
Setelah menyerahkan kepemimpinannya pada Marzar dan Kyrant. Echidna mengikuti Alice terbang menuju tanah para Elf.
Dari langit tampak sebuah pohon yang begitu besar menjulang tinggi dan pepohonan hijau lainnya yang begitu rimbun di sekitar pohon besar itu. Untuk pertama kalinya Alice kembali menemui pemandangan langka. Pohon yang mungkin saja berusia ribuan atau jutaan tahun lamanya.
"Apa mama yakin tidak mau pulang dulu menemui kakek dan nenek? Aku bisa membawa mama dengan sangat cepat kok." Tanya Echidna yang duduk di atas pedang terbang di belakang Alice.
Baginya untuk terbang melintasi samudra itu cukup mudah. Badai atau pun kekuatan segel apalah itu mungkin bisa menghalangi naga lainnya tapi tidak dengan dirinya yang memiliki salah satu serpihan Mana Heart dari Gloria Sang Naga Agung.
Lagipula Echidna sudah sangat penasaran untuk segera menemui keluarga mama nya. Sudah berkali-kali ia menanyakan pertanyaan yang sama pada Alice.
"Ada sesuatu yang penting yang harus ku lakukan." Balas Alice.
Yaitu wasiat terakhir dari murid sekaligus pria yang pernah membuatnya jatuh hati. Tapi karena dia tidak tahu tempat itu, Alice tidak punya pilihan lain selain singgah ke wilayah elf untuk bertanya.
"Bagaimana dengan mu, apakah tidak apa-apa meninggalkan rasmu seperti itu? Padahal mereka sangat menantikanmu selama ini."
Echidna menggelengkan kepalanya. "Mm~. Aku cuma mau sama mama. Aku tidak peduli lagi dengan kekuasaan ataupun balas dendam. Mama sudah cukup bagiku." Balas Echidna tersenyum manis memperlihatkan sedikit gigi kecilnya.
Mau bagaimana lagi kalau seperti itu.
Alice merendahkan ketinggian terbangnya untuk memasuki hutan.
"Hutan yang begitu lebat dan berkabut." Gumam Alice saat ia telah mendarat di hadapan pepohonan yang rindang.
"Kalau tidak salah, hutan ini bernama Lost Forest. Hutan ini seperti sebuah benteng khusus milik para elf, bahkan aku pun sedikit kesulitan untuk menembusnya, makanya dulu aku terkadang lewat begitu saja di atasnya." Terang Echidna.
"Hitung-hitung ini adalah bagian dari perjalanan. Ada baiknya kalau kita menikmati apa yang ada di dalam sana." Ucap Alice lalu ia memasukkan pedangnya ke dalam cincin dimensinya.
Dengan kekuatannya sekarang, monster pohon apapun itu, Alice pasti bisa mengatasinya dengan mudah. Setelah dia membangkitkan kembali Mana Heart nya, Alice telah melatih sihir apinya. Awalnya sedikit sulit karena dia telah sangat lama tidak menggunakan Mana, namun setelah seharian berlatih, Alice mulai paham dan sedikit demi sedikit ia mulai bisa mengendalikan Mana dan menggunakan sihir dasar.
"Bola api kurasa tidak akan cukup dengan pohon sebesar ini." Alice mendongak saat ia masuk dan melihat pohon di di depan matanya. Satu pohon bahkan bisa membuat beberapa orang untuk berteduh di bawahnya. Sungguh mencengangkan.
"Tempat ini begitu alami dan tenang. Udara yang bersih dan sejuk bertolak belakang dengan Swamp of Despair yakni rawa mengerikan yang pernah ku datangi." Gumamnya.
Pada dasarnya para elf hidup berdampingan dengan hutan. Sudah wajar jika mereka tetap menjaga kelestarian pepohonan dan hewan-hewan yang ada di dalamnya. Selain itu, sihir yang mereka gunakan pun berbeda dari sihir yang pada umunya orang lain gunakan. Para Elf menggunakan sihir melalui roh alam yang ada di sekitar mereka.
"Tolong...?Tolong aku...! Kyaaa! Ugh..."
Alice dan Echidna menghentikan langkah kaki mereka saat mendengar teriakan wanita. Keduanya segera berlari ke arah suara itu.
[Wahai pohon, dengarkanlah seruan ku. Jeratlah musuhku dan ikatlah dalam belenggumu.]
Sulur-sulur dari pepohonan di sekitar monster itu merambat dengan cepat dan menjerat kaki monster itu hingga ia berhenti bergerak.
Gadis itu menghela nafasnya lega sambil mengusap dahinya yang berkeringat. Sekarang tinggal menyerangnya atau melarikan diri, pikirnya begitu. Tapi kenyataannya, Sulur-sulur itu tidak bisa menahan semburan api dari monster yang disebut cockatrice itu.
"Kyaa!" Gadis itu menjerit karena panasnya api yang terbang ke arahnya. Untung saja dia berhasil mengelak di detik-detik terakhir sebelum api cockatrice melahapnya.
Gadis itu terjatuh saat ia berjalan mundur dengan kakinya yang gemetar hebat. Ia tidak berani menatap mata monster itu karena kemampuannya yang sama dengan basilisk, yaitu membuat siapapun yang menatapnya berubah menjadi batu.
"I-ini... Apakah aku akan mati disini? Ayah...ibu... Kakak.."
Apa yang ia lihat sampai dia mematung seperti itu? Pikirnya. Gadis itu berbalik dan melihat seorang wanita dan gadis kecil berdiri tegap di atas dahan pohon.
Mereka.....gadis itu tiba-tiba sadar kalau kedua orang itu saling bertatapan dengan cockatrice. "Tidak! Kalian jangan---" Dia membisu seketika saat kepala beserta tubuh cockatrice itu tumbang begitu saja di depan matanya.
"A, apa yang terjadi? Monster ini... Mati?" Benaknya bingung sekaligus terkejut.
"Apa ini? Naga? Kadal? Keduanya bukan, Hmph! Hanya seekor anak ayam berani bersikap arogan di hadapan Ratu ini." Kata Echidna dengan sombong sambil berkacak pinggang.
Alice lalu melompat turun mendekati gadis itu. Ia melihat telinga runcing dengan rambut biru berkilau laksana berlian dengan perawakan wajah yang rupawan. "Apa dia ras elf? Dengar-dengar ras elf itu terkenal akan kecantikan wanita dan ketampanan pria nya? Telinganya juga... runcing." Pikir Alice sambil melihat gadis itu.
Begitu pun dengan gadis itu yang terkejut saat melihat dua sosok yang seharusnya tidak mungkin ada di hutan itu. Atau lebih tepatnya di tanah mereka. "Telinganya... Manusia?! Apakah benar mereka ini ras hyuman? Tapi bagaimana bisa mereka ada disini?" Benak gadis itu yang juga memperhatikan Alice dan Echidna dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alice.
"Y-ya. Terimakasih. Aku selamat berkatmu." Balas gadis itu.
"Ini monster apa?"
"Ha?! Kalian mengalahkannya tanpa tahu monster apa ini?" Pikir gadis itu heran. "Namanya Cockatrice. Mungkin seperti naga yang bergabung dengan seekor ular." Balasnya.
"Heh! Apanya yang naga. Bagiku dia itu cuma seekor ayam kecil saja." Timpal Echidna. Merasa rasnya disamakan dengan monster tidak jelas itu, Echidna sedikit tersinggung.
Alice mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.
"Terimakasih." Ucapnya.
"Aku Alicia, kau boleh memanggilku Alice. Dan dia putriku, Echidna."
"Eh, putri? Padahal dia terlihat masih begitu muda." Pikir gadis itu heran sambil melirik Echidna. Gadis itu kemudian segera menjawab. "Namaku Asiya."
Setelah memperkenalkan diri masing-masing. Keduanya kembali berjalan menyusuri hutan.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa sampai disini. Maksudku, seorang manusia kenapa sampai bisa ada di tanah ini?" Tanya Asiya.
"Ceritanya panjang, tapi tujuan ku kemari hanya untuk mengunjungi makam seseorang."
Apa yang Alice katakan tidaklah salah. Kedatangannya memang ingin berziarah ke tempat di mana muridnya bernafas untuk yang terakhir kalinya. Dia juga cukup beruntung karena bertemu Asiya yang memandunya untuk keluar dari hutan itu.
"Kau sendiri sedang apa disini? Bukankah itu cukup berbahaya mengingat monster seperti tadi berkeliaran di hutan ini?"
Asiya terkekeh menggaruk salah satu pipinya. "Yah...Aku hanya sedang berlatih sihir, tapi...entah kenapa saat aku melihat kupu-kupu yang berkilau indah dan mengikutinya, aku tidak sadar sudah sampai di hutan ini." Jelasnya.
Alice melirik Echidna lalu melihat gadis itu kembali. Ia menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. "Satu lagi orang dengan sifat yang sama."
Keduanya terus berjalan sambil menikmati percakapan mereka hingga sampai pada gerbang besar kota kerajaan para elf.
Asiya berbalik tiba-tiba. "Setelah keluar dari Lost Forest dan melewati Maple Wood Forest kita akhirnya sampai. Selamat datang di Moonshade City. Kota Kerajaan para Elf." Sambutnya ramah penuh ceria.