Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 102



Pria itu berdiri dengan tegak seperti ia menghalangi Kyrant untuk tidak mendekati Alice.


"Bermainlah sebentar dengan ku kadal kecil." Dia menyeringai memberikan pandangan provokatif ke arah Kyrant.


Senyuman di wajahnya membuat Kyrant jengkel, pria yang entah darimana datangnya itu benar-benar memandang remeh dirinya. Walau begitu, Kyrant tetap bisa menahan dirinya untuk tetap fokus pada Alice. Ia hanya melirik pria itu sepintas dan kembali menatap Alice.


Alice memegang erat pedangnya. Dari pandangan Kyrant yang mengancam, sepertinya dia memang target yang sudah ia kunci.


Kyrant melebarkan sayapnya dan melompat ke atas lalu menembakkan meriam api yang panas dan terlihat cair berupa magma.


Saat Alice sudah bersiap untuk menghindar, Pria itu melompat mundur sekali untuk berdiri di hadapan Alice dan menahan meriam magma Kyrant. Dari belakang pria itu, Alice bisa merasakan betapa panasnya magma itu, tapi pria itu berbalik pada Alice sambil tetap menahan serangan Kyrant dengan satu tangannya.


"Kau benar-benar membuat bekerja sangat keras. Sebagai imbalannya, ku harap kau sudah siap untuk memberikan ku makanan yang lezat." Ucapnya dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa.


Apakah dia benar-benar Fee?


"Fee..? Kau kah itu?" Tanya Alice dengan ragu.


"Tentu saja ini aku." Fee membalikkan badannya menghadap Kyrant, ia memutar telapak tangannya yang menahan magma itu untuk membuka sebuah celah dimensi kecil. Sesuatu yang aneh dirasakan Kyrant, sihirnya seperti lenyap ditelan oleh sesuatu.


Kyrant menghentikan serangannya, Fee terkekeh. Apa yang baru saja dia lakukan tidak lain adalah melahap serangan itu. Biarpun tak terlihat seperti melahap pada umumnya. Fee sebenarnya menggunakan [ Shadow Devourer ]. Salah satu kemampuannya untuk melahap objek apa saja ke dalam kegelapan yang terhubung dengan perutnya.


Fee mendengus. Kemampuan [ Shadow Devourer ] miliknya telah menelan banyak jiwa dan tidak terkecuali para Dewa yang mengkhianatinya. Baginya serangan Kyrant terlihat seperti sihir anak-anak. Perut Fee begitu luas yang tidak jauh berbeda seperti alam kesadaran jiwa milik Alice. Berharap untuk yang lebih Fee menggerakkan jemarinya memancing Kyrant untuk melakukan serangan selanjutnya.


Kyrant tiba-tiba dipenuhi amarah yang bergejolak. Baru kali dia melihat seekor anjing ras hewan buas berlagak sangat sombong di hadapannya. Kedua tinjunya bergetar menahan emosi yang meluap-luap. Dalam sekali ayunan tangan, Kyrant membuat tiga lingkaran sihir besar di depannya. Lingkaran sihir itu kemudian menembakkan bola api besar ke arah Fee dan seperti serangan sebelumnya, Fee menahan bola-bola api itu dan menelannya sebagaimana kegelapan menelan cahaya.


Kyrant tidak berhenti lalu sekali lagi menembakkan bola-bola api tapi kali ini ia tidak mengarahkannya tepat menuju Fee, melainkan dia menembakkannya ke lantai di sekitar Fee yang menimbulkan ledakan untuk menghalangi pandangannya.


Kyrant terbang melesat turun. Ia berdiri di samping Fee dengan tinjunya yang besar dan keras. Hanya dalam hitungan dua detik saja, Kyrant telah mengumpulkan sihir di tangannya dalam jumlah banyak. Kyrant melayangkan kepalan tangannya pada pria yang ada dalam kepulan debu itu.


"Matilah!"


Sayangnya ekspetasi Kyrant tidak terwujud. Tinjunya tidak berhenti dalam genggaman tangan Fee.


"Apakah kau belum makan? Tinju besar ini bahkan tidak memiliki energi. Sepertinya kau butuh istirahat."


Untuk menghadapi naga muda yang memiliki emosi yang labil dengan kesombongan yang tinggi, Fee tahu pasti bagaimana cara membuat lawannya marah dan kehilangan akal jernihnya ketika bertarung.


"Haaarggg!!" Kyrant berteriak dengan keras. Ia melayangkan tinjunya sekali lagi tapi tetap saja Fee bisa menahannya dengan mudah.


"Heh!" Fee tersenyum sinis mengangkat salah satu sudut bibirnya.


Kyrant makin kesal, ia kemudian melepaskan tinjunya secara beruntun dalam tempo yang sama cepat.


Gerakan Keduanya benar-benar lincah. Suara tinju dan tekanan udara yang dihasilkannya begitu besar. Anehnya, tubuh naga berlapis sisik sekeras mitril itu tidak bisa menghempaskan Fee yang hanya beda satu kaki dari tinggi Alice.


Ketika Kyrant yang diselimuti amarah menyerang dengan membabi buta, sebaliknya Fee tetap santai menahan dan menghindari serangan jarak dekat itu.


"Kau kuat tapi sayang bodoh. Cobalah untuk mendinginkan kepala mu dulu." Fee menepis pergelangan tangan Kyrant dengan cepat dan kuat sehingga membuat Kyrant terkejut dan kehilangan keseimbangan. Sebelum ia sempat menarik tangannya kembali, Fee dengan cepat meninju perut Kyrant. Pukulannya begitu kuat sampai membuat kedua kaki Kyrant terangkat dari tanah. Lalu sekali lagi, Fee bergerak ke samping Kyrant kemudian menendang rusuknya hingga ia terlempar ke belakang. Tubuh besar itu terguling dan terseret di tanah hingga ia berhenti.


"Saat ia berbalik. Ku pikir dia berwajah tua. Ternyata dia terlihat tidak jauh berbeda dari usia Sang Pangeran Kevin." Kalau diperhatikan, wajah Fee saat ini seperti seorang pria yang akan menginjak usia 30 tahun.


Alice telah melihat kemampuan tempur Fee dalam wujud setengah manusianya. Dia bertarung layaknya seseorang yang berpengalaman.


Kyrant memukul lantai dengan keras hingga membuatnya retak. "Sial! Sial!"


Dia bangun dengan nafas terengah-engah, melihat Fee seakan ia berniat untuk memakannya hidup-hidup.


"Aku tidak tahu makhluk apa kau ini. Seekor serigala? Ras hewan buas? Tapi kau bahkan tidak tercium seperti mereka?! Yaah...! Apapun itu, kau benar-benar membuatku jengkel!"


Kyrant melebarkan sayapnya, ia lalu menghentakkan kakinya dan terbang lurus ke arah Fee. Kedua tinjunya memancarkan gelombang panas yang kemudian membara menjadi sepasang tangan besar yang di selimuti api.


Tendangan Fee barusan mungkin saja membuatnya sadar. Dia mulai bertarung dengan ritme yang bagus. Tapi tetap saja, kelihaian Fee dalam menghindar membuat serangannya sia-sia.


Kyrant mengangkat kedua tangannya dan mengayunkannya ke bawah dengan sekuat tenaga. Serangan itu kembali berhasil di tahan Fee dengan mudah. Sungguh serangan kuat yang bahkan bisa membuat tanah bergetar.


Saat kedua tangan Fee menahan serangannya. Kyrant mengambil kesempatan itu, ia membuka mulutnya tepat di hadapan Fee. Dari jarak sedekat itu Kyrant berencana menembakkan bola api. "Kali ini, kau tidak akan bisa menghindarinya." Benak Kyrant.


"Haaarrgg!"


Melihat gelombang mana dengan Clairvoyance nya, Fee menunggu waktu yang tepat untuk menggagalkan serangan Kyrant. Dia menggunakan refleksnya yang cepat lalu melakukan gerakan salto, Fee menendang dagu Kyrant tepat sedetik sebelum bola api itu keluar dari mulutnya. Serangannya lagi-lagi digagalkan, bola api itu tertembak menuju langit-langit.


Serangan Fisik, serangan sihir kalau bukan ditahan, Fee akan membelokkannya atau menghindarinya. Kedua jenis serangan itu tidak ada yang mempan untuk melawan Fee. Naga perkasa itu bagaikan boneka yang menari-nari di atas telapak tangan Fee.


"Ada apa kadal kecil? Apakah kau sudah kelelahan?"


Wajah Kyrant tidak baik-baik saja. Efek kemampuan [ Rampage ] sudah mulai terlihat. Saat dia menggunakan kemampuan itu, kekuatan dan kecepatannya meningkat pesat. Rasa sakit ataupun lelah hilang begitu saja tapi risiko yang harus ia terima ketika kemampuan itu berakhir adalah serangan balik dua kali lipat yang membuat tubuhnya tak bisa berkutik. Rasa sakit dan stamina yang kering karena memaksakan tubuhnya di luar batas wajar. Belum lagi semua serangan musuhnya yang baru terasa ketika kemampuan [ Rampage] telah habis.


"Kalau bukan karena gadis itu yang melarang ku untuk membunuhnya, maka pertarungan ini sudah selesai sejak tadi." Gumam Fee sambil ia melirik Alice dari sudut matanya.


Sebelumnya ketika Alice melihat Fee bertarung dengan santainya melawan wujud evolusi sempurna Kyrant. Alice segera menahan Fee untuk membunuhnya.


"Apakah seperti ini cukup?" Tanya Fee pada Alice


Kyrant berdiri begitu saja dengan nafas yang tak beraturan. Lengannya menjadi berat dan kakinya sakit untuk bergerak. Punggungnya yang kekar tak lagi berdiri tegak. Matanya sudah kehilangan fokus, bahkan ia kesulitan untuk berkata-kata. Kyrant hanya bisa merintih sakit.


"Ya... terima kasih Fee." Balas Alice melalui telepati sambil tersenyum.


"Aku akui, kau memiliki tekad dan kemampuan. Tapi sayangnya kau bertemu dengan lawan yang salah." Kata Fee melihat Kyrant yang hanya diam mematung.


Kalimat itu lalu diakhiri dengan sebuah pukulan tepat pada ulu hati Kyrant yang membuatnya jatuh terkapar di tanah.


Fee berbalik untuk menghampiri Alice. "Jangan lupa untuk mentraktirku sepulang nanti."


Alice tertawa kecil meletakkan tangannya di depan mulutnya. "Hahaha...iya iya, setelah ini selesai kau boleh makan sepuasmu."


Ya.....setelah kita pulang, kita akan kembali berkumpul bersama-sama lagi di meja yang sama menikmati hidangan yang lezat.