Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 143



Setelah menyentuh dahi wanita elf itu dengan telunjuknya. Alice pun memasuki alam bawah sadarnya.


Seperti lautan gelap yang tak berujung. Banyak gelembung-gelembung kecil melayang-layang di depan matanya, yang merupakan serpihan kenangan wanita elf itu. Alice pun mendekati mereka dan melihat satu persatu apa yang ada di dalamnya. Ketika ia menyentuhnya sedikit saja, kenangan wanita elf itu mengalir masuk ke dalam kepalanya.


"Ada yang aneh dengan gelembung ini." Alice bertanya-tanya dalam batinnya. Kenangan yang baru saja ia lihat merupakan sesuatu yang bahagia dan harusnya menggembirakan tapi dia tidak mendapatkan perasaan emosional itu.


Rasa depresi? Penyesalan atau apa? Alice merasakan ada sesuatu yang janggal yang membuatnya sulit untuk mengerti.


Alice menyelami alam bawah sadar wanita elf itu sambil sesekali melihat kenangan apa yang tersimpan dalam gelembung-gelembung yang ada di hadapannya.


"Sudah kuduga, bahkan kenangan manis pun sama sekali tak memberikan perasaan bahagia apapun. Semuanya terasa hambar. Aku yakin ada sesuatu yang salah disini."


Kalau diperhatikan dengan baik. Bagaimana mungkin kenangan indah ditempatkan dalam alam bawah sadarnya yang tampak gelap terasa suram. Tekanan di sekitarnya bahkan terasa sedikit menyesakkan dada.


Alice terus menyelam ke bawah. Disana lebih banyak gelembung namun warna mereka sedikit lebih gelap dari yang sebelumnya ia lihat.


Ketika ia mendekat, secara langsung dia mendengar suara jeritan dari dalam gelembung-gelembung itu.


"Tolong...!"


"Maafkan aku."


"Tidak. Ini bukan salah ku."


"Huhuhu...ibu..! Ibu...! tolong aku.."


"Ibu...kamu dimana..? Aku takut.."


Suara gadis kecil merengek penuh ketakutan menembus telinganya. Tidak hanya itu, Alice juga mendengar cercaan dan umpatan dari banyak orang pada gadis kecil itu. Isak tangis gadis itu begitu dalam dan terus memanggil-manggil ibunya.


Alice menggelengkan kepalanya. Ia mengerutkan keningnya. "Apa yang pernah wanita ini alami sampai memendam begitu banyak luka?"


Alice mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam gelembung-gelembung itu, tapi ketika ia menyentuhnya, gelembung itu pecah begitu saja.


"Pecah?! Mereka tidak sama dengan gelembung sebelumnya."


Alice pun mencobanya kembali dengan gelembung lainnya tapi hasilnya tetap sama. Dia tidak bisa melihat apa yang ada di baliknya namun dia bisa mendengarnya.


"Tidak ada. Kalau begitu, aku harus menyelam lebih jauh lagi."


Dan begitulah Alice masuk lebih dalam lagi ke alam bawah sadar milik wanita elf itu.


Semakin gelap dan semakin berat. Perasaan negatif dari alam bawah sadar wanita itu bahkan sampai mempengaruhi dirinya. Alice meremas dada kirinya yang tiba-tiba nyeri. Dia sadar kalau rasa sakit itu bukanlah miliknya tapi milik wanita elf itu.


Alice terus menyusuri gelapnya lautan kesadaran milik wanita elf itu sampai ia melihat gelembung-gelembung kecil lainnya yang berwarna hitam pekat.


Jumlahnya tidaklah banyak namun mereka terlihat lebih padat dan sedikit lebih besar dari gelembung-gelembung sebelumnya.


"Apakah ini adalah ujungnya? Mungkinkah semua emosi negatif itu berasal dari sini?" Gumamnya sambil ia melirik ke sekitarnya.


Alice kembali berbalik dan menatap gelembung hitam itu dengan penasaran. Ia perlahan-lahan menggerakkan jarinya untuk menyentuh gelembung di hadapannya.


~


"Tidak ada waktu lagi. Bawa yang lainnya dan segera pergi dari sini."


"Lalu bagaimana denganmu?"


Alice yang cukup jauh di kedalaman hutan mendengar hiruk pikuk teriakan orang-orang. Ia membuka matanya secara perlahan. "Dimana aku? Tempat apa ini?" Tanya dirinya dalam keadaan berbaring.


Setelah menyentuh gelembung hitam itu, dia tiba-tiba berada di tempat yang sangat berbeda.


"Ini bukan kota Moonshade. Apakah ini adalah sebuah tempat dalam ingatan wanita elf itu?"


Alice segera berbalik ketika ia melihat cahaya terang dari sisi kirinya. Sebuah api berkobar begitu tinggi menjulang ke langit. Ia pun segera bangun dan bergegas menuju api itu.


Setibanya ditempat itu, dia hanya melihat sisa-sisa dari sebuah desa kecil yang telah diporak-porandakan. Rumah-rumah yang terbakar dan beberapa mayat elf yang tergeletak di tanah.


"Dari luka mereka, ini tidak terlihat seperti serangan dari seorang elf atau kelompok bandit. Luka yang kasar, itu menandakan kalau mereka mati bukan karena sebuah senjata tajam ataupun sihir. Kemungkinan besar, desa ini telah diserang oleh kelompok hewan buas atau monster." Gumamnya.


Alice melihat-lihat ke seluruh tempat untuk mencari korban yang selamat, namun dia tak menemukan seorang pun.


"Hanya saja, ada satu orang yang menarik perhatian ku. Mayat wanita elf ini tampak tidak asing." Ucapnya saat ia menoleh dan mendekati mayat seorang wanita elf.


Meskipun mayat wanita elf itu berambut perak, tapi dia bukanlah wanita elf yang ia temui di dalam Yggdrasil. Dengan mengenakan zirah baja ringan yang menutupi beberapa bagian tubuhnya, wanita elf itu tewas dalam posisi menyandarkan dirinya pada sebuah tiang kayu.


"Dari tumpukan mayat monster di depannya, aku yakin dia pasti berusaha sangat keras untuk melawan mereka." Dari bekas pertarungannya, Alice yakin kalau wanita elf itu melawan mereka seorang diri.


Alice takjub dengan kegigihannya. Ia pun ingin mengambil mayat wanita elf itu dan berencana menguburkannya bersama dengan para korban lainnya.


Saat tangannya hampir meraih bahu wanita elf itu, sebongkah batu menerjang ke arah kepalanya. Alice menangkap batu itu ke dalam genggamannya. Ia menoleh ke samping dan melihat seorang gadis kecil yang juga berambut perak.


"Apakah dia adalah ibu dari anak ini? Keduanya tampak mirip." Pikirnya.


"Menjauh dari ibuku!" Teriak anak itu sambil menodongkan sebuah balok kayu kecil dengan salah satu ujungnya yang tajam.


"Ternyata dia memang putrinya." Benak Alice.


"M-menjauh darinya atau aku akan...akan...m-me-membunuhmu!" Tegasnya meskipun ia sendiri berdiri dalam keadaan gemetar.


Gadis elf itu menatap tajam pada Alice. Alice tersenyum dan memandangnya dengan wajah teduh. "Dia tak gentar. Dia takut dan yakin kalau dia tidak memiliki kemampuan untuk melawan, tapi matanya tidak menunjukkan keraguan."


Alice mundur dari mayat wanita elf itu. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas untuk menunjukkan kalau dirinya tidak memiliki senjata apapun pada gadis kecil itu. "Tenanglah, aku tidak akan melukai mu. Apakah dia ibumu? Aku hanya ingin memakamkannya saja. Aku adalah seorang pengembara yang kebetulan lewat." Jelas Alice dengan lembut.


Gadis kecil itu terlihat ragu dengan apa yang Alice katakan, tapi ia tetap menurunkan tangannya dengan pelan. Gadis kecil itu melepaskan sikap waspadanya karena tidak merasakan adanya ancaman dari Alice.


Gadis kecil itu menatap kedua kakinya. Pundaknya kembali gemetar dan dia pun menangis.


Alice merasa iba melihat gadis kecil itu. Ia berjalan ke belakangnya. Meletakkan kedua tangannya dia atas pundak gadis itu, lalu mengelus punggungnya dan membelai kepalanya dengan lembut.


Alice lalu mendekapnya. Perasaan hangat seolah memenuhi hati keduanya.


"Tidak salah lagi, dia adalah wanita elf yang ada dalam Yggdrasil." Benaknya.


"Menangislah, tidak perlu menahannya. Kau boleh menangis sekuat mungkin." Bisik lembut Alice padanya.


Isak tangis gadis kecil itu pun semakin menjadi-jadi. Dia seperti menumpahkan semua air mata dan kesedihannya. Dia mengangkat wajahnya ke langit lalu menjerit dalam tangisannya.


"Huhuhu, ibu....! Ibu...! Huwaaa! Ibu....!"


Ini hanyalah sebuah kenangan dari masa lalu wanita elf itu, namun dia seperti berdiri disini, dihari dimana wanita elf itu masih seorang gadis kecil. Dia seperti menyaksikan semuanya secara langsung dan berbagi perasaan yang sama dengan gadis itu.


"Padahal hanya sebuah kenangan, tapi ini terasa sangatlah nyata."