
Arachne yang berlipat-lipat besar ukurannya dibanding gadis kecil itu menjadi sebuah mainan di tangannya. Dengan tangan kosong gadis kecil itu menahan kaki laba-laba yang bahkan bisa menembus batu dan baja.
Gadis kecil itu menyeringai saat menghajar habis-habisan monster itu. Dia sangat jengkel ketika menengok dan melihat Alice yang terluka dan tergeletak tak sadarkan di atas tanah.
Kekuatannya bukan main hebatnya. Tanpa menggunakan sihir, gadis itu bertarung dengan fisiknya saja sudah bisa menghempaskan Arachne yang jauh lebih besar darinya. Jika dilihat dari rupa dan bentuknya. Gadis itu tak jauh berbeda dengan anak usia 10 tahunan. Dengan bentuk wajah yang sama dengan Alice, ia hampir terlihat seperti adiknya. Selain matanya yang berwarna merah darah dan rambutnya yang hitam pekat. Lantas kenapa dia memanggil Alicia Lein Strongfort sebagai ibunya?
Beberapa saat sebelum Alice pingsan. Ketika ia bertarung melawan arachne, tanpa ia sadari percikan darahnya membasahi batu yang terlihat seperti telur itu. Belum lagi ia telah memicunya dengan memberikan batu itu energi Qi miliknya. Keduanya kemudian terserap ke dalam batu itu dan membangkitkan sosok yang ada di dalamnya.
Sedangkan kepribadiannya yang mengenali Alice sebagai ibunya, kemungkinan besar disebabkan oleh hal yang sama yaitu darah Alice. Juga karena energi Qi tidaklah sama dengan Mana maka, ketidak sinkron itulah yang melahirkan sosok gadis kecil di depannya.
Meski tampak seperti manusia, tapi identitas gadis kecil itu sendiri adalah ras iblis murni. Aslinya dia adalah sosok raja iblis, tepatnya mantan raja iblis yang pernah bertarung melawan pahlawan. Kekuatan regenerasi, sihir dan fisiknya sempat membuat sang pahlawan kewalahan. Karena itulah, sang pahlawan menyegelnya di dalam gua itu yang sebelumnya merupakan Istana milik raja iblis yang telah menjadi reruntuhan dan tenggelam ke bawah tanah. Gadis kecil itu juga dulunya adalah seorang pemimpin dari para monster. Dia dipanggil dengan nama Echidna yang dijuluki Ibu atau Ratu dari para monster.
Jaring dan racun milik Arachne sama sekali tidak mempan pada Echidna. Arachne menjadi gentar dan tak berkutik. Dirinya sudah tidak memiliki serangan yang bisa ia andalkan.
Arachne lalu menggunakan jaring besar untuk memberi batas antara dia dan Echidna. Setelah dinding jaring ia buat, Arachne memekik ketakutan dan mengambil kesempatan itu untuk kabur. Namun usahanya sia-sia, ketika melihat Echidna merobek jaringnya dengan tangan berapi.
Echidna tertawa kecil. "Pokoknya kau tidak akan ku biarkan kabur." Ucapnya sambil menunjuk arachne.
Lalu dengan sangat cepat Echidna telah berada di bawah tubuh besar arachne. Ia mengambil sedikit ancang-ancang dan memukul perut arachne dengan tangan apinya.
Hantamannya yang begitu keras membuat darah arachne terciprat ke berbagai tempat dan berakhir dengan lubang besar di tubuhnya.
"Ih, kotor, bau." Protes Echidna saat ia terkena cipratan darah berwarna hijau itu. "Dasar monster jelek. Bagaimana aku bilangnya sama mama nanti kalau ia bangun." Echidna kesal dan menendang pelan kepala arachne. "Mama?" Echidna baru sadar dan teringat oleh Alice. Ia berbalik lalu menghampirinya.
Ketika tangannya ingin menyentuh Alice untuk memeriksa keadaannya. Echidna ingat kalau ia penuh noda darah yang bau. Echidna menarik tangannya dan dalam sekejap ia membersihkan tubuhnya dengan sihir air dan angin.
Kemampuan raja iblis ini benar-benar di luar nalar. Tidak heran ia menjadi salah satu yang terkuat di masanya.
Echidna menggendong Alice di atas punggung kecilnya. Ia lalu menyandarkannya pada dinding. Echidna melihat wajah ibunya yang pingsan tampak agak pucat. Ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi Alice perlahan dan tertawa kecil.
Tiba-tiba saja perutnya berbunyi, ia merasa lapar dan ingin makan. Tapi, Echidna tidak ingin pergi dari sisi Alice. Echidna menggigit ujung jarinya. Cemberut, ia menundukkan kepalanya dan berbaring di pangkuan Alice.
Setelah sehari tak sadarkan diri, Alice bangun dan melihat kalau dirinya baik-baik saja. Ia mengerang kesakitan saat memegang dada kirinya. Wajahnya terdiam ketika menunduk dan melihat seorang gadis kecil tanpa busana sedang tertidur di pangkuannya.
"Eh...Siapa anak ini?" Alice yang heran mengalihkan pandangannya dengan melihat keseluruhan ruangan. Dia melihat arachne yang sudah menjadi mayat dan bekas pertarungan di berbagai tempat. "Mungkinkah gadis kecil ini yang membunuhnya?"
Alice mengambil tangan gadis itu lalu mencoba merasakan kekuatannya. Ia terkejut saat tahu kalau gadis kecil itu begitu kuat bahkan jauh lebih kuat darinya.
Karena merasakan ada yang diam-diam mengamatinya, mata gadis itu terbelalak begitu saja. Ia terdiam dan melamun sejenak di atas pangkuan Alice. Kedua mata mereka saling bertatap. Gadis kecil yang setengah sadar itu tiba-tiba saja bangun dan duduk. Ia berbalik dan melihat Alice dengan tatapan serius.
"Ap-Apa aku mengganggu tidurnya?" Tanya Alice dalam benaknya.
Jaraknya begitu dekat. Alice tidak tahu siapa sebenarnya gadis yang ada hadapannya itu, yang pasti gadis itu sangatlah berbahaya. Kalau boleh Alice ingin menghindari pertarungan yang sia-sia. Bagaimanapun juga dia harus mencari jalan keluar jika gadis itu langsung menyerangnya.
Alice menatap gadis itu, keringat dingin mengalir di pelipisnya, tangannya sudah siap untuk menyerang. Namun gadis itu tetap diam. Gadis kecil itu menguap lalu menggosok kedua matanya. Dengan tiba-tiba ia menerjang Alice dan membuatnya terkejut. Gadis itu memeluk erat Alice sambil menggosok-gosok kepalanya pada perut Alice.
"Mama...Mama.., akhirnya mama bangun." Ucap senang gadis itu memanggil Alice.
Alice kaget. "Mama? Aku?" Sambil menunjuk dirinya.
Gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada Alice. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Alice dengan mata yang berbinar-binar. "Um. Mama." Ia tersenyum lebar dengan wajah cerah.
"Mana mungkin? Bagaimana bisa aku ibu dari gadis ini? Tidak, tidak." Gumamnya Alice sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mengambil kedua pundak gadis dan melepaskan pelukannya. "Aku ibumu? Mungkin kau salah orang." Ucapnya tapi tiba-tiba ia terdiam oleh fakta yang matanya temukan.
Mata gadis itu menjadi berkaca-kaca setelah mendengar Alice. Dia merasa kalau ibunya tidak menginginkan dirinya. Hatinya terluka.
Melihat ekspresi sedih gadis itu, Alice jadi tidak enak hati. "Hmm...Adik kecil, aku itu bukan ibumu. Kau salah orang, apakah kau tersesat? Bagaimana kalau kita mencari jalan keluar sama-sama, mungkin kita bisa menemukan ibumu ya. ya." Jelas Alice pelan berusaha menenangkan dan meyakinkan gadis kecil di hadapannya.
Sayangnya hal itu malah membuatnya makin sedih, gadis itu menangis dan kembali melompat ke dalam pelukan Alice. "Tidak! Mama adalah mamaku. Aku tidak salah orang! Aku tidak mau mama yang lain!"
Alice tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya. "Aiya... bagaimana ini?" ia menghela nafasnya. "Sudahlah mau bagaimana lagi." Batinnya pasrah menerima keadaan.
"Ya sudah kalau begitu, panggil saja aku kakak ya. Jangan panggil mama, mau kan?"
Gadis itu menggosok kepalanya ke perut Alice sambil merengek. "Tidak mau! Mama adalah mama. Aku maunya mama bukan kakak."
Alice tertunduk dan mendesah lagi. Ia memegang kepala dengan salah satu tangannya dan menariknya turun lalu memijat titik antara kedua alisnya.
"Aku tiba-tiba saja punya seorang putri. Kalau pulang nanti bagaimana aku harus menjelaskannya."
Gadis kecil melepas pelukannya dan memegang perutnya yang berbunyi, ia menatap Alice dengan wajah murung kemudian berkata "Mama, aku lapar."
Alice tersenyum kecil. Faktanya ia telah menerima dirinya sebagai seorang ibu dari gadis itu dan mau bagaimanpun ia harus bertanggung jawab.
"Baiklah, kalau begitu mama akan memberikan mu makanan yang lezat."
"Yey~ makanan lezat." Sahut riang gadis itu mengangkat kedua tangannya.
Alice ingat kalau ada beberapa makanan yang pernah ia bungkus dan di masukkan ke dalam cincin dimensinya. Ia mengeluarkannya dan memberikannya pada gadis itu. Ia mengeluarkan sebuah jubah untuk dipakaikan pada gadis itu.
Melihat tampilan roti yang berlapis daging dan sayuran itu, sungguh makanan yang penuh warna dan terlihat menggairahkan di mata gadis itu.
Sembari ia makan Alice mulai menanyakan beberapa hal tentangnya.
"Siapa namamu?"
Gadis itu menelan makanan yang ia kunyah sebelum menjawab "Echidna. Namaku Echidna."
"Echidna ya..., nama yang bagus. Echidna kenapa bisa ada disini?"
Echidna berpikir dengan meletakkan jarinya di bawah dagunya. Dia tampak imut. "Tidak tahu, tapi saat itu aku merasakan kalau mama dalam bahaya. Jadi, Aku ke tempat mama dan membantu mama."
"Begitu ya. Echidna hebat, terima kasih sudah membantu mama."
Echidna menganggukkan kepalanya dengan cepat karena senang. "Um.um."
"Bagaimana dengan monster yang disana it, Aapa Echidna yang mengalahkannya?"
"Iya benar. Dia monster yang jahat sama mama. Jadi aku menghukumnya." Balas polos Echidna lalu ia kembali memasukkan potongan terakhir makanan miliknya.
Saat tahu kalau makanan sudah habis namun ia masih merasa lapar. Echidna kembali cemberut dan menatap Alice seolah memohon untuk diberikan lagi. Alice mengelus kepala Echidna dan mengeluarkan satu potong roti lapis lagi.
Wajah Echidna kembali ceria, ia dengan cepat memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Makannya yang pelan." Kata Alice dengan lembut.