereka. Hahhh~"
Dalam kerajaan elf. Entah itu yang terlahir putra atau putri atau bahkan elf dari kalangan biasa, selama dia memiliki berkah dari pohon Yggdrasil maka orang itulah yang memiliki keputusan terakhir dalam setiap tindakan yang di lakukan kerajaan. Singkat kata, dia adalah penguasa yang sebenarnya dari kerajaan elf itu. Maka dari itu, Walaupun dia memiliki posisi sebagai seorang raja namun Daeron sendiri tidak dapat mengambil keputusan secara langsung. Dia harus menunggu Sang Ratu untuk memutuskan.
Selama ratusan tahun lamanya, ratu elf saat ini telah memimpin kerajaan dengan baik. Berasal dari suku high elf yang sama namun dia tidaklah memihak sebelah tangan.
"Baginda. Sang Ratu tiba dan berharap ingin menemui Anda."
"Persilakan dia masuk."
Rambut panjang berwarna keemasan yang tergerai lembut berayun dengan halus ketika wanita itu berjalan masuk. Dia memberikan kesan anggun dan elegan yang mampu membuat orang mengalihkan pandangannya. Matanya yang hijau terang laksana kristal emerald murni benar-benar cocok untuk seorang ras elf yang memimpin hutan itu.
"Salam Yang Mulia." Ratu menyapa dengan lembut sambil mengangkat sedikit bawah roknya layaknya sebagai seorang bangsawan pada umumnya.
Daeron memandanginya dengan tatapan datar. "Kau bisa saja langsung masuk. Kenapa harus repot meminta izin ku dan lupakan formalitas."
Ratu berjalan ke salah satu sofa yang ada, lalu ia pun duduk. "Apa yang membuat wajahmu kusut seperti itu?" Tanya Ratu. Kalimat dan nada bicaranya dengan cepat berubah. Tapi Daeron tidak terkejut, mereka telah lama saling mengenal karena sebelum menjadi seorang pasutri mereka adalah teman semasa muda.
"Apakah ini gara-gara mereka lagi?" Dari ekspresi gusar itu, Ratu sudah bisa menebaknya. Tidak ada orang lain yang bisa membuat raja dilema atau kebingungan selain para bangsawan high elf itu.
"Kurasa aku tidak perlu menjelaskannya panjang lebar. Mereka lagi-lagi mengusulkan sesuatu yang berlebihan."
"Salah mereka sampai dunia luar mencap para elf sebagai ras yang angkuh. Heh! Sejak dulu, walaupun ratusan tahun telah berlalu dan aku telah berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan momok itu, tapi mereka begitu keras kepala untuk tetap mempertahankan kebiasaan konyol itu."
Ratu menggenggam kuat tangannya. Ia kemudian menyilangkan kedua kakinya. Dari caranya bernafas terlihat kalau ia sedang marah. "Aku telah melenyapkan satu tapi malah tumbuh dua. Saat aku membungkam leluhur mereka, malah anak cucu mereka yang berulah." Ratu berdecak. Ia mengambil secangkir teh dan sepotong kue kering yang telah disiapkan oleh seorang pelayan sebelumnya.
"Kali ini. Apa lagi yang mereka katakan?" Ratu bertanya pada Daeron dengan mengerutkan alisnya.
"Mereka ingin kita merekrut lebih banyak orang lagi untuk menjaga kestabilan Yggdrasil. Dengan alasan khawatir, mereka bahkan rela mendonasikan sebagian harta mereka untuk keselamatan negeri ini."
Sang Ratu tidak tahu harus berkata apa. Merekrut? Menjaga keselamatan? Mendonasikan harta mereka? Haruskah ia senang? Sebaliknya, Ratu semakin memanas.
"Aku tidak peduli dengan harta mereka. Tapi merekrut orang lagi dengan alasan konyol seperti menjaga keselamatan negeri ini?! Kenapa bukan mereka saja yang maju! Toh mereka memiliki kapasitas Mana yang lebih banyak dari suku elf lainnya."
Ratu tertunduk. "Tidakkah mereka puas dan sadar akan pengorbanannya. Berkat dia Yggdrasil mampu bertahan sampai setengah tahun ini." Ucap batinnya pelan.
"Aku tidak akan mengabulkan apapun yang mereka minta. Kedepannya, katakan kalau aku sedang sibuk, tidak enak badan dan tidak bisa diganggu."
Daeron hanya bisa memijat pelipisnya sambil menganggukkan perkataan istrinya. "Baiklah."
Ratu keluar dari ruangan itu. Ia terdiam dan masih berdiri di depan pintu sambil mengingat gadis yang baru saja ia temui. "Elysia...sebentar lagi. Aku, pasti akan menyelamatkan mu dari sana. Karena itu, aku mohon tetaplah selamat."
~
Walaupun ia kembali hidup dan pulih dari lukanya setelah mendapatkan Mana Heart, tapi tetap saja ada beberapa luka dalam tubuhnya yang harus ia pulihkan. Setelah membuat formasi kecil untuk menyerap energi di sekitar, Alice duduk bersila di dalamnya guna memperbaiki beberapa titik meridian nya yang rusak.
"Aku ingin membuat formasi yang lebih besar. Sayangnya itu pasti akan menarik perhatian banyak orang." Pikirnya.
Saat pertarungannya melawan Echidna. Di detik-detik terakhir, Alice memaksakan dirinya sampai hampir meledakkan Dantian nya. Ia mengorbankan kultivasinya sampai harus menguras daya hidupnya, Namun beruntungnya berkata Zhou Yun, Alice bisa mengembalikan kultivasinya dengan cepat seperti sebelumnya.
Dalam sebuah penginapan sederhana, Echidna bertugas mengawasi sekitar sementara Alice memulihkan dirinya.
"Paman serigala apakah kau disana..." Echidna memanggil Fee dengan pelan.
Bayangan hitam perlahan mengumpul di bawah kakinya, memadat lalu Fee melompat keluar dari sana. "Ada apa?"
"Ini soal mama..." Echidna murung, ia melirik Alice sekilas. "Mama belum pulih dan aku yakin tempat yang akan kita tuju pasti berbahaya. Melihat situasi kerajaan elf saat ini. Aku cemas mama akan terluka."
"...." Fee berbalik melihat Alice, ia kembali menatap Echidna. "Kau menjadi lebih dewasa. Gadis itu, aku yakin dia telah memantapkan tekadnya untuk kesana apapun yang terjadi. Aku juga ingin menahannya tapi.."
"Kalian tidak perlu cemas." Alice menimpali mereka. "Hai, Fee. Akhirnya kau keluar juga." Sapa Alice dengan senyuman. Ia lalu berdiri, berjalan ke luar dari formasi itu. Tampaknya dia telah selesai.
"Mungkin tinggal 30 persen lagi kekuatan ku akan pulih sepenuhnya." Alice berjalan mendekati Echidna lalu ia menepuk pelan kepalanya. " Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku."
"Apa yang putri mu katakan ada benarnya. Sebaiknya kau tidak memaksakan dirimu." Ucap Fee.
"Bukannya aku nekat tapi ini adalah janjiku dengan seseorang."
Fee tertegun sejenak melihat sorot mata yang penuh pengharapan. Pandangan mata lembut namun tersirat kesedihan di dalamnya. "Ini salahku karena tidak bisa melindungi mu waktu itu." Ucapnya. Fee tertunduk malu saat ia mengingat kembali hari dimana gadis di depan matanya itu terbujur kaku di tanah.
Alice tertawa pelan. "Itu bukanlah kesalahan mu. Aku telah siap untuk semua konsekuensinya. Baik Echidna ataupun dirimu, kalian tidaklah salah." Jelas Alice.
Bahkan aku berterimakasih karena aku bisa bertemu kembali dengannya. Batinnya.