Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 40



Sesampainya di istana, Kevin dan Liliana berpisah. "Silakan Nona Saintess, saya akan mengantarkan anda ke ruangan anda." Kata pelayan wanita yang kemudian memandu Liliana.


Kevin pun mulai menuju ruang kerjanya, ia mencari perihal tentang motif dan kebenaran di balik penyerangan Alice. Berdasarkan informasi yang ia terima, Alice telah berhasil mengalahkan dua orang dari ras iblis sekaligus, namun mengenai tentang upayanya dalam membunuh Sang Ratu masih belum jelas.


Kevin merasa ada yang janggal. Sebagai seorang bangsawan kelas atas, Alice seharusnya paling tahu konsekuensinya jika menyerang keluarga kerajaan, pikirnya.


Kebanyakan pelayan yang telah ia tanyai pun tidak memiliki pengetahuan tentang kejadian itu. Bahkan beberapa di antara mereka gugup dan panik saat Kevin mengajukan pertanyaan itu.


"Ayah pasti menyembunyikan sesuatu." Gumam Kevin curiga.


Setelah mengecek Sang Raja yang tidak ada di kamarnya. Kevin berdiri di depan pintu dengan pikiran yang terombang-ambing.


Tak lama kemudian, Reiner datang dan melihat Kevin. Ia pun menghampiri dan menyapanya. Melihat raut wajah Kevin yang sedikit kusut membuat Reiner bertanya "Pangeran? Apakah Anda sedang ada masalah?"


Kevin menoleh ke Reiner "Dimana Ayahku?"


"Baginda sedang berada di Drawing Room. Apakah Anda ingin menemui Yang Mulia?"


Kevin menghela nafas berat. "Aku yakin kau pasti sudah bisa menebak alasanku untuk bertemu dengannya."


Reiner meletakkan salah satu tangannya di bawah dagunya. Memang seperti dugaannya, mau bagaimanapun juga, cepat atau lambat Pangeran pasti akan menemukan keanehan dalam tindakan Alice. "Hmm...Ini sedikit sulit, maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda. Sebaiknya Anda harus mendengarnya sendiri dari Yang Mulia."


Setelah itu keduanya pun berjalan menuju Drawing Room. Kevin berjalan di belakang Reiner, ia menatap punggung ksatria itu sembari memikirkan tentang tindakan Alice.


Dari yang ia ingat, gadis terlihat begitu naif. Apakah dia memang memiliki keberanian untuk membunuh Sang Ratu? Bahkan saat melihatnya saja, Kevin merasa kalau gadis itu bukanlah seseorang yang memiliki keberanian untuk memegang sebuah pedang.


meski mereka telah bertemu beberapa kali, tapi itu hanya sebatas berpapasan saja. Kalau melihat kebelakang tentang perilaku Alice yang selalu berusaha untuk menempel padanya tentu Kevin sebisa mungkin mencari alasan untuk menghindarinya.


Ketika mereka telah memasuki drawing room yang mana terdapat lemari dengan tumpukan buku dan juga lukisan-lukisan indah yang hampir memenuhi dinding ruangan itu, Kevin melihat Ayahnya tengah membaca dan memeriksa tumpukan kertas di atas mejanya.


Hendrick meletakkan kertas yang ia baca. Sontak Kevin kaget melihat wajah ayahnya. Lebih segar dan terlihat sehat bahkan kantong mata yang seperti menempel padanya itu mulai hilang. Apakah Ia sudah sembuh? Duganya.


Ketika Kevin ingin membuka mulutnya untuk bertanya, Hendrick telah lebih dulu melontarkan pertanyaannya. "Bagaimana ekspedisi mu di wilayah selatan?"


Kevin mengurungkan niatnya yang tadi dan menjawab Ayahnya. "Seperti dugaan Yang Mulia, kami telah menemukan beberapa hal mencurigakan dan saat kami memeriksanya ternyata tempat itu merupakan salah satu markas ras iblis. Mereka mengumpulkan beberapa monster untuk melakukan sebuah penyerangan. Bahkan saya melihat satu atau dua desa telah terbengkalai dan hancur akibat ulah mereka." Jelasnya layaknya seorang prajurit yang memberikan laporan pada atasannya.


Kevin melangkah semakin maju hingga lebih dekat dengan meja Hendrick. "Saya juga menemukan batu kristal yang berisikan kumpulan Mana yang tercemar." Ucapnya pelan.


Mata Hendrick terbuka lebar mendengar kalimat Kevin. Ia lalu merapikan dokumen di mejanya. Hendrick memijat kedua sisi pelipisnya. "Ini akan jadi sedikit rumit." Hendrick menoleh ke arah Reiner lalu memanggilnya.


"Ya, Yang Mulia."


Hendrick menulis sebuah surat singkat. Memasukkannya ke dalam amplop dan menyegelnya dengan stempel kerajaan. "Bawa ini ke kuil." Ucapnya sambil memberikan surat itu pada Reiner.


Reiner menerimanya, meski begitu ia menunjukkan ekspresi enggan untuk pergi. Karena melihat kekhawatiran Reiner, Hendrick menatap yakin mata Reiner "Dengan kondisi ku yang sekarang, kau tak perlu cemas." Ia lalu tersenyum tipis untuk menunjukkan kalau memang dirinya sudah baik-baik saja.


Hendrick kembali melihat Kelvin. "Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan." Hendrick berdiri dari kursinya. Ia berjalan ke samping hingga sampai pada suatu lukisan dan memandanginya.


"Sebelum itu, aku ingin bertanya tentang pendapatmu mengenai Nona Alicia."


Mata Kelvin tak bergeming namun benaknya tidak bisa menangkap apa yang Ayahnya maksud. "Aku tak bisa menjawabnya sebelum memastikannya sendiri."


Hendrick menghela nafas panjangnya. "Bukannya aku tidak menyukainya atau menyukainya tapi untuk saat ini aku sedikit tertarik dengan berita yang tersebar." Kedua sisi bibir Hendrick terangkat sedikit mendengar kalimat Kevin. Ia melirik wajah kaku putranya itu. "Dia mengingatkan diriku saat muda dulu." Benaknya.


"Oh iya, aku lupa. Kedatangan mu kemari untuk mengetahui kepastian rumor itu kan?"


Kevin mengangguk. "Semua ini bukan aku yang merencanakannya tapi gadis itulah yang mengaturnya." Kata Hendrick lalu ia berbalik menatap Kevin.


Hendrick mendekati Kevin dan meletakkan salah satu tangannya di atas pundak Kelvin. "Dialah yang menyembuhkan ayah, dialah yang menolong Eliza. Apa kau tahu? Perasaan benci yang tak berdasar itu, akhirnya bisa terselesaikan."


Kevin mengepalkan kedua tangannya. Perasaan benci? Terselesaikan? Segampang itu? Kevin menatap Ayahnya dengan asli mengkerut dan sedikit kesal.


"Jangan pikir aku tidak mengetahui semuanya nak." Dengan satu tepukan terakhir pada pundak Kevin, Hendrick berkata. "Gadis itu tidak sesimpel yang orang-orang pikirkan. Jika kau ingin mengetahui kebenarannya, pergilah temui ia." Ucapnya dengan wajah teduh.


Jantung Kevin berdegup kencang. Kejelasan apalagi yang ia butuhkan? Dengan emosi yang tidak stabil, Kevin berbalik dan meninggalkan Hendrick. Saat tangannya memegang gagang pintu Hendrick menahannya dengan sebuah kalimat. "Aku harap kau mau menemui Eliza setelah kau mengetahui segalanya."


Di tempat lain, Marianne sedang duduk dan merawat pedang miliknya dengan sehelai kain dalam kamarnya yang ada di asrama. Suara ketukan pintu membuat tangannya berhenti.


"Tuan Putri, Anda kedatangan seorang tamu." Ucap seorang pelayan wanita dari balik pintu itu.


Tanpa mengangkat kepalanya, Marianne hanya melirik ke arah pintu dan bertanya. "Siapa?"


"Ini saya Tuan Putri." Jawab pria yang berambut hijau dan berkacamata itu.


"Masuklah." Jawabnya lalu ia kembali mengelap pedangnya.


Pria itu masuk, ia berjalan mendekati Marianne lalu tiba-tiba berlutut di hadapannya. Ia menundukkan kepalanya dan bertanya. "Master. Apa perintah Anda selanjutnya?"


Marianne menatap pria itu dengan matanya yang tajam.


"Perubahan rencana. Tugas kalian kali ini adalah melindungi Alicia Lein Strongfort."


"Baik Master. Maaf kalau saya lancang. Apakah yang membuat Anda berubah pikiran?" Pria itu masih berlutut dan menunduk.


Marianne bangkit dari kursinya. Ia meletakkan pedangnya di atas meja dan membuka tirai gorden. "Kalian hanya perlu melindunginya, apapun yang terjadi. Anggap saja inilah salah satu alasan aku membentuk kalian."


Suara Marianne yang terdengar pelan dan sedih itu menimbulkan rasa penasaran bagi Andrew. Ia mengangkat kepalanya. Andrew terkejut melihat pandangan kesepian dan kesedihan dalam mata Marianne. Selama ini...ya, Bertahun-tahun lamanya setelah mereka dilatih begitu keras oleh Marianne, Andrew tak pernah melihat Masternya memiliki sorot pandang yang melankolis seperti itu.


Banyak pertanyaan yang mulai timbul di benaknya namun satu kesimpulan yang ia bisa ambil. Alicia Lein Strongfort dan perubahan tugasnya yang awalnya mengawasi dan membunuh menjadi perlindungan mutlak. Keduanya pasti saling berkaitan.