
Keduanya Saling menatap untuk waktu yang cukup lama. Sorot mata yang tajam dari serigala itu perlahan menjadi tenang. Alice tersenyum. Ia melepaskan jeratan es nya. Pemimpin serigala itu kemudian melolong sebagai perintah pada kawanannya untuk tenang dan tidak melawan.
"Wahai anak manusia. Tahukah kau dengan apa yang kau katakan?" Kata pemimpin serigala itu terdengar bijak dan seperti orang tua kepada Alice.
Alice sedikit terkejut karena dia bisa melihat identitas aslinya. "Oh, rupanya kau menyadarinya. Tentu aku tahu, karena itulah aku menginginkanmu."
Dari pandangan orang lain, mereka terlihat hanya saling menatap namun sebenarnya mereka saling berkomunikasi dengan telepati.
Serigala itu tertawa lepas. "Apakah kau tidak mengenal ku? Anak manusia yang lemah. Jangan paksakan kesombongan mu."
"Sayangnya aku sama sekali tidak mengenal mu. Bahkan kalau pun aku mengenalmu, aku tak peduli dengan indentitas mu." Balasnya spontan. Wajah Alice tersenyum untuk sesaat lalu ia kembali serius. Matanya tertuju pada hal yang lainnya. Tangan Alice perlahan meraih dagu serigala bertubuh besar itu dan menjalar hingga ke pipinya. Ukuran serigala itu bisa dibilang seperti dengan gerbong kereta yang di bawa nitouka.
Alice mengelus lembut bulu pipi dan dagu serigala itu. Ia memejamkan matanya dan merasakan sentuhan nyaman yang ada di telapak tangannya. "Um~Um~. Sudah kuduga, aku jadi makin menginginkan mu." Kedua kelopak matanya terbuka dan menjadi berbinar-binar saat ia menatap serigala itu. Keinginannya seperti tak terbendung untuk memiliki bola bulu yang ada ditangannya.
Serigala itu kehilangan kata-kata. Apa yang sebenarnya dia inginkan?
"Katakan padaku wahai manusia. Untuk apa kau menginginkan ku? Dan apa keuntungan yang akan ku dapatkan jika aku mengikuti mu?" Kata serigala itu dengan nada serius namun ia menjadi risih karena tampaknya lawan bicaranya sama sekali tak mendengarkannya. Wajah Alice menyeringai dan tampak asik mengelus-elus pipi serigala itu.
Sudah lama aku menginginkan sesuatu yang seperti ini~.
Serigala itu berdeham dengan keras membuat Alice sadar. Alice pun berkata. "Mudah saja. Ikut denganku dan aku akan melepaskan mereka." Balasnya santai sembari tangannya tetap mengelus wajah serigala itu. Sepertinya ada magnet yang membuat Alice tak bisa melepaskan tangannya.
Alice semakin lama semakin terlena dengan rasa lembut, halus dan nyaman ditangannya. Ia berjalan lebih dekat lagi dan menempelkan wajahnya pada pipi serigala itu. "Nyamannya~" Ucap senang sambil ia mengelus wajahnya pada bulu serigala itu.
Pemimpin srigala itu naik pitam. Entah kenapa, selain merasa direndahkan ia juga merasa dilecehkan oleh gadis manusia di depannya.
"Manusia lemah! Kau tidak hanya mempermainkan ku, kau bahkan menghina ku. Berani-beraninya kau mengacau ku, maka rasakan lah kematianmu ini!" Serigala itu menjadi marah dan melayangkan cakarnya ke Alice. Namun dengan satu tangan, Alice menangkap ujung kukunya dan menghentikan cakar serigala itu.
"Kau tahu, aku tidak memaksakan kesombongan ku. Aku mengatakannya karena aku memang bisa." Ujar Alice berdiri tegak menatap lurus ke mata serigala itu.
Pemimpin serigala itu makin kesal. Selama ia hidup, baru kali ini seorang manusia yang notabenenya adalah ras yang lemah merendahkannya dan mempermalukannya di depan kawanannya sendiri. Para serigala-serigala lainnya menatap takut ke arah pemimpin mereka. Mereka takut kalau pemimpin mereka mengamuk lagi seperti saat pertama kali ia datang dan menaklukkan pemimpin kawanan sebelumnya.
Harga dirinya diinjak-injak, ia benar-benar tidak dianggap di mata gadis manusia itu. Sebagai serigala buas yang pernah mengguncang dunia, meski saat ini ia tak berada dalam wujud sempurnanya tapi ia yakin, dirinya bakal mudah mengalahkan manusia lemah yang ada di hadapannya itu.
Sayangnya, saat ia belum menyelesaikan kalimatnya, telinganya tiba-tiba berdengung hebat hingga menusuk ke dalam kepalanya.
Apa? Apa ini? Apa yang terjadi?!
Tubuh fenrir menjadi kaku dan terasa lebih berat. Tiba-tiba saja dia kesulitan mengangkat kepalanya, seolah ada kekuatan yang memaksanya untuk tunduk. Kakinya secara perlahan menjadi lemah karena tekanan hebat yang entah darimana asalnya. Pandangannya yang yang tadinya sejajar dengan gadis manusia itu kini berubah, saat ini ia hanya bisa melihat kaki Alice. Fenrir menggeram dengan keras dan memaksa untuk untuk mengangkat kepalanya. "Uuuaaarrggh!!!"
"Ma-manusia! K-kau! Apa yang sudah...kau lakukan padaku?!"
"Tidak ada. Aku hanya menekan mu dengan aura ku saja."
Alice berkata jujur. Saat ini ia memang menekan makhluk di depannya itu dengan aura nya saja. Setelah berbulan-bulan lamanya mengumpulkan energi dari kristal mana yang ia serap. Alice yang telah mencapai puncak Earth Refining seharusnya sudah dapat melakukan terobosan. Namun ia menahan dirinya karena sesuatu hal. Oleh karenanya, kekuatan besar itu masih tersimpan dalam tubuhnya.
Alice berjalan ke sisi Fenrir dan melihat para kawanan serigala lainnya. Mereka menatap Alice dengan pandangan ketakutan. Para serigala itu membungkuk dengan ekor yang mengarah ke bawah. Mereka saling melirik satu sama lain, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan saat ini. Apakah mereka akan mati?
"Mereka ketakutan. Keputusannya ada padamu. Bagaimana? Apakah kau mau ikut bersama ku?" Tanya Alice pelan.
Fenrir menarik dan melepaskan nafasnya beberapa kali. Ia lalu mengangguk. "Baiklah, aku ikut dengan mu. Kau boleh membuat dan memutuskan jenis kontraknya." Ucapnya pasrah. Fenrir tak bisa dan tak ingin melihat kawanannya mati. Mau tak mau, ia harus mengorbankan dirinya dan lagipula, ia merasa kalau mengikuti gadis manusia itu bukanlah pilihan yang begitu buruk. Sudah lama ia telah melindungi hutan itu, mungkin inilah saatnya untuk dia keluar dan kembali melihat dunia.
Alice memiringkan kepalanya dan memasang ekspresi bertanya-tanya. "Kontrak? Untuk apa? Memangnya kita harus melakukan itu ya?"
Fenrir kaget dengan pertanyaan itu. "Hah?!" Tidak habis pikir. Apakah manusia ini mengajaknya ikut bersamanya tanpa tahu apapun tentang kontrak. "B-bukannya kau sendiri yang bilang untuk mengikuti mu." Alice mengangguk. "Berarti kita harus melakukan kontrak. Entah itu kontrak majikan dan peliharaannya atau majikan dan..."
"Sudah, sudah. Aku mengajakmu bukan untuk mengikat kontrak dengan ku. Aku menginginkan mu sebagai seorang rekan. Bukan sebagai peliharaan atau apapun itu." Jelas Alice. Meskipun aku ingin menggunakan mu sebagai bantal tidur atau sesekali menjadi tunggangan ku." Alice tertawa kecil dalam benaknya.
Fenrir merasa tersentuh. Baru kali ini, baru kali ini ada seseorang yang mengharapkan dirinya. Setelah ia di kejar dan bertarung habis-habisan dengan para Dewa-dewi. Seseorang dari ras manusia yang kecil dan lemah menggoyangkan hatinya yang keras.
Alice telah mendapatkan rekan baru. Ia pun keluar hutan dengan aman dan lancar. "Oh iya, kau bilang namamu tadi Fenrir kan? Hmm... boleh ku panggil Fee tidak?" Tanya Alice.
Fenrir yang berjalan mengikuti mereka menjawab dengan malas. "Lakukan saja sesukamu."
Alice tersenyum menepuk kedua tangannya sekali. "Kalau begitu sudah di putuskan. Aku akan memanggil mu. Fee." Alice tersenyum bahagia.