
Dalam sebuah ruangan kecil tersembunyi yang terletak di sudut keramaian kota. Ruangan itu merupakan tempat rahasia dari para elf yang memiliki tujuan dan ideologi berbeda dari apa yang ada pada kerajaan mereka saat ini.
Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu berdiri ketika seorang gadis elf baru saja tiba. "Salam Yang Mulia Tuan Putri. Semoga anda senantiasa diberkahi oleh pohon Yggdrasil dan dewi Gaia." Sapa mereka dengan sangat sopan.
"Baik. Terimakasih kasih karena telah menungguku." Gadis itu lalu mengambil tempat duduk di ujung meja dimana ia bisa melihat semua wajah orang-orang yang hadir bersamanya.
"Bagaimana hasil penelitian tentang kristal hitam itu? Apakah rencana selanjutnya sudah bisa dijalankan?" Tanya Putri.
"Maaf Tuan Putri. Walaupun kami sudah berhasil menelitinya dan telah mengetahui cara mengaplikasikannya pada prajurit kita tapi saya ragu untuk segera menjalankan rencana selanjutnya." Jawab salah seorang pria paruh baya di antara mereka.
"Kenapa? Apakah ada masalah?"
"Seperti yang anda ketahui. Kami telah menggunakan hewan liar sebagai percobaan dan sedikit demi sedikit kami telah mampu mengatasi efek sampingnya sebagaimana yang anda lihat pada monster berduri waktu itu. Kami berhasil mempertahankan sedikit kecerdasannya tapi mutasi pada tubuhnya masih belum bisa kami tangani." Jelasnya.
Fakta yang mengejutkan jika seandainya orang lain mendengar pembicaraan mereka. Serangan monster yang mendadak muncul di tengah kota merupakan ulah dari kelompok pemberontak.
Putri itu seketika merajut kedua alisnya, ia menatap orang-orang yang ada di hadapannya dengan cukup tajam. "Lalu, setelah 6 bulan lamanya kalian bahkan tidak memiliki kemajuan?! Apakah kalian sanggup melihat saudara saudari kita diperlakukan seperti binatang?" Ucapnya ketus sambil ia memukul meja dihadapannya.
"Te-tenang Yang Mulia. Anda jangan cemas. Kami telah memiliki solusinya dan sedang dalam tahap percobaan." Ucap seorang pria berkacamata. "Kami telah mencoba untuk menyatukannya dalam ukiran Rune dan alhasil kemungkinan subjek percobaan untuk tetap sadar adalah 65%." Lanjutnya.
"Itu benar Tuan Putri. Kami telah mengetesnya pada seorang Elf bangsawan yang kami culik." Tambah pria paruh baya itu.
"....." Sang putri menyipitkan matanya. Ia terdiam dan tidak memberikan komentar apapun walau sebenarnya ada elf yang diculik untuk dijadikan tikus percobaan.
"Saya yakin bahkan orang-orang tidak akan curiga atau peduli kalau sampah sepertinya lenyap bukan?" Lanjut pria berkacamata itu menyeringai sambil memperbaiki posisi kacamatanya.
"Yah...mungkin anda tinggal perlu menunggu kabar baik dari kami. Namun sayangnya Orgon si pandai besi menolak permintaan kami agar ia bergabung. Anda mungkin tahu, kita pasti akan segera membutuhkan zirah tempur yang kuat yang sesuai dengan kriteria prajurit kita nantinya."
"Heh. Biarkan saja dia. Kita masih memiliki banyak orang dari suku Dwarf yang mampu melakukannya."
"Gephard. Aku ingin kau pergi ke kota Kharee untuk menemukan orang yang cocok dengan tujuan kita."
"Baik Yang Mulia."
Kota Kharee merupakan tempat dimana para dwarf tinggal. Letaknya diluar Lost Forest, mereka membangun kota itu bersebelahan dengan pegunungan yang penuh dengan material berharga dalam pembuatan senjata ataupun baju tempur. Beberapa dari mereka bahkan memiliki rumah-rumah yang di ukir pada sebuah tebing batu. Walaupun tubuh mereka terbilang kerdil tapi tulang dan daging mereka sangatlah keras.
Gadis itu berdiri lalu dari kursinya. "Aku akan menunggu kabar baik dari kalian seminggu lagi. Aku tidak sanggup untuk melihat lebih lama lagi tentang saudara saudari ku yang tersiksa di luar sana." Ucapnya. Membayangkan para elf lainnya yang hidup dalam keterpurukan lah yang membuatnya bangkit untuk membentuk kelompok pemberontak yang akan melawan kejamnya peraturan dari kerajaan elf saat ini.
Putri tertunduk sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. "Bagaimanapun, para high elf yang menganggap diri mereka sama seperti seorang dewa itu, harus dilenyapkan." Tandasnya lalu berjalan menuju pintu.
Orang-orang pun membungkukkan punggung mereka mengantar kepergiannya.
~
TRIINGG
"Oh, seorang pelanggan yang tidak biasa." Orgon menyapa Alice yang baru saja masuk ke dalam tokonya. "Apa ada yang bisa saya bantu?"
Apakah mereka sungguh ras hyuman? Orgon tidak bisa melepaskan pandangan melihat dua gadis muda yang masuk ke dalam tokonya.
Dua gadis menawan yang tampak seperti kakak adik dari ras hyuman, Orgon bertanya-tanya dalam kepalanya, bagaimana mereka bisa berada di negeri yang jauh ini.
Kedua gadis muda itu melirik seluruh toko melihat pajangan senjata hasil karyanya. Orgon merasa kalau mereka bukanlah orang biasa.
"Tidak ada orang biasa yang bisa mendatangi tempat ini." Benaknya.
Orgon tersenyum "Mata anda cukup tajam nona muda. Itu adalah..-"
"Mama, aku ingin yang ini." Echidna menghampiri Alice sambil memperlihatkannya sebuah sarung tangan yang ia bawa.
"..." Rupanya dia sudah memiliki putri. Sedikit salah untuk memanggilnya nona.
Orgon berdeham. "Apakah anda tertarik dengan pedang itu nyonya?"
"Bolehkah aku mencobanya?" Tanya Alice.
"Tentu." Orgon berjalan keluar dari balik mejanya lalu mengambil pedang itu. "Silakan." Sambil ia memberikan pedang itu pada Alice.
Alice membolak-balikkan pedang ditangannya sambil memeriksa setiap incinya dengan seksama. Kemudian ia mengeluarkan sebilah pedang dari dalam cincin dimensinya yang lagi-lagi membuat Orgon terkejut.
"Penyimpan dimensi? Apakah dia ahli sihir ruang dan waktu. Tidak salah kalau dia bisa mencapai tempat ini." Pikir Orgon.
Penyihir yang ahli dalam memodifikasi ruang dan waktu sesuka mereka adalah sosok yang sangat langka. Dikatakan kalau satu penyihir seperti itu saja bisa membolak-balikkan keadaan dunia. Kehadiran sosok penyihir seperti itu hampir sama seperti seorang Dewa. Orgon menelan ludahnya sambil melihat wanita berparas indah di hadapannya itu.
"Aku ingin menggunakan pedangku untuk mencoba ketahanannya. Apakah itu tidak masalah?"
"Silakan. Pedang ini merupakan salah satu karya terbaikku. Aku sangat yakin dengan ketajaman dan ketahanannya." Balas Orgon dengan ekspresi bangga.
Sedikit berbohong. Alice sebenarnya melapisi pedangnya dengan sedikit energi Qi. Ia tahu kalau senjatanya sangatlah lemah dibanding semua senjata yang ada di dalam toko itu. Alice lalu mengangkat pedangnya kemudian mengayunkannya ke bawah. Kedua sisi pedang itu saling bertubrukan. Alice terkejut karena takjub melihat pedang yang dwarf itu miliki bahkan tidak tergores.
Kualitas yang hebat. Sepertinya dia memilih toko yang tepat. "Aku harus berterima kasih pada Bibi Lia karena merekomendasikan toko ini padaku." Ucap Batinnya.
Sebaliknya, Orgon menyipitkan matanya. Walaupun pedangnya tetap utuh tapi tidak mungkin pedangnya itu tidak bisa menghancurkan pedang biasa milik gadis manusia itu. Matanya tidak mungkin salah menilai jenis logam yang senjata gadis itu miliki.
"Hanya retak?" Batinnya terkejut saat melihat sisi pedang Alice yang retak.
Orgon mengambil pedangnya lalu melihatnya menggunakan kacamata pembesar. Ia menghela nafasnya. "Hmm....aku tidak tahu pedang seperti apa yang anda miliki tapi...tampaknya aku masih harus mengasah kemampuan ku lagi dan memperbaiki pedang ini." Kata Orgon sedikit kecewa.
"Kalau begitu aku akan mengambil yang disana itu." Alice menunjuk pedang lainnya yang memiliki ukuran dan ketebalan yang sama. Untuk seorang wanita, tidak banyak pedang ramping yang sesuai untuk dirinya, walaupun sebenarnya ia tidak masalah untuk menggunakan senjata apapun. Ini hanya persoalan selera saja.
"Sekalian aku juga akan membayar biaya perbaikan pedang ini" Lanjutnya merujuk pada pedang yang ada di tangan Orgon.
"Baiklah. Terima kasih."
Alice juga Echidna telah mendapatkan senjata baru. Ia merasa kalau senjata yang ia miliki saat ini tidak cukup tajam untuk menghancurkan lendir hitam yang ia lihat waktu itu.
Saat ia ingin keluar dari toko, terdengar suara seorang pria berteriak dengan keras.
"Bodoh! Apakah kau ini binatang?! Bahkan pekerjaan seperti saja kau tidak becus?!"
Alice dan Echidna melihat dari balik jendela. Seorang elf berambut pirang terlihat memaki dengan penuh kekesalan pada seorang elf muda yang berambut hitam.
Orgon menutup wajahnya. Ia merasa malu dengan kejadian di luar sana. Ketika Alice berbalik dengan wajah penuh tanya ke arahnya, Organ tersenyum canggung. "Seperti yang anda lihat. Beginilah hukum kerajaan ini."
Alice menoleh kembali melihat dua orang itu. Bayangan dirinya, ia seperti melihat dirinya yang dulu saat ia masih menjadi seorang putri bangsawan yang arogan dan keras kepala.
"Menggelikan bukan?" Tanya Alice pada dirinya.