Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 84



Akibat ledakan dari para deemon yang melakukan bunuh diri secara bersamaan. Toko kue dan roti itu menjadi porak-poranda. Akan tetapi, berkat perlindungan Rose dengan menggunakan kekuatannya, ia berhasil mencegah jatuhnya korban jiwa. Sayangnya, karena hal itu Rose sudah tak sanggup lagi menopang dirinya dan ia pun menerima luka dalam akibat memaksakan dirinya menggunakan Mana yang ada dalam tubuhnya secara berlebihan. Setelah asap dari ledakan itu menghilang, keduanya baru sadar saat melihat kubah yang mengurung mereka juga telah lenyap.


Sambil ia bertumpu di atas salah satu lututnya, Rose melihat bekas terakhir dimana Cecilion berdiri. Dia merasa sedih, kesepian dan hatinya terluka karena keluarga satu-satunya yang ia miliki terasa seperti orang asing. Rose menggigit bibir bawahnya, dengan perasaan kecewa ia menunduk.


Beberapa saat kemudian, Rose tersadar akan sesuatu. Matanya terbelalak dan menoleh melihat Alice yang diam menatap ke arah yang sama dengannya tadi. Rose segera menarik pandangannya dan mulai mengawasi Alice melalui sudut matanya.


Tatapan tajam penuh amarah milik Alice membuat bulu kuduk Rose berdiri. Meski kebencian dan gejolak amarah itu tak ditujukan untuknya, namun sikap dan aura Alice itu sudah cukup untuk menimbulkan kengerian yang membuat belakang lehernya terasa dingin.


"Aku pasti akan menghancurkan mu." Gumam Alice dengan nada pelan.


Telinga Rose dengan samar menangkap apa yang Alice katakan. Kalimat singkat yang begitu dingin itu membuat batinnya gelisah. Sedikit rasa khawatir mulai timbul untuk kakaknya. Mengingat betapa hebatnya seorang Alice yang belum lama menjadi pemburu namun telah berdiri di tingkatan para pemburu profesional yaitu peringkat platinum. Rose yakin kalau apa yang Alice gumamkan bukanlah sebuah omong kosong belaka.


"Yang Mulia!" Beberapa deemon datang dari langit dengan melompat dari atas gedung sebelah, lalu mereka berlutut di hadapan Rose.


"Maafkan kami. Kami gagal menjalankan tugas kami dalam melindungi Anda." Lanjut tegas para deemon itu dengan kepala tertunduk.


Alice dengan santai menatap wajah Rose. Apa yang ia duga tentang identitas Rose ternyata tidaklah salah, namun Alice tidak menyangka kalau Roselyn yang baru ia kenal adalah Raja Iblis itu sendiri.


Satu-satunya tokoh yang bergelar dan dipanggil Yang Mulia di tanah para deemon tidak lain hanyalah diperuntukkan bagi Sang Raja Iblis. Kedua mata Rose dan Alice saling bertemu. Rose segera memalingkan pandangannya dan menoleh ke arah bawahannya. Untuk kedua kalinya Rose masih belum sanggup untuk bertemu pandang dengan Alice. Menurutnya, secara tidak langsung, tindakan Cecilion juga merupakan bagian dari kesalahannya yang dirinya merupakan adiknya.


Kedua bawahan terdekat dan setia milik Rose meraih lengannya lalu menopang tubuhnya dengan pundak mereka. Rose menguatkan giginya dan memberanikan dirinya untuk menghadapi Alice setelah menarik nafas panjang.


"Itu....maaf, maafkan aku. Karena ku, kau kehilangan putrimu." Ucap Canggung Rose.


Para bawahannya terkejut dan heran. Bagaimana bisa seorang Raja iblis merendahkan dirinya untuk meminta maaf pada seorang deemon biasa. Bahkan, salah seorang diantara bawahannya merasa itu tidak pantas sama sekali dan segera menegur Alice yang menunjukkan sikap acuhnya.


"Kau. Sadari sikap mu saat berada di hadapan Yang Mulia Raja iblis." Deemon itu menunjuk Alice dengan keras lalu dia berjalan ke samping Alice dan ingin memaksa Alice untuk menunduk. "Maaf Yang Mulia, saya harus mengajari tamu Anda--" Saat deemon pengawal milik Rose berdiri di belakang Alice dan ingin meraih kepalanya dengan maksud memaksa Alice tunduk, deemon itu bergidik saat merasakan aura mengerikan yang dipancarkan Alice. Ia hampir saja kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.


Alice menghampiri Rose dan meninggalkan deemon dibelakangnya yang menjadi kaku. Beberapa deemon lainnya yang berdiri di samping Alice segera mengambil posisi siaga dengan meletakkan tangan mereka di atas gagang pedang mereka.


Rose memandang Alice yang berjalan mendekatinya "Karena ku, putrimu jadi terlibat masalah negeri ini. Sebagai Raja yang berkuasa, aku sungguh meminta maaf." Rose menundukkan kepalanya sedikit sambil ia bersandar pada kedua lengan pengawalnya.


".... Tidak. Aku yakin apa yang diincar olehnya dari awal adalah putri ku. Aku tidak bisa menyalakan mu atas kejadian ini." Balas Alice.


"Meski begitu, Dia adalah kakakku. Tapi kamu jangan khawatir, kami pasti akan segera menemukan tempat persembunyian mereka dan menyelamatkan putri mu."


Alice menggelengkan kepalanya. "Kau tak perlu cemas." Alice yakin dengan kekuatan putrinya itu. Selama ini mereka telah menemani banyak deemon dan melawan banyak monster, tapi Alice belum menemukan adanya orang yang bisa melukai Echidna. Hanya saja, Alice khawatir jika seandainya orang-orang yang menculik Echidna menggunakan cara licik.


"Aku tahu dimana dia berada." Lanjut Alice. Sebenarnya, sebelum Echidna dibawa pergi oleh Cecilion. Alice telah merapalkan sebuah mantra jimat yang berguna untuk menandai posisi Echidna. Sebuah formasi kecil yang ia tempelkan pada tubuh putrinya dari jarak yang jauh.


"Benarkah?" Rose seketika melihat setitik cahaya dari balik matanya yang berwarna merah.


"Ya. Selain itu, mengenai pembicaraan kita yang sebelumnya tentang para kelompok pemberontak itu. Aku yakin kalau kakakmu adalah pemimpin mereka." Setelah melihat aksi para deemon yang bergerak sesuai dengan arahan Cecilion, Alice dapat menyimpulkan kalau Cecilion memanglah pemimpin mereka.


"Kurasa kau benar." Dengan berat hati, Rose mengangguk mengiyakan pernyataan Alice.


"Aku akan membantumu untuk menghentikan mereka. Meski tujuan kita berbeda tapi kau dan aku memiliki musuh yang sama."


Rose tersenyum kecil. Seandainya saja, jika dia masih memiliki tenaga untuk berdiri. Rose ingin menarik Alice dan memeluknya erat-erat.


Keesokan harinya, Setelah Rose mengundang Alice untuk datang ke kastilnya. Ia pun menunggu Alice di sebuah ruangan yang luas yang letaknya jauh di dalam kastil miliknya.


Dipandu oleh seorang pelayan pria. Alice telah sampai di ruangan itu. Terlihat Rose berdiri sudah menunggu kehadirannya dan ingin mengatakan sesuatu padanya. Rose berjalan mendekati dinding. Ia menyalurkan mana nya dan seketika ruangan itu menjadi terang.


Tampak beberapa kristal biru besar yang berada di tiap-tiap sudut.