Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 33



"Hyaaaaaattt!!! [Power Thrust]"


Iblis itu tersenyum lebar ketika serangannya pas mengenai dada Alice tapi hanya beberapa detik saja berlalu, senyum itu menghilang saat ia sadar kalau Alice tak bereaksi bahkan tak bahkan tak ada darah yang mengalir.


Iblis berpedang itu sekali lagi melihat sosok yang di depannya dengan jelas. Ia kaget ketika mendapati pedangnya tak menusuk apapun.


"Ba-Bayangan?!" Iblis itu terbelalak dan segera berbalik ketika merasakan seseorang di balik punggungnya.


Ia mundur selangkah dan dengan serangan yang sama ia mengarahkan pedangnya pada leher Alice.


Kali ini Alice tidak bergeming dari tempatnya tapi iblis itu kehilangan keyakinannya setelah ia melihat dengan jelas serangannya digagalkan hanya dengan dua jari saja.


Alice menahan bila pedang itu di antara jempol dan telunjuknya. Daya ledak dari kemampuan iblis itu menghempaskan kepulan debu yang menyelimuti mereka.


"Aku sudah lelah bermain-main dengan kalian. Bukankah dari awal harusnya kau sadar kalau kemampuanmu bahkan tidak memenuhi standarku?" Alice memandang Iblis di hadapannya dengan dingin.


Setelah keduanya terlihat, para penonton jadi bernafas lega mengetahui kalau Alice ternyata baik-baik saja. Mana yang dahsyat yang dikumpulkan iblis berpedang itu sempat membuat orang-orang khawatir.


Iblis bertongkat itu mendecihkan lidahnya. Ia kesal dan kembali memerintahkan ular raksasa itu menyerang Alice.


Ular itu mengangkat tinggi kepalanya. Asap tebal berwarna hijau seolah semakin padat menyembur dari sela-sela mulutnya. Ular itu kemudian menembakkan cairan hijau yang ada sangat asam pada Alice.


Meski perhatiannya terfokus pada iblis yang di depannya, Alice tak tinggal diam. Ia membuat pelindung dari Qi untuk menahan semburan racun ular itu.


Ular itu geram, ia berdesis kencang sebelum melancarkan serangannya bertubi-tubi pada Alice. Sayang sekali, Qi Alice begitu kuat hingga ia tak mampu menembusnya.


"Peliharaan kalian terlalu mengganggu... Sebaiknya-"


"Sekarang!!!" Teriak iblis bertongkat itu tiba-tiba yang membuat ular berhenti dan iblis berpedang itu melompat mundur menjauhi Alice.


Iblis bertongkat itu tertawa terbahak-bahak. Dengan seringai di wajahnya berkata. "Sekarang sudah tamat riwayat mu."


Melihat sebuah susunan sihir yang langsung terbentuk dan mengurungnya, Alice bertanya-tanya dalam benaknya tentang trik apa lagi yang akan mereka lakukan kali ini.


"Aku tidak menyangka kalau akan menggunakannya disini. Manusia hina!" Iblis itu menunjuk Alice dan menaikkan suaranya. "Lihat! Dengan gulungan sihir ini kau sudah terjebak dan tidak akan bisa kemana-mana lagi. Susunan sihir yang diciptakan untuk menyerap Mana mu hingga kering lalu memasukkannya ke dalam kristal ini." Jelasnya sambil ia menunjukkan batu kristal putih pada semua orang. Iblis itu kembali tertawa lalu ia merobek gulungan di tangannya dan membuat susunan sihir yang mengelilingi Alice aktif.


"Setelah batu ini menyerap habis Mana mu maka kau tak ada lagi bedanya dengan orang biasa." Akhirnya lalu ia tertawa lepas.


Orang-orang mulai khawatir. Begitu pun Raja dan beberapa orang yang tahu dan merasa akrab tentang batu itu. Batu kristal itu hampir sama dengan batu kristal yang biasa mereka pakai untuk mengindentifikasi tingkat dan jumlah mana seseorang. Kristal itu akan berubah warna sesuai dengan kapasitas Mana dari orang yang menyentuhnya tapi...jika apa yang dimaksud iblis itu benar bahwa batu itu mampu menyerap Mana, maka Alice tidak akan berkutik lagi setelah ia kehabisan mana.


Alice dengan wajah dan sikap yang tenang merasa baik-baik saja. Ia bahkan rela menunggu untuk melihat reaksi mereka selanjutnya. Jika memang susunan sihir itu hanya menyerap Mana, lalu untuk apa ia melewatkan kesenangan setelah melihat lawannya putus asa.


Setelah susunan sihir itu aktif, kedua iblis itu sudah siap untuk menyerang Alice ketika batu kristal telah selesai menyerap Mana miliknya.


Wajah sumringah itu perlahan berubah setelah beberapa saat. Iblis bertongkat itu mengernyitkan alisnya. "Apa yang terjadi? Sihirnya sudah aktif tapi kenapa kristal ini tetap tak berubah warna." Benaknya heran.


"Ada apa?" Tanya iblis berpedang itu melihat mimik wajah rekannya.


Pedang dan taring ular itu sudah tak sabar untuk merobek dan mengoyak tubuh Alice tapi...berapa lama mereka harus menunggu.


"Dari reaksi mereka sepertinya rencana mereka gagal." Kata Leon.


"Benarkah? Lalu apa Nona baik-baik saja?" Tanya Mary penuh cemas.


"Ya, Kurasa untuk saat ini Nona masih baik-baik saja." Jawabnya namun tetap tak bisa melenyapkan raut wajah gelisah Mary.


Di pihak lainnya Raja dan pengawalnya menghela nafas lega karena mereka yakin kalau Alice tidak menunjukkan adanya perubahan dan sikapnya yang tetap tenang.


Iblis itu mulai kesal seiring waktu berlalu namun tak terjadi apa-apa. "Kenapa kristal itu ini tetap putih? Apakah susunan sihirnya gagal? Tidak mungkin. Tuan tidak mungkin memberikanku sebuah rongsokan. Aku yakin susunan sihirnya benar-benar aktif." Iblis itu mengangkat wajahnya dan memandangi Alice. "Apa jangan-jangan....gadis itu tidak mempunyai Mana?!" Setelah melihat kristal di tangannya dengan penuh keraguan, ekspresi yang terbelalak saat ia tiba-tiba memandang Alice menunjukkan kalau ia sudah mendapatkan jawaban atas kegagalannya.


"Tepat sekali." Ucap Alice seolah-olah tahu apa yang di pikirkan oleh Iblis itu.


Iblis itu menunjuknya dengan raut wajah geram tak percaya. "Bagaimana mungkin kau tak memiliki Mana?!! Lalu bagaimana dengan serangan dan kemampuanmu itu?"


Sontak orang-orang yang mendengarnya terkejut. "Bagaimana mungkin gadis itu tidak memiliki Mana?" Sebagian dari mereka percaya dan sebagian lainnya mengaggap kalau itu hanya omong kosong belaka. Jika itu bukan sihir, lalu apa itu adalah kekuatan fisik semata? Mustahil dengan tubuh kecil itu untuk melakukan semua gerakan dan serangan yang telah mereka saksikan sebelumnya.


Iblis itu mulai kehilangan ketenangannya. Pikirannya jadi kacau karena harapan satu-satunya telah hilang. "Kalau begini maka tak ada cara lain lagi selain melarikan diri." Benaknya.


Iblis bertongkat itu memanggil rekannya. menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu mengangguk, sepertinya mereka saling memberikan isyarat satu sama lain.


"Devouring Serpent!!!" Ular itu kembali membuka rahangnya dan menyerang Alice.


"Sudah cukup untukmu." Sebelum ular itu menyerangnya, Alice lebih dulu mengayunkan tebasan tangannya kebawah sehingga menciptakan puluhan pedang dari bunga plum tepat di atas ular itu.


Kali ini bila pedang-pedang bergerak lebih cepat hingga menembus tubuh ular itu. Dari ekor hingga kepalanya pedang itu menghujani tubuh ular itu hingga tembus dan membuatnya itu mati seketika. Tubuhnya perlahan lenyap dan berubah menjadi asap hitam.


Alice menoleh ke belakang. Ia melihat sebuah portal hitam tiba-tiba muncul tak jauh dari tempat iblis bertongkat itu berdiri.


"Aku sudah selesai menyiapkan gerbangnya. Sekarang saatnya." Teriak Iblis bertongkat itu pada rekannya.


Alice mendengus lalu tiba-tiba menghilang dari tempatnya. Dengan cepat ia melayangkan tendangan yang sangat keras pada iblis bertongkat itu sampai membuatnya terlempar hingga keluar arena. Ia meronta kesakitan sebelum akhirnya berusaha bangkit, Namun baru saja ia mengangkat setengah tubuhnya. Pedang bunga plum menusuk salah satu kakinya hingga tertancap ke tanah. Iblis itu menjerit berteriak kesakitan tapi Alice tak begitu lembut untuk membiarkannya begitu saja. Sekali lagi ia menancapkan pedang yang sama di kaki yang satunya. Iblis itu berteriak lagi semakin keras, lalu ia tergeletak di tanah. Tak sampai disitu, Alice lagi-lagi menancapkan pedangnya di kedua lengan iblis itu hingga membuatnya itu tak lagi bisa bergerak.


Suara teriakan itu begitu nyaring dan membuat hati penonton lirih. Kejam, mereka berpikir kalau gadis itu terlalu sadis, bukankah itu sudah keterlaluan?


Alice sadar dengan pandangan penonton yang mulai menyimpang. Lantas kenapa? Kalian membencinya dan aku mewakili kalian untuk menghukumnya, jika aku kejam menurut kalian, katakan itu setelah mereka membunuh keluarga kalian.


Ular dan iblis bertongkat itu telah kalah, sisanya adalah iblis berpedang itu.


Iblis berpedang itu sadar ketika matanya dan mata Alice bertemu. Tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri. Dari awal mereka dipermainkan, dari awal gadis mudah itu memang tidak memandang mereka sebagi musuh yang sepadan, dari awal mereka telah salah.


Tubuhnya terutama kaki iblis berpedang itu bergetar hebat. Ia putus asa. Suara langkah kaki Alice yang perlahan mendekat membuatnya semakin kehilangan tenaga. Iblis itu jatuh berlutut, ia menggertakkan giginya lalu menengadahkan wajahnya ke langit. Ia diam dan hening sejenak sebelum akhirnya ia berteriak "DEMI DIA YANG AGUNG!!!" Lonjakan Mana yang berantakan tiba-tiba berkumpul di tubuhnya. Alice sadar dan cepat-cepat melindungi dirinya dengan energi Qi.


Ledakan yang cukup besar menghancurkan setengah arena.


""Kakak!!!"


""Nona Alicia!!!"


Iris, Marianne, Leon, Mary dan yang lainnya terkejut dengan aksi yang tak di duga itu. Siapa sangka kalau iblis itu akan meledakkan dirinya.


Alice berjalan keluar dari kepulan asap itu membuat mereka lega.


"Syukurlah nona baik-baik saja." Kata Mary dan Leon


"Kakak..." Gumam memanggil pelan namanya. Iris dan Marianne, keduanya segera berlari menuju lorong masuk arena untuk menghampiri Alice.


Alice berjalan perlahan masuk ke dalam lorong itu. Marianne yang lebih dekat, lebih dulu tiba dan segera memapah Alice.


"Kakak Nian" Panggilnya dengan wajah penuh cemas memandang raut wajah Alice yang kelelahan.


Alice menepuk pundak Marianne "Aku tidak apa-apa. Sisanya...ku serahkan padamu. Biarkan aku tidur sebentar." Ucapnya dengan suara yang pelan dan lemah lalu Alice pun memejamkan matanya.


"Kakak..."