
Sebelum keduanya bertarung, Alice membuat susunan formasi pelindung. Hanya dengan satu ayunan tangannya, Qi miliknya menyebar melingkupi area di sekitar mereka. Lingkaran trigram muncul di bawah kakinya dan meluas seolah-olah menelan mereka semua ke dalamnya.
Susunan formasi pelindung Alice membuat mereka seperti berada di dunia yang berbeda. Orang-orang yang ada di luar tak bisa mendengar ataupun melihat apa yang terjadi di dalam lingkaran trigram itu. Hebatnya lagi, mereka bahkan tidak bisa mendekati tempat itu. Orang-orang akan menjadi cenderung untuk menghindari tempat itu tanpa mereka sadari.
Ketiga pembunuh itu cukup panik dengan besarnya lonjakan energi yang mereka rasakan secara tiba-tiba. Mereka menoleh dan mendongak untuk melihat ke sekeliling mereka. Kening mereka mengkerut melihat Alice. Mereka menjadi yakin kalau wanita muda yang ada di hadapan mereka itu tidak akan menjadi lawan yang mudah.
Wanita itu pasti telah melakukan sesuatu.
"Arenanya sudah siap. Sekarang kalian boleh bertarung tanpa adanya gangguan." Ujar Alice.
Alice mengalihkan pandangannya pada Elysia. "Kau boleh menggunakan semua kekuatan mu. Mereka adalah seorang pembunuh profesional. Mereka berbeda dengan para bandit yang sebelumnya. Jangan lengah."
Elysia menoleh sebentar pada Alice lalu mengangguk. Ia kembali menatap ketiga orang itu.
Ketiga pembunuh itu memegang belati mereka dengan sangat kuat. Mereka bergerak sedikit menjauh dari Elysia dan mencoba mengelilinginya.
Anehnya. Walaupun mata mereka tertuju pada Elysia tapi hawa membunuh mereka masih melekat kuat pada Alice.
Alice sedikit meragukan dirinya. Ia mengira kalau kekhawatirannya itu mungkin karena dia terlalu waspada akhir-akhir ini. "Apakah cuma perasaan ku saja?" Benaknya bimbang.
Ketiga pria itu masing-masing melemparkan salah satu belati mereka pada Elysia.
Tiga belati itu datang ke arahnya dengan cepat. Kilatan perak itu cukup jelas di matanya. Elysia mendorong bahunya ke belakang dan tubuhnya ke samping. Ia mengelak dengan elok.
Elysia tahu kalau serangan itu hanyalah sekedar permulaan dan sebagai pengalihan. Ia sudah siap untuk menahan serangan selanjutnya atau menyerang balik jika mereka bergerak mendekatinya. Namun, ketiga pembunuh itu bergerak bak bayangan, sangat cepat. Mereka berlari menghiraukannya dan malah mengepung Alice.
Elysia berbalik. Ia tertegun heran menatap mereka.
Eh? Apa yang terjadi? Kenapa mereka malah menyerang ibu?
"Ternyata firasatku benar. Mereka memang mengincar ku." Gumam Alice dalam kepalanya.
Meskipun terkepung, ia masih bisa memasang ekspresi santai sambil memperhatikan gerak-gerik ketiganya dengan jeli. Jujur saja, Alice masih belum mengerti tujuan asli mereka. Kenapa mereka menyerang yang seharusnya mereka sendiri sudah tahu kalau dirinya lebih kuat dari pada Elysia.
"Apakah mereka mencoba untuk memulai dariku agar mereka bisa dengan mudah membunuh Elysia nantinya? Hmm..."
Salah seorang pembunuh mulai mengangkat tangannya. Gerakannya begitu tajam. Ia mengarahkan ujung belatinya ke wajah Alice.
Alice refleks menahannya dengan jempol dan jari telunjuknya. Pria itu memasang ekspresi terkejut dengan mata melebar. Tidak bisa dipercaya, belatinya dihentikan oleh seorang wanita muda.
Ketika Alice merasakan satu orang lainnya bergerak maju dan ingin menyerang titik butanya. Alice memanfaatkan momen itu. Ia bergerak begitu lihai mendorong tangannya yang sedang menahan belati itu ke depan hingga meraih lengan pria itu. Kemudian ia menarik pria itu ke belakangnya membuat mereka hampir bertabrakan.
Alice tak melupakan pembunuh yang lainnya. Ia melompat salto dengan anggun.
Pria ketiga yang mencoba menusuknya terdiam mendongak melihat Alice berdiri di atas lengannya.
Mereka kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa mereka yang telah terlatih dan sudah handal sampai tidak bisa membunuh seorang wanita? Bahkan mereka tidak bisa menyentuhnya walaupun hanya sehelai dari kain bajunya.
Antara percaya atau tidak. Mereka bertanya-tanya dalam kepala mereka tentang identitas wanita muda yang menjadi incaran mereka. Gerakannya memang halus namun tidak ada celah dan kekurangan dari setiap gaya yang ia ambil. Sekalipun dia menunjukkan kelemahannya, itu hanyalah tipuan belaka. Terlihat seperti wanita muda itu tahu kapan dan bagaimana mereka akan menyerangnya.
Di sisi lain, Elysia juga ikut terkesima menatap kejadian itu dengan mata yang berbinar-binar.
Sangat indah. Gerakan yang lembut, halus bagaikan sebuah bulu yang melayang-layang karena hembusan angin sepoi-sepoi.
Elysia ingin bertepuk tangan dan mengangkat jempolnya untuk Alice, tapi ia segera sadar saat pedang Moonlight yang ada di tangannya mendadak bergetar.
Ketiganya melihat punggung kecil dari wanita muda itu. Terbersit dalam kepala mereka kalau saat inilah saat yang tepat untuk menyerangnya. Tapi tubuh mereka tidak sejalan dengan keinginan mereka.
Walaupun dia berbalik menunjukkan punggungnya, tapi matanya seolah berada tepat di atas kepala mereka. Seperti yang mereka duga. Wanita muda yang menjadi incaran mereka, bukanlah lawan yang mudah. Walau sebenarnya mereka tidak menyangka kalau mereka tidak bisa menyentuhnya sama sekali.
Ketika Alice melewati Elysia, ia berbalik. "Seperti yang ku bilang sebelumnya. Lawan kalian itu bukan aku melainkan putri ku." Katanya. Lalu ia menepuk pundak Elysia.
Elysia mengangkat kedua alisnya dan berkata dengan ekspresi serius. "Itu benar. Aku yang akan menjadi lawan kalian. Majulah." Dia menyiapkan kuda-kudanya dan meletakkannya pedangnya di depan dadanya.
Ketiga pembunuh itu berdecak jengkel. Mau tidak mau mereka harus menghadapi Elysia. Prioritas mereka berubah. Misi mereka gagal. Mereka harus segera kembali dan melaporkan semuanya pada pemimpin mereka.
Elysia menyalurkan Mana ke dalam pedangnya. Kali ini dia meminta bantuan spirit angin untuk menolongnya. Pedang Moonlight di tangannya pun diselimuti oleh tekanan angin yang kencang hingga menjadi sangat tajam namun ringan.
Mereka menarik nafas. Mengambil ancang-ancang dan mulai bertarung.
Pedang dan ketiga belati mereka saling beradu dengan kuat. Suara dentingan logam terdengar nyaring di dalam susunan formasi itu.
"Fee." Alice memanggil Fee melalui telepati
"Ya." Jawabnya dari dalam bayangannya.
"Apakah kau bisa melihat identitas mereka yang sebenarnya?"
"Aku sudah melakukannya. Mereka adalah sekelompok orang sesat."
Mulut Alice membentuk huruf 'O' mendengar pernyataan Fee. Orang sesat? Baru kali ini dia mendengarnya.
Apakah mereka orang-orang yang menyimpang dari keyakinan mereka?
Alice menyaksikan pertarungan Elysia sambil ia berbicara dengan Fee menggunakan telepati.
"Mereka adalah orang-orang yang berasal dari organisasi gelap yang menyembah Dewa Jahat."
Kedua keningnya berkerut. Alice menghela nafasnya karena kesal. "Itu berarti mereka adalah pengikutnya Erebos. Kenapa dia lagi dia lagi."
"Aku belum melihatnya sampai begitu jauh ke dalam roda takdir mereka. Ada kabut hitam yang menghalangi pandangan ku. Tapi aku juga sangat yakin kalau mereka memang ada hubungannya dengan Erebos."
Tidak begitu mengherankan baginya. Baik di kehidupan pertamanya ataupun keduanya, Alice cukup sering menemui orang-orang atau perkumpulan seperti itu.
Dimana ada cahaya pasti ada bayangan. Eksistensi gelap dan terang memang selalu ada. Namun, apa yang membuatnya cukup jengkel saat ini adalah kenapa dia harus bertemu dengan mereka, para pemuja Dewa Jahat itu.
Apa ini? Setelah aku melawan bonekanya, lalu Dewa nya dan sekarang aku harus melawan pengikutnya.
Alice memijat salah satu pelipisnya. Sekali lagi ia menghela nafas panjang.
"Terimakasih ya Fee."
"Ya." Sebelum Fee kembali untuk beristirahat lagi. Fee menyampaikan sesuatu pada Alice. "Oh iya, mereka memiliki energi Mana yang penuh akan kegelapan. Aku tidak pernah mengira kalau manusia masih bisa hidup dengan waras dengan jumlah energi negatif yang sebanyak itu dalam tubuh mereka. Berhati-hatilah. Kedatangan mereka kemari bukan hanya untuk mu tapi juga mereka mengincar putrimu." Jelasnya.
Fee kemudian melemparkan setitik bayangannya pada bayangan Elysia.
"Aku khawatir akan terjadi sesuatu padanya. Aku memang tidak bisa melihat masa depan mereka karena kabut hitam itu. Untuk jaga-jaga, aku titipkan kekuatan dan tanda ku padanya." Tandasnya. Ia pun kembali beristirahat.