Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 86



Fee berlari melesat ke dalam hutan. Melewati pepohonan dengan begitu tangkas. Fee melompat dan menghindari rawa yang terlihat berbahaya. Terus dan terus ia berlari menelusuri hutan itu hingga akhirnya Alice yang sejak tadi diam mengamati sekelilingnya angkat suara.


"Fee, Berhenti." Fee mendengar arahan Alice, ia pun berhenti.


"Ada apa?"


"Apakah kau tidak merasakan ada yang aneh saat kau berlarian tadi?"


Fee terdiam sejenak untuk memikirkan apa yang Alice maksud. Satu-satunya yang aneh adalah rawa ini terasa lebih luas dari yang dulu dia ingat. Meski telah berlari begitu cepat, namun dia tak melihat jalan keluar.


"Apakah maksudmu kita terjebak disini?"


"Kurasa seperti itu." Setelah Fee berlari cukup lama untuk menemukan jalan keluar dari rawa itu. Alice merasa aneh ketika dia melihat pemandangan yang hampir sama terus berulang di depan matanya. Pepohonan dan semak yang mereka lewati mungkin terlihat berbeda, namun rawa yang begitu besar di beberapa sisi tempat itu terlihat sama. Satu hal lagi yang ia membuatnya yakin adalah ketika dia menandai beberapa pohon dengan tebasan Qi nya. Alice tahu meski posisi mereka berubah tapi tanda dari energi Qi nya tetap ada di pohon-pohon itu.


Fee baru teringat dua hal. Saat ia pertama kali ke tempat ini, rawa ini tidaklah terlihat mengerikan dan segelap ini, meski ada beberapa monster kecil tapi itu tidaklah menjadi halangan baginya. Dan yang kedua adalah dia lupa kalau dia memiliki skill Clairvoyance. Sangking ia merasa aman karena tempat ini adalah tempat dirinya pernah bernaung, Fee merasa tidak perlu untuk menggunakan kemampuan Clairvoyance nya. Dia baru terkejut saat melihat keanehan dan betapa berbahayanya rawa itu ketika dia mengaktifkan Clairvoyance.


"Apakah kau memikirkan apa yang kupikirkan?" Nyx bertanya setelah ia menampakkan dirinya di samping Alice.


Alice melirik ke arah Nyx. Ia mengangguk "Ada sesuatu yang hidup di tempat ini dan sesuatu itu terus memperhatikan gerak-gerik kita."


Nyx melayang berpindah posisi ke sisi Alice yang satunya. Ia menengadahkan kepalanya "Bahkan aku bisa merasakan adanya energi kehidupan berbeda dari tiap ranting pohon ini." Ujarnya.


Nyx lalu terbang mendekati salah satu pohon. Fee sedikit terkejut saat menangkap sosok bayangan wanita yang muncul tiba-tiba. "Wanita itu..." Batinnya penasaran pada wanita yang memberikan perasaan familiar. "Gelombang energi yang dia bawa tidak jauh berbeda dengan para Dewa-dewi itu. Apakah dia salah satu dari mereka? Tapi...Kalau dia memang adalah seorang Dewi apa yang membuatnya selemah itu sampai-sampai dia tak memiliki raga?"


Melihat reaksi Fee yang tersentak saat ia melihat Nyx yang muncul tiba-tiba. Alice tahu kalau Fee sedang mengamati wanita yang muncul entah darimana itu berdasarkan dari sikap diamnya.


Tanpa sadar ekor Fee berdiri dan bulunya mulai mengembang perlahan. Alice turun dari punggung Fee san mengusap lehernya. "Dia rekan kita. Kau tak perlu siaga seperti itu."


Saat Nyx semakin dekat dengan pohon yang ada di depannya. Sebuah sulur merayap perlahan dan ingin menjerat kakinya. Sayangnya, dia saat ini tidaklah berwujud. Sulur itu menembus tubuhnya. Nyx dan yang lainnya yang melihat hal itu kaget. Nyx pun terbang menjauh ingin kembali ke dalam Alice tapi secara tiba-tiba pohon yang ia dekati tadi terbuka lebar dan mengisapnya.


Beruntunglah reaksi Alice begitu cepat. Alice menebas dengan telapak tangannya yang dipenuhi aliran energi Qi dan membuat pohon itu terkikis hingga menutup kembali bagian batangnya yang terbuka. Setelah mereka memperhatikan dengan seksama. Dua lubang kecil dan lubang besar di batang pohon tampak seperti dua buah mata dan mulut.


"Tatapan yang terus kurasakan ternyata datangnya dari mereka." Gumam Alice.


Apa yang Alice, Nyx dan Fee temukan ternyata adalah monster yang bernama Treant. Mereka tak memiliki kecerdasan, meski begitu mereka mampu melahap apa saja yang mereka temukan di sekitar mereka, selama hal itu mengandung energi yang cocok untuk mereka sebut sebagai makanan.


"Pohon-pohon ini... berhati-hati, meski tidak semua pohon ini adalah monster namun mereka bisa saja bersembunyi dan menunggu kita lengah." Jelas Alice.


Alice menyarungkan pedangnya lalu melihat langit-langit gelap yang penuh akan dedaunan lebat dari pohon-pohon besar lainnya.


Perwujudan jiwa Nyx kembali bersembunyi ke dalam lautan kesadaran Alice. Walaupun dia dapat membakar pohon itu dengan kemampuannya, namun Nyx memilih untuk menghemat tenaganya karena untuk memulihkan energinya, butuh waktu tiga kali lebih lama ketimbang saat ia masih memiliki raga aslinya.


"Fee, kecilkan ukuranmu dan tetaplah bersiaga di sampingku." Seru Alice khawatir jika seandainya para treant itu menyerang secara tiba-tiba.


Setelah menyadari keanehan rawa itu. Alice pun melepaskan sejumlah besar energi dan memperluas kesadaran ilahi miliknya. Alice kaget karena formasi pohon-pohon itu terlihat biasa saja. Tapi ketika mereka melangkah maka para treant yang menyamar menjadi pohon bergerak secara perlahan sampai-sampai telinga pun tidak mendengar suara gerak mereka.


Alice pun menyusuri rawa itu dengan berjalan. Sambil ia memegang pedangnya, Alice sudah siap untuk mengayunkan pedangnya jika memang harus dia lakukan.


"Grgrgrrrr!" Fee tiba-tiba menggeram. Matanya dan instingnya berkata kalau ada bahaya besar yang datang. Dan ya, begitu banyak sulur tiba-tiba menyerang mereka.


Alice dan Fee lekas menghindar. Kali ini, sulur-sulur itu tidak lagi menyerang diam-diam.


"Apakah mereka mulai tidak sabar untuk menyantap kami." Singgung Alice melihat para treant seperti benar-benar kelaparan dan takut makanan mereka pergi.


Alice dan Fee menghindari sulur-sulur itu dan melakukan serangan saat melihat ada celah. Alice menebas sulur dan sumbernya yaitu pohon yang terlihat menyerang mereka. Sedangkan Fee menggunakan api berwarna biru miliknya yang mana sangat efisien untuk berurusan dengan treant.


Para treant mulai semakin tergesa-gesa dan mereka yang terkena serangan dari Alice dan Fee menjadi mengamuk dan mulai menunjukkan wujud mereka.


Tidak sampai disana, para treant yang makin agresif mulai menggunakan ranting panjang dan tajam bak sebuah kuku hewan buas untuk menyerang.


Alice menangkis, menghindari dan melompat sambil sesekali menyerang, Fee serasa tak mau kalah juga. Ia membakar pohon apapun yang ada di hadapannya dengan api besar berwarna biru. Api Fee membara dan terus berkobar membakar mereka satu demi satu.


Alice tersenyum dan merasa senang akan kehadiran Fee. Keduanya bertarung bersama sambil mereka bergerak keluar dari tempat itu.


Ketika mereka sampai di rawa besar dan luas, para treant mulai berhenti mengejar. Alice menyimpan pedangnya kembali ke dalam cincin dimensinya, lalu keduanya berisitirahat sejenak untuk mengatur nafas. Jumlah treant yang berdatangan semakin kuat dan lincah, mereka seolah tidak ada habisnya.


"Tidak seperti pohon kayu pada umumnya. Tubuh mereka begitu keras seperti sebuah pelat baja." Jelas Alice.


"Ya. Bahkan butuh waktu lama bagi api ku untuk melahap mereka." Balas Fee.


Alice dan Fee kemudian kembali berjalan. Mereka melihat jalan kecil di sisi rawa lalu mengikutinya dan bergerak memutari rawa yang besar itu.


"Lebih baik kita berjalan seperti ini daripada menyeberangi rawa itu. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada di bawah sana." Kata Alice sambil melirik melihat rawa besar itu.