Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 180



Setelah memberikan pengalaman antara hidup dan mati padanya, Alice akhirnya berhenti. Ia meninggalkan Namtar yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah.


Ia berbalik, berjalan menuju tabung-tabung dimana para elf menjadi bahan eksperimen keji Namtar. Dalam sekali lirik, dadanya menggebu-gebu karena amarah yang bergejolak.


Alice mencari tombol, tuas, kabel atau apapun itu yang bisa ia gunakan untuk membuka tabung mereka, tapi nyatanya tulisan yang Namtar gunakan adalah sesuatu yang berbeda. Alice tidak mengerti apapun tentang apa yang ada di hadapannya.


Tidak ada cara lain selain membukanya dengan paksa, pikirnya.


Alice menggunakan pedang Qi untuk memotong tabung-tabung itu.


Ia mengeluarkan mereka satu persatu, lalu menyandarkan tubuh mereka pada tembok.


Alice meneliti keadaan mereka dengan seksama.


"Kondisi mereka memburuk. Ternyata tabung itu juga berfungsi untuk menjaga mereka agar tetap hidup selama ini." Alice berdesis kesal.


Ia melihat kalau daya hidup mereka semakin memudar. Tampak aliran Mana dalam tubuh keempat elf itu terkuras semakin deras setelah ia mengeluarkan mereka dari tabung tersebut.


Alice tertunduk sambil bergumam. "Bahkan dengan kemampuan ku, akan sulit untuk menyembuhkan mereka. Aku mungkin bisa memulihkan luka dalam mereka, tapi vitalitas mereka habis lebih cepat dari apa yang bisa ku pulihkan."


Tiba-tiba saja ia ingat kalau dirinya membawa sebuah elixir ajaib yang bahkan bisa menolong orang yang berada di ambang kematian.


Alice pun mengeluarkan botol ramuan yang berisi Tetesan embun suci dari Yggdrasil. Walaupun benda itu berharga dan sangat langka, namun ia tidak memiliki cara lain yang bisa ia pikirkan untuk menyelamatkan nyawa mereka. Dalam hitungan detik keempat elf terus berjalan menuju kematian mereka.


Satu demi satu ia menuangkan setetes ramuan itu ke dalam mulut mereka. Alice menatap mereka dengan cemas sambil berharap dalam hatinya agar vitalitas mereka kembali pulih.


Tak disangka, reaksi ramuan itu sangat cepat. Tidak butuh waktu lama, warna kulit mereka yang tadinya pucat kembali cerah seperti semula. Alice bisa merasakan kalau aliran Mana dalam tubuh mereka berangsur pulih.


Alice meletakkan tangannya pada pergelangan tangan mereka. Ia merasakan denyut jantung, jaringan syaraf dan otot mereka mulai bergerak sebagaimana mestinya.


Alice menghembuskan nafas lega. Para elf itu telah melewati masa kritis mereka.


Ia pun memanggil Fee untuk membantunya membawa mereka ke tempat pertemuan yang sudah ia tentukan dengan Elysia.


Fee melompat keluar dari dalam bayangannya.


Sejak tadi Fee hanya menjadi penonton. Ia sudah menunggu saat-saat ini. Saat Alice memanggilnya maka disitulah gadis itu membutuhkannya.


Fee sebenarnya sedikit berharap agar Alice lebih bisa mengandalkannya. Namun Fee yakin dengan setiap keputusan yang Alice ambil. Ia selalu berhati-hati dalam tindakannya.


"Baiklah, naikkan mereka." Ujarnya. Setelah ia merubah ukuran tubuhnya menjadi lebih besar.


Namtar yang pingsan perlahan membuka matanya. Dia melihat Alice dan menatapnya dengan penuh dendam.


Siksaan Alice begitu menyakitkan sampai terukir hingga ke sumsum tulangnya. Setelah setiap inci tulang dan dagingnya dirobek oleh Alice lalu ia kembali dipulihkan perlahan-lahan. Kejadian itu terus berulang berkali-kali. Namtar meronta dan batinnya menjerit tanpa suara. Alice benar-benar menyiksanya sampai dia memuntahkan darah dari mulutnya berkali-kali.


Rasa seperti tubuhnya dikoyak, diremukkan membuatnya sampai kehilangan kesadaran namun wanita itu tidak membiarkannya pingsan. Dia hanya akan terbangun dengan rasa sakit yang lebih parah.


"Kep**at! Ja**ng Sialan! Kau pikir kau bisa selamat dan pergi begitu saja. Heh! Tidak! Setidaknya aku akan mati membawa mu dan mereka bersamaku. Aku akan menunggumu di neraka sana!" Tandasnya sambil tersenyum sinis.


Namtar menggigit lidahnya dengan keras hingga ia mati. Saat itu, sesuatu dalam tubuhnya bereaksi dengan batu kristal Mana yang ada di ujung ruangan tersebut.


Alice seketika menoleh, ia terbelalak setelah melihat cahaya yang keluar dari batu kristal itu "Kristalnya!"


Terdengar suara retakan dari kristal itu.


Alice menyuruh agar Fee lekas pergi membawa para elf.


Fee cukup enggan untuk melompat keluar dari ruangan itu, tapi tatapan Alice begitu jernih dan yakin menyiratkan kalau semuanya berada di bawah kendali dan ia akan baik-baik saja.


Fee akhirnya mengangguk menyetujui permintaannya.


Kemudian Alice melindungi dirinya dan membelenggu kristal itu dalam energi Qi miliknya. Dengan beberapa gerakan tangan, ia juga menciptakan susunan formasi di sekitar kristal itu.


"Aku tidak menyangka kalau dia menanam pemicu ledakan dalam tubuhnya sendiri."


Walaupun ia bisa pergi, tapi Alice tahu kalau kristal Mana sebesar itu meledak, maka rumah-rumah yang ada di sampingnya pasti akan hancur karena ledakannya dan pastinya akan menimbulkan banyak korban jiwa.


Alice menciptakan lapisan Qi yang sangat tebal di sekeliling batu kristal Mana itu.


Gejolak Mana dalam kristal itu semakin kacau, retakannya semakin jelas dan akhirnya kristal itupun meledak dengan dahsyatnya.


Alice mengerutkan keningnya menahan kekuatan energi Mana yang mencoba merusak lapisan Qi nya.


"Untung saja aku telah membuat formasi pelindung. aku tidak menduga kalau kekuatannya akan sebesar ini."


Kemampuannya dalam hal susunan formasi dan jimat memang termasuk nomor satu pada masanya. Sayangnya, dia sebagai Lan You Nian kala itu memiliki sedikit kekurangan dalam meracik ramuan sehingga ia tidak bisa berdiri di puncak dan ketenaran keduanya.


Tak butuh waktu lama setelah kristal itu meledak. Para penjaga kota yang sebelumnya telah menyadari adanya keanehan di sekitar gedung itu akhirnya berkumpul dan mengepung tempat itu.


Alice merasakan kehadiran begitu banyak orang di luar sana. Tidak mungkin baginya melompat keluar dengan puluhan penyihir dan boneka mekanik yang mewanti-wanti gedung itu. Alice tidak berharap untuk membuat kekacauan sampai ia harus dicap sebagai buronan. Setidaknya ia masih ingin menggunakan penyamarannya di lain waktu, jadi dia tidak ingin ada poster pencarian atau pengumuman apapun yang menyangkut tentangnya.


Dengan mantra pelacak dan deteksi area, para penyihir berhasil mengetahui lokasinya. Mereka bersiap siaga menunggu orang yang ada di dalam gedung itu keluar. Bagaimanapun juga mereka harus menangkapnya setelah membuat kekacauan di tengah-tengah kota.


"Bahkan seekor tikus pun tidak akan ku biarkan lolos dari pengawasan ku." Katanya dengan bangga.


~


Di keheningan malam yang cukup jauh dari tempat Alice. Pria bertudung misterius yang Elysia temui sebelumnya sedang berjalan-jalan. Langkah kakinya tidak memiliki tujuan. Pria itu hanya berjalan kemana kakinya membawanya.


Ketika dia merasakan getaran energi yang begitu kuat, dia berhenti.


Dia lalu berbalik.


Pria itu melirik ke sekelilingnya dan tidak ada siapapun disana. Dia pun terbang melesat ke langit dan menembus awan.


Dia menyipitkan matanya melihat ke arah tempat dimana lonjakan kekacauan energi Mana itu berasal.


"Manusia..." Gumamnya singkat.


Tadinya dia berpikir kalau itu adalah fenomena alam. Sayangnya apa yang dia temui hanyalah kekacauan yang tidak menarik di matanya.


Dia pun berbalik dan ingin terbang menjauh tapi...., ada sesuatu yang janggal yang membuatnya tiba-tiba gelisah.


"Perasaan apa ini..." Dia menyentuh dadanya dan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.


Perasaan itu cukup aneh baginya, perasaan itu membuat batinnya dilema.


Ia memejamkan matanya dan kembali merasakan gelombang energi itu dari jauh. Samar-samar terasa energi yang menggelitik hatinya.


Pria itu tertegun di langit. Seribu pertanyaan yang sama terus berulang di kepalanya dan ia masih tidak menemukan jawabannya.


Awalnya dia hanya ingin berjalan-jalan walaupun dia tidak tahu kemana tujuannya. Tapi... kenapa sampai dia menjadi seperti ini saat merasakan getaran energi aneh itu.


Batinnya berbisik pada dirinya mengatakan agar ia pergi kesana namun dirinya sendiri berusaha keras untuk tidak peduli. Dia merasa gusar dan kehilangan fokusnya.


Cukup lama dia berdebat dalam kepalanya, akhirnya ia memutuskan untuk melihat sesuatu itu yang bisa membuatnya gelisah.


Ia mengayunkan tangannya ke samping dan sebuah portal dimensi tercipta begitu saja.


Dia masuk ke dalamnya.


Hanya sedetik saja dan ia sudah berada di atas gedung itu.


Dia menyamarkan kehadirannya lalu melayang turun untuk memasuki gedung itu.


~


Para penjaga dan bonekanya mulai menelusuri gedung itu.


Alice bisa merasakan beberapa diantara mereka datang mendekat. Dia berdecak. Sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain selain menerobos keluar.


Tapi tiba-tiba sosok berjubah dengan tudung yang menutupi wajahnya muncul di hadapannya.


Alice bergidik karena terkejut. Ia mengambil posisi siaga. "Dari mana dia datang. Aku tidak bisa merasakan kehadirannya sampai dia berjalan mendekat." Ucap batinnya.


Orang itu berjalan mendekatinya tanpa kata. Alice sama sekali tidak merasakan adanya rasa permusuhan dari pria itu. Walau begitu, ia tidak menurunkan kewaspadaannya. Dia tidak tahu apakah orang itu adalah lawan atau kawan.


"Katakan siapa dirimu dan apa tujuan mu?" Seru Alice.


Orang itu berhenti, ia menoleh kebelakang sebentar dan kembali menghadap Alice.


Satu ayunan tangannya dan ia membuat sebuah portal dimensi.


Alice lagi-lagi terkejut. Ia melihat lubang aneh yang orang itu ciptakan. "Itu...."


Ia sudah melihatnya berkali-kali. Alice yakin kalau apa yang ada di depan matanya itu adalah sebuah portal dimensi, bukan sebuah retakan atau celah yang muncul begitu saja.


Berpikir kalau orang yang berdiri di hadapannya mampu membuat portal dimensi dengan begitu mudahnya, Alice semakin curiga. Sosok misterius itu adalah orang yang kuat.


Alice memanggil Nyx, ia ingin bertanya padanya tapi entah apa yang terjadi, Nyx tidak menjawab panggilannya. Alice bisa merasakan kehadiran Nyx dalam lautan jiwanya. Tapi kenapa Nyx tidak menjawabnya.


Orang itu memberikan isyarat agar ia mengikutinya.


Alice ragu, tapi instingnya berkata kalau orang itu tidak memiliki niat yang buruk.


Ia pun berjalan di belakangnya.


Saat ia berhasil melewati portal itu, Alice mendapati dirinya berada cukup jauh dari gedung itu.


Dari tempatnya, Alice bisa melihat begitu banyak penjaga kota yang mengepung gedung itu.


Alice menoleh pada pria itu tapi sepertinya dia sudah pergi tanpa ia sadari.