
Ketika wanita oni itu membuka matanya, Cecilion memutuskan untuk maju menangani deemon wanita itu sendiri. Pertarungan sengit pun terjadi antara mereka. Awalnya wanita itu membuat sebuah ilusi dalam jarak yang luas. Dia membawa keseluruhan orang dalam ruangan itu ke sebuah tempat yang penuh akan pedang.
Merasa diremehkan setelah melihat kemampuan wanita itu, Cecilion mulai bertindak. Ia menyerang menggunakan berbagai macam teknik dan sihir tapi deemon wanita itu berhasil menahan semua serangannya. Walau dihujani sihir terus berturut-turut, Iris melihat ekspresi wanita itu tak bergeming dan tetap santai. Seolah kekuatan Cecilion tak ada lagi artinya di matanya.
Pada akhirnya, setelah deemon wanita itu merasa cukup akan kesempatan yang ia berikan pada Cecilion, tiba saatnya gilirannya untuk menyerang.
Pergerakannya tadi benar-benar cepat, bahkan mata pun sulit untuk mengikutinya.
Deemon wanita itu menciptakan pedang yang menusuk Cecilion dengan kuat hingga terjatuh ke tanah. Lalu dia menciptakan empat pedang lagi dan dengan keempat pedang itu, ia seperti mengunci pergerakan Cecilion.
Cecilion menjerit. Dari suaranya, tampak deemon wanita itu berhasil mengalahkan Cecilion.
"Dia....menang." Iris melihat Cecilion yang tak lagi berdaya. Deemon wanita itu berbalik dan berjalan ke arahnya. Kedua bibirnya merekah sedikit memberikan senyum tipis pada Iris.
"Dia tersenyum padaku? Kenapa dia kesini? Jangan-jangan...tidak mungkin!" Seketika Iris panik, namun ia tak bisa bergerak. Sihir Cecilion masih membelenggu dirinya.
Apakah deemon wanita itu akan mengakhirinya juga?
Iris kaget saat matanya yang tak bergeming itu mulai memandang dekat wajah deemon wanita itu.
"Dasar ceroboh, kau selalu saja membuat ku cemas." Ucap pelan deemon wanita itu di hadapannya lalu ia meletakkan dua jemarinya pada dahi Iris.
Kenapa dia terdengar begitu akrab? Sejak kapan, apakah dia benar-benar mengenaliku?
Ketika wanita itu meletakkan dua jemarinya pada dahi Iris. Sebuah energi masuk ke dalam tubuhnya dan mematahkan sihir Cecilion.
"Nah, sekarang kau sudah bisa bergerak bebas." Kata wanita itu lagi dengan lembut dan senyum manis di wajahnya. Deemon wanita itu lalu mengusap kepala Iris dengan pelan.
"Kau...Siapa?" Iris menatap mata deemon wanita itu dengan baik. Dia tidak pernah ingat ada kenalannya dari ras iblis. Bagaimana bisa wanita itu terdengar begitu akrab saat bicara padanya.
Wanita itu terkekeh dan menyentil dahi Iris membuatnya merintih sakit. "Apakah kau sudah ingat?" Ia bertanya sambil tersenyum.
Iris mengusap dahinya yang sedikit sakit. Untuk seketika ia teringat akan sesuatu. Sentilan dahi dan senyuman itu membuka matanya. Satu-satunya orang yang selalu menyentil dahinya selama ini tidak lain adalah Alicia Lein Strongfort. "Kakak...?" Mulutnya bergumam dengan bisikan. Ia mengangkat wajahnya dan melihat deemon wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
Alicia Lein Strongfort menghela nafas lalu melepaskan kacamata yang menjadi penyamarannya. Sosok iblis suku oni itu berganti menjadi manusia yang selama ini Iris cari. Wajah nya masih begitu menawan, rambut kuning keemasan miliknya masih memukau dengan gemilang. Ya, tidak salah lagi, yang berdiri di depannya itu adalah kakaknya.
"Kakak!"
Alice mendekap Iris yang melompat ke pelukannya. Adiknya yang manja itu kenapa bisa sampai berada di tempat yang begitu berbahaya ini. Ketika ia ingin menanyai Iris yang terisak haru dalam pelukannya. Nyx tiba-tiba berteriak dalam kepalanya. "Alice! Gawat!"
"Ada apa Nyx?"
Nyx lalu muncul dalam bentuk bayangan. Ia menunjukkan sebuah celah dimensi yang retak. "Disana! Aku bisa merasakan energi dari benua Regnum disana. Masuklah kesana dan kau akan kembali ke rumah mu."
Mata Alice melihat ke tempat yang ditunjuk Nyx. Itu merupakan sisa energi dari kristal pemicu gerbang teleportasi milik kastil raja iblis. Rose pernah mengatakan tentang bentuknya. Dari keempat portal dimensi itu. Nyx hanya menunjuk satu arah, itu berarti ketiga portal lainnya telah rusak atau dengan kata lain tidak stabil.
Mendengar peringatan Nyx, Alice menarik Iris dari pelukannya. "Kau harus segera pergi dari sini. Tempat ini akan segera hancur."
"Lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku..." Jujur Alice sangat ingin kembali bersama Iris. Tapi dia tidak bisa meninggalkan putrinya. Dia harus segera menemukan Echidna. Walaupun dia bukanlah anak kandungnya tapi Echidna sudah ia anggap sebagai putri yang dia cintai.
".... Masih ada yang harus ku selesaikan disini."
Sontak Iris terbelalak. Kenapa? Apa yang harus dia selesaikan?
"Cepatlah, bantu para manusia lainnya untuk kembali ke rumah mereka. Dengan kekuatanku, aku masih bisa menahan tempat ini untuk sementara waktu."
Iris menggelengkan kepalanya tidak terima. Ia ingin Alice ikut bersamanya. Iris berdiri dan menarik tangan Alice agar ia ikut untuk pulang ke tanah para manusia. Namun Alice juga menggelengkan kepalanya. Ia berdiri tegak dan memandang wajah-wajah para budak milik Cecilion yang terdiri dari beberapa ras yang berbeda. Mereka terlihat khawatir dan takut. Alice yakin kalau mereka juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan adiknya.
Alice melepaskan genggaman Iris. Ia menyatukan kedua telapak tangannya dan melepaskan energi Qi yang begitu besar. Qi miliknya mematahkan segel budak mereka dan menahan tempat itu meski tidak dalam jangka waktu yang lama.
Air mata mengalir dari sudut mata Iris, ia melihat Alice dengan enggan untuk pergi. Alice berjalan mendekati Iris, ia mengusap air matanya dengan lembut. "Jangan menangis. Sebentar lagi kau akan debut untuk memasuki usia dewasa. Aku pasti akan baik-baik saja. Aku tidak bisa pulang karena aku harus mencari seseorang yang berharga. Pulang dan katakan pada ayah dan ibu kalau aku baik-baik saja."
Alice memegang kedua pundak Iris dan memutar tubuhnya hingga menghadap portal dimensi. Sedangkan para manusia lainnya yang berada di tempat itu telah lebih dulu masuk satu per satu. Alice melingkarkan lengannya pada leher Iris. Ia lalu memeluknya.
Iris bernafas dengan kuat mencoba menahan tangisannya. Saat mendengar Alice mengatakan tentang orang yang berharga, Iris ingat kalau sebelumnya kakaknya juga datang kemari untuk menyelematkan putrinya.
"Baiklah. Tapi saat pulang nanti, kau harus menceritakan banyak hal tentang petualangan mu."
"Umm."
"Dan jangan lupa untuk menjelaskan pada kami tentang putri mu yang kau maksud tadi."
"Umm. Hmm? Eh..?!" Alice melepaskan pelukannya, ia menggaruk sisi pipinya. Ia tidak menyangka kalau Iris mendengar hal itu. Alice memalingkan wajahnya dan mulai merasa canggung. Ketika ia melirik dan melihat mata Iris yang seolah menuntut penjelasan. Alice menarik pandangannya. "Po-pokoknya, kau lekaslah kembali dan lindungi keluarga kita. Jangan lupa untuk katakan pada ibu agar tetap makan dan istirahat dengan teratur." Katanya sambil mendorong punggung Iris.
Sikap malu itu membuat Iris merasa lega. Kakaknya tidak berubah meski mereka telah berpisah cukup lama. Setidaknya dia tidak seperti dulu lagi dan saat ini yang berdiri di hadapannya adalah wanita kuat yang pernah ia kagumi sewaktu ia masih kecil dan akan terus seperti itu.
Keduanya saling melambaikan tangan sebelum berpisah. Kaki Iris melangkah melewati portal dimensi itu dan beberapa saat kemudian, tempat itu berguncang. Kristal pemicu yang seharusnya menahan portal dimensi itu akhirnya retak karena distorsi ruang dan waktu. Alice dengan memimpin beberapa orang bekas budak Cecilion, berlari keluar dari tempat itu.