Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 75



Dalam perjalanannya menuju Demonscar, yaitu ibu kota dari benua Arkham. Kereta mereka dihambat oleh beberapa monster.


Saat berada di tengah gurun, Alice dan Echidna harus melawan kelabang dan cacing raksasa. Pertarungan berlangsung cukup lama karena monster itu tidak hanya berjumlah satu melainkan lima. Selain itu, cacing raksasa yang menyerang mereka memiliki kemampuan untuk bersembunyi ke dalam tanah. Alice cukup kerepotan saat mereka terluka parah dan selalu saja masuk ke dalam tanah. Namun, jika dibandingkan dengan kekuatan mereka yang besar, Alice dengan mudah melukai tubuh mereka menggunakan pedang.


Aksi gagahnya saat ia melompat di atas kepala cacing-cacing itu dan berlari sambil menggesek ujung pedangnya pada tubuh cacing itu mengalihkan pandangan Echidna yang juga sedang melawan dua ekor kelabang raksasa.


"Mama..! Mama hebat..!" Teriak riuh Echidna bersorak pada mama nya. Bahkan Paman pedagang itu ikut tercengang karena tak menyangka kalau wanita yang tampak muda itu ternyata sangatlah kuat.


Saat perhatiannya teralihkan, seekor kelabang raksasa melompat ke arah Echidna. Dengan instingnya, Echidna sadar ada bahaya yang datang. Ia lekas melompat tinggi ke langit.


"Serangga bau, Beraninya kalian menggangguku melihat mama ku." Ucapnya kesal.


Echidna dengan cepat turun, ia mengarahkan kedua kakinya tepat ke kepala kelabang itu dan menginjaknya. Tenaganya begitu besar hingga mengguncang area sekitarnya. Setelah berlatih begitu lama bersama Alice, Echidna akhirnya tahu bagaimana menggunakan kekuatannya seefisien mungkin sehingga ia tidak perlu susah payah untuk membersihkan tubuhnya berulang kali karena cipratan darah dari monster yang ia bunuh. Echidna mengelap dahinya yang sama sekali tak berkeringat dan bersuara 'fyuh', seolah-olah baru saja melakukan pekerjaan besar.


Paman pedagang yang telah mencari lokasi aman turut merasakan guncangan hebat itu. Dia segera menoleh ke arah lain dimana suara besar itu datang. Ia melihat kepulan debu dan seorang gadis kecil di atas seekor kelabang raksasa. Mulutnya terbuka cukup lebar dan terdiam tanpa kata. Paman itu lalu menelan ludahnya, ia merasa kalau pemburu yang menerima permintaannya bukanlah pemburu biasa. Hatinya sedikit lega saat memikirkan kalau perjalanannya ke ibukota kali ini pasti akan baik-baik saja.


Setelah mengalahkan para monster itu. Alice dan Echidna kembali ke kereta mereka.


"Apakah Paman baik-baik saja?" Tanya Alice saat ia menengok ke dalam kereta.


"Ya... Berkatmu aku baik-baik saja."


Alice dan Echidna naik ke atas kereta. "Syukurlah. Baiklah Paman, sepertinya kita sudah boleh melanjutkan perjalanan lagi." Ucapnya sambil ia duduk.


Paman itu menepuk punggung nitouka lagi dan mereka kembali bergerak.


Setelah perjalanan yang cukup panjang. Langit tampak sudah hampir gelap, namun mereka masih belum menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat. Setelah keluar dari gurun dan menyeberangi jembatan, Mereka kini berada dalam hutan yang lebat.


Nitouka yang menarik gerbong kereta mereka tiba-tiba saja berhenti. Ketiganya yang duduk di gerbong kereta mendengar suara dengusan dan aumannya. Nitouka itu tahu kalau sesuatu yang berbahaya sedang mengincarnya.


Merasa janggal, Alice menajamkan persepsinya dan mendeteksi area sekitarnya dengan menggunakan kesadarannya. Benar saja, ia merasakan adanya hawa kehidupan yang mengikuti mereka. Jumlah mereka cukup banyak, tidak hanya di sisi kiri mereka, tapi juga di sisi kanan mereka. Para monster itu mengejar dan mengepung mereka dengan cepat. Dan tak lama kemudian, lolongan serigala yang membuat bulu kuduk berdiri terdengar di telinga mereka.


"Me-mereka... mereka datang. Ini gawat." Paman itu merinding dan bergetar ketakutan. Ia ingat trauma akan kejadian sebelumnya dimana kereta dan dagangannya raup dihancurkan oleh monster yang mengejar mereka di hutan ini. Para pemburu yang bersamanya juga tewas bahkan dirinya pun hampir kehilangan nyawa.


"Paman, tenanglah. Kami akan melindungi mu." Kata Alice dengan pelan. Ia prihatin melihat kepanikan Paman pedagang itu. Paman pedagang itu lalu duduk di sudut dekat dengan nitouka.


"Echidna ke sebelah kiri. Biar aku yang atasi yang sebelah kanan."


"Um." Echidna mengangguk, ia lalu melompat keluar dari kereta dan berdiri di posisi yang Alice katakan.


Dari balik gelapnya bayangan hitam pepohonan dan semak-semak yang menyelimuti mereka, sinar dari banyaknya pasang mata yang menatap tajam mengelilingi mereka.


Serigala berbulu abu-abu gelap dengan cepat menerjang keluar dari balik pohon dan semak-semak menerjang mereka. Satu demi satu datang dengan cepat dari setiap sisi.


"Echidna, jangan gunakan sihir api." Kata Alice dari balik kereta saat merasakan adanya tekanan Mana dari belakangnya.


Echidna menghentikan sihir api yang hampir saja ia tembakkan. "Eh?...Baik." Wajahnya cemberut. Mama nya melarangnya padahal ia ingin membumihanguskan monster-monster itu. Echidna menggeram kesal dan melayangkan tinjunya serta tendangan pada serigala yang datang. Meski hanya serangan fisik, tapi sekali serang maka musuh yang terkena terlempar begitu saja. Mereka bagaikan kapas di tangan Echidna


Serigala-serigala yang menyerang mereka seperti tidak ada habisnya. Ketika mati satu maka akan datang lagi yang lainnya. Alice menyipitkan matanya dan sadar akan keanehan itu.


"Me-mereka adalah serigala bayangan. Dark Gaze itu..., itu adalah kemampuan mereka untuk menciptakan klon." Kata Paman pedagang dari dalam gerbong sambil ketakutan. "Selama ada bayangan mereka mampu membuat klon sebanyak mungkin." Tambahnya. Paman pedagang itu lalu menengok sebentar dari balik ventilasi kecil. Ia terkejut dan tersentak mundur saat potongan tubuh dari serigala itu menghantam dinding gerbong yang ada dekatnya. "Hiiik!." Jeritnya ketakutan.


"Jadi seperti itu rupanya. Pantas saja mereka tidak ada habisnya. Tapi jika menggunakan sihir api maka akan membakar hutan ini. Tentunya dengan gelapnya hutan ini, kami membutuhkan cahaya yang besar." Benak Alice. Alice terdiam sejenak dan memperhatikan setiap gerak-gerik dari kawanan serigala itu. Alice menggunakan kesadarannya sekali lagi untuk merasakan jumlah dan jarak dari serigala-serigala itu. Ia mengangguk sekali, menandakan kalau ia sudah menemukan solusi untuk mengatasi mereka.


Alice menancapkan pedangnya ke tanah. Ia mengangkat tangan kanannya di depan dadanya dan membuka jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas.


[ Glacial Eternal Slumber ]


Dengan sangat cepat tanah di sekelilingnya membeku. Pemimpin serigala yang berada di bagian paling belakang terlambat menyadari fenomena itu untuk memanggil mundur rekannya. Pandangannya yang tajam menatap jauh sosok wanita yang membuat kekacauan itu. Alice mengangkat wajahnya dan tersenyum sinis ke depan saat ia merasakan kehadiran yang memperhatikannya dari kejauhan.


Pemimpin serigala itu melihat jelas wajah Alice yang merendahkannya. Ia geram lalu berlari kencang di atas tanah yang membeku. Kukunya yang tajam dan keras membantunya bergerak agar tidak tergelincir. Saat ia mendekati Alice, serigala itu membelah dirinya menjadi tiga lalu melompat ke arah Alice. Cakar dan taringnya sudah siap untuk merobek wanita yang ada di depan matanya. Tapi saat ia tinggal beberapa senti lagi dari wanita itu, tubuhnya tiba-tiba tak bisa bergerak di udara.


[ Frozen Prison ]


Runcing-runcing es muncul tiba-tiba dari tanah dan menahan pergerakan nya. Tidak hanya dia saja, setiap serigala yang berada dalam jangkauan es Alice tidak berkutik.


Es itu begitu kokoh. Para serigala itu mengamuk dan meraung-raung namun mereka tetap tak bisa melepaskan diri.


Alice dan pemimpin serigala itu saling bertatapan.


"Kami hanya lewat. Aku tahu ini adalah wilayah kalian dan kalian hanya berusaha mempertahankannya. Niat membunuh kalian tidak sama dengan hewan atau monster haus darah yang selama ini ku temui." Ucapnya. Lalu ia melangkah lebih dekat dimana ia mulai bisa menyentuh hidung serigala itu.


Serigala itu mengerang dengan menunjukkan giginya taring besarnya. Tubuhnya tiga kali lebih dari serigala-serigala lainnya.


Glacial Eternal Slumber adalah teknik yang mirip seperti Domain atau wilayah. Teknik ini membuat siapapun yang berada dalam jangkauan lantai es nya bagaikan berada dalam genggamannya. Alice dengan mudah memanipulasi serangan atau pertahanannya selama ia berada di atas es nya.


Alice menatap mata serigala itu dalam-dalam. "Aku menyukaimu. Apakah kau tertarik untuk ikut bersama ku?"


Serigala itu terdiam, ia mengerti apa yang Alice katakan. Namun...dari sorot matanya, apakah ia akan menerima permintaan Alice?