
Setelah mengalahkan para monster, Alice dan yang lainnya segera pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke Akademi. Beruntungnya, para ahli yang datang kesana hanya menemukan tumpukan mayat monster. Marianne yang juga tiba di lembah itu turut lega saat tak menemukan Alice dan yang lainnya disana.
Sedikit lagi musim gugur akan usai dan berganti musim. Namun Alice belum menemukan hari yang cukup damai baginya meski ras iblis tak menunjukkan adanya pergerakan.
Alice menghela nafas sambil memutar bola matanya saat melihat Kevin datang menghampirinya. "Dia datang lagi..."
Sebenarnya ia tak merasa terganggu saat Kevin datang dan memintanya untuk latih tanding tapi para murid wanita yang mengerumuni atau memperhatikannya membuat ia sedikit risih.
Apakah aku ini tampak seperti monyet di kebun binatang?
Apalagi ketika mereka mengajukan segunung pertanyaan yang seperti tiada habis-habisnya. Alice merasa kalau latihannya untuk berkultivasi selama ini masih lebih ringan ketimbang meladeni para gadis-gadis yang sedang berbunga-bunga, Alice hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas lelahnya.
"Musim semi yang tiba disaat dedaunan berguguran."
Namun, Alice tidak sedikit pun terlena oleh kedamaian dan ketenangan itu. Ia merasa kalau masih banyak hal janggal yang belum terselesaikan, semisal...jika benar ras iblis mengincarnya, kenapa mereka mencoba untuk membunuhnya waktu itu? Belum lagi kasus mengenai kelutnya keluarga kerajaan dan para bangsawan yang masih belum selesai. Alice merasa kalau kebenaran itu masih begitu jauh dari matanya.
Sembari menunggu datangnya musim dingin, Sang Ratu akhirnya sadar. Raja, Kevin dan dirinya mengira kalau akan mendapatkan suatu petunjuk dari Sang Ratu tapi ia sama sekali tidak mengingat apa-apa mengenai peristiwa yang pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Sang Ratu, Eliza bahkan sangat terpuruk saat ia mendengar kenyataan pahit itu dari mulut suaminya. Kenyataan bahwa ia sendiri yang menyebabkan kematian Emilia.
Derap air mata dan Isak tangis memenuhi kamarnya. Demi menebus kesalahannya, Eliza berencana untuk menghabiskan sisa hidupnya itu untuk menyesali perbuatannya dengan mengurung diri di kamarnya. Namun Kevin dan Marianne datang dan meyakinkannya kalau apapun yang terjadi saat itu bukanlah kesalahannya.
Butuh waktu berhari-hari untuk mengeluarkan Eliza dari kamarnya. Terutama bagi Kevin, Eliza memeluk erat salah satu hal berharga yang sahabatnya tinggalkan itu. Derap air mata membasahi pipinya, bahkan ia hampir berlutut di hadapan Kevin karena kematian Emilia yang di sebabkan oleh tangannya.
Kevin mengerutkan bibirnya tidak tahan melihat keadaan Eliza seperti itu. Segera ia menahan tubuh Eliza yang ingin berlutut dan memapahnya berdiri kembali. Kevin memanggilnya ibu dengan lembut, mengusap air matanya, dan memeluknya. Perasaan hangat itu mengalir hingga ke hatinya.
"Semua itu adalah perbuatan para iblis. Ini bukan salahmu." Ucap Kevin sambil memeluk erat dirinya.
Alicia Lein Strongfort juga sesekali menjenguk Eliza. Awalnya Eliza begitu terkejut melihat gadis yang begitu menawan, anggun dan berkilau berdiri di depannya. Pertemuan di hari sore itu, dalam rumah kaca, saat Eliza sedang menyiram bunga kesayangannya seperti bagaimana mereka bertemu di waktu Alice kecil.
Alice tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca melihat Eliza telah kembali sebagaimana ia mengingatnya dulu.
"Aku lebih sering tersentuh akhir-akhir ini. Apakah Usia ku juga mempengaruhi emosi ku?" Benaknya tapi Alice menepisnya dan tak peduli. Tak peduli seberapa lama ia pernah hidup, kali ini sebisa mungkin ia ingin menjalani hidupnya seperti orang-orang biasa lainnya. Tak tergesa-gesa, tak perlu dibayangi oleh kematian, tak di kejar oleh ketakutan. Ia hanya ingin bahagia dengan yang ia sebut keluarga.
Alice berlari layaknya gadis remaja umumnya menghampiri Eliza " Bibi Liz...!" Panggilnya lalu memeluk erat Eliza.
"Alice." Eliza menerima pelukan Alice. "Kau... sudah besar rupanya." Sungguh banyak waktu yang telah ia lewatkan tanpa ia sadari.
Seiring waktu berlalu kondisi sang Ratu semakin membaik. Tapi bagi keluarga kerajaan, mereka tetap membutuhkan waktu untuk menyatukan kembali dua fraksi pendukung itu.
Salju yang berjatuhan dari langit perlahan-lahan menutupi jalan dan atap-atap rumah. Berhubung waktunya liburan musim dingin, Alice memutuskan untuk kembali ke kediaman Strongfort dan tentunya Mary dan Leon juga ikut dengannya.
"Mary. Bagaimana denganmu?" Tanya Alice.
"Maafkan saya Nona. Saya tidak ingin merepotkan Anda. Bahkan...saya sangat berterimakasih karena Anda mengijinkan saya untuk pulang dan menemani ibu saya." Ujar Mary dengan wajah murung.
Setelah mendapat kabar kalau ibunya sakit, Mary yang kala itu sedang menunggu kepulangan Alice di kamar langsung menunjukkan selembar surat sambil meminta maaf pada Alice. Ia merasa tak enak hati Namun, syukurlah karena waktunya bertepatan dengan liburan musim dingin, jadi mereka bisa berangkat bersama.
Perjalanan menjadi lebih lama karena salju. Pohon-pohon yang tampak memutihkan dari kejauhan dan beberapa bagian sungai yang juga membeku karena udara yang makin dingin.
Karena merasa masih banyak waktu sebelum malam, Alice memutuskan untuk singgah dan berbelanja. Ia berniat untuk memberikan sebuah pakaian hangat dan beberapa makanan untuk keluarga Alice.
"Ta-Tapi Nona, Anda sudah memberi saya terlalu banyak."
"Tentu aku tahu itu, maka dari itu anggap saja ini sebagai bonus karena menemani ku di ibukota." Jelas Alice agar Mary tak berkelit lagi.
Mary sangat bahagia karena telah melayani Alice selama ini. Meski terbilang baru di kediaman Strongfort, tapi setidaknya ia tahu lebih banyak tentang Alice daripada pelayan-pelayan lainnya.
Alice berpisah dengan Mary dan ia melanjutkan perjalanannya bersama Leon.
"Sedikit lagi sampai rumah, aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah mereka, apalagi ketika aku memberikan hadiah yang ku buat sendiri." Tuturnya sambil bersandar pada sisi jendela kereta kuda dengan satu tangannya. Alice tersenyum ketika ia membayangkan akan betapa bahagianya mereka saat memberikan hasil buatan tangannya itu.
Hanya saja...semua itu tidak seperti yang ia harapkan. Dari jauh terlihat sedikit asap hitam yang arah berasal dari kediaman Strongfort. Matanya terbelalak karena terkejut dan segera memperluas alam kesadarannya untuk merasakan yang ada di sekelilingnya. Alhasil, Alice panik dan segera menghentikan kereta.
"Nona, ada apa?" Tanya Leon yang juag panik melihat tingkah Alice.
Tapi Alice tidak mengatakan apa-apa. Dengan kemampuannya, ia melompat ke atas pepohonan dan melesat begitu cepat.
Leon tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat ia melihat ekspresi gelisah Alice, dirinya yakin kalau sesuatu ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi. Leon pun mempercepat laju kudanya untuk menyusul Alice.
"Kalian harus baik-baik saja sampai tiba." Harap cemas batinnya.
Melihat pergerakan kekuatan ras iblis yang semakin intens dan orang-orang yang masih bersembunyi di balik layar itu. Alice merasa, walaupun disana ada Ayahnya, ia tetap ragu karena bertarung sendiri berbeda saat bertarung sambil melindungi orang lain.
"Ibu...." Alice menggertakkan giginya, mengingat ramalan itu.