
Kevin bersama pasukannya sedang menikmati waktu hangat mereka di sebuah bar malam di wilayah Utara, tepatnya di kota Blue Sea.
Setelah meringkus Count Lehman si pedagang budak, Kevin juga telah menyelesaikan pergolakan penduduk di kota itu.
Count Lehman ternyata bersekutu dengan ras iblis demi menjatuhkan kerajaan Solus. Berkat bantuan Alice yang mengungkap sosok sebenarnya di balik identitas Berness si penasehat raja, Kevin lebih mudah mendapatkan petunjuk. Setelah ia mendatangi kediaman Berness, ia menemukan banyak dokumen penting tentang penjualan, rencana dan hal-hal gelap lainnya.
Count Lehman juga memanfaatkan opini publik dengan mendorong mereka untuk melakukan pemberontakan. Rencananya dimulai sebagai seorang pedagang budak yang menjual budaknya pada ras iblis untuk dijadikan pengorbanan ritual atau makanan bagi beberapa suku ras iblis. Lalu, dengan menuduh Sang Raja sebagai dalang yang berkomplot dengan ras iblis, Count Lehman memanfaatkan kericuhan warga agar para prajurit lengah terhadap dirinya. Untungnya Kevin sudah mempersiapkan rencananya dengan baik. Kevin berhasil menangkap Count Lehman saat ia kabur melalui jalur bawah tanah.
Kevin melihat sisa bir yang ada di gelasnya, sekilas terlintas senyum ramah Alice dan suaranya yang memanggil namanya. Kevin menggelengkan kepalanya lalu meneguk minumannya. Timbul sedikit perasaan rindu untuk bertemu dengan gadis itu.
Tawa riang dan suara berisik di dalam bar itu begitu riuh hingga terdengar dari balik dinding. Kevin bangun dari kursinya dan keluar dengan niat untuk menyegarkan kepalanya. Saat ia menutup pintu, tiba-tiba salah satu prajurit menghampirinya dengan membawa sebuah surat. Kevin menerima surat itu, ia melihat segel keluarga kerajaan. Ia menduga-duga dalam benaknya, apa mungkin Ayahnya memanggilnya atau sesuatu darurat sedang terjadi di Istana Kerajaan.
Surat dengan segel keluarga kerajaan tidaklah sama dengan yang terakhir kali ia terima dari mata-matanya. Segel keluarga kerajaan hanya bisa digunakan oleh raja, ratu ataupun putri dan pangeran. Dan terkadang, surat itu berisikan sesuatu yang penting.
Kevin membuka surat itu dan mulai membacanya. Seketika wajah Kevin kaku dan alisnya menukik ke bawah. Raut wajahnya menjadi lebih serius.
Kevin berlari tergesa-gesa menuju kandang kuda. Saat ia kembali dan melewati bar dengan menaiki kudanya. Salah seorang yang melihatnya bertanya. "Apa yang terjadi? Anda terlihat tidak baik-baik saja."
"Sampaikan pada yang lainnya, aku akan kembali ke ibukota. Jika kalian telah menyelesaikan semuanya, segera ikuti aku." Ucap Kevin lalu ia memacu kudanya.
Tak butuh waktu lama, Kevin terus bergerak dan meninggalkan perbatasan kota. Jantungnya berdetak lebih kencang dan nafasnya menjadi lebih sulit ia kontrol.
Ternyata surat yang ia baca itu merupakan kabar tentang hilangnya Alice.
Seolah dunia kembali direnggut darinya, Kevin tampak kacau. Ia tidak tahu dengan apa yang terjadi padanya. Rasa cemasnya terhadap Alice seolah memaksa tubuhnya bergerak sendiri. Kevin menggelengkan kepalanya saat terlintas pikiran kalau ia tidak akan bisa melihat Alice lagi.
Meski hanya beberapa minggu ia berlatih tanding dan menghabiskan sedikit waktunya dengan Alice, tanpa ia sadari rasa cinta sudah tertanam dalam hatinya. Sedikit rasa sesal timbul di kepalanya karena ia terlambat menyadari perasaannya.
~
Goncangan hebat membuat Alice membuka matanya. Sebuah retakan ruang tiba-tiba muncul dan membuat celah di depannya. Sekali lagi Alice terhisap ke dalam lubang dimensi. Pergerakan ruang yang kacau memberikan tekanan pada tubuhnya. Rasa sakit mulai menyelimuti setiap inci tulangnya. Lorong dimensi dengan arus ruang dan waktu yang tidak stabil membuat Alice merasa kalau dirinya sedang dihimpit oleh dua gunung.
Demi melindungi tubuhnya agar tidak terkoyak dan hancur akibat tekanan di dalam lorong dimensi itu. Alice menggunakan Qi yang sangat padat dan membentuk pelindung di sekelilingnya. Alice benar-benar memaksimalkan kekuatannya, hingga darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.
Waktu terus berlalu dan ia mulai kelelahan, Qi nya terkuras sedikit demi sedikit. Sementara itu, Nyx yang sedang memulihkan Mana nya dalam lautan kesadaran Alice ikut terganggu. Ia merasakan adanya pergolakan dari luar.
Nyx bertanya pada Alice melalui pikirannya. "Apa yang terjadi?"
"Aku terjebak dalam lorong dimensi. Terjadi retakan dan sebuah celah menghisap ku ke dalamnya."
Mata Nyx terbelalak. "Gawat! Kau harus segera keluar dari tempat ini!"
"Aku tahu tapi energiku sudah mulai menipis." Balas Alice sambil menggelengkan kepalanya.
"Baik."
Nyx belum memulihkan semua kekuatannya, ditambah dirinya hanyalah sebuah kehendak jiwa tanpa raga. Meski sulit, tapi jika Alice mati disini maka ia pun akan lenyap.
Nyx mulai mengumpulkan sisa Mana dalam tubuhnya dan membuat lobang dimensi di depan Alice. Saat membuat lubang dimensi, Nyx akan menggunakan banyak Mana dan oleh karena itu, ia tidak bisa mempertahankan lubang dimensinya cukup lama.
"Sekarang!" Seru Nyx.
Tanpa pikir panjang, Alice melompat ke dalam celah yang muncul di hadapannya. Ia melewati lubang itu dengan cepat dan terjatuh di atas tanah. Alice mengira kalau dia akan mendarat di tempat yang sedikit lebih dalam.
Alice mengerang kesakitan, kemudian ia mengangkat kepalanya perlahan dan melihat sekelilingnya. Dinding batu dengan udara lembab dan gelap, Alice sadar kalau dirinya berada dalam sebuah gua. Alice juga tak merasakan adanya nafas kehidupan di sekitarnya, ia hanya mendengar tetesan air yang entah darimana asalnya.
Alice bangkit, ia menumpu dirinya dengan bersandar pada dinding, berjalan perlahan sambil menyeret kakinya yang terasa berat. Kekacauan di dalam ruang dimensi itu benar-benar menguras banyak energinya.
"Nyx, apa kau tahu kita dimana?"
Nyx : .....
Nyx tidak merespon pertanyaan Alice. Ia khawatir dan langsung memejamkan matanya untuk melihat kondisi Nyx dalam lautan kesadarannya.
Alice terkejut saat melihat Nyx yang tergeletak di lantai. Dengan cepat Alice menghampiri Nyx dan membaringkannya di atas pahanya.
"Nyx..Nyx..." Panggil Alice.
Mata Nyx bergerak-gerak. Ketika ia membukanya, wajah Alice yang tampak cemas adalah hal pertama yang ia lihat. Bibir Nyx sedikit merekah ke samping. "Tenang saja, aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat dan memulihkan kembali Mana ku." Kata Nyx dengan suara yang pelan.
"Apa kau yakin?"
Nyx bangun lalu duduk sejenak. Ia memejamkan matanya lalu berdiri diikuti oleh Alice. "Untuk sementara, mungkin aku tidak akan bisa membantumu. Aku harus memulihkan tenaga ku." Jelasnya tenang.
"Baiklah. Istirahatlah...dan terimakasih atas bantuanmu."
Setelah memastikan keadaan Nyx. Alice kembali menelusuri gua. Instingnya berkata kalau tempat ia berada saat ini bukanlah tempat yang aman. Harap-harap cemas batinnya, semoga dirinya tak bertemu dengan seekor monster penghuni gua.
Sembari berjalan, Alice juga memulihkan energi Qi dalam tubuhnya secara perlahan. Ia menelusuri gua hingga akhirnya menemukan jalan bercabang. Tiga jalur berada di depannya. Karena kekuatannya belum pulih baik, Alice kesulitan untuk menelusuri ruang di sekitarnya lebih jauh. Dirinya memutuskan untuk memilih jalur tengah.
Berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya ia menemui sebuah pintu besar. Dari kejauhan, Alice yang penasaran menghampiri pintu itu. Ketika ia semakin dekat dengan pintu itu, dilihatnya pintu itu begitu kokoh terbuat dari logam yang lebih keras dari pedangnya dan juga pintu itu ditahan oleh rantai besar. Alice curiga kalau dibalik pintu itu ada sesuatu yang sangat berbahaya. Ia pun memutuskan untuk mengambil jalur lain, tapi saat ia berbalik, Alice merasakan adanya sosok kehidupan di ujung jalan. Langkah kakinya begitu pelan namun tekanan kekuatan yang ia rasakan bukanlah sesuatu yang bisa ia tangani saat ini.
Alice mendecihkan lidahnya. Tidak ada jalan lain selain masuk ke dalam ruangan yang ada di belakangnya. Ia berbalik dan melihat kembali keadaan pintu itu. Kunci dan rantainya sudah tampak tua dan karatan. Dengan menggunakan kemampuan es nya, Alice merusak rantai dan kunci pintu itu. ia mendorong sekuat tenaga untuk masuk dan kembali menutupnya.