
"Apa anda mengatakan sesuatu Tuan Putri?" Alice berhenti meniup sulingnya setelah samar-samar mendengar Marianne mengatakan sesuatu.
Marianne berjalan mendekatinya dekat kepala yang menunduk.
"Tuan putri?" Alice memanggilnya lembut.
Marianne tetap diam dan menunduk "Kakak..." Panggilnya masih dengan nada yang pelan.
"Aku yakin tidak salah dengar kan?" Benak Alice. "Seingatku kami tidak memiliki hubungan apapun, bahkan akrab saja tidak. Aku ingat terakhir kali aku mengajaknya berbicara tapi dia hanya melambaikan tangannya dan pergi begitu saja."
Marianne sekali lagi memanggilnya "Kakak...ini aku." Setelah itu kembali diam dan mengangkat wajahnya untuk menatap Alice.
Alice heran melihat mata yang berlinang air mata itu. "Apakah terjadi sesuatu?" Tanya ia sedikit cemas.
Marianne maju sekali lagi hingga jarak mereka hanya tinggal selangka. "Kakak Nian...ini aku Yan Mei."
Alice yang tadinya masih bisa tersenyum lalu terkejut dan tubuhnya menjadi kaku seketika. Sejumlah kenangan tiba-tiba melintas di kepalanya. "Yan Mei..."
Kala itu, dengan jelas mata mereka saling bertemu. Yan Mei, adik angkatnya yang begitu dekat dengannya dan sangat ia sayangi memandangnya dengan dingin. Senyuman terakhir adiknya itu hanya terlihat sesaat setelah ia menancapkan sebilah pedang menembus tubuhnya.
Meski tak ada luka tapi, bagian yang di tusuk itu tiba-tiba terasa panas dan sedikit nyeri.
"Maaf Tuan Putri, kupikir anda salah orang." Balasnya tersenyum pahit. Alice lalu berbalik dan ingin segera pergi tapi Marianne dengan cepat memeluk pinggangnya dari belakang. "Kakak...aku tahu itu dirimu. Kumohon, kumohon dengarkan aku."
Alice menahan pahit dan sakit di dadanya. Ia menggigit bibir bawahnya. Karena ia tak ingin hal ini berlarut-larut dan lagi pula ia berusaha ingin melupakan masa lalunya. Alice lalu berkata "Apa yang ingin kau jelaskan?" Dadanya terasa berat dan matanya menjadi berkaca-kaca. Yan Mei adalah adiknya. Satu-satunya orang yang ia jadikan saudari dan sangat ia sayangi tapi ujung-ujungnya ia bahkan tak jauh berbeda dari sahabat dan cinta pertamanya. Yan Mei mengkhianatinya. Bahkan ketika ia menusuknya, tak ada rasa bersalah yang terlihat di wajahnya.
"Kakak...aku tahu mungkin kau sulit untuk mempercayainya, tapi saat itu aku berada dalam kendali wanita itu." Ujar Marianne dengan nada gemetar. Tubuhnya yang juga ikut bergetar ketika harus mengingat tangannya yang berlumur darah kakaknya itu. Yan Mei atau Marianne tidak tahu apakah Alice akan percaya padanya atau tidak.
Alice memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas panjang untuk menenangkan pikirannya. "Jelaskan padaku." Lalu ia berbalik memandang Alice dengan serius.
"Kakak Nian... terima kasih."
Keduanya lalu duduk di atas kuris batu dan saling berhadapan.
"Sebelum aku kehilangan kendali atas tubuhku. Aku ingat wanita busuk itu memberiku sebuah minuman. Setelah malam hari, aku merasa tidak bisa menggerakkan tubuhku tapi aku yakin kalau tubuhku bergerak dengan sendirinya." Marianne terdiam sejenak sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "Aku sadar dan tahu dengan apa yang ku lakukan tapi ketika wanita itu membisikkan sesuatu ke telinga ku. Tubuhku bergerak begitu saja mematuhi perkataannya. Sejak saat itu. Aku merasa kalau aku bukan lagi diriku. Kakak..." Marianne menatap Alice dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kakak, tak apa jika kau tak ingin percaya padaku. Aku...aku hanya ingin meminta maaf padamu. Kakak, aku benar-benar merasa bersalah waktu itu. Bahkan setelah bereinkarnasi ke dunia ini. Mimpi ketika aku membunuhmu dengan tanganku dan perasaan bersalah yang melekat terus saja menghantuiku."
Alice melihat ketulusan dan penyesalan di wajahnya. Entah apakah ia yang terlalu lunak atau rasa sayangnya yang terlalu besar, Alice sungguh tak bisa membenci adiknya itu.
Dalam susah dan senang mereka dahulu selalu bersama. Ketika ia menyelamatkan Yan Mei dari pembantaian yang dilakukan suku bar-bar, dari sanalah takdir mempersatukan mereka. Dan sekarang benang takdir itu masih terhubung diantara mereka.
Alice meraih wajah Marianne dan mengelus pipinya. "Aku percaya padamu." Katanya lalu ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengelap air mata Marianne.
Malam itu Putri berambut merah itu yang terkenal sebagai Mentari kerajaan yang memiliki pesona dan aura gagah berani ketika bertarung menangis sejadi-jadinya di pelukan Alice.
~
Setelah penyambutan untuk Sang Raja dan Ratu yang menghadiri turnamen itu. Para peserta mulai memasuki arena dan mengambil undian nama mereka.
Sorak ramai penonton memeriahkan sekeliling arena tersebut. Setelah mengambil undian. Para peserta sudah dibagi sesuai dengan keahlian mereka dan satu persatu telah siap untuk bertarung di atas arena
Dimulai dari para ahli bela diri yang saling bertukar serangan. Suara pedang dan tombak saling beradu terdengar nyaring di telinga penonton. Teknik dan jurus serangan mereka membuat penonton terkesima. Dengan gesit mereka menghindari serangan satu sama lainnya. setelah bertarung cukup lama, akhirnya satu persatu peserta gugur dan skor kemenangan di pegang oleh Royal Seed akademi. Para penonton bersorak ria bagi mereka yang telah bertarung.
Pertandingan selanjutnya adalah giliran departemen ahli sihir. Seperti sebelumnya, peserta telah siap bertarung sesuai dengan nama yang mereka dapatkan.
Tak ketinggalan pula, Iris sebagai salah satu peserta juga telah mempersiapkan mental dan kemampuannya.
Ketika Iris melirik ke arah penonton, ia tak sengaja melihat Alice. Alice sadar kalau Iris sedang melihatnya kemudian dengan pelan melambaikan tangannya dari kursi penonton pada Iris.
Iris mendecihkan lidahnya "Kenapa dia ada disini? Humph!" Batinnya kesal lalu ia memalingkan wajahnya.
Ketika pertarungan dimulai, para peserta saling merapalkan mantra mereka dan mulai menyerang satu sama lain. Serangan sihir tiap elemen itu berhamburan dan sesekali bertubrukan. Dengan bantuan mekanisme pelindung yang ada mengelilingi sisi arena sehingga membuat penonton tak perlu khawatir tentang serangan sihir yang akan mengenai mereka.
Raja yang menyaksikan kompetisi itu ikut bersemangat. Ia tertawa pelan lalu berkata "Tahun ini kita mempunyai banyak bakat yang hebat."
Setelah cukup lama, akhirnya tibalah peserta terakhir yang naik ke atas arena. Skor sementara seri dimana pertandingan pertama dimenangkan oleh Royal Seed akademi dan pertandingan kedua di menangkan oleh Sky Empire akademi
Alice deg-degan ketika melihat Iris akan bertarung. Tapi tiba-tiba ia berfirasat buruk. "Aku merasakan sesuatu yang janggal dari orang itu." Gumamnya ketika melihat laki-laki yang menjadi lawan bertanding Iris.