Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 132



Suara ketukan pintu menyadarkan Helian dari lamunannya. "Masuklah." Serunya sambil merapikan tumpukan kertas di mejanya.


Seorang pelayan wanita perlahan dengan sopan melangkah memasuki ruangan itu. Ia membungkuk sedikit lalu berkata. "Maaf Yang Mulia. Anda memiliki seorang tamu. Dia berkata kalau dia telah membuat janji sebelumnya untuk bertemu dengan anda."


Helian mengernyitkan alisnya bertanya. "Siapa?"


"Aku tidak ingat pernah mengundang seseorang." Pikirnya.


"Saya tidak tahu dia dari keluarga mana. Namun dari penampilannya, saya lihat kalau dia berasal dari salah satu keluarga bangsawan." Jelas pelayan itu.


"Baiklah. Antar dia ke taman bunga lily, aku akan segera kesana."


"Baik Yang Mulia." Pelayan itu lalu membungkuk sebelum meninggalkan ruangan itu dan pergi menyampaikan pesan Helian pada tamu yang datang.


Setelah menyelesaikan sedikit urusannya. Helian berjalan menuju taman bunga Lily. Disana ia melihat seorang wanita berambut kuning keemasan mengenakan topi dengan gaun biru yang tampak elegan tanpa pernah pernik berkilau yang menghiasinya.


"Dia memang terlihat seperti seorang bangsawan" Benak Helian.


Gaun biru berlengan pendek itu begitu serasi dengan kulit putih cerahnya yang menawan. Walau tampak sederhana, tapi penampilannya begitu menarik perhatian dan memuaskan. Cukup memanjakan mata dan tidak membuat orang bosan untuk memandanginya.


Wanita itu duduk sambil meneguk secangkir teh dengan pelan. Gerakan dan posisinya sungguh anggun dan lembut. Gerai rambutnya yang berkilau karena pantulan mentari sungguh mengibaratkan dirinya yang seperti sebuah lukisan indah akan pemandangan wanita bangsawan yang sedang menikmati waktu minum tehnya.


"Apakah aku pernah mengenal seorang wanita bangsawan sepertinya?"


Helian menatapnya dengan penuh tanya. Ia telah banyak menghadiri pesta dari tiap-tiap rumah bangsawan high elf di kerajaannya, namun ia tidak ingat kalau pernah bertemu dengan wanita sepertinya apalagi sampai membuat janji.


Helian menyipitkan matanya memandangi wanita itu sembari berjalan mendekat. Sosoknya terasa familier namun tetap saja Helian tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena terhalang oleh topi jeraminya.


Wanita itu berdiri saat ia mendengar suara langkah kaki mendekatinya.


Alangkah terkejutnya Helian saat wanita muda itu berbalik dan menunjukkan wajahnya.


"A-Alice?!"


Alice tersenyum lembut lalu ia membungkuk sedikit untuk menyapa Helian. "Salam Yang Mulia. Perkenalkan saya Alicia Lein Strongfort." Ucapnya formal dengan lembut dan penuh kesopanan.


Helian terdiam menahan nafasnya. Sikap anggun dan setiap kesempurnaan gerakannya benar-benar mencerminkan pribadi seorang wanita bangsawan sungguhan.


Helian berdeham kemudian berkata. "Ya. Duduklah."


Seolah mengerti maksud dan tujuan dari kedatangan Alice, Helian memerintahkan para pelayan yang ada di belakangnya untuk meninggalkan mereka.


"Kau tahu, kau benar-benar membuat ku kehabisan kata-kata. Ku pikir bangsawan mana yang mencariku. Kau sungguh terlihat seperti seorang bangsawan." Ucapnya kagum dengan penampilan Alice.


Alice tertawa pelan dengan meletakkan kipasnya menutupi bibirnya. "Tentu saja. Bagaimanapun juga aku memanglah seorang bangsawan."


"Sungguh? Ku pikir kau hanya seorang gadis pengembara biasa."


Saat memasuki istana kerajaan di siang hari agar tidak menarik perhatian dan memberikan kesan mencurigakan, Alice semaksimal mungkin berpenampilan layaknya gadis bangsawan dari suku high elf. Karena rambut serta parasnya yang cantik jelita, orang-orang tidak memiliki keraguan ketika melihat dirinya.


Setelah Helian duduk, Alice pun mulai menjelaskan tujuan kedatangannya.


"Seperti yang ku katakan waktu itu, ada beberapa hal yang ku temukan mengenai kristal hitam itu. Dan karena itulah aku segera kemari untuk melihat Yggdrasil lebih dekat."


"Apakah kau menemukan petunjuk lainnya?" Tanya Helian.


"Aku yakin kalau seluruh kristal hitam itu tumbuh dan menyerap langsung energi dari pohon itu."


Helian sudah menduga kemungkinan itu sajak lama. Saat penyebaran kristal hitam itu semakin aktif, perasaan yang tidak mengenakkan akan energi Mana yang menyelimuti Yggdrasil muncul dan semakin lama semakin kuat, membuatnya semakin curiga.


"Mereka seperti terikat oleh sesuatu dari dalam tanah."


"Ya, kemungkinan besar itu adalah akar dari pohon Yggdrasil. Selain itu, apakah kau menemukan petunjuk lainnya?"


Alice tahu kalau mereka sedang diawasi. Pelayan? Bukan. Apakah itu penjaga bayangan milik Helian? Mungkin saja. Meski begitu Alice memilih untuk tidak mengungkapkan apa yang akan ia beritahukan selanjutnya pada Helian di situasi itu.


Helian tidak mengerti kenapa Alice langsung ingin mengakhiri percakapan mereka disini. "Baiklah. Ikuti aku."


Keduanya pun berdiri dan berangkat menuju Yggdrasil.


Pohon Yggdrasil berada di bawah penjagaan ketat dari para prajurit hebat kerajaan elf dan penjagaan semakin diperketat sejak kristal hitam itu muncul. Letaknya tak jauh dari istana kerajaan. Para penduduk bisa melihatnya dari kejauhan karena ukurannya yang sangat besar.


Sesekali dalam sebulan, keluarga kerajaan akan membuka jalan agar para warga bisa berdiri lebih dekat di bawah naungan pohon Yggdrasil untuk mendapatkan berkah darinya. Tapi semenjak kemunculan kristal hitam, demi melindungi pohon Yggdrasil, Helian memutuskan untuk menutupnya dan dari enam bulan lalu sampai saat ini. Para warga tidak pernah lagi menyentuh atau merasakan sejuknya energi yang berkumpul tepat di bawah pohon itu.


Walau sebenarnya Alice bisa mendatangi pohon itu tanpa perlu meminta izin dari Helian. Tapi menurut Alice, akan lebih baik kalau ia tidak bertindak gegabah.


Selagi mereka berjalan, Alice masih merasakan kehadiran orang yang mengawasi mereka saat di taman. Orang itu masih mengikuti mereka, dia berada cukup dekat. Mungkin saja dia menggunakan sesuatu untuk membuatnya bisa bersembunyi di balik rindangnya pepohonan.


"Apakah dia pengawal pribadi mu?" Tanya Alice tiba-tiba.


Helian memiringkan kepalanya tidak mengerti. "Hmm? Siapa yang kau maksud?"


"Jangan berbalik tetaplah bersikap seperti biasa." Ucap Alice segera saat ia mendengar jawaban Helian.


Helian kaget karena Alice tiba-tiba melarangnya untuk menoleh. "A-ah...Baiklah"


"Ku pikir dia orangmu, itu sebabnya aku tidak memperdulikannya."


"Sejak kapan dia mengikuti kita?" Helian terlihat kesal. Bahkan di istananya sendiri seseorang menyusupkan mata-mata untuk memantau pergerakannya. "Aku tidak bisa merasakan kehadirannya. Dia pasti menggunakan Rune untuk menyembunyikan dirinya."


"Rune ya?"


"Rune khusus yang dibuat terbatas hanya untuk penjaga bayangan istana, apakah ada pengkhianat di dalam pasukan itu?" Gumam Helian dalam batinnya. Kemudian ia melirik Alice dengan tatapan penuh tanya. "Seberapa kuat Alice sebenarnya sampai bisa merasakan kehadiran mata-mata itu yang bahkan aku sendiri tidak menyadarinya. Kemampuan Rune itu bahkan tidak perlu diragukan lagi, karena berkatnya aku dan prajurit ku pernah membunuh beberapa orang dari ras deemon di masa lalu."


Tak lama mereka berjalan, mereka berpapasan dengan Daeron.


"Helian. Kau mau kemana?" Tanya Daeron.


"Aku ingin melihat pohon Yggdrasil."


Alice dan Daeron bertemu pandang. "Dia ini..."


Alice membungkuk untuk menyapa Daeron. "Salam Yang Mulia. Saya Alicia Lein Strongfort."


"Strongfort?" Daeron belum melepaskan pandangannya dari Alice. Ia lanjut bertanya. "Baru kali ini aku mendengar nama Strongfort. Kalau boleh tahu, nona berasal dari keluarga di wilayah bagian mana?"


"Keluarga saya tidaklah begitu terkenal, melainkan hanya keluarga high elf yang sederhana. Kami berasal dari wilayah selatan."


"Hmm... selatan." Daeron menaruh telunjuk dan jempolnya di bawah dagunya sambil berpikir. "Wilayah selatan tidak begitu bagus. Kebanyakan keluarga high elf yang berada di sana memilih pergi dan menjual wilayah mereka untuk tinggal di kota-kota besar lainnya. Yah... apakah dia adalah keluarga yang memilih tinggal dan tetap bertahan." Pikirnya.


Daeron menoleh pada Helian. "Tapi Helian, apakah kau yakin untuk membawa orang lain bersamamu mengunjungi Yggdrasil?"


"Nona Alicia adalah teman lamaku. Aku percaya padanya. Kedatangannya jauh-jauh kemari adalah untuk melihat pohon Yggdrasil dan mengharapkan berkah darinya. Nona Alicia berharap bisa memulihkan kesejahteraan keluarganya." Jelas Helian.


Alice tersenyum dalam hatinya. Tidak disangka kalau Helian bisa bersandiwara semudah itu dan langsung mengikuti alur cerita yang ia buat.


"Baiklah. Kalau itu pendapatmu. Aku berharap Nona Alicia bisa mendapatkan berkah dari pohon Yggdrasil untuk dirinya dan keluarganya." Ucap Daeron sambil tersenyum.


"Terimakasih kasih atas kebaikan anda Yang Mulia." Balas Alice.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke dalam istana." Daeron pun berlalu.


Helian dan Alice kembali berjalan menuju Yggdrasil dan akhirnya mereka tiba tepat di bawah pohon besar itu.