
Tiga hari kemudian...
Setelah para instruktur akademi membagikan kelompok masing-masing para murid, mereka pun berangkat menuju dungeon yang akan mereka gunakan sebagai tempat untuk melatih mereka sekaligus melihat perkembangan murid-murid sejauh apa mereka bisa bertarung dalam menghadapi monster yang sesungguhnya.
Dalam proses mengajar di akademi, instruktur biasanya hanya menggunakan sebuah golem tanah yang diberi Rune dengan perintah sederhana yakni menyerang dan bertahan. Adapun kelincahan, ketangkasan atau kecerdasan mereka sangatlah rendah. Mereka hanyalah bongkahan batu besar yang terkesan hidup saja.
Setibanya di dungeon itu, para instruktur bersama dengan tiga kelompok yang masing-masing mereka pimpin masuk ke dalam dungeon secara bergiliran.
Dua puluh lima siswa dan mereka bergerak bergiliran dengan satu orang instruktur yang mengawasi mereka. Target mereka hanya sampai menaklukkan lantai 3 saja. Sedangkan dungeon itu sendiri terdapat delapan lantai.
Sampai saat ini belum ada yang pernah membuka pintu di ujung ruangan pada lantai ke delapan. Prajurit elf, juga ahli sihir hanya mampu menerobos hingga lantai 6 saja. Mereka berpendapat kalau lantai 7 itu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda apalagi lantai 8.
"Lantas... dari mana mereka bisa melakukan pemetaan hingga lantai 8?" Tanya Elysia pada Helian sambil memiringkan kepalanya.
Helian mengangkat kedua pundaknya. "Entahlah. Peta itu sendiri adalah warisan dari keluarga kerajaan yang diberikan pada akademi. Hmm.... katanya dulu ada ras elf kuat yang bahkan melebihi highelf. Tapi mereka sudah punah. Menurut catatan sejarah, kemampuan produksi mereka jauh lebih buruk dari pada highelf, meskipun sebenarnya daya hidup mereka jauh lebih panjang."
Elysia mengangguk-anggukan kepalanya kurang lebih mengerti dengan penjelasan Helian. "Hoooh...Ah, mereka sudah selesai. Kini giliran kelompok kita."
"Apakah kalian sudah siap?" Tanya instruktur mereka yang berdiri di barisan paling depan.
""Siap"" Jawab serentak para murid.
"Baiklah, kalau begitu kita masuk. Janga lupa dengan formasi yang telah ku ajarkan pada kalian."
""Baik bu."" Jawab para muridnya.
Mengikuti instruktur wanita itu, kelompok Elysia pun masuk ke dalam dungeon.
Lorong gua yang kosong dan lembab. Helian dan Elysia tidak begitu terkejut karena mereka telah memasukinya beberapa hari yang lalu. Para murid lainnya melirik seluruh ruangan. Yah.., tidak semua dari mereka yang pernah menginjakkan kaki di tempat yang berbahaya itu.
"Pemandangan menakjubkan bibi masih berbekas di kepalaku saat dia melawan monster-monster itu sendirian." Kata Helian terkesima dengan mata berbinar-binar menatap Elysia.
Elysia tertawa dengan bangga ia sedikit membusungkan dadanya. "Tentu saja, dia kan ibuku."
Helian menyimpulkan kedua telapak tangannya lalu berkata "Ku harap aku bisa sepertinya kelak." Ia kemudian membungkuk dan menunjuk sebuah liontin yang ada di pinggang Elysia. "Hei Ely, dari tadi aku penasaran dengan liontin yang menggantung di pinggangmu itu. Ini benda apa?"
Sebuah liontin giok berwarna hijau menarik perhatian Helian. Bentuknya biasa saja namun benda itu terlihat seperti sebuah barang berharga dan baru kali ini dia melihat liontin yang seperti itu.
"Ini pemberian ibuku. Katanya sebagai jimat untuk melindungi ku kalau-kalau ada bahaya nantinya."
Helian terlihat berharap akan liontin itu. " Ah~ bikin iri. Rasanya aku juga mau satu." Ucapnya menatap Elysia dengan mata memelas.
Selagi mereka berbincang-bincang, para monster sudah mulai muncul kembali. Begitulah dungeon, selama intinya tidak hancur, maka energi Mana akan tetap mengalir di seluruh tempat itu yang mana akan menciptakan monster kembali hidup.
Segera, Evelyn, instruktur mereka memberikan instruksi untuk bersiaga dan mengatur posisi.
Dua ahli pedang yang berdiri di garis depan, dua pemanah yang berdiri di belakang mereka dan dua penyihir yang berada di garis paling belakang serta seorang penyembuh sekaligus pendukung di tengah-tengah formasi.
Seekor Tikus tanah dengan ukuran setinggi paha muncul di hadapan mereka. Dikenal dengan nama Ruin Rat. Walaupun memiliki penampilan seperti hewan pengerat tapi monster itu mampu berjalan dengan kedua kakinya. Gerakannya tidak begitu gesit, mereka menyerang dengan cakar dan gigi mereka yang tajam.
Beberapa saat setelahnya, monster lain yang seperti jeli berwarna hitam muncul. Kedua jenis monster itu kemudian menyerang mereka.
Ruin Rat dan Black Slime terus muncul satu persatu. Evelyn menyaksikan pertarungan murid-muridnya yang terkoordinasi dengan baik. Ia mengangguk senang dan bangga. "Pertahankan. Jangan sampai lengah." Ucapnya mengingatkan para murid agar tidak menurunkan kewaspadaan mereka.
Setibanya di ujung lorong, mereka pun menuruni tangga untuk ke lantai selanjutnya.
Monster penghuni lantai dua sedikit lebih kuat, terutama ketahanan mereka. Seekor burung besar bernama Rock Bird dengan paruh yang keras dan sebuah Golem Knight yang memiliki ketahanan yang kokoh.
"Elysia, menunduk!" Helian menembakkan peluru sihir setelah ia mengikat pergerakan Golem dan Rock Bird itu dengan sulur berduri.
Kurang kuat, kedua elf bernama Reiss dan Maya yang menggunakan panah meluncurkan anak panah mereka yang berlapis sihir angin.
Mereka tersenyum lebar ketika panah itu berhasil melukai kedua monster itu.
"Sepertinya serangan pedangku tidak begitu kuat untuk mengalahkan mereka." Elysia melihat pedang yang ia genggam. Ia ingat kalau ibunya menebas mereka dengan begitu mudah. "Aku masih kurang kuat. Aku butuh latihan lebih banyak lagi, agar nanti aku juga bisa melindungi ibu." Gumam batinnya.
Karena lemah dia kehilangan ibunya. Untuk yang kedua kalinya, dia tidak ingin kehilangan Alice yang sudah ia anggap sebagai seorang ibu. Sosok yang ia sayangi, Elysia tidak ingin lagi melihat mayat ibunya tergeletak tidak berdaya.
Reiss dan Maya terus menembakkan panah selagi Elysia dan Yester menahan mereka dengan pedangnya. Tak lupa bantuan dari sihir pendukung yang memberikan kekuatan pada mereka dan kedua penyihir lainnya yang memborbardir dengan kemampuan sihir elemen air dan angin mereka.
Setelah mengetahui kelemahan kedua monster itu, regu Evelyn berhasil dengan mulus sampai ke lantai tiga.
Berbeda dengan dua lantai sebelumnya, monster pada lantai 3 terdapat tiga jenis yang berbeda. Venomousch, seekor katak beracun yang mampu menembakkan racun dalam radius dua meter. Dark Mushroom yang membuat kabut hitam untuk menutupi pandangan mereka dan satu lagi, Stone Warrior, monster yang sama seperti Golem Knight tapi lengkap dengan pedang dan perisai. Pergerakannya juga sedikit lebih cepat yang mana membuat mereka semakin kewalahan menghadapi tiga gabungan monster itu.
[Wahai spirit angin yang menjadi kontrakku. Hembuskan angin yang melindungi kami. Perisai angin]
Tak mau kalah Glee juga menunjukkan kemampuannya. [Wahai spirit air yang menjadi kontrakku. Hancurkan perisai musuhku dengan semburam gelombang air mu. Jet air]
Berkat Aili yang dengan sigap merapalkan sihir angin, kabut hitam yang menghalangi pandangan mereka pun lenyap. Juga sihir air dari Glee yang membuat Dark Mushroom dan Venomousch terhempas ke belakang.
"Kerja bagus Aili, Glee. Sekarang giliran ku. [Spirit of Nature, Calling of Earth] [Spirit of Earth, Rock Needle] [Earthen Spikes]"
Setelah menggunakan sihir alam dan sihir tanah secara bersamaan, para Stone Warrior itu akhirnya terdorong mundur. Perisai mereka bahkan mulai rusak.
Aili dan Glee melihat Helian dengan tatapan kagum. Baru saja Helian menggunakan sihir tanpa rapalan, bahkan kekuatan sihirnya juga lebih kuat dari miliknya. Tidak diragukan lagi bagi seorang highelf elf. Namun Aili dan Glee tidak patah semangat, mereka justru termotivasi untuk menjadi penyihir yang lebih hebat.
Dari pandangan orang-orang, Helian itu luar biasa karena dia adalah seorang highelf. Namun kebenaran sesungguhnya yang tidak banyak orang tahu adalah Helian merupakan sosok yang dipilih oleh pohon Yggdrasil. Dan karena itu pula dia bisa menggunakan sihir alam yang mana hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memakainya.
Stone Warrior telah melemah, kabut pun telah hilang dari pandangan mereka. Reiss, Maya segera menembakkan panahnya untuk membunuh para Venomousch itu.
Karena perisai angin milik Aili dan jet air milik Glee, kodok-kodok itu kesulitan mendekat. Mereka bahkan tidak bisa menghindari anak panah yang melesat ke arah mereka.
"Haaatt!" Elysia Melompat ke depan dan menebas monster jamur itu. Tidak ingin ketinggalan, Yester juga ikut menyerang.
Semua orang akhirnya mulai kelelahan setelah mereka bertarung melawan monster-monster itu. Nafas mereka tersengal-sengal dan energi Mana dalam tubuh mereka sudah menipis.
"Heh! Sisa tiga Stone Warrior ya?" Kata Yester lalu ia mengelap keringat di dahinya.
Yester berlari mengayunkan pedangnya yang membara pada monster itu. Ia tidak berharap untuk bisa menebasnya tapi Yester memberikan kesempatan bagi Reiss dan Maya untuk menembak agar mereka tidak meleset.
"Menunduk!" Teriak Maya lalu ia melepaskan anak panahnya dan menembus kepala Stone Warrior itu.
Evelyn benar-benar bangga atas prestasi muridnya. Mereka jauh melampaui ekspektasinya. Evelyn menepuk tangannya sekali dengan kuat. "Bagus. Kalian hebat. Aku sangat kagum dengan kemampuan kalian. Meskipun ini pertama kalinya bagi kalian, tapi kerjasama dan penggunaan kemampuan kalian benar-benar terencana dengan baik."
Helian menghela nafas leganya. "Ini juga berkat arahan bibi Alice. Tapi...aku takjub dengan kekuatan bibi waktu itu. Dia mampu melawan para monster itu seorang diri hingga kami melewati lantai 4. Sebenarnya... seberapa kuat bibi Alice?" Tanya Helian dalam benaknya.