Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 136



Sekitar satu jam sebelum pasukan pemberontak di teleportasi menuju wilayah hutan sekitar Yggdrasil, Alice telah masuk lebih dulu ke dalam pohon itu.


"Walaupun ini di dalam pohon, tapi tempat ini cukup terang." Ucapnya sambil melihat sekelilingnya.


Energi murni dari Yggdrasil yang masih tersisalah yang membuat bagian dalam pohon itu bersinar di beberapa tempat.


Ketika berada di dalamnya, Alice menemui jalan-jalan kecil yang penuh persimpangan. Berdasarkan pada ingatannya saat ia menyelami pohon itu dengan kesadaran jiwanya, Alice segera berlari menyusuri jalan di depannya menuju puncak pohon.


Perjalanan yang awalnya mulus mulai tampak sedikit sukar karena kemunculan beberapa monster yang tiba-tiba menghalanginya seiring dia bergerak naik.


"Monster-monster ini... mereka telah terinfeksi oleh kristal hitam itu juga." Gumamnya.


Alice membentuk pedang Qi di tangannya dan juga empat bilah pedang di balik punggungnya.


Monster sulur, jamur hitam dan serangga hijau yang seperti daun, kekuatan tempur mereka memang tidaklah besar tapi jumlah mereka terlampau banyak.


Mereka bergerak menutupi seluruh jalan dan memaksa Alice keluar. "Kalau dilihat-lihat mereka hampir sama seperti sistem antibodi pada tubuh manusia. Sayangnya mereka telah tercemar oleh energi Mana yang kotor."


Membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menyelesaikan satu jalur untuk bergerak naik. Walaupun ia memiliki sihir api yang sebenarnya lebih efisien untuk membakar monster dengan tipe seperti mereka, namun Alice ragu jika seandainya api yang ia tembakan malah akan membakar seluruh pohon Yggdrasil dari dalam.


Alice hanya bisa menggunakan teknik pedang Plum Blossom Sword dan juga Qi es untuk mengalahkan mereka.


"Sedikit lagi..." Alice terus mengayunkan pedang Qi nya membelah monster-monster itu. Sesekali ia menghindar karena serangan mendadak yang terkadang muncul dari belakangnya.


Dari tindakan mereka yang semakin agresif, Alice yakin kalau dia sudah hampir mencapai dinding pembatas itu. Bahkan monster yang ia temui pun semakin kuat dan besar.


Alice bisa merasakan kehadiran sosok yang berbahaya tepat di atas kepalanya.


"Apakah mereka melindungi inti pohon itu?" Tanya Alice pada dirinya. Ia menengadahkan kepalanya, tempat dengan energi yang sangat besar, pikirnya.


~


Di luar pohon, di Aula dalam istana, Helian dengan tergesa-gesa berjalan di ikuti oleh dua orang prajurit pengawal.


"Aku perlu mengambil artifak itu." Gumamnya.


Apa yang ia maksudkan adalah sebuah kristal dengan ukiran Rune yang kompleks. Rune of life, Rune of Guardian dan Holy Rune of Recovery.


Ketiga barang yang langka yang di buat oleh Daeron beserta seratus ahli sihir dari kerajaan elf. Pembuatannya yang memakan 7 hari lamanya sebanding dengan kekuatan Rune yang mereka hasilkan.


Dengan menggunakan Mana murni yang di ekstrak dari seratus penyihir lalu di fokuskan pada sebuah alat untuk mengukir Rune, Daeron dengan sangat hati-hati telah berhasil menciptakan hal luar ketiga artifak hebat itu. Sayangnya, harga yang harus dibayar tentu tidaklah murah, para penyihir itu mengorbankan jumlah sihir yang banyak sampai mereka hampir kehilangan nyawa.


Bulu kuduk Helian seketika berdiri. Ia merasakan hawa membunuh dari punggung lehernya. Helian dengan cepat menunduk menghindari sabetan pedang yang datang padanya.


"Oswald!?"


Seypherd terbelalak kaget karena Oswald tiba-tiba saja menyerang Sang Ratu.


"Ada apa Oswald!? Kenapa kau melakukan ini?!" Seypherd melangkah maju, menarik pedangnya dan menahan serangan Oswald selanjutnya. "Pengkhianat! Ku pikir kau adalah bagian dari kami." Ketusnya.


Oswald mengelak mundur. "Aku memang bagian dari kerajaan ini tapi sumpah setia ku bukanlah pada Sang Ratu melainkan pada Tuan Putri Asiya seorang." Jawabnya dingin.


Helian terkejut, serangan tadi cukup cepat untuk memisahkan lehernya dari badannya. Berkat bantuan spirit yang di kontraknya, Helian berhasil selamat.


Oswald kemudian maju dengan pedangnya yang terhunus, matanya menatap tajam ke arah Helian. Seypherd melompat menangkis sabetan pedang Oswald. "Guh! Kau gila! Apa kau benar-benar berniat membunuh Ratu?!"


"....." Oswald tidak menjawab namun hanya melemparkan tatapan tajam.


Mereka berdua adalah rekan perjuangan. Saling bertukar pedang dan merasakan penderitaan dari beratnya perjalanan untuk menjadi seorang prajurit yang gagah. Sayangnya, Oswald berakhir memilih jalan yang berbeda darinya. Dia meletakkan pedangnya pada Putri Asiya ketimbang Ratu Helian. Dan hari ini Seypherd tidak menyangka bahwa rekannya akan berbalik mengkhianati kerajaan.


"Oswald...!!!" Teriak dalam Seypherd.


Keduanya terus bertarung dengan gigih, suara pedang bergema dengan kencang di ruangan itu. Helian tidak bisa diam saja, ia pun memutuskan untuk turun tangan dan menggunakan sihirnya.


"Cukup Oswald! Hentikan!" Seru Helian.


Oswald mengelak lalu berguling kesamping menghindari sihir angin dan sulur yang ingin menjeratnya dari bawah.


Oswald berdecih. Serangan Helian dan Seypherd silih berganti menghujaninya.


Oswald lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kristal kecil berwarna ungu pekat.


Helian tersentak saat ia melihat benda yang dipegang Oswald. Energi yang menyesakkan. Mana kotor yang tercemar layaknya kristal hitam.


"Oswald! Apa yang kau lakukan!? Berhenti!" Seru Helian dengan tegas.


Kristal kecil berwarna ungu itu memberikan firasat buruk padanya.


Seypherd tidak tahu apa itu, namun melihat raut wajah Helian, dia segera bergerak mengayunkan pedangnya pada Oswald.


Seypherd terlambat sedetik, tatkala benda itu telah berada di ujung mulut Oswald, ia pun menelannya begitu saja.


"Hidup Yang Mulia Tuan Putri Asiya Empyrea."


Cahaya terang menyelimuti tubuh Oswald. Seypherd yang berada dekat dengannya terhempas karena energi hebat yang tiba-tiba muncul dari Oswald.


Saat cahaya itu menghilang. Keduanya terbelalak melihat penampilan baru Oswald. Tidak seperti monster yang pernah mereka temui yang memiliki kristal hitam di tubuhnya, Oswald terlihat lebih seperti menyatu dengan kristal hitam itu.


Urat sarafnya menegang dengan warna ungu gelap. Tubuh Oswald terbalut oleh kristal hitam yang melindunginya seperti sebuah zirah besi. Di tangannya terdapat pedang yang bergerigi yang juga terbuat dari kristal hitam.


Oswald menggerakkan pupilnya melirik tajam ke arah Helian dan Seypherd.


Seypherd merasakan hawa membunuh yang amat kental, ia pun segera berdiri di hadapan Helian. "Yang Mulia, awas!"


Oswald lenyap dari tempatnya dan menghantam pedang Seypherd dengan pedangnya. "Guh!" Tenaga yang sangat kuat. Serangan Oswald membuat tangan Seypherd bergetar keram.


Oswald kembali mengayunkan pedangnya, namun Helian segera melindungi Seypherd dengan sihirnya.


Oswald tersenyum sinis. Ia pun lenyap dari posisinya dan muncul di belakang Helian. "Yang Mulia!!!" Teriak Seypherd.


"Matilah!" Kata Oswald.


Saat ia hampir menebas Helian dengan pedangnya, sebuah lingkaran sihir tiba-tiba muncul di bawahnya. Oswald merasakan ancaman, dengan spontan ia pun melompat mundur.


Saat ia melompat mundur dan berpikir telah menghindari serangan tiba-tiba itu, lingkaran sihir selanjutnya muncul di bawah kakinya. Dua, tiga dan terus muncul hingga ia benar-benar cukup jauh dari Helian.


Oswald sangat geram lalu berteriak. "Pengecut! Tunjukkan dirimu!"


"Heeh~ Baru kali ini ada yang menyebut ku seperti itu." Suara wanita terdengar menggema membalas ucapan Oswald dengan nada mengejek. "Ha ha ha ha ha." Wanita kemudian tertawa.


Helian dan Seypherd saling menatap. Mereka tidak tahu siapa sosok pemilik suara itu dan tujuan kedatangannya.


Oswald berdecih makin kesal. Dia terus menengok ke kiri dan ke kanan dengan gelisah.


"Apakah kau mencari ku?"


Ketiga elf itu lekas menoleh saat mereka merasakan energi kuat yang berasal dari kursi tahta kerajaan.


Seorang gadis kecil berambut hitam dengan mata merah bagaikan darah bersinar terang dalam ruangan itu. Gadis kecil itu menyeringai dengan mata lebar melihat ketiga elf itu. Pandangannya benar-benar memandang mereka dengan rendah seolah kehadiran mereka tidak lebih dari seekor hama.


"Apakah kau yang bernama Helian, Ratu kerajaan Elf?"


Helian seketika menelan ludahnya. "Ya, itu benar." Ada apakah gerangan sampai gadis itu menanyakan tentang namanya.


Apakah dia kawan atau lawan?


"Baguslah, sepertinya kedatangan ku ke-"


"Banyak bicara, Mati saja kau!" Oswald tiba-tiba saja muncul di hadapan gadis itu dengan energi Mana yang padat yang ia kumpulkan pada pedangnya. Oswald mendorong pedangnya pada dada gadis itu namun ia terkejut seketika saat serangannya berhasil di tahan oleh gadis kecil itu.


"Beraninya kau memotong pembicaraanku, sadari posisimu, makhluk rendahan!"


Gadis itu hanya mengayunkan lengannya dan Oswald terhempas ke samping menghantam tiang penyangga.


"Guhhaa!" Oswald memuntahkan darah dari mulutnya. Dia tak mengira gadis kecil itu sangat kuat, bahkan ia tidak melihat serangannya.