
Alice terkejut. Wanita berambut merah yang berjalan di hadapannya menghampiri Sang Raja membuatnya kehilangan kata-kata.
"D-Dia..." Lidahnya keluh bahkan membuat ia kesulitan untuk mengeluarkan suara.
" Oh... Eliza, Terima kasih karena selalu merepotkan mu." Ucap Raja dengan senang memandang wanita itu penuh kehangatan.
Sang Ratu? Bagaimana mungkin?
Seketika Alice meragukan kemampuannya. Bagaimana bisa Sang Ratu memiliki aura seperti ras iblis.
"Ta-Tapi...Ini tidak salah lagi." Benaknya kacau. Meski samar, dalam jarak yang sedekat itu, Alice sadar dan bisa memastikan asal dari energi Mana yang terasa pahit itu.
Pupil matanya bergetar dan kakinya yang mulai kehilangan tenaga tiba-tiba membuat ia hampir terjatuh. Kakinya mundur selangkah karena ketidak percayaannya. Dalam benaknya ia berkali menggelengkan kepalanya.
"Nona Alicia, ada apa?" Tanya Reiner saat ia melihat wajah Alice yang tiba-tiba berkeringat.
"Tidak apa-apa." Alice menarik nafas dalam setelah Reiner memanggilnya. Ia sadar, saat ini bukan waktunya untuk gentar. Sepertinya usia remaja mempengaruhi hatinya juga, begitulah pikirnya.
Eliza memutar tubuhnya dan melihat Alice yang berdiri dengan serius memandanginya. "Hmm...Gadis yang cantik, siapa dia?"
"Dia Alicia Lein Strongfort. Putri pertama Duke Strongfort."
Alice membungkukkan tubuhnya sambil mengangkat rok gaunnya sedikit lalu menyapa Sang Ratu. Suara dan tawa lembutnya bahkan mesih terngiang di telinganya.
"....Hmm..." Eliza memiringkan kepalanya sedikit dan seperti gerakan yang terlihat lambat di mata Alice, sebuah senyum hangat merekah di bibirnya. "Senang bertemu denganmu Nona Alicia." Balasnya menerima sapaan Alice.
Bukannya senang. Alisnya berkedut karena kesal. Kenapa? Apa yang telah terjadi? Alice bertanya-tanya dalam benaknya.
Ia masih mengingat senyuman hangat itu. Senyuman yang sama seperti yang tadi namun terasa hangat di hatinya. Seorang Wanita yang pernah ia temui di masa kecilnya. Wanita yang pernah menyemangatinya dan menemaninya saat ia sedang kesepian.
"Alice~ Alice~ Alice~~~"
Sekian banyak kenangan kanak-kanak melintas di kepalanya dan suara yang memanggil namanya itu seperti menanamkan rasa cinta pada hatinya. Dia bahkan hampir menganggap wanita itu sebagai sosok ibu keduanya.
Karena pertemuan mereka, Alice kecil tak henti-hentinya dan tak bosan-bosannya mengunjungi salah satu istana hanya untuk menemui wanita itu. Kakeknya yang memanjakannya kala itu bahkan kesulitan saat ia merajuk. Di saat itu pula pertemuannya dengan Kevin di mulai.
"Tidak mungkin! Pasti ada yang salah!" Pikirnya
Alice kembali menenangkan emosinya. Ia tak bisa menyimpulkan sesuatu atau menemukan hal yang mencurigakan jika terus seperti itu.
Alice dengan teliti menelaah seluruh ruangan. Seolah ia membuat kesadarannya menyelami ruangan itu.
Ketika Sang Raja dan Ratu tengah asik berbincang. Alice mulai mendapatkan petunjuk tanpa disadari siapapun.
"Begitu ya...." Alice tersenyum sinis dalam benaknya. Tangannya mengepal dengan kuat. Ia menyipitkan matanya memandangi Eliza.
Dengan kemampuannya Alice berbicara pada Reiner dan Hendrick melalui pikiran mereka. Keduanya sontak terbelalak ketika mendengar suara yang tiba-tiba bergema dalam kepala mereka.
"Saya harap Yang Mulia dan Tuan Reiner tetap bersikap seperti biasa. Saat ini saya akan menyampaikan sesuatu yang benar-benar membuat kalian terkejut."
Dengan kalimat itu, keduanya tetap santai dan Hendrick tetap menemani Eliza berbincang seperti biasa.
"Sihir telepati? Apa ini salah satu kemampuan Nona Alicia?" Reiner menatap Alice dengan kagum. Masih muda dan dia menguasai telepati bahkan penyihir level 5 pun tidak memiliki kemampuan seperti ini.
"Anda bisa mengatakannya seperti itu. Baiklah saya akan mengatakannya sekarang. Pertama, Yang Mulia jangan meminum obat itu. Saya tidak tahu apa yang ada di dalamnya tapi dengan pengamatan saya, saya merasa kalau obat itu sebenarnya adalah racun."
Tangan Hendrick menjadi kaku, ia melihat secangkir minuman yang seperti teh di tangannya. Hampir saja ia meminumnya. Mungkin jika Alice tak mampu mengobatinya, ia takkan percaya tapi setelah melihat kemampuan gadis itu. Ia yakin dengan intuisinya.
"Kedua, mungkin ini mengejutkan bahkan saya sendiri sangat tidak menerimanya. Sang Ratu, Elizabeth Ries Solus yang ada di dihadapan kita telah berada di bawah kendali seseorang."
Hah? Apa?
Melihat raut wajah Hendrick yang tiba-tiba serius dan menatapnya tanpa mengatakan apapun, Eliza bertanya "Ada apa Yang Mulia? Apakah Anda baik-baik saja? Mungkin Anda butuh istirahat." Eliza membungkuk sebagai salam untuk undur diri. "Yang Mulia harus meminum obatnya dan istirahatlah lebih banyak. Saya pamit undur diri."
Ketika ia berbalik dan berjalan mendekati pintu.
"Yang Mulia, Saya memiliki rencana yang mungkin terdengar sedikit gila. Maafkan saya. Tuan Reiner, Kerahkan seluruh kekuatan anda untuk menghentikan saya." Jelasnya. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin ia melepaskan kesempatan ini.
Hendrick dan Reiner untuk sesaat bingung dengan perkataan Alice tapi ketika melihat gadis itu menerjang dengan sebuah pedang ke arah Eliza, Reiner refleks bergerak menghadangnya.
Suara pedang beradu dengan keras memenuhi ruangan itu.
"Apa maksud anda Nona Alicia?"
Saat ini mereka masih berbicara melalui telepati.
Eliza terkejut dan terjatuh di tempatnya. Jantungnya berdetak kencang. Hampir saja ia terbunuh, pikirnya.
"Saya tak tahu banyak tentang sihir pengendali pikiran atau sesuatu semacamnya. Jadi saya harap Tuan Reiner menemani saya seolah-olah saya memang berniat untuk membunuh Sang Ratu.
Pedang keduanya saling beradu. Reiner dengan sekuat tenaga menahan serangan Alice.
"Kuh! Apakah gadis ini hanya berpura-pura? Setiap serangannya membuat tanganku bergetar saat menangkisnya." Batin Reiner. Seorang komandan ksatria, bahkan kesulitan menahan serangan gadis muda. Reiner kesal dengan dirinya, ia mulai berpikir kalau sepertinya dia terlalu santai akhir-akhir ini. Reiner menggertakkan giginya, menatap jelas ke arah wajah gadis belia itu. "Tidak salah Nona Alicia bisa mengalahkan Kedua iblis itu." Ucapnya ketika pedang mereka saling mendorong.
Alice tersenyum "Benarkah? Terima kasih atas pujiannya."
Keduanya saling mengambil jarak dan bergerak sedikit jauh dari hadapan Eliza.
"Apa ini yang ia maksud rencana yang sedikit gila tadi? Sama seperti di turnamen waktu itu. Entah darimana ia mendapat pedang itu" Hendrick menatap lurus ke arah Reiner dan Alice. Kenapa dia harus berpura-pura seperti ini? Apakah mungkin...... Layaknya sebuah tetesan embun segar dan dingin yang jatuh tepat di atas kepalanya. Hendrick akhirnya paham apa yang Alice maksud. Ia tersenyum, "Gadis ini bahkan sudah memikirkannya hingga sejauh itu." Benaknya tertawa lepas.
Setelah beradu pedang untuk beberapa saat Alice dengan teknik [ Shadow Step ] nya segera bergerak ke belakang Eliza. Reiner yang menebas bayangan itu baru tersadar saat ia merasakan sosok Alice tiba-tiba berada di belakang Eliza.
"Yang Mulia!" Teriak Reiner pada Eliza.
Alice menepuk belakang leher Eliza menggunakan energi Qi-nya dan membuatnya pingsan.
Setelah Eliza tak sadarkan diri. Saat itulah permainan mereka berakhir. Alice menyimpan pedangnya kembali dalam cincinnya.
"Penyimpanan dimensi ya?" Benak Hendrick.
Alice memandang Reiner dan Hendrick. "Sekarang tinggal langkah selanjutnya"
"Langkah selanjutnya?" Tanya Reiner.
Alice menoleh ke arah Hendrick. Ia lalu melemparkan sebuah senyuman, Hendrick mengangkat kedua alisnya bermakna ia tahu apa yang Alice isyaratkan.
Dengan suara lantang yang disengaja Hendrick berkata "Alicia Lein Strongfort! Berusaha membunuh Sang Ratu. Penjarakan dia! Bawa dia ke menara!"
"Terima kasih Yang Mulia." Dengan ucapan itu, Alice memejamkan matanya dan terbaring di lantai untuk berpura-pura pingsan. "Aku sudah tidak ingin melukai diriku lagi hanya untuk berpura-pura bukan?" Batinnya mengingat kejadian saat ia menghadapi Andrew.
Dan begitulah saat ini ia berada di dalam satu-satunya ruangan dalam menara itu.
Keputusan Hendrick mengurungnya di menara bukan di penjara bawah tanah adalah bagian dari rencana mereka.
Di ruangan tertinggi tanpa ada siapapun selain dua penjaga yang mengawasi pintu menara di lantai dasar. Mereka dengan mudah memancing dalang dari semua kekacauan itu. Kemampuan Alice tak diragukan lagi, dia memiliki peluang besar untuk mengalahkan siapapun yang datang untuk membungkamnya.
"Jika aku benar, maka sihir pengendali itu juga bisa melihat kejadian yang sama seperti yang dilihat oleh orang yang dikendalikan." Gumamnya "Sekilas aku sempat melihat sebuah lingkaran sihir pada salah satu mata Sang Ratu." Alice mendecihkan lidahnya kesal.
"Bibi Liz...." Mata murungnya memandangi Langit malam dari balik jendela.