Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 56



Cliff mengangkat salah satu tangannya ke atas. [ Holy Light ] Sebuah bola cahaya menyilaukan tercipta dan hampir menyinari seluruh ruangan itu. Alice dan Lilia spontan mengalihkan pandangan mereka karena cahaya yang menyilaukan itu.


"Tadi itu apa?" Tanya Alice pada Lilia yang lebih tahu tentang sihir elemen cahaya.


"Itu adalah Holy Light. Sihir itu memanfaatkan berkah dewi dan meningkatkan kekuatan elemen cahaya penggunanya meski hanya sementara."


[ God's Hand ] Lagi-lagi Cliff menggunakan kemampuannya dan menciptakan sepasang tangan besar yang tersusun dari partikel cahaya.


Cliff tertunduk, pundaknya bergetar menahan tawa dengan meletakkan tangannya di depan mulutnya. Tiba-tiba Cliff mendongak mengangkat kepalanya, ia menyeringai dengan puasnya di depan Alice dan Lilia.


"Saksikan lah kekuatan dari Sang Dewi." Serunya lantang, lalu berdiri tegak dan mengarahkan telapak tangan ke depan. Dengan menggunakan pikirannya ia menggerakkan tangan besar itu untuk menyerang Alice dan Lilia.


"Lilia!" Alice menghindari serangan Cliff dengan melompat ke samping lalu menahan tangan lainnya yang menyerang Lilia.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alice yang telah menghunuskan bilah tajam pedangnya ke arah Cliff.


Lilia sama sekali tidak siap akan serangan itu, dirinya tak menyangka bahwa Cliff ternyata sekuat itu. Lilia menatap punggung kecil Alice yang baru saja melindunginya. Ia meremas sisi jubahnya. "Aku tidak boleh diam saja." Benaknya tegas dan memantapkan hatinya. Lilia mengambil nafas dalam-dalam dan maju berdiri di samping Alice.


"Lilia, biar aku yang-" Alice yang khawatir dan berniat untuk melawan Cliff sendiri, dihentikan oleh Lilia. "Aku akan membantumu." Ucapnya sambil ia menggenggam salah satu tangan Alice.


Alice menoleh dan melihat sepasang mata Lilia yang penuh keyakinan.


"Baiklah." Keduanya mengangguk bersama. Ini akan menjadi pertarungan bersama yang pertama kali bagi mereka. Membayangkannya saja Alice tiba-tiba merasa bersemangat.


Berkah Sang Dewi katamu? Lilia mengernyitkan alisnya memandang Cliff yang telah buta dan sepertinya sudah tak bisa tertolong lagi. "Biar ku tunjukkan apa itu berkah Sang Dewi dari seorang Saintess." Gumamnya pelan.


"Aku akan membantumu dari belakang. selain sihir serangan aku juga sangat ahli dalam sihir pendukung."


"Benarkah?" Alice terkekeh. "Kalau begitu tolong kerja samanya ya, Lilia." Alice memegang erat pedangnya lalu berlari ke samping dengan maksud mengalihkan perhatian Cliff. Tentu rencananya tidak sia-sia, provokasi Alice yang seolah-olah ingin menyerang Cliff dari titik butanya membuat dirinya merasa terancam. Cliff berbalik dan menyerang Alice.


Melihat tangan besar itu saling mengepal dan ingin meremukkannya dari atas. Alice mundur melompat ke udara.


[ Double Nemesis ] Seperti sebuah gelombang udara yang sangat kuat dari sabetan sebuah pedang tiba-tiba melesat ke arah Alice. Cahaya itu terpancar jelas di depan matanya dan daya serangnya begitu terasa bahkan sebelum serangan itu menyentuhnya. Selagi Alice berada di udara, Cliff terus menerus menyerang dengan sihir yang sama. Walau begitu, Alice bukankah tipe orang yang baru melangkah medan pertempuran. Entah serangan bertubi-tubi atau serangan dadakan, Alice telah bersiap-siap untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi dalam sebuah pertarungan.


Apapun bisa terjadi dalam perang, begitulah menurut Alice. Berkat pengalaman dan latihan kerasnya pula, tubuh dan pikirannya sudah saling sinkron sehingga ia tidak perlu memikirkan tentang gerakan-gerakan yang akan membebani tubuhnya. Alice memutar tubuhnya di udara dengan memanfaatkan dorongan Qi dan menghindari tebasan itu dengan lihai. Setelah mendarat di tanah, Alice kembali berlari menyerang Cliff dengan pedang di tangannya.


Alice mengarahkan bilah pedang itu dan mengayunkannya ke arah Cliff, tapi serangannya berhasil di tangkis oleh tangan besar milik Cliff. Suara pedangnya begitu keras seperti dia sedang menebas baja. "Apa-apaan cahaya itu?" Pikirnya heran. Kepadatan tangan bayangan itu tidak bisa di anggap remeh. Alice terus menyerang dengan pedangnya namun tangan itu begitu lincah dan berhasil menahan semua serangannya. Seolah ukuran bukanlah masalah yang membatasi kecepatannya.


Sementara itu, Lilia telah selesai dengan rapalan beruntunnya serta doa yang ia panjatkan. Dia langsung mengarahkan sihirnya pada Alice.


[ Bless ] [ Enhanced Bless ] [ Solar Shield ] [ Morning Gloria ] [ Sanctuary ]


Cliff terdorong mundur selangkah, "Apa yang terjadi?" Heran, Cliff mendecihkan lidahnya, ia mendesis melihat ketahanan dan kemampuan Alice yang tiba-tiba meningkat. Cliff merasakan adanya reaksi sihir dari sisinya dan menjadi geram. Cliff akhirnya sadar kalau Lilia sedang membantu Alice. Cliff dengan kesal berteriak pada Lilia "DASAR PENGKHIANAT!!!" Ia menembakkan api putih pada Lilia. Dikarenakan Lilia sedang fokus mempertahankan doanya agar Mananya tetap stabil dan sihir pendukungnya tidak terputus, Lilia tidak dapat bergerak bebas. Beruntungnya, Alice dengan langkah bayangannya segera menghampiri Lilia. Ia berdiri di depannya dan menepis bola api itu.


[ Ice Dragon Wrath ]


Alice memutar pedangnya dan menusuk bola api itu dengan cepat. Sayangnya, karena Qi yang ia masukkan terlalu berlebihan sehingga pedang itu tidak mampu bertahan dan patah.


Lilia dalam hatinya tahu kalau Alice pasti akan berusaha melindunginya. Lagipula dengan [ Sanctuary ] miliknya, ia ragu kalau Cliff bisa menembus pertahanannya semudah itu.


Alice mengerutkan dahinya sembari menatap Cliff. Semua Serangannya berhasil dipatahkan, Alice juga curiga saat merasakan adanya fluktuasi Mana yang aneh di sekitar patung yang ada di belakang Cliff "Firasat ku mengatakan kalau dia hanya sedang mengulur-ulur waktu." Ucap Alice pelan pada Lilia yamg yang ada di belakangnya.


"Maksudmu? Rencana Cliff belum sepenuhnya dimulai?"


Alice mengangguk. "Ya. Seperti yang ia katakan barusan, dia ingin memanggil Sang Dewi ke dunia ini. Aku takut kalau dia benar-benar nekat dan kau mengerti kan apa yang akan terjadi pada kepala kuil."


Lilia terkejut dan tak menyangka hal itu. "Apakah hal itu memang bisa dilakukan? Bahkan memanggil hewan kontrak yang legenda saja membutuhkan kristal Mana yang tak terhitung jumlahnya, lalu jika itu memang bisa, maka..." Nafas Lilia terhenti sejenak ketika akhirnya ia menyadari niat busuk Cliff yang sesungguhnya. Benar. Tidak hanya memanggil Sang Dewi, ia juga berniat untuk menjadi kepala kuil selanjutnya dengan mengorbankan kepala kuil saat ini. Rencana yang telah ia pikirkan matang-matang ini adalah ide brilian yang akan membuatnya dipandang sebagai pahlawan sekaligus seorang utusan mulai Sang Dewi.


Kepala kuil telah mengorbankan dirinya untuk memanggil Sang Dewi dan dengan bantuan ku, aku mewujudkan keinginannya yakni mensucikan dunia yang kotor ini. Begitulah rencana yang ia buat.


Alice mengambil pedang andalannya dari cincin dimensinya. Ia dengan cepat berlari ke arah Cliff. Pedang mitril yang begitu keras itu merupakan konduktor yang sangat bagus untuk dialiri Mana atau Qi miliknya.


"Hmph! Pendosa sepertimu, bersyukurlah karena mati di hadapan Sang Dewi." Cliff menyerang Alice dengan membabi buta. Tanah menjadi retak-ratak dan beberapa bagian terbakar, dinding tergores dan tiang-tiang yang terkikis seolah mereka akan rubuh sedikit lagi. Ruangan itu benar-benar tampak kacau.


Cliff sudah mulai terlihat kelelahan, jangka waktu sihir peningkat kekuatannya telah habis. Cliff terheran-heran dengan kondisi Alice yang tampak baik-baik saja. "Seberapa kuat gadis ini? Stamina dan daya tempurnya bahkan melebihi ku. Sial!" Gerutu dan umpat Cliff dalan hatinya.


Karena Cliff sudah lengah, Alice segera memanfaatkan celah itu dengan baik. Ia bergerak dengan langkah bayangannya. Saat tangan besar Cliff menyerangnya dari kedua arah, Alice menggunakan kemampuan lain miliknya.


[ Mirage Mirror ]


Cliff mendengar suara hancur itu. Wajahnya girang ketika ia merasa kalau ia telah membunuh Alice. Namun sayang seribu sayang, kesenangan itu jatuh begitu saja saat Alice melintas di sudut matanya dan melayangkan pedangnya pada batu kristal di belakangnya.


Mata Alice terbelalak ketika tusukan pedangnya terhalang oleh sesuatu. Ternyata batu kristal itu juga telah dilindungi oleh susunan sihir yang sama seperti yang ada pada pintu di ruangan ini.


Cliff tertawa lepas. "Meski itu adalah Kristal Mana tapi ketahuilah, kekerasannya bahkan setara dengan logam orichalcum murni." Cliff Lalu meninju Alice dengan tangan besarnya dari arah samping. Alice menahan serangan itu dengan pedangnya dan terhempas mundur begitu jauh.


Karena merasa jangka waktu dari berkah dewi telah habis. Cliff melepaskan sihir [ god's hand ] nya. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya. Senyum tipis bisa dilihat dari wajahnya.


[ Gungnir ]


Sebuah tombak panjang dari cahaya mulai terbentuk di genggamannya. Partikel-partikel kecil yang berkilau itu menyatu lalu memadat dan membentuk sebuah tombak yang kokoh.