Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 23



Hari demi hari aku berlatih keras. keringat dan memar di tubuhku adalah bukti dari perjuanganku. Setelah kehilangan keluargaku dan kehilangan tujuan hidupku, aku sempat berpikir untuk mengakhiri segalanya. Mungin lebih baik aku mati dimakan hewan buas itu dari pada mati perlahan dalam kedinginan. Tapi aku bersyukur karena telah bertemu dengan Duke waktu itu. Ia memberikan tujuan hidup yang baru, rumah yang baru dan keluarga yang baru.


Aku tak lagi kelaparan, tidurku nyaman dan hari-hari menjadi berarti. Meski penuh dengan latihan yang keras dan menyiksa tapi aku senang ketika Nona datang melihat ku.


"Leon! Leon! " Gadis kecil berambut pirang keemasan tampak begitu imut berlari dengan kaki kecilnya ke arah Leon. "Leon...Apakah kau sudah selesai latihan?" Wajah menggemaskan itu memandanginya penuh harap.


Leon tersenyum bahagia. "Belum Nona, aku belum selesai."


Gadis kecil itu menggembungkan pipinya "Tapi aku mau main. Ayo main denganku. Main!" Gadis itu lalu menarik-narik baju Leon.


Leon tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. "Baiklah, Kalau begitu Nona tunggu sebentar ya." Leon pun pergi ke gudang untuk menyimpan senjatanya dan melepaskan perlengkapan latihannya.


Setelah beberapa saat ia kembali dan berkata "Baiklah Nona, kalau begitu kita main apa kali ini?"


Dengan senyuman lebar di wajahnya gadis kecil itu menjawab Leon "Petak umpet! ayo main petak umpet."


"Kalau begitu Nona yang sembunyi, aku yang jaga."


Keduanya kemudian pergi mencari sebuah pohon dengan tanah lapang untuk memulai permainan mereka. "Disini. Aku akan berbalik dan menghitungnya. Nona sembunyilah."


Gadis itu mengangguk dengan antusias lalu ia berlari di temani seorang pelayan wanita.


"Oh iya Nona. Sembunyi yang baik ya. Terakhir kali Nona begitu mudah di temukan." Teriaknya degan nada menggoda.


Gadis itu berbalik dan mengejeknya dengan menjulurkan lidah serta menutup kedua matanya "Kali ini pasti aku yang menang."


Meski telah kelelahan setelah seharian latihan. Leon muda begitu bahagia ketika menghabiskan waktu bersama Nona mudanya, sayang sekali... sesuatu membuat ia harus pergi meninggalkannya.


Sebuah perintah dari Duke kala itu yakni Ayah dari Ernard Lein Strongfort membuat ia harus berangkat ke ibukota untuk menjalani pelatihan ksatria dan mengambil tanda lulus ujian ksatria.


"Alice, kau mau kemana?"


"Aku mau bertemu Leon" Gadis itu kesal dan hampir menangis melihat Liana. "Kalian Jahat! Aku benci kalian!" Teriaknya sembari berlari.


Segera, secepat mungkin Alice kecil berlari dengan kaki kecilnya menuju gerbang untuk bertemu Leon.


Gadis itu mulai kelelahan namun ia tidak ingin berhenti. Jika bisa ia ingin melihat Leon yang sudah dia anggap seperti kakak untuk terakhir kali sebelum ia pergi ke ibukota.


Awalnya Liana dan Ernard merahasiakan hal ini dari Alice. Melihat hubungan mereka yang begitu akrab, Mereka berpikir untuk menjelaskannya saat waktu yang tepat tiba. Akan tetapi, Alice tak sengaja mendengar pembicaraan Leon dan komandan ksatria keluarga Strongfort. Ia sedih dan segera berlari menuju kamarnya.


"Leon..! Leon..!"


Leon berhenti sebelum ia naik ke atas kereta kuda. "Nona..." hatinya lirih melihat Alice berlari berlinang air mata menghampirinya. Leon pun ikut berlari mendekatinya.


"Leon..! Apa kau mau pergi jauh?" Tanya Alice sambil ia memegang salah satu tangan Leon.


"Aku tidak pergi jauh Nona. Aku hanya pergi ke ibukota saja."


"Kalau begitu apa aku boleh ikut?"


Leon tertawa kecil "Nona tidak boleh ikut, Nona harus tetap disini. Apakah nona tidak kasihan melihat Tuan dan Nyonya yang sedih karena Nona tidak menemani mereka?"


Leon tidak tahu harus apa. Ia hanya bisa tersenyum dan tertawa melihat tingkah Alice. "Bagaimana kalau begini..." Leon lalu membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Alice.


Entah apa yang dikatakannya sampai Alice berhenti merengek dan patuh untuk kembali pada kedua orangtuanya.


"Leon Janji ya..." Teriak Alice saat melihat Leon di atas kereta kuda.


"Tentu Nona. Aku pasti bisa menjadi ksatria yang hebat." Balas Leon


Setelah tiga tahun berlalu dengan perasaan menggebu-gebu di dadanya. Leon yang telah berhasil menjadi ksatria muda di usianya yang 15 tahun, akhirnya kembali ke kediaman Strongfort.


Senyum diwajahnya terus terpampang jelas hingga ia sampai di depan kastil milik keluarga Strongfort.


"Akhirnya aku pulang." Gumamnya bahagia.


Leon turun dan menarik kudanya. Saat ia melewatkan gerbang, beberapa pelayan dan juga prajurit yang berjaga menyambut dan memberikan selamat atas keberhasilannya.


Leon disambut lagi oleh Ernard dan Liana ketika ia masuk ke dalam kastil. "Selamat atas keberhasilanmu." Ucap Ernard.


Leon menundukkan kepalanya "Terimakasih Tuan. Karena kebaikan kalian juga aku bisa sampai seperti ini."


Melihat Alice tidak berada di ruangan itu, Leon kembali bertanya " Maaf Tuan, Nyonya. Kalau boleh tahu, dimana Nona Alicia?"


Ernard dan Liana terdiam sejenak dan mereka seperti saling menatap.


"Alice...sedang..."


"Alice ada di kamarnya. Kau boleh menemuinya kalau mau." Ucap Ernard mendahului Liana.


"Terima kasih Tuan, Nyonya. Kalau begitu saya undur diri untuk menemui nona Alicia." Lalu Leon pun pergi ke kamar Alice.


"Sayang...apa kau yakin dengan ini?"


"Kenapa? Cepat atau lambat dia pada akhirnya akan mengetahuinya."


"Tapi.. bukankah..."


"Sudah, sudah. Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Kuharap kedatangan Leon kembali bisa membantu kita."


Leon dengan cepat berjalan menuju kamar Alice. Jantungnya berdegup makin kencang tak karuan. Ia sudah bisa membayangkan banyak hal tentang bagaimana Alice akan menyambutnya.


"Apakah Nona akan lompat dan memelukku atau apakah Nona akan menarik-narik lengan bajuku lagi dan mengajakku bermain, tapi kurasa Mona sudah tambah tinggi jadi hal itu tidak mungkin. Bagaimana kalau dia tak mau bertemu dengan ku lagi karena terlalu lama menunggu." Batinnya gelisah.


Leon berdiri dengan perasaan dilema setibanya ia di depan pintu kamar Alice. Ia memegang gagang pintu namun tak berani membukanya.


Buka tidak ya...


Saat ia terlalu lama berpikir dan berdebat dengan perasaannya. Tiba-tiba suara keramik pecah berbunyi keras dari dalam kamar Alice. Leon kaget dan ia segera membuka pintu itu.


"Nona!"