
Melihat tubuh Ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang. Kevin muda tak kuasa untuk tetap menahan air matanya. Ia menggenggam erat tangan Ibunya yang kian hari makin terasa dingin. Kevin menangis sambil ia mendekap tangan Ibunya itu ke dahinya.
Beberapa hari selanjutnya, ketika ia menghadiri sebuah acara pesta teh yang diadakan oleh salah satu kawannya. Kevin mendengar para ibu dari beberapa keluarga yang sedang bergosip membicarakan tentang Ibunya dan Sang Ratu. Kevin kaget, perasaannya menjadi tak karuan saat telinganya tidak sengaja mendengar kalau semua yang terjadi pada Ibunya merupakan ulah Sang Ratu.
Meski usianya masih begitu muda, namun Kevin paham tentang rumor buruk yang beredar itu yang sama sekali tak berdasar. Ia menahan dirinya dengan perasaan yang kacau. Kevin memutuskan untuk pamit pada kawannya dan pulang lebih awal.
Hari demi hari terus berlalu, namun keadaan Ibunya tak kunjung sembuh. Wajah Ibunya mulai memucat, badannya tampak lebih kurus. Apa sedang terjadi pada Ibu? Cemas Kevin dalam batinnya. Kevin yang masih cukup polos dan naif tidak menyadari bahwa Ibunya telah diracuni melalui makanan yang diantarkan padanya.
Para pelayan yang ada di istana kerajaan yang dulu begitu baik dengan mereka tiba-tiba berbalik menunjukkan punggung yang dingin. Cahaya harapan perlahan memudar bersama tatapan sinis para pelayan yang kerap memandanginya ketika ia melewati mereka. Gosip demi gosip akan perilaku buruk ibunya mulai muncul dimana-mana.
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Kevin berlari sambil meneteskan air mata. Dengan susah payah, tubuh muda yang belum begitu banyak mengalami pahitnya dunia itu menaiki puluhan anak tangga menuju ruangan Ibunya. Lorong gelap dan sunyi itu terasa dingin hingga ke lubuk hatinya.
Apanya yang Menara Pengharapan? Bagian mananya yang romantis dari tempat ini?
Ketika ia membuka pintu, ia disambut dengan senyum hangat yang membuat hatinya luluh dan merasa tenang.
"Kevin...ada apa?" Belai lembut Ibunya saat Kevin tiba dan berlari untuk menyembunyikan wajahnya di sisi ranjang Ibunya.
"Ibu...Kenapa mereka melakukan hal ini pada ibu? Apakah Ayah juga sudah tidak menyayangi kita lagi?"
Kevin terisak dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Tidak sayang..., Ayahmu menyayangimu, semua orang menyayangimu namun, situasi yang Ayahmu alami kali ini lebih rumit." Ucap Lembut dari bibir yang memucat itu.
"Lalu kenapa Ayah tidak mengeluarkan Ibu dari tempat ini? Kenapa Ibu Eliza juga tidak pernah menjenguk Ibu?"
Ibunya hanya bisa tertawa pelan dan menunjukkan senyum pahit di wajahnya. Dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Mereka menuduhnya meracuni Sang Ratu, bahkan ketika ia sadar Sang Ratu atau Elizabeth sahabatnya itu tidak mengatakan apa-apa setelah hari itu. Hubungan mereka seakan merenggang tanpa ia sadari.
Emilia menatap keluar jendela dari ranjangnya. Ia membayangkan ekspresi Elizabeth yang melihatnya ketika ia dibawa ke Menara. Mata yang dingin dan seperti kehilangan emosi itu bukanlah Elizabeth yang telah lama menjadi sahabatnya. Merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya dan juga lingkungan kerajaan. Emilia hanya bisa menerima semua tuduhan pahit dan menunggu Sang Raja menepati janjinya untuk membebaskannya. Sayangnya....hari esok untuk Emilia itu dimana dirinya mendapatkan kembali kebebasannya tak pernah datang.
Malam itu seharusnya Istana dalam keadaan duka. Akan tetapi di bawah langit basah, hanya tersisa Kevin yang menatap batu nisan Ibunya dengan penuh kesedihan. Setelah upacara pemakaman selesai, semuanya berlalu begitu saja.
Kevin berdiri sambil terisak akan kepergian Ibunya yang tiba-tiba. Tak ada yang memayunginya, tak ada yang merangkulnya. Ia merasa dunianya telah sirna. Rasa dingin yang menyelimutinya mencengkeram hatinya dan membuat hati itu ikut membeku.
Kesedihan mendalam itu perlahan berubah menjadi rasa benci. Tangannya mengepal di atas batu nisan Ibunya. Ia berjanji untuk membalas dendam dan mengungkap kebenaran akan semua tuduhan palsu yang dilemparkan pada Ibunya.
Hari demi hari terus berlalu. Sejak kematian Ibunya, Kevin muda menjadi pribadi yang dingin dan keras. Tatapan matanya semakin tajam dan mulutnya semakin jarang untuk berbicara, terutama dengan orang-orang yang ada di istana termasuk Raja dan Ratu. Kevin meletakkan kebencian mendalam bagi mereka khususnya sang Ratu.
"Sebagai sahabat, bahkan tak setetes pun air mata yang keluar dari matamu saat melihat Ibuku dimakamkan." Gumam Kevin geram ketika melihat Elizabeth.
Demi pembalasan dendamnya, Kevin berlatih keras tiap hari, ia membentuk pasukannya dan menggali prestasinya seorang diri.
"Apakah anda tahu, kalau anda dan ibuku mengatakan kalimat yang sama." Kevin menghela nafas beratnya. "Jujur saat itu aku sendiri tidak tahu apa maksudnya perkataan Ibuku. Ia hanya mengatakan kalimat itu saat terakhir kali aku melihatnya."
Kevin masih tetap membungkuk dan menutup matanya dengan salah satu tangannya. Memori pahit yang kembali berputar karena mendengar kalimat yang sama dengan Ibunya yang masih terngiang-ngiang ditelinganya.
Sang Pangeran yang gagah berani dan terkenal dingin itu sedang duduk dalam keadaan lemas dan bimbang di depannya. Alice melihat tubuh tegap itu seperti tak berdaya "Apa yang ia lakukan selama ini hanyalah upaya untuk melindungi hatinya yang rapuh." Benak sedikit khawatir.
Memandangi sosok yang terpuruk dihadapannya. Alice tanpa sadar mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Kevin dengan pelan.
Kevin tersentak, ia terdiam sejenak sebelum menyingkirkan tangannya dan melihat wajah senyum Alice.
Kevin menatap heran Alice dan begitu juga Alice yang memiringankan kepalanya sambil menatap mata Kevin yang juga ikut heran.
"Hmm....."
Tak cukup lama berselang, Alice tersadar dan segera menarik tangannya dari kepala Kevin. Alice terkekeh karena malu.
"Aiya...Aku kebiasaan melakukannya sampai lupa diri." Batinnya mengetuk satu sisi kepalanya.
Ia biasa melakukan hal itu untuk menenangkan adiknya, Merasa kalau dirinya masihlah Kaisar Wanita dan Guru Besar membuat ia lupa diri kalau ia hanyalah gadis muda dari seorang Duke di kehidupan ini.
Alice melambai-lambaikan kedua tangannya di depannya dengan senyum canggung. "Eh...Saya..itu..tidak ada maksud..."
"Terimakasih." Ucap Kevin pelan.
"Eh...?"
Kevin bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Tanpa sepatah kata, ia sudah sampai di depan pintu dan membukanya.
"Apa aku benar-benar sudah menyinggungnya ya?" Pikir Alice.
Kevin melangkah keluar dan menutup pintu. Tapi hanya beberapa detik kemudian ia membuka pintu itu lagi dan berkata. "Terima kasih atas jamuannya Nona Alicia. Ku harap kita bisa bertemu lagi dan berbincang lebih banyak lagi."
Dengan begitu Kevin menutup pintu dan melangkah turun meninggalkan Alice yang sedang-sedang bertanya-tanya dalam kepalanya. "Ah....Kurasa dia baik-baik saja." Gumamnya sambil mengangkat kedua pundaknya.
Di satu sisi, Kevin berjalan menuruni tangga sambil sesekali ia memegangi kepalanya.
Tadi itu apa? Kevin merasa sedikit hangat dalam hatinya. Entah kenapa ia merasa kalau malam ini ia bisa tidur nyenyak hingga pagi menjelang. Kevin tersenyum tipis meninggalkan menara itu.