Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 142



Ketika Alice menyentuh tangan wanita elf itu, sebuah lingkaran sihir muncul dengan tiba-tiba. Lingkaran sihir itu pun meluas hingga mencakup dirinya.


"Apa?! Gawat!" Alice terlambat untuk melepaskan tangannya. Dia bersama wanita elf itu pun lenyap dari tempat itu.


Nyx terkejut dengan apa yang terjadi. Dengan geram dia bertanya pada Erebos. "Apa yang kau lakukan padanya?"


"Kau tidak perlu khawatir, aku hanya memindahkan mereka ke bagian terdalam pohon ini. Yah..., setidaknya untuk saat ini." Balasnya lalu terkekeh menahan tawanya.


"Bagian terdalam Yggdrasil?" Nyx mengerutkan keningnya.


"Disana akan mudah bagiku untuk menyerap energinya. Dia dan wanita elf itu telah terjebak dalam ilusi. Setelah mereka kehilangan semangat hidup mereka karena mimpi yang mereka lihat, maka saat itulah jiwa mereka akan menjadi milikku." Erebos mengakhiri kalimatnya dengan tertawa lepas.


Nyx tersenyum sinis lalu berkata. "Hanya sebuah ilusi? Apakah kau pikir Alice tidak bisa menanganinya? Kau akan terkejut saat melihat dia mematahkan ilusi mu dengan mudah."


Erebos menaikkan keduanya alisnya mendengar kalimat Nyx. Apakah sebegitu percayanya dia pada gadis manusia itu? "Justru karena aku yakin seberapa kuat jiwa gadis itu makanya aku memberikannya mimpi terburuk yang pernah ia alami." Erebos menopang dagunya dengan telapak tangannya, dengan santai ia kembali berkata. "Sihir ku hanya membuat mereka tenggelam ke dalam ingatan terburuk yang ada pada diri mereka. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya mereka alami dalam ilusi itu."


Seketika Nyx ingin menarik ucapannya. Ia menatap tempat terakhir Alice berdiri. "Alicia...ku harap kau baik-baik saja."


~


Ketika ia membuka matanya, Alice hanya melihat kegelapan yang tak berujung. Kakinya melangkah mencari jalan keluar. "Aku tidak merasakan apapun di sekitar ku." Gumamnya setelah ia melepaskan kesadaran jiwanya.


Tidak tahu darimana datangnya, sebuah lingkaran yang bercahaya tiba-tiba muncul di hadapannya. Alice pun menghampiri lingkaran itu. "Apakah itu jebakan atau jalan keluar? Tanya batinnya dengan ragu melirik ke arah lingkaran yang seperti sebuah portal itu.


Saat ia melangkah masuk ke dalam lingkaran yang seperti portal itu. Cahaya silau sontak membuatnya spontan memejamkan kedua matanya. Ketika ia kembali membuka kedua matanya itu, Alice melihat ratusan ribu pasukan di hadapannya. Dia terbelalak dengan penuh kebingungan. Alice pun melirik ke kiri dan ke kanan berusaha menangkap apa yang sedang terjadi dan dimana dia saat ini.


"Pemandangan yang tak asing ini adalah ketika aku memimpin para pasukan ku untuk menaklukkan orang-orang bar-bar di tanah utara."


Alice semakin heran karena apa yang ia lihat adalah masa lalunya. Kejadian yang pernah terjadi di kehidupan sebelumnya.


Jangankan bersuara, tubuhnya bahkan tidak bisa bergerak. Seolah ia hanya bisa menonton kejadian itu secara nyata.


Perang, pertempuran sengit, pertumpahan darah. Alice melihat korban dan orang-orang terdekatnya mati satu persatu. Perasaan putus asa itu begitu nyata menusuk hatinya. Rakyatnya yang juga jadi korban karena perang yang berkecamuk selama lima hari itu sungguh membuat banyak korban jiwa berjatuhan.


Dia hanya bisa menonton dan tak bisa melakukan apa-apa meski dirinya saat ini tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


Luka dan rasa sakit hati yang ia rasakan itu benar-benar menariknya ke dalam keputusasaan.


Setelah perang itu berakhir, kejadian-kejadian masa lalu yang kelam kemudian datang silih berganti. Satu demi satu, Alice kembali menyaksikan orang-orang terdekatnya pergi. Secara paksa ia tidak bisa menoleh ataupun memejamkan matanya.


Itu menyakitkan. Begitulah seharusnya yang ia rasakan. Namun lambat laun, dirinya mulai mengerti.


"Aku tahu ini hanyalah ilusi, namun semua kenangan itu adalah nyata. Penyesalan tidak akan membuat perubahan. Apa yang terjadi waktu itu mungkin adalah bagian dari tinta hitam sebuah takdir."


Alice menunduk dan berdiri di atas lututnya yang keram. Ia mengusap air matanya yang sejak tadi berlinang. Entah itu adiknya, Murid-muridnya atau saudara-saudara seperjuangannya. Alice belajar untuk kembali menguatkan hatinya dan melepaskan semua masa lalu itu.


Dalam kegelapan yang tak berujung itu, dia mulai sadar dan perlahan mencoba untuk bangkit dan melepaskan dirinya dari belenggu ilusi itu.


"Dimana ada pertemuan pasti 'kan ada perpisahan..."


Hal-hal itu tidak boleh menjadi sebuah hambatan dalam hidupnya. Tidak lagi, kenangan itu akan menghambat kultivasinya. Iblis hati yang dulu menggerogoti hatinya dan membuatnya sulit untuk menerobos ke tahap selanjutnya, Alice telah sadar dan menerima semuanya.


Apa yang selama itu ia cari telah ia temukan jawabannya di kehidupan ketiganya ini.


Kenangan indah tentang Ibunya, Ayahnya dan Iris serta semua karyawan penghuni kediaman Strongfrot juga orang-orang yang pernah ia temui membuatnya bangkit. Mereka seolah mengulurkan tangan dan menariknya dari jurang gelap itu.


"Tidak saat ini. Aku akan melakukannya setelah masalah ini selesai." Ucapnya.


Alice menepuk kedua pipinya dengan keras hingga berbunyi. Dia menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan.


Dia tahu masih berada dalam Yggdrasil dan dia masih harus memenuhi janjinya pada Helian juga menyelamatkan wanita elf yang tadi ia lihat.


"Manusia....kemari lah... ikuti...aku..." Sebuah bola cahaya kecil keemasan yang berkilau tiba-tiba muncul melayang-layang di depan matanya.


"Suara ini...dia yang waktu itu memanggil ku." Tidak salah lagi, suara yang tidak asing itu adalah suara yang pernah ia dengar saat dirinya berada dalam Lost Forest. Suara asing yang hanya dia seorang yang mendengarnya.


Cahaya itu bergerak menjauh, melayang-layang seperti sedang menunggunya. Alice pun mengikuti cahaya itu.


"Ikuti..aku.." Kata suara yang berasal dari cahaya itu.


Alice terus berjalan sampai ia melihat sosok wanita elf itu di tengah-tengah kegelapan.


Tubuh wanita elf berambut perak itu sedang melingkupi sebuah bola cahaya emas. Tampaknya dia sedang melindunginya.


"Apa itu..?" Alice perlahan mendekat dan perasaan hangat dari energi murni mulai ia rasakan.


"Itu adalah inti dari pohon Yggdrasil, wahai anak manusia."


"Inti Yggdrasil?"


"Benar. Aku adalah Sylph. Seorang raja dari para spirit dan juga penjaga pohon Yggdrasil. Wahai anak manusia, bisakah aku meminta bantuanmu?" Ucap Sylph.


"Katakanlah, aku akan mendengarkan mu."


"Seperti yang kau lihat. Energi Yggdrasil terus diserap keluar dan wanita elf inilah yang berusaha menjaga agar Yggdrasil tetap hidup dengan mengorbankan energi Mana miliknya. Aku tidak tahu sampai kapan para monster parasit itu akan terus menyerap energi Yggdrasil tapi, aku bisa merasakan kalau Mana dalam tubuh wanita ini lambat laun semakin melemah."


"Ya. Aku juga bisa merasakannya. Lalu, apa yang harus ku lakukan untuk menyelamatkannya?"


"Sebelum kau menyelamatkan pohon ini. Aku ingin kau menolong wanita ini terlebih dahulu. Saat ini dia sedang dalam pengaruh sihir ilusi. Dengan kekuatanku yang sekarang, bahkan aku tidak bisa membebaskannya."


Memang benar. Alice juga merasakan daya hidup wanita elf itu semakin melemah. Sihir ilusi itu pasti salah satu kemampuan sihir dari Erebos.


Namun... apakah yang ia lihat sampai tidak bisa melepaskan dirinya dari sihir ilusi itu?


"Dewa pengecut itu. Dia bahkan tidak pernah menunjukkan dirinya dan hanya menggunakan cara licik." Umpat Alice kesal dalam hatinya.


Selama ini Alice telah menemui banyak orang-orang yang tenggelam akan pengaruhnya. Bahkan keluarganya hampir terluka karena kelicikannya juga.


"Erebos.....Aku benar-benar ingin segera menemui mu!" Ucap batinnya sambil mengeratkan giginya.


"Baiklah." Jawab Alice pada Sylph.


"Terima kasih wahai anak manusia." Kemudian suara Sylph pun lenyap begitu saja.


"Hmm? Apakah dia sudah pergi? Dia bahkan tidak memberitahu ku cara menyelamatkannya."


Alice terdiam sejenak untuk berpikir, ia lalu mengangkat kedua bahunya. "Kalau begitu, aku akan melakukannya sendiri." Lalu ia pun mengulurkan tangannya pada wanita elf itu dan menyentuh dahi wanita elf itu dengan telunjuknya.