
Cliff sekejap bergidik saat ia menatap ke dalam mata Alice. Seakan dirinya terseret ke dalam lautan yang dalam dan gelap, seperti ia terjebak dalam dinginnya es. Cliff menggelengkan kepalanya, ia sadar kalau di depannya itu hanyalah gadis kecil.
Merasa harga dirinya diinjak-injak oleh gadis itu, pundaknya gemetar karena tak kuat menahan tawa sambil menutupi wajahnya dengan satu tangannya. Cliff mendengus dan menyeringai. "Ternyata itu kau ya..." Ia menunjuk Alice. Cliff tertawa pelan, ia lalu menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia baru ingat kalau gadis yang ada di depannya adalah sosok yang ia cari. "Baiklah, aku akan mengembalikan ibumu, tapi sebagai gantinya, bagaimana kalau kau ikut dengan kami?" Cliff mengulurkan tangannya pada Alice. Ekspresinya begitu angkuh dengan salah satu alisnya yang naik, membuat Alice muak melihat wajahnya.
Alice terdiam. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, melihat korban luka yang sudah tidak bisa lagi bertarung, tanah dan beberapa bagian gedung yang hancur serta adik dan Ayahnya yang dalam kondisi buruk. Alice berbalik dan melihat Ernard.
"Alice..?" Benak Ernard cemas saat ia menatap mata Alice yang sepertinya sedang memikirkan tawaran mereka.
Mata Alice dan Ernard bertemu cukup lama, mereka seperti saling bertukar pikiran. Ernard menggelengkan kepalanya perlahan, dengan alis mengkerut yang menandakan ia tidak setuju akan keputusan Alice.
Alice tersenyum lembut. Ia tak ingin bertarung di tempat ini. Jika memang harus menumpahkan darah, ia lebih memilih untuk saling menghancurkan di tempat lain. Baginya, kediaman Strongfort adalah rumah yang berharga, dimana setiap sisi tempat itu di penuhi kenangan oleh seluruh orang, baik pegawai atau keluarganya sendiri, mereka semua adalah harta karun bagi dirinya.
Alice menyarungkan pedangnya kembali, ia berjalan mendekati Ernard. Seolah Ernard sebagai Ayah tahu apa yang selanjutnya akan dikatakan putrinya, ia lebih dulu menolaknya dengan berkata "Aku tidak setuju. Apapun alasan mu, aku tetap tidak ingin kau pergi dengan mereka." Ernard serius mengatakan itu, namun dia hanya bisa berharap kalau Alice memiliki pemikiran yang sama dengannya. Sedangkan untuk masalah Liana, istrinya, jika memang harus mengorbankan nyawanya, ia siap untuk melawan pihak Kuil.
Alice mengambil satu tangan Ernard. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari cincin dimensinya. "Ini adalah ukiran jimat yang spesial khusus buatan ku. Ayah hanya perlu menempelkan pada sebuah plakat kayu. Kelak, jika namaku masih tertulis di atasnya. Maka dimana pun aku berada, aku pasti masih hidup dan akan kembali ke rumah ini." Alice mengambil tangan Ayahnya yang satunya lagi. Menggenggamnya erat dan merasakan kehangatan tangan dari seorang Ayah.
Ernard menyipitkan matanya, ia berusaha untuk tidak mengerti apa yang Alice katakan. "Apa maksudmu? Apa yang ingin kau lakukan?" Ucapnya menatap dalam Alice. Dadanya makin terasa berat.
Mata Ernard mulai bergetar melihat Alice yang hanya diam dan memasang ekspresi teduh.
"Kalian adalah keluargaku, hal terindah milikku, harta karunku. Ayah, aku hanya pergi sebentar, aku ingin mengambil ibu dari mereka dan pasti aku juga akan pulang. Oleh karena itu, Ayah...Aku...pamit ya." Alice tersenyum manis dan langsung memeluk Ernard dengan erat.
Ernard mengecap bibirnya, ia benar-benar ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada yang lebih tahu tentang Alice daripada dirinya. Baik dulu maupun sekarang, putrinya yang satu ini sungguh keras kepala, jika dia sudah memutuskan sesuatu maka sulit untuk membuatnya berubah pikiran.
Sungguh banyak yang ia ingin tanyakan pada putrinya itu.
Alice berbalik dan berjalan ke arah para petinggi kuil dengan santai. "Sekarang, kembalikan Ibuku." Ucapnya dingin pada Cliff.
Cliff terkekeh. "Tentu." Ia melirik sedikit pada Cardinal yang di sampingnya, dengan isyarat mata, ia memerintahkan Cardinal yang membawa Liana untuk mengembalikannya pada kediaman Strongfort.
"Bagaimana? Kami selalu memegang kebanggaan dan janji kami bukan?"
Alice menatap sinis Cliff. " Kebanggaan apanya? Kalian menyusup ke kediaman kami dan tiba-tiba menyerang kami. Apakah itu namanya kebanggaan?" Benaknya menghina para petinggi itu.
Iris melihat Alice mengangguk sebelum akhirnya ia pergi bersama mereka.
Kakak?
Iris terbelalak, ia memeriksa dan melihat tubuhnya yang baik-baik saja dengan luka-luka yang seperti hampir lenyap. Bahkan energi Mananya sudah mulai kembali sedikit demi sedikit. Namun, secara fisik, tubuhnya masih lelah, bahkan ia masih belum memiliki tenaga untuk berteriak. Iris memaksa untuk bangkit dan mencoba untuk berjalan. Selangkah demi selangkah kaki sudah mulai kuat untuk menopang tubuhnya. Ia segera berlari mengejar Alice.
Iris tak memperdulikan sekitarnya, ia bahkan melewati Ernard dan di dalam matanya hanya ada Alice yang sudah berada di atas kereta kuda.
Ia sangat ingin merapal mantra dan bergerak secepat mungkin untuk menyusul Alice tapi Mana dalam tubuhnya belum cukup. Iris terengah-engah dan tak sanggup lagi berlari.
Kakak...
Mungkin, jika seandainya Ernard tahu kalau itu adalah terakhir kalinya ia melihat Alice untuk waktu yang begitu panjang, mungkin dia tak akan membiarkannya untuk pergi.
~
Setelah dua hari meninggalkan kediaman Strongfort, kereta kuda mereka melewati hutan terakhir dan terus berpacu tanpa henti hingga akhirnya mereka melihat danau besar yang dimana ada begitu banyak binatang mamalia dan bunga-bunga indah. Pemandangan itu begitu indah dan menenangkan hati. Ada juga kicauan burung yang terdengar merdu melintas di telinga Alice.
Kereta-kereta mereka terus bergerak hingga akhirnya mereka berada di depan tembok bata besar. Para penjaga gerbang berteriak dan memberikan informasi pada kawannya yang berada di atas untuk segera menurunkan jembatan. Mereka tahu siapa yang ada di dalam kereta itu setelah melihat Logo yang tergambar pada kereta itu.
Setelah melewati jembatan dan gerbang yang besar. Alice melihat pemandangan baru, kota suci Liebe atau Liebe The Holy City menyajikan begitu banyak pesona yang membuat orang-orang yang baru melihatnya Takjub. Menara-menara putih yang berdiri cukup banyak dengan ukiran indah di setiap sudutnya. Air mancur yang tampak jernih mengalir dari menara itu ke setiap penjuru kota.
Semakin mereka masuk ke dalam. Maka, semakin banyak hal-hal baru yang Alice temui. "Kota ini begitu indah. Jujur, aku ingin berkeliling dan menghabiskan banyak waktu di tempat ini tapi..." Alice berkedip, melepaskan semua perasaan emosional itu dalam hatinya dan membuat matanya terlihat dingin.
"Kedatanganku kemari selain untuk membuat orang-orang ini membayar atas apa yang mereka lakukan pada keluarga ku. Juga ingin mencari tahu apa yang terjadi pada Lilia." Ia meremas kuat-kuat tangan kecilnya itu. Mata indah dan memukau itu seolah tidak pernah ada.
Fakta mencurigakan yang Alice dapatkan adalah pihak kuil belum memutuskan tindakan mereka terhadap dirinya. Bahkan, aneh jika tiba-tiba saja mereka mengincar Liana. Sesuai yang Lilia katakan padanya, Kepala Kuil hanya memerintahkan mereka untuk mengawasi Alice saja. Lilia bahkan sempat berkata akan kembali dan menanyai Kepala Kuil menyangkut tentang ramalan itu. Tapi, semenjak mereka berpisah di menara. Alice sama sekali tak mendapat kabar apapun dari sahabatnya itu.
Firasatnya mengatakan kalau jawaban atas semua peristiwa ambigu itu ada di kota ini, terutama tentang upaya pembunuhan terhadap dirinya waktu itu.