Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 146



Eion dengan ragu membuka pintu. Tangannya gemetar begitu hebat.


Dia bukan monster bukan?


Bukan monster yang meniru suara orang bukan?


Bagaimana kalau dia monster sungguhan?


Berbagai macam dugaan muncul karena ketakutannya. Meskipun dia tidak pernah melihat atau mendengar monster yang bisa meniru suara seseorang tapi bukan berarti itu tidak ada, begitulah menurutnya.


Tapi ketika dia mengintip dari balik celah pintu yang terbuka sedikit, dia melihat seorang wanita berdiri di sana. Cukup gelap, namun dia yakin dari bentuk tubuhnya kalau dia adalah wanita sungguhan dan bukan seekor monster.


Alice melambaikan tangannya menghilangkan keraguan Eion padanya. Dia pun membuka pintu itu agar Alice bisa masuk.


Dengan pencahayaan yang minim dari sebuah bola lampu kecil yang diisi dengan sihir cahaya, Claus, Claudia dan Eion menatap wanita itu dengan penasaran.


"Kau...." Claus melirik Alice dari kaki hingga kepalanya. "Ras hyuman, benarkan?." Ucapnya saat ia melihat kedua telinga Alice. Alice pun menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Tiga pasang mata itu terus memperhatikan sosok Alice. Alice tersenyum lembut menyapa mereka dengan sebuah lambaian tangan.


Eion yang berdiri di dekatnya segera membalikkan wajahnya, sepertinya dia tersipu karena melihat wajah rupawan dan senyum mempesona Alice.


Penampilan yang sangat berbeda dari ras hyuman yang pernah mereka temui.


Dari negara manakah wanita ini berasal?


Sebagai seorang pedagang yang kerap kali melintasi berbagai tempat, terutama melewati perbatasan tanah elf menuju benua manusia. Tentu saja Claus tidak begitu asing dengan yang namanya ras hyuman. Mereka terkadang melakukan perdagangan dengan para manusia.


Hanya saja, bukan hanya rupa tapi busana yang Alice kenakan sangatlah langka dimata Claus.


Hanfu, begitulah pakaian yang Alice kenakan saat ini. Dengan atasan dan bawahan yang berwarna hitam dan hanya sedikit bagian pada lengannya saja yang berwarna merah, penampilan Alice memberikan kesan tersendiri di mata mereka. Ditambah ikat pinggang merah yang memiliki corak indah berwarna emas dan sebuah batu giok berkilau bergantung di pinggangnya.


Menyebutnya anggun dan elegan saja tidak cukup. Alice menampilkan aura dingin dan misterius dari penampilannya. Namun senyumannya begitu hangat sampai bisa melelehkan hati seorang pria muda. Dengan pakaian yang gelap, kulit putihnya yang seperti susu tampak begitu cerah. Keindahan alami yang tidak membuat orang-orang jenuh untuk menatapnya. Apalagi dia tampak masih muda yang membuat sisi feminimnya lebih menonjol. Bak seorang dewi, Alice seolah membawa keagungan dan kemuliaan dalam tatapan dan postur tubuhnya.


"Bolehkah aku tahu tentang apa yang sudah terjadi pada tempat ini?" Tanya Alice dengan sopan.


"Desa kami tiba-tiba saja diserang oleh gerombolan monster. Banyak dari warga desa yang tidak selamat, kami bahkan sudah bersembunyi di sini sejak tadi siang. Bagaimana keadaan di luar?"


"Di luar sudah aman. Aku telah memeriksa hampir seluruh desa dan tidak menemukan adanya seekor monster pun."


"Sungguh?" Claudia menghela nafas leganya. "Syukurlah." Dia tersenyum ke arah Claus dan Eion.


Akhirnya mereka aman.


"Apakah kalian baik-baik saja?" Lanjut Alice bertanya.


Eion menggelengkan kepalanya. "Seperti yang yang kau lihat, kami berempat baik-baik saja tapi salah satu temanku terluka dan tidak sadarkan diri akibat serangan monster itu." Jelasnya sambil ia menunjuk Leafa.


Alice berjalan mendekati Leafa lalu berkata. "Mungkin aku bisa mengobatinya."


Claus menyipitkan matanya menatap Alice dengan ragu "Apakah kau bisa melakukan sihir pemulihan?" Dia sama sekali tak merasakan adanya energi Mana pada tubuh wanita di hadapannya itu.


Sebagai ras elf yang hidup berdampingan dengan alam, salah satu hal spesial dari mereka adalah mereka bisa merasakan tingkat Mana seseorang dengan mudah.


Ketiganya saling menatap untuk sesaat sebelum akhirnya mereka sepakat dan membiarkan Alice mengobati Leafa.


"Baiklah, aku mohon padamu untuk menyembuhkannya." Pinta Claus.


Alice menghampiri Leafa lebih dekat lagi. Ia lalu menekuk turun salah satu lututnya. Perlahan tangannya yang penuh akan energi Qi menyentuh ulu hati Leafa.


"Walaupun aku tidak bisa menyembuhkan mereka seperti sihir pemulihan tapi aku bisa melakukan sesuatu yang serupa seperti itu." Gumam Alice dalam benaknya.


Untuk sekilas ketika Alice melihat Leafa yang terbaring, dia telah mengetahui kondisi tubuhnya.


Alice kemudian menggunakan energi Qi miliknya pada Leafa. Awalnya energi Qi itu menahan aliran darah pada luka Leafa agar tidak mengalir ke luar. Lalu sedikit demi sedikit Alice menutup luka pada kulit bagian dalam Leafa. Tidak jauh berbeda dengan sihir pemulihan, dengan energi Qi miliknya, Alice membuat proses regenerasi sel dalam tubuh Leafa menjadi lebih cepat dan hanya berfokus pada satu titik.


Claus, Claudia dan Eion terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Mereka tidak merasakan adanya Mana yang mengalir atau keluar dari wanita di depan mereka, tapi entah bagaimana luka yang cukup besar itu sembuh begitu saja.


Mereka sendiri menyaksikan kulit yang perlahan menutup lukanya dan meredakan lebam yang ada di sekitar perut Leafa. Bahkan wajah pucat Leafa sudah terlihat menjadi lebih baik.


Setelah lukanya tertutup, Alice masih tetap menyalurkan energi Qi pada setiap saraf dan aliran darah gadis itu. Dia akan membersihkan sedikit racun yang tersisa dalam tubuh Leafa dan memulihkan sedikit staminanya.


Claudia menahan nafasnya tidak percaya akan teknik wanita asing itu. Dia benar-benar bisa menyembuhkan Leafa.


"Aku tahu ini hanyalah mimpi dari Elysia dan sebuah sihir jebakan yang dibuat oleh Erebos, namun aku tetap tidak bisa mengabaikan kejadian ini." Benak Alice.


Entah ini adalah skenario yang pernah terjadi dalam ingatan Elysia atau sebuah cerita baru yang Erebos buat dengan kekuatannya.


~


Setelah menyembuhkan Leafa dan memperkenalkan dirinya, tiba-tiba saja Alice merasakan sesuatu.


"Elysia!" Alice tersentak spontan memanggil nama Elysia.


Susunan formasi yang ia tinggalkan bereaksi. Alice segera berlari ke luar.


Claus, Claudia dan Eion yang melihat Alice berlari tergesa-gesa keluar segera menyusulnya.


Tidak butuh waktu lama Alice telah sampai di rumah dimana Elysia istirahat. Dia menemukan tiga ekor monster yang berusaha menembus formasinya.


"Bersyukurlah kalian karena aku tidak menggunakan formasi pedang pembunuh." Ucapnya geram.


Monster-monster itu pun menyadari kehadiran Alice, mereka menoleh padanya dan bergegas menyerang Alice.


"Cih, pengganggu." Alice menciptakan puluhan pedang Qi di langit. Dengan sekali ayunan lengannya, pedang-pedang itu lalu melesat menghujani kedua monster itu.


Keduanya mati seketika. Monster terakhir yang Alice sisakan mulai terlihat pucat. Ia tidak menyangka kalau mangsanya sangatlah kuat. Instingnya spontan menyuruhnya untuk segera pergi. Sayangnya ketika ia berbalik, sebilah pedang Qi menembus dadanya.


"Tadinya aku pikir bisa menemukan satu dua petunjuk dari kalian. Tapi setelah melihat kalau kalian hanyalah monster yang tak memiliki akal, kalian tidak memiliki alasan untuk tetap hidup." Ujarnya dingin menatap ketiga mayat monster dengan tajam.


Penampilan singkat itu disaksikan oleh Claus dan keluarganya. Wanita manusia itu bukanlah wanita sembarangan, dia adalah seorang ahli yang sangat kuat. Ketiga monster ganas yang telah membantai desanya dikalahkan dengan mudah olehnya.


Eion sendiri menganga lebar melihat sosok gagah Alice. Tatapan dan suaranya yang hangat nan merdu berubah menjadi dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.


Sesuatu dalam dadanya bergetar ketika memandangi sosok wanita misterius itu.