
Setelah menyantap riang makan malamnya, Elysia mengungkapkan kelezatan masakan buatan Alice dengan wajah riangnya. "Makanan buatan ibu memang selalu enak~"
Alice membalasnya dengan senyuman.
Dia telah melihat gadis kecil itu tumbuh hingga remaja dan menjadi pribadi yang ceria. Kadang-kadang bahkan ia berpikir, apakah dirinya terlalu memanjakannya. Tapi dia selalu melatihnya meskipun itu tak seberat dengan latihan yang ia berikan pada Echidna. Karena dasar kekuatan mereka yang memang berbeda.
Ketika ia memasuki kota Moonshade, awalnya Alice khawatir tentang tempat tinggal mereka. Tapi berkat usaha dan kerja kerasnya, Alice mendapatkan izin untuk mendirikan sebuah rumah di pinggiran kota oleh bangsawan setempat. Yah, Walaupun sebenarnya para highelf itu takut saat mereka melihat kekuatan dahsyat Alice ketika memburu monster.
Meskipun mereka tinggal di rumah kayu yang sederhana dengan dua kamar yang kecil, sebuah ruang tengah dan kamar mandi yang mumpuni juga dapur yang tidak begitu mewah. Setidaknya mereka memiliki tempat untuk bernaung ketimbang Alice harus melihat Elysia kecil besar di panti asuhan.
Alice duduk termangu memandang keluar jendela tanpa ekspresi. "Aku merasa sudah puluhan tahun menghabiskan waktu di tempat ini. Bagaimana dengan keadaan di luar sana?" Cemas batinnya.
Apa yang ia maksud adalah keadaan di dunia sesungguhnya, bukan dalam dunia ingatan milik Elysia.
Negeri elf sedang kacau balau, lagi-lagi itu ulah dari Dewa Jahat Erebos. Alice khawatir kalau sesuatu terjadi pada Echidna. "Anak itu kadang kala ceroboh. Aku cemas ada orang bodoh yang memancing amarahnya sampai-sampai ia kehilangan kendali dan malah menghancurkan kota Moonshade." Alice menghela nafas beratnya. Sungguh putrinya yang satu itu selalu saja membuatnya khawatir.
Ketika ia pikir-pikir ternyata dia sudah memiliki dua orang putri.
Alice lalu melihat Elysia yang sedang membersihkan meja dan berjalan ke dapur sambil membawa piring kotor. "Sedikit lagi, aku bisa merasakan kalau mimpi buruk ini akan segera menemui ujungnya. Aku penasaran peristiwa seperti apa yang akan terjadi selanjutnya." Gumam benaknya.
Di tengah suasana hangat keduanya, seseorang datang dan mengetuk pintu rumah mereka.
"Ah, itu pasti dia." Ucap Elysia berbalik menengok ke arah pintu.
"Siapa? Temanmu?" Tanya Alice.
Elysia mengangguk. "Iya, katanya ada yang ingin dia tanyakan."
"Hmm... kalau begitu, persilakan dia masuk. Aku akan membersihkan sisanya." Alice berdiri lalu ia berjalan ke dapur untuk mencuci peralatan makan mereka menggantikan Elysia.
Elysia pun berlari kecil dan membuka pintu untuk menyambut tamunya. "Ayo, silahkan masuk."
Seorang gadis elf berambut pirang keemasan berjalan memasuki rumah mereka dengan sopan. "Selamat malam. Maaf mengganggu." Ucapnya.
"Tidak perlu sungkan." Elysia menuntun gadis elf itu ke dalam, kemudian ia mempersilahkannya untuk duduk.
Aura bangsawan begitu kental terpancar dari gadis itu. Rambut pirang emas sebahunya mencerminkan karakternya sebagai seorang highelf. Gadis itu melangkah begitu pelan seperti ia sedang berhati-hati di setiap gerakannya. Walaupun rumah yang ia masuki berbanding terbalik dengan kediamannya, dia tetap tak melupakan etika dan sopan santunnya.
Alice yang baru saja selesai membersihkan, kembali ke ruang tengah dan melihat rupa gadis itu. Lirikan penuh tanya tergambar di wajahnya, Alice merasa kalau dirinya pernah bertemu dengan gadis elf itu.
Alice pun bertanya pada Elysia. "Apakah dia teman satu akademi mu?"
"Iya bu. Katanya dia ingin bertemu dengan ibu." Jawab Elysia.
Alice menekuk alisnya heran. "Bertemu...denganku?" Tanyanya pada Elysia sambil menunjuk dirinya. "Untuk apa gadis ini bertemu denganku?. Tapi... wajahnya tampak tidak asing, seperti aku pernah melihatnya. Uhh...Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya." Dengan kemampuan ingatannya sebagai kultivator, hal itu cukup memalukan baginya.
Sebenarnya itu adalah hal yang bagus karena dengan begitu Elysia bisa berinteraksi dengan banyak orang. Namun di lain sisi Alice takut kalau terjadi tindakan diskriminasi padanya disebabkan perbedaan status sosial dia dan para highelf lainnya.
Yah... Belakang ini Elysia tampak senang-senang saja, jadi Alice tidak berpikir untuk memaksanya keluar.
Kembali ke gadis itu yang dengan sopan membungkuk pada Alice ketika menyapanya. "Halo, selamat malam Nyonya. Namaku Helian. Maaf atas gangguannya."
Melihat Alice terdiam tanpa respon, Helian berbalik pada Elysia. "Hei Ely, apakah ada sesuatu yang aneh di wajahku?" Sambil ia meraba-raba wajahnya.
Elysia menggelengkan kepalanya. "Tidak tuh."
"Eh, sungguh? Hmm..."
Alice segera tersadar. Ia pun memperkenalkan dirinya. "Oh, maafkan aku. Aku tiba-tiba teringat sesuatu. Aku Alicia, ibu Elysia. Kau boleh memanggilku bibi kalau kau mau."
Alice masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pantas saja wajah gadis itu terasa tidak asing baginya. Tidak ia sangka ternyata gadis itu adalah Helian ketika masih remaja. "Seperti yang diharapkan dari ras elf, penuaan pada tubuh mereka sangat lambat. Wajahnya bahkan hanya terlihat lebih muda beberapa tahun dari Helian yang ku tahu. Tapi..." Alice memikirkan betapa jauh perbedaannya di antara Helian semasa mudanya dengan Helian yang ia kenal.
Dalam benaknya, Alice menggelengkan kepalanya. "Apa benar gadis yang memancarkan aura polos dan suci ini adalah Helian yang pernah tertidur di punggung ku dalam keadaan mabuk."
Sepertinya apa saja bisa terjadi di masa mendatang, apalagi itu dalam kurun waktu ratusan tahun.
"Aku ingin meminta saran pada bibi, Ely selalu menceritakan tentang betapa hebat dan menakjubkannya ibunya. Berhubung kami memiliki kegiatan untuk menjelajahi dungeon tiga hari ke depan, jadi aku ingin bibi memberi saran tentang bagaimana bertarung melawan para monster itu." Jelasnya dengan santai.
"Saran tentang apa?" Alice bertanya.
Helian melirik ke kiri dan ke kanan, ia terlihat canggung. Dengan berat hati bercampur malu ia menjawab. "Itu... sebenarnya aku belum pernah bertarung melawan monster satupun. Jadi, kalau boleh aku ingin meminta bibi membantuku. Ely selalu bilang padaku, kalau bibi sangat handal dalam mengalahkan mereka." Helian memainkan kedua telunjuknya dengan gelagat sedikit gelisah.
Ely kah.... Sebuah nama panggilan yang mengartikan kalau hubungan Helian dan Elysia begitu dekat.
Meskipun memiliki kapasitas Mana yang besar dan ahli dalam ilmu sihir tapi sebagai penerus utama dari keluarganya, orang tua Helian selalu memanjakan dirinya.
"Ely tidak bohong kan? Energi Mana yang kurasakan pada bibi tidak begitu besar, bahkan jauh di bawah standar dari ras elf. Apakah dia benar-benar kuat..?" Pikir Helian.
Helian sesekali melirik Alice dari sudut matanya. Ia kadang diam dan tampak sedang memikirkan sesuatu.
Alice cukup peka untuk menangkap keraguan dari tatapan Helian. "Baiklah. Karena itu akan sulit dimengerti hanya dengan teori saja. Bagaimana kalau aku menunjukkan mu secara langsung?"
Helian menoleh pada Elysia sejenak, matanya seperti meminta jawaban darinya, tapi Elysia hanya mengulurkan satu telapak tangannya yang berarti keputusan ada di tangan Helian.
"Um baiklah, terimakasih atas kebaikan bibi." Balasnya sambil mengangguk.
"Kalau begitu, kita pergi ke dungeon yang kau maksud itu. Sekalian untuk melakukan pengecekan tentang jenis musuh dan daya tempur mereka."