Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 106



"Jangan gentar! Rapatkan barisan kalian! Aku Marianne Ries Solus dan Nona Saintess Liliana akan melindungi kalian." Teriak Marianne dengan lantang di depan banyaknya prajurit.


Diluar benteng kota Blackrock. Marianne dengan ratusan prajuritnya sedang bersiap untuk kembali berjuang menahan gelombang monster yang serasa tidak ada habisnya.


Kota Blackrock merupakan salah satu kota yang berada dibawah kepemimpinan Marquess Matilda, ayah dari Liliana Matilda.


Setelah menghentikan amukan monster di beberapa wilayah di kerajaan Solus, Lilia dan Marianne bergegas menuju kota Blackrock setelah mendengar kabar kalau kota itu dalam bahaya. Para monster tiba-tiba saja berkumpul taj jauh dari benteng kota menurut laporan dari pengamat yang diutus untuk melakukan pemantauan.


Pertempuran yang tiada habisnya itu benar-benar telah menguras tenaga para prajurit.


Ketika hari masih terang. Para goblin, troll, kobold dan beberapa monster humanoid lainnya menyerang mereka. Namun, saat malam tiba, sesuatu yang lebih mengerikan datang dan itu adalah koloni serangga yang jumlahnya bukan main banyaknya. Meskipun para serangga itu lemah, tapi pergerakan mereka begitu lincah, ditambah dengan dugaan adanya ratu atau raja yang memberikan mereka perintah yang membuat mereka menjadi cukup cerdas ketika melawan para prajurit.


Marianne dan Lilia telah meminimalisir korban jiwa sebisa mereka. Dengan kemampuan dan berkat dari Sang Saintess, luka berat ataupun ringan bisa dengan mudah disembuhkan. Tapi tetap saja itu tidak bisa mengobati mental para prajurit yang terus-menerus diteror oleh kengerian dari para monster itu.


Marianne berdiri di atas benteng kota melihat gelombang selanjutnya datang menyerang. Ratusan monster berjalan bak sebuah malapetaka. Mereka menghancurkan apapun yang mereka lewati.


Sebelumnya, setelah beberapa minggu para monster dan ras iblis berhenti menyerang mereka. Tiba-tiba saja kerajaan Solus diguncang dengan pergerakan monster-monster di berbagai wilayah. Pertahanan kerajaan Solus bahkan belum pulih sepenuhnya ketika bencana itu datang.


"Maria, apa yang sedang kau pikirkan?" Lilia menegur Marianne di sampingnya yang tampak melamun.


Marianne menghela nafasnya. "Aku... masih memikirkan tentangnya. Aku masih tidak percaya kalau dia benar-benar sudah tiada." Suaranya terdengar lirih dan dadanya begitu berat untuk bernafas. Ketika dia membayangkan kembali wajah kakaknya, duka dalam hatinya terasa tidak ingin hilang.


Lilia memeluk Marianne dengan begitu lembut. "Aku juga, bahkan aku masih merindukannya." Lilia kemudian melepaskan pelukannya. Ia mengusap sudut matanya yang sedikit sembab. "Tapi kita harus kuat. Kau tidak boleh menunjukkan kelemahanmu di depan para prajurit saat ini."


"Kau benar." Marianne memegang erat pedangnya. Apa yang Lilia katakan benar. Negeri ini, kerajaan Solus adalah tempat yang pernah Alice selamatkan, dia tidak boleh membiarkan perjuangannya menjadi sia-sia.


Sekitar sebulan yang lalu setelah beberapa hari kepulangan Iris kembali ke kediaman Strongfort. Iris membawa kabar gembira tentang kekalahan pemimpin ras iblis yang melakukan penyerangan terhadap manusia dan berita tentang keberadaan Alice. Marianne, Lilia, ayah dan ibu serta seluruh penghuni kediaman Strongfort turut bergembira mendengar berita itu.


Alice masih hidup dan baik-baik saja. Dia akan segera pulang.


Mereka semua bersukacita. Terutama bagi Ernard dan Liana, mereka sangat bersyukur karena salah satu putri kesayangan mereka masih hidup.


Iris dengan antusias dan penuh kegembiraan menceritakan kisah heroik kakaknya sewaktu dia bertarung melawan Cecilion. Ekspresi takjub terlukis di setiap wajah yang mendengar ceritanya. Gadis itu telah menjadi sosok yang hebat di mata dan di hati semua orang. Berita itu kemudian terdengar hingga ke telinga keluarga Kerajaan dan menjadi topik hangat di kerajaan Solus.


Sayangnya, kegembiraan itu hanya sekejap mata saja.


Tak lama setelah Iris pulang, plakat kayu yang pernah Alice berikan pada Ernard yang merupakan sebuah tanda kalau dia masih hidup tiba-tiba hancur. Tidak ada angin kencang ataupun hujan dengan petir tapi kediaman Strongfort seketika diliputi kepanikan.


Pelayan yang menemukan pecahan dan serpihan dari plakat kayu itu segera melapor pada Ernard.


Ernard tidak mengerti apa yang terjadi, ia memutuskan untuk memanggil Marianne yang kala itu paham tentang plakat kayu itu.


"Yang Mulia Putri. Maaf memanggil Anda kemari dengan begitu tiba-tiba." Ucap sopan Ernard setelah menyambut kedatangan Marianne.


"Tidak masalah, lupakan formalitasnya. Aku ingin melihat plakat kayu milik Nona Alicia." Marianne tampak tergesa-gesa. Hatinya juga gusar saat kabar itu sampai di telinganya.


Ernard membawa sebuah kotak kecil, ia membukanya dan memperlihatkan plakat kayu itu yang terbungkus dalam sehelai kain.


"Ti-tidak mungkin. Kakak... Bagaimana bisa?" Batin Marianne terkejut ketika ia melihat plakat kayu yang sudah hancur itu.


Tanpa sadar tangannya yang gemetar meraih salah satu potongan plakat kayu itu. Ia melihat baik-baik huruf aksara Han yang bertuliskan nama Alice.


"Lan You Nian..." Gumam Mary sambil tangannya mengelus pelan pecahan plakat kayu yang ia ambil.


Air matanya seketika mengalir begitu saja membuat Ernard, Liana dan Iris menjadi gelisah.


Sebenarnya apa yang terjadi?


"Sebagaimana yang pernah ku katakan sebelumnya. Plakat kayu ini merupakan penanda kalau Nona Alicia masih hidup. Tidak peduli walaupun nyawanya berada dalam keadaan kritis, selama jiwanya masih ada dalam raganya, itu berarti dia masih hidup. Tapi.." Marianne menelan ludahnya. Ia mengusap air matanya yang masih saja mengalir.


"Karena plakat kayu ini diisi dengan jejak jiwa dari Nona Alicia maka benda ini tidak akan pernah rusak oleh apapun itu selama pemilik yang nama dan jiwanya masih hidup."


"...." Suasana menjadi hening sejenak.


"Itu.. artinya..." Ernard mulai mengerti. Ia sudah bisa menebak dan begitu pula Iris dan Liana yang menatap Marianne seolah keduanya tidak percaya dengan apa yang baru saja Marianne katakan.


Iris berteriak. "Tidak! itu tidak mungkin! Kakakku...kakakku...dia... tidak mungkin mati." Iris menghentakkan kakinya lalu berlari meninggalkan ruangan itu dengan berlinang air mata.


Ernard memeluk erat Liana. Sekali lagi...,untuk kesekian kalinya mereka kembali berduka.


~


Pertempuran sedang berlangsung sengit di depan gerbang kota Blackrock melawan para monster yang mencoba menerobos masuk ke dalam kota.


Marianne ikut bertempur setelah melihat para prajuritnya kewalahan. Ia terus mengayunkan pedangnya dan menggunakan sihirnya apinya untuk membakar monster-monster itu.


Peluh keringat dan lelah tubuhnya membuat pedangnya semakin berat untuk dia ayunkan.


"Aneh, semakin hari jumlah mereka semakin banyak. Mereka bahkan menjadi lebih agresif dari sebelumnya."


Marianne heran karena monster yang is lawan semakin tangguh. Bahkan ketika ia memperhatikannya dengan baik, Marianne melihat ada aura hitam yang menyelimuti tubuh para monster.


"Aku tidak menghiraukannya beberapa hari yang lalu. Tapi setelah ku perhatikan dengan baik, Aura hitam di tubuh mereka menjadi lebih tebal dari yang kemarin. Sebenarnya, apa aura hitam itu? Apakah ada sesuatu yang membuat mereka menjadi lebih ganas." Batin Marianne curiga.


Hari sudah hampir malam dan dirinya telah kehabisan tenaga. Marianne menebas monster terakhir yang ia lihat.


"Sepertinya gelombang pertama sudah selesai. Lekaslah berisitirahat. Sampaikan pada pasukan pertahanan lainnya untuk segera bersiap-siap akan serangan para serangga." Tegasnya.


Nafas Marianne sudah terengah-engah. Para prajurit berjalan saling merangkul kembali ke dalam gerbang kota. Sementara itu pasukan pemanah telah berganti posisi di atas benteng dan prajurit kavaleri telah siap dengan tombak dan tameng mereka.


Marianne juga ikut berjalan masuk untuk berisitirahat sejenak. Tapi entah kenapa udara dingin yang terasa ngeri berhembus membuat bulu kuduknya berdiri.


Marianne berbalik, ia terdiam dan menyipitkan matanya. Beberapa saat kemudian dia terbelalak dan segera mundur untuk kembali ke dalam kota.


"Mundur! Semuanya persiapkan barisan! Pasukan pemanah, siap menembak!" Marianne berteriak sambil mengangkat pedangnya.


Apa yang ia lihat adalah seekor semut api dengan ukuran besar dan jumlah yang banyak.


Semut api atau dikenal juga dengan bom berjalan. Pada tubuh bagian belakang mereka terdapat sebuah cairan yang bisa meledak dengan jarak lima sampai tujuh kaki. Para semut api merupakan pasukan bunuh diri yang akan meledakkan diri mereka ketika mereka telah mendekati mangsanya.


Setelah Marianne dan para prajuritnya melewati gerbang ia kembali memberikan perintah. "Segera tutup gerbang. Gunakan tombak dan senjata panjang lainnya. Hati-hati, jangan biarkan mereka mendekati kalian."


"Maria. Apa yang terjadi?" Lilia yang kembali dari tenda pengobatan bertanya dengan cemas setelah ia mendengar teriakan Marianne.


"Ini gawat. Para monster tidak memberikan kesempatan untuk kita beristirahat, mereka semakin agresif dan sekarang." Marianne menunjuk ke arah para semut.


Lilia menahan nafasnya melihat jumlah mereka yang sekian puluh banyaknya.


Lilia melirik Marianne dengan mata yang seakan bertanya untuk sebuah solusi tapi Marianne menggelengkan kepalanya.


"Kali ini, kita hanya bisa bertaruh." Ujar singkat Marianne.