Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 151



[Sonic Leapt]


Asiya menerjang cepat diiringi dengan tebasan pedangnya. Echidna mengangkat salah satu lengannya untuk menahan serangan itu. Walaupun tidak terlihat, tapi kulit manusia milik Echidna sebenarnya lebih keras daripada logam orihalcum. Itulah zirah alami milik ras naga. Semakin kuat mereka, maka semakin keras pula sisik atau kulit yang mereka miliki.


Melihat Asiya yang mendorong tubuhnya untuk melompat ke atas dengan mengandalkan daya ledak serangnya, Echidna tersenyum tipis. Dia baru saja memikirkan sesuatu.


[Sword Aura] [Raging Blaze] [Meteor Impact!]


Setelah melapisi pedangnya dengan Mana lalu membuatnya membara dengan api berwarna biru, Asiya berguling di udara, kemudian ia menukik ke bawah dengan bilah pedangnya yang siap menghantam Echidna.


Benturan serangan Asiya dan pertahanan Echidna menghempaskan debu udara di sekitar mereka dan membuat tanah di sekeliling mereka ikut retak. Asiya menyeringai ketika telinganya samar-samar mendengar suara retakan seperti sebuah kaca. "Hehe...Tembus. Sekarang, rasakan lah serangan ku yang membara ini." Dia yakin kalau suara itu berasal dari perisai Echidna.


Echidna melompat mundur. Pedang Asiya menghantam tanah dengan kuat. "Kenapa kau menghindar? Takut?Hmm?" Asiya terkekeh penuh kepuasan.


Merasa peluang ada di tangannya, Asiya tidak akan membiarkan gadis kecil itu kabur atau menyerang balik.


[Blink]


Berbeda dengan kemampuan [Haste]. [Blink] adalah kemampuan gerak langkah kaki yang bahkan lebih cepat. Tidak hanya mengumpulkan Mana secara dominan pada bagian kaki saja. [Blink] lebih seperti menyelimuti seluruh tubuh dengan Mana. Hal itu diperlukan agar melindungi tubuh untuk terhindar dari cedera karena pergerakan yang sangat cepat. Sayangnya, kemampuan ini terlalu boros menggunakan Mana dan banyak orang yang tidak begitu ingin mempelajarinya.


Dalam sekejap mata Asiya telah berada di belakang Echidna. "Kemana kau melihat hah?! Aku disini! [Wind Thrust]"


Asiya melayangkan serangan tusukan berselimut elemen angin. Echidna terkejut, ia segera berbalik namun ujung pedang Asiya sudah di depan matanya. Echidna hanya bisa menahannya dengan kedua lengannya, lalu iapun terdorong kebelakang.


[Mana Bullet] [Mana Bullet] [Mana Bullet] [Wind Dagger] [Sonic Flame]


Serangan bertubi-tubi Asiya tampak membuat Echidna kewalahan. Suara retakan yang tadinya hanya terdengar samar-samar kini menjadi jelas.


Tebasan api Asiya membakar kulit Echidna. Perisai yang kuat itupun akhirnya hancur.


Asiya tertawa lepas. Ia tersenyum lebar lalu berkata. "Bagaimana? Aku sudah bilang padamu untuk tidak menghalangi ku bukan? Haha...hahahaha... Kalau begitu, terimalah KEMATIAN MU!"


[Destructive Eternal Flame]


Saat ia menarik pedangnya ke belakang dan memadatkan Mana pada pedangnya. Dengan sebuah kuda-kuda yang lebar, Asiya mendorong ujung pedangnya yang berselimut api biru dengan cepat dan kuat.


Api itu melesat dengan sangat cepat menuju Echidna. Layaknya sebuah tombak, Api itu membuat Echidna terhempas ke luar dari atas benteng.


"Tidak...!" Teriak histeris Helian saat melihat tubuh gadis kecil itu hangus terbakar dan terlempar. Serangan Asiya begitu kuat sampai bisa menerbangkannya.


"Bagaimana mungkin? Bagaimana ini bisa terjadi? Dia..." Helian tertunduk menyesali keputusannya. Melihat gadis kecil itu berjuang untuknya dan kalah, bukannya takut karena ia kehilangan pelindung terakhirnya, tapi dia menyesal dan takut karena tidak tahu bagaimana dia akan melihat Alice nantinya.


Apakah perkiraannya salah dan mengira kalau Echidna bisa menyelamatkan adiknya?


Wajah Helian menjadi gelap karena putus asa. Putri rekannya mati karena dirinya.


"Ini semua karena ku. Jika seandainya aku tidak memintanya untuk menyelamatkan adikku. Aku yakin hal ini pasti tidak akan terjadi." Air matanya berlinang menetes ke atas kakinya.


"Tidak ada gunanya menangisi dia. Benar, ini semua karena mu. Dia mati itu gara-gara kau." Ucap Asiya sambil ia melangkah dengan santai menghampiri Helian. Ia menggunakan sihir angin dan api untuk mengekang Helian.


"Agh!"Helian menjerit kesakitan. "Kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir ku?" Pikirnya. Sejak kedatangan Asiya, Helian sudah curiga dengan kondisinya yang tiba-tiba melemah. Dia melirik ke sebuah gelang yang ada di tangan Asiya yang menarik perhatiannya. "Rune itu...Mana Extinction. Pantas saja aku merasakan kalau energi Mana ku perlahan-lahan menipis."


Helian mengangkat kepalanya. Ia menggigit bibir bawahnya. Kemudian ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu berkata. "Kau benar. Lalu, apakah kau sungguh akan membunuhku?" Dengan kondisinya saat ini. Dia tidak memiliki peluang untuk melarikan diri atau bertahan.


"Tentu saja. Hehehe, bodoh. Untuk apa menanyakan hal yang sudah jelas." Asiya memainkan pedangnya di tangannya.


"Apakah kau... sebegitu bencinya padaku? Apakah ini benar-benar apa yang ingin kau lakukan?"


Asiya memalingkan pandangannya sejenak. Dia merasakan sesuatu ketika menatap mata basah Helian.


Sebuah getaran berdentum dalam batinnya. Hatinya yang seolah tenggelam dalam lautan haus darah dan obsesi, terasa seperti diketuk. Niatnya mulai kendur, pedangnya gemetar karena rasa ragu.


"Sial! Diam! Kau berisik! Diam dan terima saja kematian mu!" Asiya menghentak-hentakkan kakinya kesal, lalu dia mengangkat pedangnya ke langit. Ia menepis keraguan yang mengganggu kepalanya.


Entah kenapa, tiba-tiba pedangnya terasa berat dan sulit untuk ia dorong ke depan. "Kenapa?! Padahal tinggal sedikit lagi. Ayo bunuh! Bunuh! Bunuh dia! Kau hanya perlu sekali ayunan dan kau pun menang. Akhiri semuanya. Apakah kau tidak lelah untuk terus dibandingkan?"


Emosi negatif itu tidak henti-hentinya berbisik memaksa Asiya. "Ugh..." Ia merintih memegangi sisi kepalanya.


Jauh di dalam hatinya, Asiya yang terbangun bertemu dengan sisi lain dirinya. Ya, itu adalah bayangan hitam dari emosi negatif miliknya.


Tidak! Hentikan ini!


Kenapa?! Bukankah ini adalah keinginan mu? Kenapa berhenti?


Kau salah, aku...tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Aku hany ingin-


Ingin apa? Aku tahu, aku bisa merasakannya. Ekspresi mu, wajah mu, aku bisa melihat kecemburuan di dalam tatapan mu. Apa aku...benar?


......


Hehehe...aku benar bukan? Kalau begitu tunggu apa lagi? Waktunya untuk mengakhiri ini semua.


T-tidak! Itu tidak benar! Kau salah!


Apanya? Lalu, apakah kau ingin kembali menerima tatapan para penghuni istana itu? Mereka selalu membandingkan mu dengannya, bukan? Bahkan kebanyakan mereka tidak menganggap mu ada. Kau bukanlah darah bangsawan murni, kelas rendahan, hama, elf rendah yang hina. Apalagi? Heh! Bahkan aku ragu kalau setelah ini berakhir kau bisa selamat.


.....


Berhenti berpikir. Kau adalah pengkhianat. Meskipun kau adalah adiknya lalu kenapa? Siapa yang bisa menyelamatkan dirimu? Tidak ada. Benar kan?


Kau... benar tapi...


Bunuh dia, rebut tahtanya, balas dendam pada mereka yang selalu meremehkan mu dengan begitu semuanya akan selesai.


Benar tapi aku tak ingin kakakku mati.


Tidak, kau salah. Kau menyelamatkannya. Apakah kau ingat selama ini dia selalu menjalankan tugasnya sebagai seorang Ratu dengan baik, tapi apa? Para bangsawan itu sebenarnya hanya mempermainkannya dan membiarkan dia menari-nari di atas telapak tangan mereka.


Kakak.....


Dengan membunuhnya kau bisa menyelamatkannya. Ambil posisinya dan dengan begitu kau bisa menunjukkan bahwa kau bisa membantunya. Bagaimana?


Kau... benar. Aku... harus menyelamatkannya dari penderitaan.


Bayangan hitam dari kumpulan emosi negatif miliknya tersenyum puas. Bujuk rayunya berhasil.


Asiya kehilangan cahaya di matanya. "Asiya! Asiya!" Panggil Helian namun suaranya sudah tak lagi mampu menggapai adiknya. Asiya telah sepenuhnya tenggelam dan tubuhnya bergerak sesuai dengan keinginan emosi negatifnya itu.


Asiya sekali lagi mengangkat pedangnya. Pedang berlapis Mana itu siap untuk menebas Helian. Kali ini, bisa dipastikan kalau tidak ada lagi yang akan menghalanginya.


Helian memejamkan matanya. Untuk terakhir kalinya ia mengingat wajah tersenyum, panggilan merdu dan sikap manja dan imut adiknya yang pernah terukir dalam ingatannya.


Helian menghela nafasnya. Ia menatap Asiya, memberinya sebuah senyum pahit sebagai tanda perpisahan.


"Selamat tinggal...kakak..."