Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 85



Rose berjalan menuruni tangga dan berdiri tepat di tengah ruangan itu. Sebuah lingkaran sihir besar terlukis tepat di bawah kakinya. Alice melihat dari atas dan berpikir kalau tempat ini adalah apa yang ia cari-cari akhir-akhir ini. Sesuatu yang hanya dimiliki oleh Raja iblis itu sendiri, yaitu sebuah gerbang teleportasi raksasa yang bisa membawanya berpindah benua.


"Nona Alicia Lein Strongfort. Aku tahu apa yang selama ini kamu cari. Aku juga tahu tentang identitas mu yang sebenarnya. Mungkin ini tidaklah patut bagiku untuk meminta, namun untuk sekali lagi. Maukah kamu membantuku untuk menyelesaikan permasalahan negeri ini?"


"Tentu. Lagipula aku juga menginginkan sesuatu darimu." Alice pun menuruni tangga dan berjalan mendekati Rose. "Aku ingin meminta akses teleportasi milikmu ini." Lanjutnya.


Rose berbalik dan melangkah perlahan lalu memutari Alice. "Sayangnya.... benda ini sudah tidak berfungsi lagi." Katanya sedikit malu karena dia tidak bisa memenuhi harapan Alice.


Setelah ia melihat Alice saat pertama kali mereka bertemu. Rose sebenarnya telah mengetahui tentang Alice berdasarkan surat dari Ophelia. Kekuatan, kemampuan dan penjelasan tentang ciri-cirinya sudah tertulis dalam surat itu. Tapi untuk mengetahui identitas Alice yang sebenarnya adalah seorang hyuman. Rose memiliki insting dan pengamatannya sendiri yang jauh lebih hebat dari Ophelia.


Setelah mereka bertemu waktu itu, Rose telah mengirim salah satu orang kepercayaannya untuk mengawasi Alice dari jarak yang sejauh mungkin. Dalam ingatannya, Rose pernah hampir gagal karena tingkat kesadaran Alice yang begitu tinggi dan terlihat seperti ia mengetahui segala apapun yang ada di sekelilingnya. Beruntungnya saat itu Alice berada di perpustakaan dan tidak terlalu memperdulikannya.


Jauh-jauh hari sebelumnya, Rose juga telah memikirkan untuk mengundang Alice ke kastilnya dan bahkan ingin merekrutnya menjadi rekannya. Tapi mengingat kalau dia adalah hyuman yang jauh dari rumahnya dan sedang mencari jalan pulang. Harapan Rose pupus di tengah jalan. Saat ini, dia hanya ingin menjadi temannya saja.


Kembali ke Alice yang terkejut karena mengetahui kalau jalan satu-satunya untuknya kembali telah lenyap. Alice seperti hampir kehilangan sebagian alasannya untuk membantu Rose. Tapi tidaklah mungkin baginya mengingkari apa yang telah ia ucapkan, berhubung putrinya juga berada di tangan pemimpin kelompok aktif itu.


Alice menghela nafasnya. Ia bertanya "Kenapa? Apakah benda itu rusak?"


Rose menggelengkan kepalanya "Apa yang menjadi inti kristalnya telah hilang. Seseorang dari kelompok aktif telah mencurinya. Aku rasa, mereka telah membuat gerbang teleportasi lainnya yang mungkin bisa membuat mereka terhubung ke benua Regnum."


Alice memijat pelipisnya saat ia mengetahui kebenarannya. Apa yang Rose katakan membuatnya sadar akan sebab kenapa para deemon bisa masuk ke benua para manusia.


"Baiklah. Aku akan mengambil kembali kristal itu dan memberikannya padamu."


Rose tersenyum dan melihat Alice dengan mata berbinar-binar. "Sungguh? Wah~ Terima kasih Alice." Ucapnya saat ia menggenggam tangan Alice dan menjabatnya dengan kencang. Rose berhenti mengguncang tangan Alice, dia menatapnya sebentar lalu melompat ingin memeluknya. Tapi Alice dengan lihai menghindar. " Eh~ Padahal kan aku cuma ingin memelukmu saja." Katanya, memasang wajah cemberut sambil meletakkan jemarinya di bawah bibirnya.


"Karena tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan. Aku akan pergi. Besok aku akan pergi." Alice tidak menghiraukan sikap Rose yang manja melainkan hanya memberikan sedikit senyuman.


Setelah mengunjungi kastil raja iblis. Alice memanggil Fee yang muncul dari dalam bayangannya. "Kita akan pergi cukup jauh besok. Fee, aku ingin kau mengantarku."


"Baik." Jawab singkat Fee dengan cepat.


Setelah hari dimana Echidna diculik. Fee bertanya-tanya dalam batinnya ketika ia melihat Alice pulang dengan suasana hati yang buruk. Kala itu ia tak melihat Echidna yang biasanya menemani Alice bagaikan lem yang terus menempel di sampingnya.


Fee memberanikan diri bertanya pada Alice tentang Echidna. Saat Alice menjawabnya dengan berkata kalau seseorang telah menculik Alice. Fee seketika sedikit kehilangan. Waktunya menjadi lebih tenang hingga malam berlalu dan berganti hari, tapi baginya yang selama ini telah bersama dengan Echidna yang selalu mengelus punggung dan menggaruk perutnya, juga kadang menyebalkan karena mengganggu istirahatnya. Fee merasa cukup kesepian tanpa kehadiran anak itu.


"Aku juga sedikit merindukan anak itu." Gumamnya pelan.


Alice melompat naik ke atas punggung Fee. Ia menoleh ke belakang dan melihat Rose melambaikan tangan padanya sambil tersenyum lebar.


"Raja iblis ya...." Alice bergumam sendiri. Ia ingat perkataan Davella kalau raja iblis saat ini bukanlah sosok kejam seperti yang sebelumnya. Dan kini ia pun yakin kalau apa yang ia lihat tak jauh berbeda dengan gadis remaja yang energik dan selalu ceria. Sosok seorang Rose adalah seseorang yang selalu optimis.


Alice melambaikan tangannya sekali kemudian ia mengangguk sambil tersenyum membalas Rose.


"Ayo Fee. Kita berangkat." Katanya setelah is berbalik dan duduk di atas punggung Fee.


Berdasarkan apa yang ia rasakan dari mantra pelacaknya. Tujuan mereka berada di arah timur yang cukup jauh dari Kota Demonscar. Alice juga telah membeli sebuah peta dari serikat pemburu yang akan membantunya untuk melihat tempat apa saja yang akan ia lewati.


Swamp Of Despair adalah tempat yang akan menjadi tujuan mereka yang pertama. Tempat sunyi yang katanya penuh dengan arwah gentayangan dari para pemburu dan monster.


Tanpa terasa, Fee mengantar Alice begitu cepatnya hingga tak butuh waktu lama untuk sampai di depan rawa itu. Alice memandangi pepohonan yang terlihat seperti pintu masuk dari rawa itu.


"Bukankah rawa di depan terlihat aneh?" Nyx muncul tiba-tiba, memproyeksikan dirinya seperti sebuah bayangan manusia namun terlihat tembus pandang.


Setelah memulihkan banyak kekuatannya, Nyx telah mampu menciptakan bayangan dirinya yang seperti monster arwah.


Alice menepuk punggung Fee dengan pelan sebagai pertanda agar Fee berhenti. Alice mengamati bagian luar rawa itu. Tampak suasana senyap seperti suara atau cahaya yang masuk ke dalam akan hilang begitu saja. Pohon-pohon yang lebat dan cukup besar untuk membuat rumah seolah membentengi tempat itu.


"Swamp of Despair. Sesuai dengan namanya." Nyx bergumam sambil melayang-layang di sekitar Alice.


"Tempat ini penuh dengan energi negatif. Selain itu aku merasakan ada susunan aneh dari pepohonan ini. Seperti pohon-pohon ini hidup dan sengaja berdiri di tempat mereka untuk memusingkan orang-orang yang melewati rawa ini."


Nyx meletakkan tangannya di bawah dagunya sambil mengangguk-angguk. "Kau benar."


"Jika apa yang kau tuju adalah wilayah yang ada di depan sana. Makan rawa ini adalah jalan satu-satunya." Sela Fee. "Tenang saja. Aku cukup tahu jalan keluar dari tempat ini." Tambahnya.


Apa yang Fee katakan memanglah benar. Sebelum ia berakhir di hutan kecil itu. Fee telah bersembunyi di banyak tempat. Ia telah lama berkelana di benua Arkham dan berlindung dari kejaran Dewa-Dewi.


Alice melirik ke kiri dan kanan. Ia mengamati setiap sisi dari pohon-pohon lebat dan semak-semak yang ada di hadapannya.


"Baiklah. Kita masuk." Alice memilih percaya pada perkataan Fee. Lagipula akses jalan yang ada di peta juga hanyalah rawa itu.


Fee tersenyum tipis. "Serahkan padaku. Aku akan mengantarmu keluar dari tempat ini sesegera mungkin."