Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 116



Zhou Yun berjalan ke tepi gazebo, ia memandangi danau yang tenang itu dengan tatapan melankolis. Punggungnya tampak begitu lebar di mata Alice dan terlihat kesepian. Alice bisa merasakan beban berat yang diangkut oleh kedua pundak muridnya itu.


"Guru, setelah kau membuka matamu, bisakah kau memenuhi satu permintaan ku ini?" Tanya Zhou Yun.


"Apa itu?"


"Aku ingin kau pergi ke sebuah hutan yang terletak di bagian utara kerajaan Elf. Setelah kau masuk hingga ke tengah hutan, disana ada sebuah tanah lapang dan tumpukan batu.


Zhou Yun berbalik, ia berjalan dan berdiri di depan Alice. Zhou Yun lalu mengulurkan telapak tangannya, perlahan. Sebuah bola cahaya muncul perlahan. "Guru, ambillah. Ini adalah Mana Heart."


"Mana Heart?"


Bukankah Mana Heart adalah sebuah jantung dari seekor naga, kenapa dia memberikan itu padaku?


Untuk mendapatkan Mana Heart itu artinya kau harus membunuh seekor naga dan mengambil keluar jantungnya. Sebuah benda yang bahkan memiliki harga tak ternilai karena kelangkaan dan khasiatnya yang ajaib.


"Tumpukan batu itu merupakan sebuah makam dari seseorang yang sangat berharga bagiku. Aku sudah menganggapnya sebagai keluarga, sahabat, bahkan orang tua ku sendiri." Jelas Zhou Yun.


Wajahnya tampak begitu sedih, suaranya menyiratkan duka lara dari kenangan lama yang ia miliki.


Alice mengambil tangan Zhou Yun. Ia menatap matanya lalu mengangguk.


Zhou Yun pun melepaskan bola cahaya itu dari genggamannya. Bola cahaya itu melayang di udara, perlahan-lahan mendekati Alice lalu menembus masuk ke dalam dadanya.


Kedua mata Alice terbuka lebar saat bola cahaya itu masuk ke dalam tubuhnya. Perasaan hangat dan nyaman mengalir ke seluruh tubuhnya kemudian berganti menjadi sebuah rasa dingin menyegarkan yang muncul di dadanya dan menyebar ke setiap sistem sarafnya. Alice merasakan sebuah kekuatan aneh yang sepertinya baru saja memperbaiki tubuhnya.


"Ini..."


Zhou Yun tersenyum kecil. "Benar. Mana Heart itu mengaktifkan kembali Mana Heart milik guru yang telah rusak. Tidak hanya itu saja. Mana Heart yang ku berikan pada guru juga akan meningkatkan kemampuanmu. Vitalitas, kekuatan, dan terutama semua hal yang berkaitan dengan energi Mana."


"Apakah itu berarti...aku sudah bisa menggunakan sihir." Benak Alice.


Alice menatap muridnya dalam-dalam. Haruskah aku senang?


Rasa bahagia memang ada tapi bagaimana bisa ia tersenyum puas ketika muridnya menunjukkan wajah murung di hadapannya?


"Kenapa kau memberikan ini padaku?" Tanya Alice.


Zhou Yun menghela nafasnya. Alice melihat baik-baik kedua mata yang memandang jauh itu. Zhou Yun tersenyum lembut pada gurunya, "Guru pasti sudah bisa menebaknya bukan?"


"....."


"Apa yang ada di hadapan guru saat ini hanyalah sebuah serpihan jiwa yang tertinggal di dunia ini. Lambat laun aku pasti akan lenyap seiring waktu berlalu tapi aku bersyukur, karena sebelum serpihan jiwa ku ini menghilang sepenuhnya, aku masih bisa bertemu denganmu, guru."


Zhou Yun berbalik kembali membelakangi Alice, Ia mengambil sebuah seruling dari saku dalam bajunya.


"Berulang kali aku memasuki roda reinkarnasi dan telah hidup di beberapa dunia yang berbeda. Aku tak pernah berhenti berharap untuk bertemu dengan mu lagi. Guru, setelah menanti begitu lama, tahu kah kau, aku sangat bahagia ketika pertama kali lahir ke Aria."


Tidak hanya satu kali tapi puluhan kali setelah ia mati sejak kehidupan pertamanya ketika ia bertemu dengan wanita bernama Lan You Nian. Sejak saat itu jiwanya masih dirundung rasa sedih dan penyesalan karena tidak dapat menyampaikan sesuatu yang tersimpan di hatinya. Zhou Yun terus berharap jika kelak langit mempertemukan mereka sekali lagi. Dia tidak ingin menjadi murid ataupun saudaranya.


Zhou Yun mengepal tangan satunya.


"Saat itu, aku merasakan sedikit kehadiran mu di dunia ini. Aku berlatih menjadi kuat dan sangat kuat lebih dari siapapun, sampai-sampai mereka menjadikanku seorang pahlawan. Dengan kekuatan ku saat itu, aku yakin untuk bisa melindungi dan menjaga orang-orang yang ku sayangi. Tapi aku keliru."


Zhou Yun menarik nafasnya lantang. Dadanya sedikit berat ketika ia kembali mengingat kenangan yang pernah terjadi ribuan tahun silam.


"Aku pikir aku bisa melakukannya. Aku yakin dengan kekuatan ku, aku bisa melindungi satu-satunya orang yang berharga bagiku waktu itu tapi... lagi-lagi aku gagal. Aku mengacaukannya lagi setelah sekian lama."


Menjadi bangsawan, cendekiawan, pengemis atau seekor binatang. Zhou Yun telah melalui banyak kehidupan demi menghilangkan gundah hatinya. Hidup dan mati sudah tidak terhitung akan berapa banyak yang telah dilaluinya.


Apakah raja neraka atau kaisar langit kasihan padanya sehingga jiwanya terus memasuki perputaran kehidupan yang tak berujung? Atau malah sebaliknya?


Hatinya hampir saja mati dan menjadikannya raga yang kosong tanpa ada semangat hidup. Tapi sosok istimewa kala itu muncul di hadapannya. Monster besar dengan taring yang tajam dan besar pula. Nafasnya begitu kuat bahkan mampu menerbangkan sebuah desa kecil dan suaranya menggelegar hingga ke ujung langit tempat para dewa bersemayam.


Kehidupannya yang sederhana namun menyenangkan karena penuh hal baru dan petualangan mendebarkan bersama Gloria, Sang Naga Agung.


Semuanya baik-baik saja bahkan saat ia menjadi kuat dan telah berhasil mengalahkan Raja Iblis. Tapi saat itulah, Zhou Yun tidak menyadari keserakahan yang mengerikan dari manusia yang ia lindungi dan perjuangankan.


Ribuan tahun yang lalu saat ia akhirnya telah menemukan rumah kedua yang berarti baginya, tapi malah hilang oleh kedua tangannya sendiri.


Beberapa hari setelah manusia merayakan kemenangan mereka karena Sang Pahlawan telah berhasil mengalahkan Raja Iblis Typhoon. Zhou Yun begitu gembira karena usahanya tidak sia-sia.


Zhou Yun berharap untuk kembali ke rumahnya yang terletak di tengah hutan yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Tapi senyuman di wajahnya hilang saat kepala kuil datang bersama sang Raja dan memintanya untuk membunuh seekor naga guna mengambil jantungnya.


Murung, dilema.


Kepala kuil itu menjelaskan bahwa jantung naga itu sangat berarti untuk keselamatan dunia Aria. Zhou Yun tidak masalah untuk membunuh naga mana pun itu tapi permintaan kedua tokoh penting itu begitu berat karena dia harus membunuh seekor Naga Agung yang merupakan sahabat, orang tua angkat dan satu-satunya yang ia anggap keluarga.


"Wahai Pahlawan... Pergilah dan ambil Mana Heart milik Sang Naga Agung, dengan begitu kita bisa menyelamatkan Aria dan seluruh penduduknya. Aku mendapatkan wahyu dari Dewi Gaia bahwa Aria dalam keadaan sekarat. Sang Dewi berkata bahwa Mana Heart milik Naga Agung Gloria lah yang bisa menjaga kehidupan dari dunia ini. Wahai Pahlawan....Demi seluruh kehidupan yang ada di Aria. Ku mohon...ku mohon.... padamu." Pinta Kepala Kuil dengan sangat sampai ia menjajarkan dahinya dengan tanah.


Zhou Yun dengan berat hati pulang ke rumahnya dan menemui Gloria. Tidak tahu kenapa, pedang di tangannya terasa sangat berat kali ini.


Zhou Yun menemui Gloria dan menjelaskan semuanya. Sang Naga mendengarkan baik-baik dan melihat ekspresi wajah Zhou Yun dengan seksama.


Sang Naga terdiam sejenak tapi pada akhirnya ia mengangguk setuju.


Kenapa?


Wajah Zhou Yun menghitam dan murung.


Kenapa kau harus setuju? Tidak bisakah kau menolak dan melawanku. Bahkan aku ingin kau membunuhku saja.


Zhou Yun ingin meneriakkan kalimat itu dengan lantang tapi dia hanya bisa menggigit bibirnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Zhou Yun menghunuskan pedangnya ke hadapan Gloria.


Kenapa...setelah semua yang ia lakukan kenapa hal ini harus terjadi?


Harapan umat manusia, harapan dunia yang begitu berat bertumpu di atas kedua pundaknya.


Kenapa? Wahai Sang Dewi...


Hati Zhou Yun terus menjerit putus asa dengan penuh tanya.


Dengan mata yang basah Zhou Yun mengayunkan pedangnya. Gloria melihat Pahlawan kecil yang cengeng itu sambil tersenyum.


Bagi Gloria, dia sudah puas dengan kehidupannya ini. Setelah hidup sendirian begitu lamanya akhirnya ia memiliki seseorang untuk menemani hari-harinya dan membuat dunianya lebih berwarna.


Bukankah sudah waktunya mengakhiri kehidupan ini? Gloria berpikir kalau lebih baik ia yang mati lebih dulu daripada kelak Zhou Yun yang pergi meninggalkannya seorang diri.


Saat Pedang Zhou Yun tertancap di tubuhnya. Untuk yang terakhir kalinya, Gloria membelai lembut kepala Zhou Yun dengan jarinya.


Zhou Yun tertunduk dan tenggelam dalam isak tangisnya.


Untuk apa aku menjadi pahlawan kalau pada akhirnya aku harus kehilangan segalanya yang berarti bagiku?


Jika menjadi pahlawan berarti menyelamatkan dunia dengan mengorbankan sesuatu yang berharga bagimu. Maka Zhou Yun berharap untuk menjadi penjahat yang rela melindungi apa yang berharga baginya meski harus melawan dunia dan seisinya.


Tiga hari tiga malam, Zhou Yun bertekuk lutut di atas pedangnya di hadapan tubuh Gloria yang tak lagi bernyawa.


Setelah begitu lama terjebak dalam pedih hatinya. Akhirnya ia memutuskan kembali membawa Mana Heart ke kehadapan Sang Raja setelah mengubur Gloria.


Di atas balkon istana, Zhou Yun menatap rembulan di temani segelas anggur. Ia masih belum bisa melenyapkan rasa sedih yang mendalam dalam hatinya itu.


Guru.... Gloria...