Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 165



Setelah malam berlalu dan hari dimana para pemberontak dihukum tiba. Alice menyaksikan semuanya dari samping.


Ia lega karena keputusan bijak yang Helian ambil akan adiknya.


Para bangsawan yang ditangkap dan diduga memiliki peran dalam pemberontakan itu dijatuhi hukuman sesuai dengan kejahatan mereka. Tidak banyak kepala rumah tangga yang dieksekusi karena perbuatan tersembunyi mereka selama ini.


Helian meremas seluruh kertas laporan yang ia terima saat tahu kalau kejadian tentang benteng perbatasan yang dirampas oleh ras hyuman ada hubungannya dengan mereka. Oleh karena itu, dengan tegas Helian menjatuhkan hukuman mati kepada mereka.


Sedangkan sisa bangsawan dan pasukan pemberontak lainnya, mereka mendapatkan hukuman untuk bekerja paksa di sebuah tambang di wilayah suku Dwarf untuk seumur hidup. Keluarga mereka juga menerima hukuman kecil, tapi dengan hukuman kecil itu, Helian berharap kalau semua orang bisa belajar dari peristiwa ini.


Untuk Sang Raja sendiri. Setelah mendengar penjelasan Alice kalau Daeron selama ini berada dalam kendali Erebos. Dengan penuh pertimbangan, Helian memutuskan untuk membebaskan Sang Raja dari hukumannya. Dengan kondisi jiwanya yang sekarang pun, mereka belum bisa memastikan kapan dia akan membuka matanya.


Sedangkan untuk Asiya, Helian mengambil langkahnya dengan sangat hati-hati. Berkat kebaikan dan rasa empati dari rakyat pada adiknya, Asiya terhindar dari hukuman mati atau kerja paksa. Untuk sementara, dia akan ditahan di penjara bawah tanah untuk merenungi kesalahannya. Namun saat ia lepas, semua statusnya sebagai seorang putri dan keluarga kerajaan akan dicabut.


Helian menemui Asiya seorang diri. Adiknya tampak yang duduk merenung di hadapan jeruji besi di penjara bawah tanah dengan wajah masam penuh sesal. Saat bayangan seseorang menghalangi cahaya yang menerangi selnya, ia mengangkat kepalanya dan melihat Helian berdiri di depan matanya.


"Ka..kak?" Asiya tiba-tiba gugup. Karena berat hati dan malu, ia memalingkan wajahnya.


Helian melihat ekspresi pahit dan mata bergetar adiknya itu. Ia menggigit bibir bawahnya sambil meremas kuat kepalan tangannya. Ia berpikir kalau semua yang terjadi pada adiknya adalah kesalahannya juga. Adiknya yang baik dan selalu tersenyum kepadanya ternyata menyimpan luka pedih di balik wajah cerianya itu.


Helian membuka sel itu dan melangkah masuk.


"Maafkan aku..." Ucap Asiya dengan sangat pelan. Meski pelan, karena ruangan itu begitu senyap, tentu saja kata maaf yang samar-samar itu bisa mencapai telinganya.


"Tidak...ini salahku. Aku telah merenggut kebahagiaanmu. Aku terlalu sibuk dengan urusan kerajaan sampai tidak menyadari apa yang terjadi padamu. Aku melupakanmu dan berpaling seolah kau baik-baik saja. Andai saja aku menyadarinya...,mungkin kau tidak akan ada di tempat ini." Jelasnya. Helian menunduk sesaat lalu ia jongkok.


Asiya ingin berteriak dan menyangkal apa yang baru saja ia dengar tapi dia tidak memiliki keberanian. Semua keberanian telah runtuh dalam hatinya.


"Asiya." Panggil Helian.


Asiya perlahan menengok. Ketika ia menolehkan kepalanya ke belakang, Helian telah berada sangat dekat di depan wajahnya.


Dengan mata yang berair Helian menatapnya begitu dalam.


Rasanya sakit. Kenapa kakak menangis? Benar. Lagi-lagi aku membuatnya malu dan semakin membebaninya. Tadinya Asiya berpikir seperti itu sebelumnya akhirnya Helian meraih pundaknya.


Derai air mata mengalir bersamaan dengan tangannya yang merangkak naik dan memegang kedua sisi pipi Asiya.


Mulut Asiya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya menjadi kaku. Kedua alisnya terangkat naik dan ekspresinya menjadi pahit melihat wajah sedih Helian. Segera Asiya pun menundukkan wajahnya dan tubuhnya kembali gemetar. Dalam sekejap, tangisannya pun pecah memenuhi ruangan itu.


Helian membenamkan tubuh lemah adiknya ke dalam dekapannya.


Kedua saudari itu menangis bersama.


Setelah keduanya melepas isak tangis. Helian mulai menjelaskan tentang situasi Asiya kedepannya.


Dia kehilangan statusnya dan seluruh aset kekayaannya juga disita. Walau begitu, Helian membebaskannya dengan syarat yaitu menurunkannya sebagai seorang prajurit pemula. Ia memberikannya sebuah rumah kecil yang ada di sekitar gerbang kota. Helian juga menugaskan Asiya sebagai pemimpin penjaga gerbang sekaligus menjaga keamanan di wilayah itu.


Di satu sisi memang itu terasa sangat disayangkan, Namun Helian senang, dia bisa melepaskan Asiya dari kehidupan lika liku istana dan membiarkannya hidup bebas menjadi seorang rakyat biasa.


Bahkan dia sendiri sempat meresa cemburu dan ingin menukar posisinya.


Asiya merasa bahagia dengan keputusan itu. Ia masih bisa dekat dengan kakaknya. Dengan statusnya sekarang, dia sadar akan kekurangannya dan dia pun bertekad untuk menjadi seorang prajurit hebat yang bisa berdiri di sisi Helian nantinya.


Keesokan harinya ketika hari menjelang sore, Helian mengundang Alice untuk menikmati teh di salah satu tamannya.


"Apa menurutmu dia akan segera sadar?" Tanya Helian saat ia meletakkan cangkir teh nya.


Sudah beberapa hari berlalu semenjak Elysia keluar dari Yggdrasil. Namun ia belum mendengar kabar baik tentang kapan gadis itu akan siuman. Padahal seorang ahli dalam sihir pemulihan telah merawatnya.


"Aku yakin dia akan segera sadar. Kau tidak perlu begitu cemas. Elysia itu gadis yang kuat." Balas Alice.


Helian menyipitkan matanya dengan alis mengkerut. Ia sedikit heran mendengar kata-kata Alice. "Hmm... kenapa kau berbicara seperti itu? Kau terdengar seperti sudah mengenalnya dengan baik."


Alice mencoba bersikap tenang, ia akui kalau dirinya salah bicara. Ia mengangkat cangkirnya perlahan sambil berkata. "Itu hanya perasaan mu saja." Ucapnya sedikit datar, lalu ia meminum tehnya.


Mungkin itu memang hanya perasaan ku. Pikir Helian dan dia pun menepis hal itu lalu melanjutkan waktu santai mereka sambil membahas hal-hal menarik seperti biasanya.


~


"Ibu... akhirnya aku sadar kalau selama ini aku terjebak dalam mimpi ku. Ibu, maafkanlah putrimu yang bodoh ini. Aku pasti sudah membuatmu khawatir dan tidak bisa tidur nyenyak bukan? Hehe, sejak dulu aku memang selalu menjadi anak ibu yang manja. Ibu selalu saja melindungi ku. Membuatkan ku makanan yang lezat dan mengantar ku kemana saja. Ya, kita selalu bersenang-senang bersama. Ibu aku merindukanmu. Amat sangat merindukanmu. Tapi aku sadar kalau semuanya sudah tidak akan bisa sama lagi seperti dulu."


Elysia menunduk melihat nisan ibunya. Ia pun duduk disampingnya. "Ibu mungkin akan cemburu mendengar ini, tapi aku yakin ibu juga pasti senang. Aku sudah menemukan seseorang yang bisa membuat ku nyaman sama seperti mu. Orang itu menemaniku setiap hari, melindungi ku sama seperti yang kau lakukan dan mengajakku kemanapun sama seperti yang kau lakukan. Oh iya, makanan buatannya juga tidak kalah lezatnya dari masakan ibu."


Elysia terus menceritakan tentang Alice pada ibunya. Wajahnya terlihat bahagia. Namun, semakin ia berbicara dadanya menjadi semakin sesak.


Elysia tidak berharap untuk berhenti, ini adalah perpisahan dan dia ingin menjadikan perpisahan ini sebagai sesuatu yang berbekas diingatannya dan tidak menyisakan rasa berat di hatinya. Elysia kembali melanjutkan kalimatnya setelah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Bukan berarti aku mencari pengganti mu. Kau tetap menjadi ibu ku kok. Begitu pun dengan orang itu. Kalian berdua adalah ibu yang ku sayangi. Karena itu, aku tidak ingin lagi menjadi orang yang membebani kalian."


Dengan senyum Elysia berdiri lalu ia memukul-mukul rok bagian belakangnya. Ia berhenti sejenak dan matanya menjadi basah saat kembali menatap makam ibunya. "Aku sudah merapikan kamar ibu dan kamarku juga. Ruang tamu dan dapur juga sudah ku bersihkan. Ibu kan kadang mengeluh kalau aku ini harus menjadi mandiri. Makanya, aku sudah membereskan semuanya dengan baik. Rumah kita, ibu tenang saja, aku sudah merapikan semuanya kok. Hehehe...hehe..he...Ibu..."


Sebelum air matanya menetes di hadapan makam ibunya, Elysia lekas berbalik dan berjalan sedikit jauh. Ia berhenti setelah tiga langkah, ia menyeka air matanya dan mengusap wajahnya kemudian berbalik.


Elysia menahan rasa pahit dalam batinnya dan tersenyum lebar ke arah makam ibunya. "Jangan khawatir, aku akan pulang sesekali untuk mengunjungi ibu. Jadi~ ibu cukup perhatikan aku saja dari atas sana. Aku janji kok akan menjadi Elf yang hebat nantinya." Elysia terdiam sejenak. "...Ibu, aku pergi dulu ya." Ia pun berbalik dan melangkah menjauh.


~


Elysia terbangun dengan bekas air mata yang membasahi pipinya. Ia menengok ke arah jendela.


"Tempat ini... kelihatan mewah."


Perlahan ia mengangkat tubuhnya untuk duduk. Sambil memiringkan kepalanya ia berpikir. "Satu-satunya kamar semewah ini ya... paling cuma milik Helian. Apa itu artinya aku ada di istana? Bagaimana dengan keadaan di luar sana?"


Elysia segera berlari menuju jendela dan membukanya lebar-lebar. Ia melihat situasi sekitar. "Terakhir kali sebelum aku tertidur di dalam Yggdrasil, aku merasakan suasana langit kota tidak sejernih dan sehangat ini. Apa yang sudah terjadi?"


Dengan piyama putih polos yang ia pakai, Elysia melangkah keluar ke balkon dan merasakan hembusan angin segar yang sepoi-sepoi menerpanya. Ia memejamkan matanya lalu bergumam. "Apakah mereka sudah mengatasi masalahnya. Itu berarti Helian telah berhasil melindungi negeri ini. Mungkinkah dia juga yang sudah membawaku keluar dari Yggdrasil?"


Meskipun ia mengingat dengan jelas apa yang terjadi dalam mimpinya. Alice dan semua yang telah mereka alami. Tapi, justru karena ia tahu kalau itu hanyalah sebuah mimpi, ia tidak merasa kalau sosok wanita yang ia panggil ibu itu benar-benar nyata. Ia berprasangka kalau ia mungkin adalah spirit penjaga dari Yggdrasil yang melindunginya dikala ia tertidur. Dengan kesimpulan itu, Elysia menyatakan kalau semuanya hanyalah bunga tidur belaka.


"Itu terasa nyata sampai-sampai aku hampir yakin kalau semua itu benar-benar terjadi."


Helian kembali ke kamarnya, ia membuka lemari dan memakai gaun terusan sederhana.


Dengan bahagia dan ceria ia berlari keluar untuk mencari Helian. Elysia tampak semangat dan ingin segera mengucapkan selamat pada sahabatnya itu karena keberhasilannya.


Tanpa ia ketahui bahwa ia telah tertidur begitu lama dan tubuhnya tidak merasa kaku sama sekali. Elysia terus berlari tanpa henti ke setiap sudut istana.


Elysia sebenarnya sadar kalau ada sesuatu dalam tubuhnya yang bergejolak. Seperti sebuah energi yang begitu besar sampai membuatnya berpikir kalau dia bisa mengalahkan satu atau dua ekor naga saat ini.


Para penjaga dan pelayan yang ia lewati menatapnya dengan heran. Elysia telah menyusuri istana tapi dia bahkan belum melihat batang hidung Helian.


Elysia berhenti berlari "Kalau tidak ada dimana-mana... berarti satu-satunya tempat ya sudah pasti disitu." Gumamnya lalu mengangguk. Kemudian ia kembali berlari menuju tempat yang ada dalam benaknya.


Sesampainya di taman dimana Helian berada. Elysia mengangkat tangannya dan berteriak. "Hel-----" Suaranya tertahan seketika ketika matanya tertuju pada sosok wanita berambut pirang yang duduk di hadapan Helian.


Antara percaya atau tidak, matanya melihat wanita itu. Ia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. "I-ibu.." Panggilnya pelan.


"Bau ini.... perasaan yang tidak asing ini...aku yakin itu dia... walaupun penampilannya berbeda tapi aku sangat yakin kalau dia adalah ibuku. Aku, aku tidak percaya kalau dia benar-benar nyata."


Seluruh tubuhnya bergetar karena rasa bahagia yang meluap-luap. jantungnya berdegup sangat kencang. Ia mengepalkan tangannya yang gemetar dan melangkahkan kakinya maju dengan perlahan. Elysia menahan air mata bahagianya. Saat ini, dengan dirinya saat ini, ada sesuatu yang harus ia lakukan lebih dulu.


Sedikit demi sedikit, awalnya ia berlari kecil dan kemudian semakin cepat menuju Alice.


Alice dan Helian yang tengah asik bercengkrama tiba-tiba kedatangan seorang tamu. Dari sudut matanya, mereka melihat sosok gadis yang berdiri di kejauhan berlari mendekat. Mereka pun menoleh ke arah Elysia.


Helian tersenyum lega, Akhirnya dia sudah sadar, benaknya. Ia melambaikan tangannya dan menyambut kedatangan Elysia dengan hangat.


"Tapi kenapa Elysia membawa senjata di tangannya? Lagi pula darimana ia mendapatkan sabit besar itu? Dan... kenapa dia berlari sangat cepat kemari?" Benak Helian heran.


Eh? Eh? Apa? Hah?!


Helian melirik Alice yang tenang-tenang saja meminum tehnya dan Elysia yang dengan agresif mendekati mereka secara bergantian.


"E, Ely?!!"