
Dibawah gelapnya malam, kevin berjalan menuju Menara Penghakiman. Kevin dikejutkan dengan dua prajurit penjaga gerbang yang tersungkur di atas tanah ketika ia telah berada tak jauh dari menara. Kedua orang itu seolah-olah telah diserang seseorang. Kevin segera berlari dengan panik menghampiri mereka.
Kevin melihat keduanya masih dalam keadaan sadar namun entah apa yang terjadi, mereka seperti kesakitan dan tidak dapat bergerak seperti beban yang begitu berat sedang menindih tubuh mereka.
Kevin berlari dan semakin mendekat tapi ketika ia berada lebih dekat dengan menara. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, seluruh tubuhnya merinding dan jantungnya berpacu lebih cepat. Tidak salah dua prajurit itu berada dalam kondisi seperti apa yang ia lihat saat ini. Pundaknya tiba-tiba didorong ke bawah dengan keras dan kakinya seperti terikat oleh rantai besi yang membuatnya kesulitan bergerak.
Kevin tersentak sejenak sebelum akhirnya ia bisa menguatkan dirinya untuk kembali bergerak. Ia ingat perasaan ini. Bukankah perasaan ini sama seperti waktu itu? Begitulah pikirnya.
Sesuatu yang pernah ia temui saat berada di kota Vulture, hanya saja kali ini terasa lebih kuat.
"Gadis itu.... Apakah mungkin dia..?" Gumamnya lalu menarik kedua prajurit itu ke pundaknya dan memapah mereka untuk menjauh dari menara.
Peluh keringat bercucuran dari sisi kepalanya. Apakah menarik keduanya memang begitu berat dan sulit? Tidak, melainkan tekanan Aura yang ia rasakan itu seperti menggigit jiwanya secara perlahan.
Kevin menarik nafas panjang. Dengan Aura miliknya, ia kembali mendekati menara itu. Meski perasaan tertekan itu masihlah ada, tapi Kevin tetap melangkah menuju pintu yang ada di depannya. Ketika ia membuka pintu, tekanan itu tiba-tiba lenyap begitu saja. Kevin menghembuskan nafas leganya.
"Alicia Lein Strongfort...Apakah mungkin itu dia?" Gumamnya selagi menaiki anak tangga dan mendongak ke atas.
Lorong anak tangga yang sunyi senyap membuat suara langkahnya terdengar lebih keras. Gema langkah kakinya seperti menghiasi setiap sudut dalam menara.
Bagaimana dirinya saat terakhir kali mereka saling bertukar kata? Seperti apa dia saat terakhir kali mereka berpapasan? Tangannya berkeringat sedikit lebih banyak dari biasanya. Apakah ini adalah menara raja iblis? Bagaimana mungkin kakinya memiliki rasa gentar untuk naik. Pikirannya penuh tentang tanda tanya dan rasa penasaran akan Alice.
Selagi ia tenggelam dalam pikirannya. Tanpa ia sadari pada akhirnya ia sampai juga di depan pintu ruangan Alice. Ia mengetuk pintu denganpelan.
"Silakan masuk." Balas suara dari balik pintu.
Suara yang merdu nan lembut. Namun Kevin tidak begitu peduli, bukan saatnya untuk mengagumi hal itu. Ia memantapkan hatinya untuk fokus pada satu tujuan yakni mencari kebenaran, seperti yang Ayahnya katakan.
Setelah membuka pintu, Alice dengan senyum ramah menyambut Kevin.
Kevin menengok ke dalam. Ruangannya tampak gelap, Apakah dia sudah tidur tadi? Lalu bagaimana dengan Aura yang mengerikan itu?
"Hmm....Salam Yang Mulia Putra Mahkota, Pangeran Kevin." Sapa Alice sambil membungkukkan dirinya. Lalu Sekali lagi Alice menyambut Kevin untuk masuk ke dalam. "Silakan masuk Pangeran."
Wajah Kevin tampak canggung, dan bisa dilihat kalau telinganya memerah. Meski tak begitu jelas tapi Kevin melihatnya sedikit kalau Alice hanya mengenakan piyama saja. "Nona Alicia... Pakaian mu..." Ucapnya sedikit malu sambil ia memalingkan wajahnya.
Alice tidak memperhatikannya. Ia baru sadar kalau apa yang ia kenakan saat ini tidaklah begitu sopan. "Maafkan saya. Saya akan segera menggantinya." Kevin mengangguk dan Alice kembali menutup pintunya.
Setelah menunggu beberapa saat. Alice membuka pintunya. Tampak ruangan yang terang setelah Alice menyalakan seluruh lentera penerangan.
"Silakan masuk." Alice dengan ramah menyambut Kevin meski suaranya terdengar sedikit canggung setelah apa yang baru saja terjadi.
Alice mengisyaratkan Kevin untuk duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
Dengan sedikit sisa camilan yang ia miliki ia menyajikannya di atas meja. "Maaf, hanya ini yang saya miliki." Ucap Alice dengan senyum canggung lalu ia pun duduk di kursi depan Kevin.
"Tidak perlu. Lagi pula kedatangan ku hanya ingin memastikan sesuatu." Kevin menatap Alice dengan serius. "Apa benar anda yang menyembuhkan Ayahku dan menyelematkan Sang Ratu?"
"Benar." Alice tersenyum tipis sambil menunjuk ke samping. "Anda bisa melihat salah satu buktinya disana."
Kevin menoleh ke arah tempat yang Alice tunjuk. Ia dikagetkan ketika melihat seorang pria terbaring tak sadarkan diri. Kevin mengamati kondisi pria itu dari tempat duduknya. Ia tak menyangka kalau pria itu sudah mati dan yang membuatnya heran lagi adalah pria paruh baya itu adalah sosok penasehat yang selama ini selalu berdiri di samping tahta Ayahnya.
Keadaannya cukup mengenaskan. Kevin mendekati mayat itu. Kondisinya bisa-bisa membuat orang yang melihatnya gigit jari karena ngeri. Telinga, hidung dan kedua matanya terdapat bekas darah mengalir yang masih basah. Kevin berbalik dan bertanya pada Alice.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Bagaimana bisa penasehat raja ada disini dan terlebih lagi ia sudah mati.
"Dia ingin membunuh ku dan juga dia bukanlah manusia. Dia ras iblis murni." Jelas singkat Alice.
Dengan sebuah 'Hah?!' Kevin seolah-olah tak percaya dengan pernyataan Alice. Ia berbalik sekali lagi memeriksa mayat pria itu.
Ia tertegun saat apa yang Alice katakan ternyata benar. Tapi bagaimana bisa ras iblis menjadi seorang penasehat kerajaan? Bukankah dia juga telah lama bersama Ayahku?
Alice lalu mengangkat suara, menyela semua dugaan yang ada di benak Kevin "Kemungkinan besar Tuan Berness yang sesungguhnya telah lama mati, lalu Iblis itulah yang menggantikannya. Selain itu, dia juga lihai dalam menggunakan sihir pengendali pikiran. Mungkin saja orang-orang di kediaman Tuan Berness berada dalam pengaruhnya."
Kevin meremas rambut kepalanya dan menghela nafas berat. Semua yang misteri dan kejadian ini benar-benar membuat kepalanya sakit. Ras iblis telah lama bersemayam dalam istana kerajaan. Mereka juga telah menyiapkan pasukan di kedalaman Great Forest. Sang Ratu dan Ibunya, sepertinya juga merupakan ulah mereka.
Kevin berjalan dengan punggung yang terasa berat. Ia lalu duduk kembali. Kevin menutup matanya dengan salah satu tangannya. Ia ingat dengan apa yang Ayahnya katakan sebelumnya, tapi bagaimana ia harus menghadapi Ratu Elizabeth setelah semua yang ia lakukan.
"Pangeran...saya tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Hanya saja...jika rumor tentang Anda dan Sang Ratu itu benar, maka saya berani mengatakan kalau Ratu Elizabeth sama sekali tidak bersalah atas kematian Ibu Anda."
"Uh...Aku tahu."
Aku tahu itu tapi bagaimana aku harus menyikapinya?
Kevin masih menutup kedua matanya. Ia benar-benar kehilangan akal. Kematian Ibunya kala itu adalah sesuatu yang membuatnya begitu terpukul.
"Saya juga yakin kalau Ibu Anda juga tidak ingin Anda hidup seperti ini. Ratu Elizabeth tidaklah bersalah malahan saya ingin Anda untuk melindunginya."
Kalimat Alice membuat Kevin tertegun. Ibunya dan gadis di hadapannya itu mengucapkan kalimat yang sama.