Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 78



Setelah mencari berjam-jam lamanya dan membalik begitu banyak halaman, Alice akhirnya menemukan jawaban yang dia butuhkan selama ini. Kenyataannya bahwa jalan pulang yang tertulis di buku dan lembaran-lembaran kertas itu adalah menggunakan portal atau sebuah lingkaran sihir teleportasi. Namun saat Alice membaca lebih banyak lagi, ia menemukan kendala yang membuatnya harus mencari solusi untuk selanjutnya.


Untuk opsi pertama yang berkaitan dengan portal dimensi. Hal itu hanya berada di kastil Sang Raja iblis. Sebuah ruangan yang terdapat begitu banyak lingkaran sihir dan membutuhkan banyak energi mana untuk membuka portal itu. Konon katanya ruangan dan lingkaran sihir yang ada di dalam di buat oleh leluhur agung mereka atau raja iblis ratusan tahun yang lalu sebelum ia mati. Sedangkan untuk opsi kedua tentang lingkaran sihir teleportasi, Alice bahkan tidak terlalu berharap pada pilihan itu. Seperti hal nya saat dirinya di teleportasi paksa ke benua Arkham, Alice hanya bisa berharap suatu saat ia mendapatkan keberuntungan dan menemukan lingkaran sihir teleportasi itu yang akan membawanya kembali ke benua Regnum.


Perut Echidna yang duduk di sampingnya mulai keroncongan. Suasana sunyi nan tenang di ruang perpustakaan itu membuat raungan kecil dari perutnya terdengar hingga ke telinga Alice.


Alice menutup bukunya dan membelai kepala Echidna. "Sudah waktunya makan siang. Maaf ya, aku tidak memperhatikannya." Ia benar-benar lupa waktu.


Echidna mengangguk lalu turun dari kursinya dan berlari kecil menunggu di depan pintu. Ia terlihat sudah tidak sabar untuk segera makan.


Hari telah hampir gelap. Alice bersama Echidna dan Fee sampai di suatu kedai kecil, lalu mereka pun singgah untuk makan bersama.


Selagi keduanya menikmati hidangan yang disajikan di hadapan mereka, Alice mengunyah makanannya perlahan sambil ia terlelap dalam benaknya. Matanya lurus memandang kosong makanan yang ada di atas piringnya. Alice masih memikirkan tentang bagaimana ia akan menemui raja iblis dan apa yang harus ia lakukan sehingga ia dapat menggunakan ruangan miliknya itu.


"Mama...tidak makan? Mama baik-baik saja?" Alice menatap cemas Alice yang terlihat seperti tidak begitu nafsu makan.


Alice berkedip beberapa kali dan sadar saat telinganya mulai mencerna suara Echidna. "Tidak apa-apa sayang. Echidna tidak perlu cemas. Ini makanlah lagi, makan yang banyak ya." Jawabnya sambil tersenyum lembut dan memberikan sedikit lauk yang ada di piringnya ke Echidna.


Jujur saja, Echidna tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan mamanya. Apalagi saat Alice memberikan beberapa potong lauknya pada Echidna. Ia tahu kalau mamanya belum makan banyak, bahkan jika di lihat dari porsi makannya, Echidna merasa kalau mamanya makan sangat sedikit. Ekspresi cemas itu tak luput dari dari wajahnya. Echidna tak lagi menikmati makanannya. Ia memasukkan makanan dan mengunyahnya sambil menatap Alice. Wajahnya cemberut, ia merasa kalau dirinya tidak bisa mengurangi beban yang ada dalam pikiran mamanya.


Tak lama kemudian, seorang deemon wanita dengan rambut abu-abu memasuki kedai itu dan berjalan untuk mengambil tempat duduk di belakang mereka. Suasana kedai itu tiba-tiba berubah begitu saja saat wanita itu mulai duduk.


Pelanggan kedai itu hari ini tak banyak, bahkan bisa di hitung dengan jari. Namun Alice tak begitu memperhatikan pandangan mereka yang seperti menunggu seseorang datang dan sesekali melirik ke arah pintu kedai. Pikiran Alice masih terpaku pada rencananya untuk menemui raja iblis.


Namun, Perhatiannya mulai sedikit teralihkan saat lonceng pintu masuk berbunyi dan tampak seorang wanita muda yang cantik jelita dengan mata merah dan rambut abu-abu. Alice mengangkat kepalanya dan melihat seorang pelanggan wanita yang cantik jelita yang berjalan melewatinya. "Penampilannya mirip seperti Ophelia. Apakah mereka dari suku yang sama?" Pikirnya. Alice merasakan udara di sekelilingnya menjadi sedikit dingin dan hawa membunuh mulai mengisi kedai kecil itu.


Alice menutup matanya sejenak untuk mengembalikan fokus pada saat ini. Jika ia lengah mungkin sesuatu yang buruk bisa saja terjadi padanya atau orang sekitarnya.


"Bahkan kasir mereka pun sudah tidak ada di tempatnya." Benak Alice curiga. Ia menyipitkan matanya sambil memandangi seorang pelayan pria yang tampak asing. Pelayan itu bukanlah deemon yang melayani para pelanggan sebelumnya.


Mata Alice terus melirik dan memperhatikan sekelilingnya. Senyum licik dari pelayan dan beberapa pelanggan yang ada di kedai itu menyiratkan sesuatu tersembunyi dan hawa membunuh yang kental itu makin terasa jelas baginya.


"Mama..?" Echidna heran dengan Alice yang tiba-tiba diam dan tampak serius.


"Ini daftar menu kami, silakan dilihat-lihat dulu nona. Saya akan menunggu anda disini." Lanjut pelayan itu sambil memberikan lembaran menu pada deemon wanita di depannya.


"Baiklah, terima kasih kalau begitu." Wanita itu tersenyum ramah. Lalu ia pun melihat-lihat keseluruhan daftar menu yang tertulis di kertas itu.


Pelayan itu bergeser sedikit ke bagian belakang wanita itu. Ia bergerak perlahan lalu menunduk lebih dekat pada wanita itu. Saat wanita itu tengah serius membaca dan memikirkan tentang apa yang ingin ia pesan. Pelayan itu perlahan mencabut belati beracun dari saku belakang celananya.


Alice melihat tingkah aneh pelayan itu dari sudut matanya dan merasakan hawa membunuh yang makin padat yang datang darinya. Alice segera berbalik dan dengan cepat ia melemparkan sendok yang ada di piringnya pada pelayan itu.


Pelayan yang hampir saja menusuk wanita itu tepat di bagian belakang lehernya berteriak kesakitan karena lemparan sendok Alice.


Ia mendecihkan lidahnya dengan kesal dan menatap ke arah wanita yang baru saja menghalangi rencananya. "Dasar bodoh! Apa yang kalian tunggu, lakukan sesuatu." Teriaknya.


Para pelanggan yang ada di kedai itu lekas berdiri dari kursi mereka dan mengepung Alice dan yang lainnya. Enam orang dari ras deemon dan dua diantaranya dari ras hewan. "Kelompok yang cukup unik." Gumam Alice.


Kedua ras hewan itu menutup jalan keluar mereka. "Mama." Echidna berdiri dari tempat duduknya juga saat melihat situasi yang tidak beres. Lagi dan lagi orang-orang ingin melukai mamanya. Mereka harus di beri pelajaran. Menurut Echidna. Namun Alice, menahan Echidna dengan berkata. "Echidna tetap disana. Aku tidak ingin tempat ini menjadi porak-poranda." Ujar Alice. Mengingat seberapa besar kekuatan dari pukulan putrinya, Alice yakin kalau kedai kecil itu akan roboh jika enam orang itu di hajar olehnya dan terlempar hingga merusak properti mereka.


Sementara itu, wanita berambut abu-abu itu heran namun ekspresinya tampak biasa saja. Dia tidak menunjukkan kepanikan di wajahnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat orang-orang yang mengepungnya lalu ia menetapkan pandangannya ke Alice. Wanita itu tiba-tiba saja tersenyum tanpa ada alasan jelas pada Alice. Ia menjentikkan jarinya seolah ia berhasil mendapatkan sesuatu dalam memorinya.


Dengan sikap seolah tak ada yang terjadi meskipun baru saja Alice melihat ia ingin dibunuh. Wanita itu menghampiri Alice, ia lalu mengambil tangan Alice dengan kedua tangannya. "Ternyata itu dirimu. Aku sungguh senang bisa bertemu denganmu. Kau tahu, Ophelia banyak bercerita tentangmu padaku. Aku penasaran dan making penasaran. Ophelia biasanya tidak pernah tertarik pada seseorang. Ku pikir kau itu laki-laki tapi bagaimana mungkin kan, namamu saja terdengar seperti nama seorang wanita. Jadi aku terus menunggu dan menunggu hingga akhirnya ia mengirim pesan bahwa kau akan datang ke kota ini. Aku sa~ngat senang."


Alice terdiam tanpa kata. Tangannya berayun-ayun sembari wanita itu terus berbicara. Ketika wanita itu melepaskan tangannya. Alice memijat salah satu pelipisnya yang berdenyut nyeri. Dengan tampang lesu Alice berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar. "Bagaimana bisa dia berbicara begitu banyak hanya dalam satu tarikan nafas." Batinnya tercengang. Alice tersenyum kaku melihat deemon wanita itu.