
Alice, Elysia dan Fee. Ketiganya saat ini sedang berada dalam rombongan pedagang menuju kota Babilon.
Awalnya Alice bertemu dengan seorang pria saat ia sedang mencari kuda untuk ia gunakan menuju Babilon. Walaupun sebenarnya dia bisa terbang, namun Alice khawatir kalau seseorang atau suatu pihak akan memperhatikannya. Sebisa mungkin Alice berusaha untuk tidak bertindak terlalu mencolok, terutama saat ia berada di Kekaisaran Arakhmeia.
Alice belum sepenuhnya mengenal tempat itu. Mungkin saja di luar sana ada seorang ahli yang bahkan lebih hebat darinya. Atau bisa saja para pemuja Dewa Jahat itu masih mengintainya. Alice tidak ingin menarik perhatian mereka, sehingga mereka akan menjadi gangguan baginya saat ia berurusan dengan Erebos.
Berbeda ketika ia masih berada di Benua Arkham, dimana ras deemon dan ras lainnya tinggal. Mereka lebih mengedepankan kekuatan. Alice tidak perlu cemas untuk menunjukkan dominasinya disana. Karena ketika dia menunjukkan seberapa kuat dirinya, para deemon dan ras lainnya pasti akan berpikir berkali-kali untuk mencari masalah dengannya. Sebaliknya dengan manusia, mereka pasti akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya sekalipun itu mengancam nyawa mereka.
Alice telah hidup cukup lama dalam lingkungan yang seperti itu. Ia mengenal banyak kultivator dengan kemampuan hebat yang tidak peduli untuk mengorbankan nyawa orang lain.
Mereka bahkan bisa saja berkhianat dan menusukmu dari belakang. Selama itu menguntungkan bagi pihak mereka, tentunya mereka akan berusaha mendapatkan apapun yang mereka incar. Konflik tidak dapat dihindarkan hanya untuk sebuah artefak kecil.
"Ahh...benar. Mereka bahkan tega mengkhianati temannya..." Bisik hatinya pelan. Senyum Qin Ao Shuang sekilas terlintas di benaknya. Dadanya menjadi berat untuk sesaat.
Pria itu membawa Alice untuk ia perkenalkan pada putra dan istrinya juga rekan-rekannya. Ternyata dia berasal dari kawanan pedagang.
Ketika ia mendengar wanita muda di dekatnya ingin membeli sebuah kuda untuk pergi ke kota Babilon, pria itu dengan baik hati menawarkan tumpangan pada Alice. Alice tersenyum sambil berterima kasih.
Alice mengangkat keningnya saat ia bertemu dengan kawanan mereka. Apa yang menarik perhatiannya adalah beberapa orang yang ada dalam kelompok mereka. Dari postur tubuh dan aura yang mereka pancarkan, Alice sudah tahu kalau ketiga orang itu adalah seorang petarung bukan pedagang.
Alice melirik ketiga orang itu. Mereka terlihat lebih kuat dari para pembunuh dimalam itu.
Jarak dari kota Amira ke kota Babilon tidak begitu jauh apabila menggunakan kuda. Sayangnya, bagi kawanan pedagang itu, seekor unta lebih efisien untuk berjalan di bawah teriknya matahari dan dinginnya malam di gurun.
Alice bertanya-tanya pada dirinya tentang alasan mereka memiliki ketiga petualang itu dalam kelompoknya.
Pria itu mengerti saat melihat tatapan Alice yang penasaran. Ia pun menjelaskan kalau mereka menyewa ketiganya sebagai pengawal. Mereka adalah petualang peringkat B yang terkenal. The Wind Gale, itulah nama kelompok mereka. Alice sempat mendengar orang-orang membicarakan tentang kehebatan kelompok mereka saat ia berjalan-jalan di pasar.
"Tidak heran mereka hanya menyewa tiga orang saja untuk mengawal kawanan mereka." Pikirnya.
Jadi, apakah di gurun nanti akan ada monster? Tentu saja untuk membalas budi, Alice berpikir untuk memberikan bantuan jika seandainya situasinya tidak begitu bagus.
Saat pria itu datang dan dengan ramah menawarkannya seekor unta. Ia berkata kalau mereka masih memiliki satu ekor unta yang lebih dan tidak ada yang menungganginya.
Alice menduga kalau pria itu berbohong. Dengan jumlah barang bawaan mereka yang begitu banyak, apakah mereka hanya akan menyia-nyiakan unta itu dan mengatakan tidak ada yang ingin menungganginya?
Alice menatap pria itu dengan ekspresi teduh. Sekali lagi ia membungkuk dengan sopan sebagai tanda terima kasih. Pria itu, tidak. Tapi kawanan pedagang itu pasti hanya terlalu baik sampai mengizinkan mereka menunggangi unta mereka.
'Maaf nona, tapi kuda-kuda ini sudah menjadi milik seseorang. Saya hanya bertugas untuk merawat mereka saja. Kalau anda mau, anda boleh menunggu tiga hari lagi. Kemungkinan rekan saya akan tiba di kota ini. Itupun... mungkin kami hanya bisa mendapatkan seekor unta.' Seperti itulah apa yang pedagang di kota itu katakan saat ia sedang mencari kuda.
Kenyataannya kuda dan unta yang ada di kota Amira telah dibeli oleh seorang saudagar kaya dan sebuah kafilah dagang. Alice bersyukur mendapatkan bantuan dari mereka.
Bersama dengan kawanan pria itu. Alice pun menunggangi unta yang mereka berikan padanya. Fee duduk di depannya dan Elysia memeluk pinggangnya dari belakang.
Dalam perjalanan, Alice tiba-tiba mengerutkan dahinya saat ia mengingat kembali tentang apa yang pembunuh itu ucapkan pada putrinya. Cukup jelas di telinganya, ia mendengar pria itu berkata kalau dia dan Elysia itu sama. Mereka sama-sama mendapatkan kekuatan dari Dewa Jahat. Dia juga berusaha untuk membawanya kembali ke organisasi mereka.
Apakah ini ada kaitannya dengan simbol yang ada di tangan Elysia? Alice ingat, kalau Erebos menjadikannya sebagai seorang utusan.
Walaupun simbol itu sudah disamarkan, sepertinya itu mustahil untuk melenyapkan jejak yang ditinggalkan Erebos.
Alice mengeratkan jemarinya yang memegang tali pelana. Ia menahan amarahnya yang perlahan mendidih.
Segera, ia benar-benar harus mengakhiri Erebos. Pikirnya.
Ketika ia memeriksa ingatan pembunuh itu. Apa yang Fee katakan padanya ternyata benar. Ingatan pria itu seperti terhalang oleh sesuatu. Alice tidak bisa melihat ingatannya lebih dalam lagi. Ia hanya mendapatkan sedikit informasi tentang organisasi mereka yang berdiri di wilayah Kota Nippurk. Salah satu kota yang kental dengan unsur keagaaman mereka. Dengan kata lain, tempat itu juga merupakan Kota Suci seperti Kota Liebe yang ada di Kerajaan Solis.
"Tempat yang paling gelap memanglah titik tepat yang ada di bawah cahaya lilin."
Alice menoleh sedikit dan melihat Elysia yang ada di belakangnya.
"Ada apa Elysia? Apakah kau masih memikirkan kejadian semalam?" Tanya Alice pada Elysia yang duduk termenung di belakangnya.
Elysia menghela nafasnya pelan.
"Um." Elysia mengangguk pelan dengan balasan singkat.
Tidak biasanya ia melihat Elysia murung seperti ini. Alice mengerti. Elysia sedang merasa kalau dirinya sangat lemah saat ini. Dia sudah bertindak ceroboh dua kali saat berada di Kota Amira. Kepercayaan dirinya rusak saat pembunuh itu tiba-tiba menggunakan racun dan mengalahkannya.
"Tidak perlu terlalu memikirkannya. Dulu aku juga sepertimu. Bukankah kau sudah melihat ingatan ku? Aku bahkan jauh lebih lemah darimu saat itu."
"Tapi...."
"Intinya adalah jangan menyerah. Seperti yang ku bilang, kau hanya kurang pengalaman saja. Putri ibu sebenarnya gadis yang kuat kok. Buktinya mereka berbuat curang untuk bisa mengalahkan mu bukan?"
"Ng, ibu...benar."
"Kan? Aku telah melihat mu tumbuh dari kecil hingga dewasa. Walaupun itu hanyalah dunia dalam ingatan mu. Tapi perasaan itu nyata. Aku tahu kalau Elysia, putri ibu kelak akan menjadi gadis yang hebat."
Elysia cukup tersipu mendengar pujian ibunya. Senyum di wajahnya perlahan terukir kembali.
Apa yang ibunya katakan benar. Dia masih bisa berkembang. Sekarang bukan waktunya untuk bersikap lemah dan terus-terusan murung. Elysia mengangguk mengepalkan tangannya. Ia mendapatkan kembali semangatnya.
Elysia mengeratkan pelukannya. Ia menyandarkan kepalanya pada punggung kecil Alice. "Terimakasih ibu. Aku sayang ibu..."
Alice tertawa kecil dua kali. Ia merasa senang melihat putrinya kembali bersemangat.
Alice kemudian menengadahkan kepalanya. Ia menyipitkan matanya melihat langit biru yang cerah.
~
"Oh~ Bukanlah ini Baal? Sedang apa kau disini?" Kata Astaroth yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Jauh di atas langit, Baal melayang memandang ke bawah. Sudah sejak tadi ia berada disana. Pandangannya tidak bisa lepas dari sosok wanita yang sebelumnya ia temui di malam itu.
Padahal malam itu adalah pertama kalinya ia bertemu dengan wanita itu. Namun pikirannya sudah hampir penuh karenanya. Baal tidak tahu apa yang terjadi padanya. Selama hidupnya, baru kali ini dia merasakan rasa gelisah, penasaran dan ada sesuatu yang membuatnya tenang ketika ia melihat atau memikirkan wanita itu.
Astaroth bertanya sambil menyeringai. "Hoho... Apakah yang sedang kau lihat di bawah sana." Ia lalu mengikuti arah pandangan Baal.
Astaroth adalah salah satu sosok yang hadir dalam perundingan kala itu. Bersama Paimon dan Baal, ketiganya adalah keberadaan yang datang dari dunia yang berbeda.
"Sejak kapan Tuan Baal kita tertarik pada seorang wanita." Matanya melengkung dengan suara menggoda. Astaroth berputar-putar di sekeliling Baal, ia lalu berhenti di belakangnya. "Hmm~ Aku penasaran apa yang membuat mu terus melihatnya. Ah, bagaimana kalau aku turun dan memeriksanya sendiri." Astaroth pun bergegas terbang ke bawah, tapi Baal lekas menahan lengannya.
Astaroth berbalik dengan wajah sedikit kesal. Namun Baal tidak peduli. Ia malah mengencangkan genggamannya.
Saat ia mendengar wanita itu ingin ke bawah dan memeriksanya. Tangan Baal spontan meraih lengannya. Baal tidak mengerti dengan sikap refleks nya itu. Tapi dia paham dengan sifat Astaroth. Dari raut wajahnya yang tersenyum licik, Baal tahu kalau Astaroth akan melakukan sesuatu pada wanita itu.
Takut? Cemas? Prihatin? Sejak kapan dia memiliki perasaan seperti itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?!" Astaroth bertanya sambil mengeratkan rahangnya. Matanya melototi Baal dengan tajam.
Baal terdiam menatap Astaroth dengan ekspresi datar. Ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan. Memikirkan kalau wanita yang ada di bawah sana akan terluka karena Astaroth, membuat dadanya nyeri.
Baal benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi padanya. Baru kali ini ia merasa campur aduk dan ambigu seperti itu.
Baal melepaskan cengkeramannya. Dengan suara monoton ia berkata. "Aku tidak peduli dengan apa kau lakukan diluar sana. Tapi jangan pernah menyentuh nya."
Astaroth mendengus kesal. "Kenapa? Apakah Baal yang perkasa benar-benar tertarik pada seorang manusia sepertinya?" Astaroth berhenti sejenak kemudian ia melanjutkan. "Heh! Terserah kau saja. Aku hanya kemari menyampaikan pesan dari Paimon. Dia bilang kalau sebentar lagi rencana kita akan segera dimulai. Kau sebaiknya-"
Belum ia selesai dengan kalimatnya, Baal menyela. "Lakukan saja terserah kalian."
Astaroth berdecak. Andai saja ia lebih kuat, sudah dari tadi ia menghajarnya.
Astaroth pun berlalu pergi dengan geram. Ia hanya bisa menelan rasa pahit karena tidak bisa berbuat apa-apa pada Baal.