
Setelah melakukan penyamaran, Alice keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruangan rahasia itu. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja dan menekan hawa keberadaannya agar tidak menarik perhatian atau tidak ada yang menyadari pergerakannya.
Alice melewati tangga untuk ke lantai dua, ia berhenti dengan tepat ketika melihat pandangan salah seorang priest mengarah ke arahnya. Menekan hawa keberadaannya bukan berarti ia akan transparan dan tak terlihat. Setelah memastikan priest yang ada di lantai dua berpaling, dari sisi tangga itu Alice segera berlari ke depan dan menempel pada dinding. Di depannya, jalur koridor terbagi tiga, tapi ia tahu kalau ruangan itu berada di sebelah kiri. Alice melirik dari sudut matanya ke sebelah kanan di mana ia mendengar suara seseorang membuka pintu. Alice menengok ke sebelah kiri untuk memastikan tidak ada siapapun dan saat ia yakin, Alice segera menyusul orang yang memasuki ruangan itu.
Tidak yang tahu apa yang ia lakukan pada orang itu. Tapi tak butuh waktu lama, Alice keluar membawa peralatan bersih-bersih.
Dengan ini, aku akan lebih mudah untuk memasuki ruangan itu. Pikirnya.
Sambil menundukkan kepalanya, Alice berjalan membawa peralatan bersih-bersih di kedua tangannya dan menuju ruangan itu.
Ketika ia sudah sampai di depan pintu ruangan itu, seorang pria menahannya dari jauh.
"Tunggu! Kau, Berhenti disana!" Pria itu mendekatinya dari belakang. "Kacau, Aku lengah karena kesenangan" batinnya. Alice berusaha menenangkan dirinya, ia lalu berbalik pada pria itu dan bertanya. "Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" Beruntunglah ada penutup kepala yang melindungi wajahnya.
"Hmm..."Pria itu berpikir sejenak dengan meletakkan kepalan tangannya di bawah dagunya. Pria itu mengamati Alice dengan seksama dari atas hingga bawah. "Coba Angkat wajahmu." Serunya.
Alice menggenggam erat ember yang ada di tangan kirinya. "Ketahuan? Apakah dia akan menyadarinya?"
Alice pelan-pelan mengangkat kepalanya dan menunjukkan wajahnya pada pria itu. Ia melihat baik-baik sepasang mata yang terlihat seperti sedang mengamatinya. Alice sudah siap jika memang harus ketahuan, maka ia tidak bisa menghindari adanya kekerasan dan menyingkirkan saksi mata.
Pria itu sama sekali tak mengingat gadis yang ada di depannya tapi, ketika ia memperhatikan baik-baik jubah Alice, ia menemukan simbol di bagian lengannya yang menandakan bahwa gadis di depannya masihlah dalam masa pelatihan.
"Mungkin karena masih dalam masa pelatihan." Pria itu bergumam. "Ya sudahlah, kau boleh pergi." Lanjutnya mengangguk dan berbalik pergi membiarkan Alice begitu saja.
Alice mendesah nafas lega. "Ku pikir apa tadi." Alice lalu membuka pintu yang ada di depannya. Ia melihat rak-rak lemari dengan beberapa buku dan gulungan-gulungan kertas. Alice ingin sekali melihatnya, mungkin ada petunjuk yang berguna di dalamnya tapi karena ia tidak punya waktu banyak, Alice berlalu begitu saja.
"Kalau tidak salah, ada di sekitar....sini." Alice meraba-raba dinding yang ada di ujung ruangan itu. Ia merasakan hawa kehidupan dari balik dinding itu namun dimana pemicu untuk membukanya? Tentu jika ia ingin menghancurkan dinding itu, maka baginya hal itu sangat mudah tapi suaranya pasti cukup besar untuk menarik para priest yang berjaga di tengah malam yang sunyi.
Alice mengetuk-ngetuk dinding itu sambil menempelkan salah satu telinganya. "Hmm...gema suaranya..." Matanya tepat lurus melihat lemari di dekat dinding itu.
Rak-rak di lemari itu memiliki buku yang lebih sedikit dari yang lainnya dan kalau ia perhatikan baik-baik, buku itu tidak beraturan seolah memang sengaja tidak di rapikan.
Alice melirik setiap buku yang ada di rak lemari itu, ia mengangkat kedua bahunya dan mencoba untuk merapikannya saja berharap kalau tebakannya benar. Alice mulai menyusun buku di rak pertama dengan baik. Awalnya tidak ada yang terjadi tapi ketika ia memasukkan buku di celah terakhir, ada sesuatu yang berbunyi dari dalam lemari itu. Alice terdiam sejenak, ia melirik dinding di sampingnya namun tak ada yang terjadi.
Alice kembali merapikan rak kedua dan seterusnya. Semakin ia memasukkan buku-buku itu di setiap rak, maka akan terdengar seperti suara tombol yang terpencet. Entah itu di awal baris atau pada saat di pertengahan. Alice sudah semakin paham dengan cara kerjanya.
Ketika ia tiba di rak terakhir, Alice kehilangan satu buku. Alice berbalik dan mencari buku yang mungkin ada di lantai sekitarnya. Tapi ia tidak menemukan apa-apa. "Apakah aku harus mengambilnya dari rak yang lain." Dugaannya.
Karena penasaran Alice menunduk dan melihat ke dalam celah kosong terakhir itu. "Oh... rupanya seperti itu ya."
Setelah menyelesaikan teka-teki itu, entah kenapa ia merasa sedikit senang, kedua sisi mulutnya bahkan terangkat sedikit. Seperti ada rasa kepuasan tersendiri.
Alice memasuki ruangan itu, sebuah tangga menurun dengan lampu sihir yang menempel di dindingnya menuntun langkahnya hingga ia sampai ke tempat rahasia dari Kuil itu.
Alice melihat ruangan yang tidak kalah luas dari Aula yang ada di lantai atas. Tempat itu bahkan hampir sama terangnya dengan lampu-lampu sihir yang bergelantungan di atap.
"Ini akan sedikit lebih sulit." Gumamnya menyipitkan kedua matanya saat ia melihat bishop dan paladin yang mondar-mandir di tempat itu.
Alice melihat ke langit-langit, ia melirik ke setiap tempat yang memungkinkannya untuk menghindari penerangan dan jarak pandang para penjaga.
Sambil ia mempertajam inderanya, Alice melompat ke arah lemari yang terlihat lebih tinggi dari benda lainnya. Alice memantau dan menghapal pergerakan setiap penjaga yang ada di sekelilingnya.
"Dua orang di lantai atas di setiap sisi, tiga orang dekat dengannya dan dua lainnya...cukup jauh di antara meja meja yang ada di depannya." Ucapnya setelah menemukan jalur yang harus ia ambil.
Setelah penjaga yang ada di bawahnya menjauh dan penjaga yang ada di lantai atas sisi kirinya berbalik. Alice turun dari lemari itu. Ia berjalan dengan menunduk dan sesekali berlari kecil.
Mengulangi gerakan yang sama, Akhirnya Alice lepas dari penjagaan mereka. Ia lalu berjalan menuju koridor yang kurang penerangan dimana ia merasakan Lilia berada di dalam sana.
Sekali lagi, Alice melihat seorang penjaga tak jauh dari pintu yang akan ia tuju. Namun, karena ruangan itu begitu sunyi dan jauh dari penjaga lainnya. Dengan [ Shadow Step ] Alice telah ada di samping pria itu dan melumpuhkannya sebelum ia sempat bereaksi.
Alice menoleh kebelakang untuk memastikan situasinya. Merasa aman, Alice menyeret tubuh pria itu ke sudut dan mengambil pakaian miliknya. Rasa sedikit bersalah terbersit dalam hatinya. Ia merasa seperti penjahat karena sudah melucuti dua orang malam ini.
Dengan seragam paladin yang tertutup oleh baja ringan di dada dan bagian bawahnya serta dilengkapi helm besi, Alice memutar gagang pintu di depannya. "Pakaian ini sedikit besar" protesnya pada baju yang ia kenakan.
Ia terkejut saat pintu itu terbuka dan melihat pemandangan menyedihkan sahabatnya. Entah sudah berapa hari ia di sekap di ruangan itu. Jeruji besi yang mengurungnya layaknya seperti burung, ditambah rantai besi yang juga membatasi pergerakan tangannya. "Tahu begini, kenapa tidak sekalian saja ku bunuh mereka semua." Kesalnya
Lilia mengangkat kepalanya yang tertunduk, ia melihat paladin yang berjalan mendekatinya. Dia merasa heran ketika paladin itu diam di hadapannya dan menatapnya begitu saja. Sorot matanya tidak memancarkan adanya kemarahan atau rasa benci. "Ada apa?" Tanya Lilia ketika paladin di depannya itu sudah cukup lama memandanginya.
Paladin itu tak menjawab, ia tiba-tiba menarik pedangnya yang adi pinggangnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Lilia sedikit takut dengan orang aneh di depannya itu. Dia sama sekali tak berkata apapun, menatapnya dengan datar dan tiba-tiba menghunuskan pedangnya.
Mengira kalau paladin itu datang untuk membunuhnya, Lilia menghela nafasnya, ia menunduk, memperlihatkan belakang lehernya dan seperti sudah siap untuk menghadapi kematiannya.
"Alice... sepertinya kita tidak bisa bertemu lagi." Batinnya lalu ia memejamkan matanya.