Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 60



Setitik cahaya energi dari sisa kehendak jiwa pahlawan kuno melayang di atas telapak tangan Alice.


Nyx bersyukur dalam hatinya karena ia tidak gegabah Untuk menyerang Alice, ia juga merasa lega setelah Alice memaafkan kesalahannya. Karena dirinyalah sehingga Cliff dan ras iblis menggunakan kesempatan itu untuk menghancurkan kerajaan Solus dan keluarga Strongfort.


Dengan kekuatan jiwa Alice saat ini ditambah dengan kekuatan pahlawan kuno yang pernah menggemparkan langit dan bumi, Nyx benar-benar tak ada peluang untuk menang. Tapi ekspresi yang Nyx tunjukkan bukanlah rasa ketakutan namun seolah ada bayangan kesedihan yang terpancar dari matanya. Alice melirik ke dalam matanya tanpa Nyx ketahui. Ia ingin menelusuri ingatan Nyx dan melihat apa yang pernah terjadi antara dirinya dan pahlawan kuno. Tapi Alice mengurungkan niatnya. Selain kemampuan itu memakai banyak energi ia juga tidak ingin mengorek rahasia orang lain secara diam-diam.


"Tinggallah disini, aku akan membantumu. Akan ku seret Erebos ke hadapan mu." Ucap Alice setelah meneguk tehnya.


Nyx tersenyum kecil, menurutnya Alice mengucapkan itu hanya untuk menghiburnya. Tapi bagi Alice, ia bersungguh-sungguh untuk melakukan hal itu.


Ribuan tahun silam sebelum sang pahlawan lahir ke Aria. Erebos merupakan saudara Nyx, mereka diciptakan oleh seorang dewa kuno yang perkasa bernama Chaos. Awalnya kehidupan mereka dengan dewa-dewi lainnya baik-baik saja. Namun, semenjak Erebos turun ke dunia manusia, sesuatu membuatnya berubah. Entah sejak kapan ketamakan mengikis dirinya.


Sikap Erebos perlahan berubah dan menjadi 180° bertolak belakang daripada dirinya yang biasa. Salah satunya adalah rasa cintanya pada Nyx yang awalnya sebagai keluarga dan saudara berubah menjadi obsesi dan posesif yang berlebihan. Erebos juga menjadi tak terkendali dengan kekuatan aneh yang ia dapatkan setelah berkelana di Aria. Hingga pada suatu hari, Erebos membunuh Chaos, Ayahnya.


Pemandangan mengerikan itu begitu menyayat hati Nyx. Kini ia tak lagi menyimpan Erebos di dalam hatinya sebagai keluarga melainkan sebagai musuh. Nyx yang tak kuat melawan kekuatan aneh milik Erebos memilih melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat.


Saat Nyx berhenti bercerita, Alice yang masih penasaran bertanya tentang kelanjutannya namun Nyx menggelengkan kepalanya dan diam seolah ia tidak ingin mengungkit kelanjutan cerita itu.


Nyx berjalan ke sisi jembatan dan melihat pemandangan lautan yang indah. Nyx merasa kalau ia mungkin akan menyukai tempat ini walaupun ia harus merelakan keinginannya untuk mendapatkan sebuah raga. "Sudahlah, lagipula aku bisa tinggal dengan tenang disini. You Nian, maksudku Alice adalah gadis manusia yang kuat. Aku merasakan kalau Jiwanya bukanlah jiwa yang berasal dari dunia ini" Gumam Nyx menopang dagunya di atas pembatas jembatan. "Bahkan..., dia memilih Alice." Lanjutnya dengan suara yang semakin senyap. Apa yang Nyx maksud tentang kata dia adalah sosok pahlawan kuno itu.


Mata Alice mengikuti Nyx yang dipanggil dewi itu yang sedang berjalan-jalan di sisi jembatan. Meski hidup ribuan tahun lamanya tapi pengalaman hidup mereka sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, Alice melihat Nyx tidak jauh berbeda dengan gadis remaja yang baru mengenal pahit manisnya dunia.


Alice membuka telapak tangannya sekali lagi, ia meletakkannya di atas meja dan melihat sisa kehendak jiwa yang ia dapatkan di altar itu. Tanpa sengaja, kehendak jiwa itu ikut terserap ke dalam dirinya ketika ia sedang melakukan penerobosan. "Meskipun kehendak jiwa ini lemah tapi dengan kekuatan seperti ini saja, ia mampu melindungi tempat itu dari para monster." Benak Alice saat ia mengingat lembah itu yang dimana tak ada satupun monster di sekitarnya, sebelum akhirnya kehendak jiwa itu masuk ke dalam tubuhnya. "Aku tak bisa membayangkan sekuat apa pahlawan kuno itu semasa hidupnya."


~


Beberapa jam sebelum Alice terhisap masuk ke dalam lubang hitam.


Di luar kuil Andrew dan Amy yang bertugas untuk mengawasi dan melindungi Alice menjadi semakin gelisah karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa melihat Alice di kawal masuk ke dalam kuil.


Andrew memutuskan untuk pergi melaporkan hal itu secepat mungkin pada Masternya. Dengan mengendarai griffin, ia meninggalkan Amy untuk berjaga.


Tidak butuh waktu berjam-jam lamanya. Andrew berhasil sampai ke akademi setelah ia memaksakan griffin miliknya berpacu secepat mungkin.


Andrew segera bergegas menuju kamar Marianne. Setibanya disana, amarah Marianne bergejolak saat ia mendengar laporan Andrew. Marianne meremas gelas di tangannya hingga pecah berantakan. Ia lalu mengganti pakaiannya dan mengambil pedangnya.


Malam begitu panjang. Dalam perjalanannya di atas griffin milik Andrew, Marianne tak bisa melepaskan rasa cemasnya pada Alice. Punggung lebar Andrew terasa mengecil saat ia harus merasakan tekanan kekuatan Masternya yang ada di belakangnya.


Disisi Amy mulai panik, wajahnya memucat ketika membayangkan bagaimana ia akan melaporkan apa yang baru saja ia lihat pada Masternya. Amy menggigit jarinya, ia langsung menoleh dan melompat ke depan saat melihat Marianne datang. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.


Melihat gelagat Amy, perasaan Marianne makin tak enak. "Katakan padaku apa yang baru saja terjadi."


Amy melirik takut ke arah Andrew dan kembali melihat Marianne, matanya langsung ia tarik turun karena tak sanggup melihat ekspresi Marianne. Amy menunduk dengan perasaan bersalah karena tak bisa memenuhi tugas dari Masternya. "Ta-tadi...aku mendengar sebuah ledakan dan beberapa orang kuil menjadi panik. Aku juga sempat merasakan kekuatan yang dahsyat tadi."


Tanpa kata Marianne membuat suasana diantara mereka menjadi lebih berat. Andrew dan Amy tak bisa melakukan apa-apa untuk memecah kesunyian itu. Dengan pedang di tangannya, Marianne memanggil mereka untuk menuju ke kuil.


Ketika dua penjaga kuil melihat ketiga orang yang berjalan mendekati, mereka melebarkan lengan mereka ke samping dengan maksud menahan ketiganya agar tak masuk ke dalam kuil.


Marianne melirik mereka secara bergantian. "Aku ingin bertemu dengan Kepala Kuil, Saintess atau siapapun petinggi kalian." Ucap dingin Marianne. Marianne tidak begitu gegabah untuk langsung bertindak sebelum mendengar penjelasan mereka.


"Maafkan kami, tapi kami sedang tak bisa mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam." Balas seorang penjaga.


Marianne mengernyitkan alisnya. Ia tidak bisa menunggu, bagaimanapun juga, ia harus segera menemui Alice. Dari dulu, sebelum dirinya mengenal sosok Alice yang ternyata adalah kakaknya, Marianne telah mengawasinya semenjak ia tahu ramalan itu. Marianne yang telah melupakan hal itu, menjadi was-was dengan orang-orang kuil saat ia ingat kalau masih ada orang lain selain dirinya yang mengincar Alice. Dan karena itulah dia berada di sini dengan maksud untuk membawa pergi Alice.


Ketika tangannya sudah siap untuk melumpuhkan kedua penjaga tersebut, Pintu besar itu terbuka dan seorang wanita berambut merah muda berjalan dengan wajah murung.


Marianne mengenal orang itu, dia adalah Saintess Liliana yang juga sahabat Alice. Segera Marianne menahan Lilia dengan berdiri di depannya. "Nona Saintess, Saya sedang mencari Nona Alicia. Apakah saya boleh menemuinya?


Lilia terdiam, ia menatap Marianne sekilas dan melihat sebilah pedang yang ada di pelukannya. Lilia menghela nafasnya. "Kenapa Tuan Putri ada disini?" Benaknya. "Apakah Anda adalah teman dari Nona Alicia?"


Tanpa ragu Marianne langsung menjawabnya "Tentu, kami sangat dekat."


Melihat kesungguhan Marianne, Lilia membalasnya dengan nada rendah. "Maaf saya tidak bisa menjelaskannya disini. Apakah Anda memiliki waktu luang? Saya akan menjelaskannya di dalam kereta."


"Baiklah."


Mata Lilia berkaca-kaca, bisa dilihat juga kalau ia baru saja menangis. Apa yang sudah terjadi?