
Melihat kehadiran wanita itu, Iris mengurungkan niatnya untuk memberitahu kedua orang tuanya mengenai keberadaan Alice.
"Oh, Iris. Ada perlu apa kemari?" Liana menegurnya saat ia melihat Iris masuk dan berdiri depan pintu.
"Tidak bu. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu tapi sepertinya kalian sedang kedatangan tamu. Mungkin, aku akan mengatakannya lain kali saja." Iris mengangkat bagian bawah gaunnya, tak lupa juga ia tersenyum pada tamu wanita itu meski sebenarnya hatinya begitu enggan untuk melakukan hal itu.
Sebelum ia melangkah ke luar dari ruangan itu, Iris membisikkan sesuatu pada pelayan wanita yang berdiri di dekatnya.
"Aku ingin kau mendengarkan mereka dengan baik dan sampaikan padaku tentang apa yang mereka bicarakan." Pelayan itu menjawabnya dengan anggukan.
Setelah menunggu cukup lama di kamarnya. Iris yang duduk di meja belajarnya berbalik menghadap pintu saat ia mendengar suara ketukan.
"Masuklah."
Dia adalah pelayan yang sebelumnya mendengarkan perbincangan Duke dan Duchess dengan tamunya. Pelayan itu membungkuk sejenak lalu ia berjalan perlahan dan berdiri di depan Iris.
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Mereka sedang membahas tentang pembasmian monster."
"Monster? Lalu apa lagi?" Iris menyipitkan matanya. Ia bertanya-tanya dalam benaknya dengan apa yang sedang terjadi. "Sejak kapan mereka bergerak? Apakah menara penyihir ketinggalan informasi ini?"
"Nyonya itu ingin meminta bantuan pada Tuan untuk mengirimkan pasukannya dan membasmi monster yang sedang bergerak di beberapa wilayah." Kekuatan pasukan yang didik di bawah keluarga Strongfort tentu tidak diragukan lagi.
Apakah kejadian ini ada sangkut pautnya juga dengan ras iblis? Siapa lagi kalau bukan mereka yang selalu mengacaukan semuanya.
"Apa yang dikatakan oleh ayah dan ibu ku?"
"Mereka menyetujuinya."
Seketika Iris mengeratkan giginya. Ia mengepal tangannya sekuat mungkin. "Wanita itu...!!"
"Dimana dia sekarang?"
Pelayan itu jadi takut saat ia melihat Iris yang marah. Ia menunduk dan tak berani mengangkat kepalanya. "S-saat ini Tuan dan Nyonya sedang mengantar kepergiannya."
Iris memalingkan pandangannya. Ia melihat ke luar jendela sembari memikirkan sesuatu. Kemudian ia berdiri dan mendekati pelayan itu.
"Aku ingin kau segera menyusul mereka dan sampaikan pada wanita itu kalau aku ingin menemuinya. Katakan bahwa ini ada hubungannya dengan kakakku."
"B-baik Nona." Pelayan itu membungkuk dan berlalu. Ia bernafas lega saat ia keluar dari ruangannya. Baru kali ini ia melihat Nona nya sebegitu marahnya.
Setelah Claire mendiskusikan permohonannya, ia pun meninggalkan kediaman Strongfort. Ia berbalik untuk tersenyum pada Duke dan Duchess yang berdiri di depan pintu.
"Nyonya..." Seorang pria dengan pakaian serba putih yang hampir sama dengannya, datang mendekat lalu berkata. "Saya mendapat pesan dari seorang pelayan kalau Nona Iris ingin bertemu dengan Anda." Lanjutnya.
Claire mengangkat salah satu tangannya. "Tidak. Kita tidak punya banyak waktu. Aku akan mengirimkan surat permohonan maaf padanya nanti."
Pria itu tampak khawatir. Ia ingat dengan apa yang disampaikan oleh pelayan wanita itu selanjutnya. Saat pelayan itu menyebut nama Alice, rasa malu seakan menariknya dan membuatnya sadar akan dosa-dosa mereka sebagai seorang pengurus kuil dan pengikut Sang Dewi.
"Tapi Nyonya, Dia bilang kalau hal ini ada kaitannya dengan Nona Alicia."
Langkah Claire untuk menaiki anak tangga kereta kudanya berhenti seketika. Ia berbalik menatap pria itu dengan kedua alis yang terangkat. "Nona Alicia?.... Baiklah. Kita akan menemuinya."
Tak jauh dari kediaman Strongfort. Kereta kuda milik Claire berhenti di sisi jalan yang terdapat lahan kosong di dekatnya. Ia melihat gadis berambut hitam sedang berkacak pinggang menatapnya.
Claire turun lalu menghampirinya. "Selamat Sore Nona Iris."
Iris tak menjawab sapaan itu, sebaliknya ia menatap Claire begitu sinis. "Langsung saja. Aku ingin membuat kesepakatan denganmu." Nada bicaranya terdengar sedikit tidak sopan, meski begitu Claire tidak terlalu memperdulikan hal itu. Kedatangannya hanya ingin memperjelas maksud Iris yang ingin menemuinya.
"Kesepakatan seperti apa itu? Saya dengar kalau Anda ingin menemui saya karena ini ada kaitannya dengan Nona Alicia."
Iris melipat kedua tangannya di depan dadanya. Ia berjalan selangkah lebih dekat. "Benar. Tapi sebelum kita membahas mengenai kakakku. Bagaimana kalau kau mendengarkan ku dulu."
"Baiklah." Tatapan teduh Claire menjadi serius. Sekali lagi, bukan kata kesepakatan yang menarik perhatiannya tapi Alicia lah yang membuat ia seperti itu.
Alicia Lein Strongfort merupakan sebuah penyelamat sekaligus aib bagi mereka. Karena kelalaiannya sehingga membuat gadis itu menghilang dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya.
Claire sungguh merasa malu pada keluarga Strongfort. Bahkan saat ia datang pada mereka tadi, Claire menggigit bibirnya sebelum ia membuka pintu untuk menatap wajah kedua orang tua Alice.
"Aku akan ikut serta dalam pembasmian itu. Dengan kekuatanku, aku yakin bisa mempermudah kalian."
"Anda benar. Kami memang sangat membutuhkan kekuatan penyihir level 5. Namun..." Claire ragu. Bukannya ia tak menginginkan tawaran Iris. Justru sosok penyihir level 5 akan memberikan kontribusi yang besar. Tapi mengingat bahwa dia adalah putri seorang Strongfort. Claire harus meminta pendapat Duke dan Duchess terlebih dahulu.
Melihat kebimbangan yang dipancarkan oleh mata Claire, Iris menambahkan "Tak perlu mengkhawatirkan tentang ayah dan ibuku. Aku yang akan mengurus itu."
Claire menghela nafasnya. "Baiklah kalau Nona Iris bilang begitu. Lalu, apa yang Anda inginkan sebagai hasil dari kesepakatan ini?"
Tanpa basa-basi, Iris berterus terang. "Aku ingin kau mengatakan semuanya tentang apa yang terjadi pada kakakku sebelum ia menghilang. Aku yakin kalian masih menyembunyikan sesuatu. Sekalipun kau meminta maaf pada ayah dan ibuku, namun aku belum memaafkan mu sebelum memastikan kebenaran yang sesungguhnya. Cliff atau siapalah itu, aku sudah mencari tahu sedikit tentang kalian tapi bagaimanapun aku mencari-cari. Informasi tentang hari itu tertutup begitu rapat, sampai-sampai para pengurus kuil kelas bawah pun berani mengabaikan ancaman ku." Iris mendecihkan lidahnya. Ia mengingat ekspresi takut pengurus kuil waktu itu. Satu serangan sihir lagi maka nyawanya sudah melayang namun pengurus itu tetap tidak mau buka mulut. Iris benar-benar dibuatnya jengkel. Ia meninggalkannya begitu saja karena tak ada yang bisa ia keruk.
Claire terdiam untuk waktu yang cukup lama. Memang benar apa yang dikatakan Iris. Saat ia datang meminta maaf pada keluarga Strongfort. Claire D'Orleans sebagai Kepala Kuil tidak memberitahukan tentang ramalan dan tujuan sebenarnya dari tindakan Cliff.
Claire sendiri hanya mendengar cerita tentang Alice yang sekuat tenaga bertarung melawan Cliff. Adapun tentang ramalan itu, Claire bisa menyimpulkan kalau perilaku menyimpang Cliff pasti ada seseorang yang berkaitan di belakangnya. Upaya pembunuhan, penculikan dan kerjasamanya dengan ras iblis. Claire hanya mengatakan hal itu saja pada Duke dan Duchess Strongfort.
"Apakah begitu sulit untuk dikatakan. Apakah kalian orang-orang Kuil berpikir bisa seenaknya saja melakukan sesuatu atas nama Sang Dewi dan kebajikan?" Iris menjadi semakin gelisah. Ia tergesa-gesa dan nadanya kian meninggi. "Jawab Aku! Kakakku! Aku ingin tahu apa yang kalian sembunyikan dengan mengincar kakakku selama ini?!"
Claire tertegun. Lidah keluhnya mulai bergerak. Padahal yang tahu tentang tindakan Kuil yang mengawasi Alice hanyalah Duke seorang namun, gadis di depannya itu sudah mengetahuinya sampai sejauh itu.