Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 153



Selena heran sekaligus takjub melihat gadis kecil itu tidak bergeming menghadapinya. Bahkan dia memiliki kekuatan untuk menahan dua serangannya tanpa terluka sedikitpun.


"Apakah dia benar-benar manusia? Aku yakin, dia pasti sudah menghabiskan banyak Mana untuk menahan serangan ku tadi."


Selena kemudian mengayunkan cakarnya, tapi ketika tangannya ingin mengenai gadis kecil di hadapannya itu, serangannya berhenti di udara seolah terhalang oleh dinding yang kokoh.


"Kuh!" Selena terbelalak. Seberapa kuat anak manusia ini? Tanya benaknya.


Melihat ekspresi gadis kecil itu yang tampak malas seperti dia tidak ada waktu untuk meladeninya, Selena pun kesal. "Baik. Hmph! Kalau memang kau kuat, cobalah untuk menahan yang satu ini."


Puluhan lingkaran sihir seketika muncul di udara. Selena juga telah siap untuk menembakkan api dari mulutnya.


Echidna terkekeh, ia melemparkan senyuman yang merendahkan lawannya. "Mencoba untuk bertingkah sombong di hadapan Ratu ini! Apakah kau sudah pikun sampai tidak menyadari siapa sebenarnya sosok yang sedang berdiri di hadapan mu?." Ucapnya.


Dengan satu jentikkan jari, lingkaran-lingkaran sihir itu pecah lalu menghilang begitu saja. Selena terkejut, ia batal menembakkan api ya karena hal itu.


"Apa yang terjadi?! Pembatalan sihir?! Bagaimana bisa dia membatalkan sihir ku yang seorang naga superior ini?"


Sebagai ratu sekaligus raja dari para naga, Echidna memiliki kehendak di atas mereka. Sama seperti terakhir kali ia menundukkan seekor wyvern sewaktu di tanah para deemon. Perintah atau perkataan dari Echidna bisa menjadi sesuatu yang mutlak bagi para naga. Hal ini juga terjadi karena Mana heart yang ia miliki serta darah dari keturunan naga kuno yang mengalir dalam dirinya. Itulah mengapa ia dijuluki sebagai ratu dari para monster.


Perlahan kedua kaki Echidna terangkat, ia pun melayang. Seperti ada sebuah pijakan di udara, Echidna dengan santainya melangkah mendekati naga itu. Ia berjalan sampai dirinya berdiri tepat di depan di antara kedua mata Selena.


Echidna menatap Selena dengan tajam. "Apakah kau sudah buta sampai tidak bisa melihat Ratu ini." Ucapnya dingin.


Sama seperti Selena, orang-orang yang melihatnya dari bawah terutama Helian dan Asiya, mereka menatapnya penuh tanya.


"Jangan terlalu tinggi memandang dirimu manusia. Ratu? Di hadapan kami para naga, kalian hanyalah serangga kecil. Kau mungkin kuat sampai bisa menahan serangan ku, tapi aku yakin kau pasti sudah kelelahan, bukan? Berhentilah berpura-pura."


"Itu benar. Dia pasti sudah kehabisan tenaga, habisi saja dia." Tambah Asiya dari bawah.


"Oh... benarkah begitu?" Echidna memiringkan kepalanya lalu menyeringai.


Wajahnya memang lihat imut ditambah senyuman di wajahnya yang manis tapi suaranya membuat Selena merinding. Seketika instingnya berkata kalau gadis kecil berbahaya


Tiba-tiba saja dia gemetar setelah kedua bola mata berwarna merah darah itu menatapnya dengan tajam.


"Perasaan apa ini? Takut? Bagaimana mungkin aku gemetar di depan gadis kecil sepertinya."


Echidna menggelengkan kepalanya. "Kau mungkin butuh sedikit pelajaran untuk membangunkan mu." Dia melangkah maju semakin dekat dengan Selena.


Selena menyipitkan matanya, ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh gadis kecil itu selanjutnya. Saat ia berkedip, dalam sekejap pandangannya menoleh dengan tiba-tiba ke arah lain. Ia juga merasakan sakit di sisi kiri wajahnya.


"A-Apa yang terjadi?"


"Bagaimana?" Tanya Echidna.


"Apa yang barusan kau lakukan?" Selena tidak melihat dan tidak tahu alasan kenapa dia mendapatkan rasa sakit itu. Ia menggeram kesal memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Apakah aku baru saja di...tampar? Pikirnya.


"Kurang aj-"


PAAAKKK!


Lagi-lagi dia menoleh ke arah yang lainnya dengan rasa sakit yang menempel di pipinya.


"Masih kurang?"


Echidna terkekeh pelan, ia melemparkan senyuman penuh kesombongan pada Selena.


"Kuh...KAU.....!" Amarahnya makin memuncak, Selena sedikit lagi ingin membuka mulutnya dan berencana menelan gadis kecil itu hidup-hidup, tapi saat ia perhatikan dengan seksama. Bayang-bayang dari seseorang yang ia kenal muncul pada gadis kecil itu.


Selena mengedip-ngedipkan matanya. Ia ragu apakah dirinya salah lihat. Namun saat ia perhatikan baik-baik, senyuman yang penuh kesombongan itu dan tekanan yang ia rasakan dari tatapannya juga sihir miliknya yang di batalkan begitu saja membuatnya yakin kalau matanya tidak salah lihat.


"Y-Yang Mulia Echidna?!!"


"Aku... tidak salah dengar kan? Tadi dia memanggil gadis itu dengan sebutan Yang Mulia. Eh? T-tapi dia kan putrinya Alice" Gumam Helian bertanya-tanya.


"Apa maksudnya ini? Kuh!" Asiya ikut kebingungan. Tampaknya dia sudah hampir kehilangan kesadarannya. Dengan sisa kekuatan terakhir, untuk melihat Echidna menderita, Asiya memaksakan dirinya melawan formasi sihir itu agar tetap sadar.


"Nyonya? Benarkah itu Anda?" Tanya Selena.


"Apakah kau masih meragukan Ratu ini? Perlukah aku menunjukkan mu sebesar apa kekuatanku agar kedua mata mu itu terbuka lebar?"


Pundak dan seluruh punggung hingga ekornya tiba-tiba merinding. Selena bergidik karena rasa dingin yang menusuk muncul entah dari mana.


"T-tidak Yang Mulia. Saya harap Anda memaafkan saya."


Selena menunduk. Suaranya yang tadinya perkasa menggelegar kini menjadi pelan dan gagap.


Apa yang sebenarnya terjadi? Begitulah pikiran orang-orang saat ini.


~


"Ibu~~" Panggil manja seorang gadis muda berambut perak setelah ia membuka pintu.


Gadis kecil yang selalu mengekor pada Alice kini telah beranjak menjadi seorang remaja yang menawan. Penilaian Alice tidak salah, kalau kelak dia akan menjadi sosok dewi yang bisa melelehkan hati siapapun yang memandangnya.


Rambut berwarna perak sepanjang pinggang yang melambai lembut ketika ia berjalan dan mata merah muda yang tampak manis seperti gula memberikan kesan indah. Kepribadiannya yang ceria membuat orang-orang merasa nyaman untuk berbicara dengannya. Alis yang cukup tebal, hidung mancung, bibir kecil merah muda, bahkan suaranya begitu mempesona. Penampilannya bak sebuah gadis elf yang keluar dari dalam lukisan langka dari seorang seniman legenda. Dia adalah mahakarya, senyumannya yang bagaikan kelopak bunga yang bermekaran di musim semi membuat orang-orang berharap agar mereka bisa melihatnya setiap saat. Ya, itulah Elysia yang saat ini.


Namun mereka sama sekali tidak tahu akan apa yang telah gadis itu lewati.


Elysia berlari kecil dengan riang memeluk Alice dari belakang.


"Ibu~ aku pulang. Ibu mau masak apa buat makan malam nanti?" Ucapnya sambil mengintip dari balik pundak Alice.


Alice yang sedang memotong menghentikan tangannya, ia lalu berbalik. Alice mengetuk kepala Elysia dengan sisi bawah telapak tangannya. "Aku sedang memegang pisau. Bahaya kalau kau melakukan hal itu lagi."


Elysia tertawa kecil lalu ia menjulurkan lidahnya sedikit.


"Aku akan memasak dari sisa daging ayam yang kemarin. Kita tidak boleh membuang-buang makanan."


"Eehh~ Tidak ada yang lain ya? Lagipula, itukan bukan ayam. Dilihat dari segi manapun Cockatrice itu seekor monster bukan hewan ternak atau buruan. Itukan cuma ibu saja yang melihat mereka seperti itu. Bahkan monster Hornet Wild Boar saja ibu bilang daging celeng. Haaaah~" Keluhnya.


Setelah menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya, Elysia melepaskan pelukannya kemudian ia pun berlalu menuju kamarnya. "Ya sudah aku kemar dulu ya bu."


"Anak itu." Alice melihat punggung kecil Elysia. Ia tersenyum tipis. Kenangan tentang Elysia kecil masih saja berbekas di kepalanya seolah hal itu terjadi kemarin.


Berkali-kali Elysia dihantui oleh kenangan pahit dan rasa bersalah. Setiap satu kejadian penting terselesaikan, Alice selalu saja berjaga di samping gadis itu ketika ia tertidur di malam hari.


Kerap kali Elysia mengigau hingga terbangun.


Alice ingat ketika pertama kali hal itu terjadi. Malam itu Elysia tiba-tiba berteriak memanggil-manggil ibunya, sontak Alice yang sedang duduk di ruang tamu segera berlari menuju kamar Elysia. Ia panik karena mengira ada sesuatu yang terjadi padanya.


Jantung Alice terpacu dengan kencang seperti ia sedang dalam pertarungan sengit. Saat ia membuka pintu dan mendapati Elysia kecil duduk menangis berlinang air mata di atas ranjangnya, Alice dengan perasaan cemas segera menghampirinya dan menenangkannya.


"Ibu..huhuhu....ibu dimana...?"


Air mata membuat pandangannya kabur, dia bahkan belum sadar sepenuhnya dari tidurnya.


Alice mendekap Elysia dengan erat. Ia mengelus-elus kepala dan pundaknya dengan pelan. "Sudah, sudah.... sudah, ibu ada disini, ibu tidak kemana-mana kok. Tenang ya." Bisik Alice lembut pada Elysia.


Semenjak kejadian itu yang terus beberapa kali terjadi. Elysia akhirnya sadar kalau Alice adalah sosok yang selalu menenangkannya setiap malam.


Perlahan, Elysia yang merasakan kehangatan dan ketenangan ketika dalam pelukan Alice, mulai menerima sosoknya sebagai seorang ibu. Elysia yang merindukan tempat untuk bernaung dan melepaskan kegelisahannya memutuskan untuk memanggil Alice dengan sebutan ibu.