
Dari langit Leon tidak percaya degan apa yang ia lihat. Ternyata Alice begitu handal dalam berkuda. Kecepatannya bahkan tak berkurang meski jalan kadang berliku atau berbatu-batu.
"Alice hebat! Ayo lebih cepat lagi. Kita dahului mereka." Sorak semangat Amy.
"Kudanya akan lebih cepat lelah jika dipaksa lebih cepat lagi." Balas Alice deangn wajah malas meredam ambisi kecil Amy.
Setelah melewati hutan yang cukup lebat. Akhirnya mereka tiba di sebuah lembah dengan rerumputan hijau sejauh mata memandang yang memenuhi tempat itu. Di tengah-tengah rerumputan terdapat sebuah bangunan tua dengan tiang-tiang besar yang rusak berhamburan.
"Tidak salah lagi. Energi alam di tempat ini terasa begitu kental." Alice menurunkan kecepatannya sehingga kuda itu mulai berjalan menuju reruntuhan.
Sedangkan griffin Andrew memekik tajam lalu mendarat lebih dekat dengan reruntuhan itu.
"Bagaimana Alice? Tempatnya bagus kan?" Tanya Amy yang masih duduk di belakang Alice.
Alice mengangguk. Ia merasa kalau tempat ini memang tempat yang sesuai untuk melakukan penerobosan.
"Tapi Master berkata kalau kami tidak boleh kesini dengan kekuatan kami yang sekarang ini. Katanya tempat ini berbahaya." Amy mengangkat kepalanya ke langit dan meletakkan telunjuknya di bawah dagunya. "Tapi apa ya yang membuat tempat ini berbahaya?"
Alice memperhatikan sekelilingnya selagi kudanya mendekati reruntuhan itu. Tak ada monster di dekat mereka, begitu juga dengan hawa membunuh atau rasa permusuhan. Kalau begitu apa yang membuat master mereka yakin kalau tempat ini berbahaya?
Setibanya di reruntuhan itu. Alice takjub melihat sisa pilar besar yang masih berdiri dan yang tumbang di dekatnya. Adapula bekas tangga batu yang terkubur oleh rumput dan tanah.
"Tempat ini terlihat seperti sebuah altar." Kata Alice.
Andrew sependapat "Kami juga berpikir seperti itu. Tapi setelah kami selidiki, kami tak tahu altar seperti apa dan untuk apa ini."
Setelah berkeliling mencari tempat yang cocok untuk melakukan penerobosan. Alice kembali pada Andrew dan yang lainnya yang juga sedang melihat-lihat keadaan sekitar.
"Aku butuh bantuan kalian. Maukah kalian menolong ku?" Pinta Alice sopan.
"Tentu Nona."
"Tentu saja Alice."
"Anda bisa mengandalkan kami."
Alice tersenyum dan berterima kasih pada mereka. "Kalau begitu tolong ya." Ia lalu duduk di area kosong tak jauh dari mereka dan mulai tahap penerobosannya.
Bagi Leon, tentu saja hal ini baru pertama kali ia jumpai. Sebaliknya dengan Andrew dan Amy yang sudah biasa melihat Master mereka melakukan hal ini. Posisi duduk yang tidak umum itu dan cara bernafas yang lembut dan stabil. Leon harus mengatakan kalau ia bisa merasakan sejumlah energi perlahan mengalir mendekat.
"Leon. Saat inilah giliran kita tiba." Ucap Andrew.
Awalnya Leon heran karena tidak tahu akan situasinya. Tapi tanpa pikir panjang, demi Nona nya ia mencabut pedangnya dan bersiaga. Mereka bertiga mulai mengambil posisi masing-masing dan mengelilingi Alice. Berdasarkan pengalamannya saat ia melihat Masternya dulu, Andrew menyarankan untuk tidak terlalu dekat dengan Alice.
Amy juga mengeluarkan sarung tangan spesial miliknya. Terlihat ringan dan cukup sederhana. Namun terdapat tiga buah batu kristal kecil yang menempel padanya. Tak kelupaan, Andrew merapalkan mantra pelindung untuk mengelilingi daerah luar mereka.
Angin yang berhembus sejuk dan lembut itu perlahan terasa dingin. Fenomena aneh mulai terjadi satu per satu. Suhu yang tadinya hangat menjadi sejuk lalu menjadi dingin secara perlahan. Tipisnya udara membuat mereka sedikit sulit untuk bernafas. Langit cerah dengan sedikit awan menjadi mendung.
"Meski sekarang sudah hampir memasuki musim dingin. Tapi bukan berarti cuacanya bisa berubah secara tiba-tiba." Benak Leon gusar.
"I-ini... tidak sama seperti saat Master melakukan penerobosannya." Ucap gagap Andrew.
"A-Andrew! Apa kau yakin dengan ini?!" Teriak Amy yang tampak bimbang dengan situasi mereka.
"Bagaimanapun kita harus berusaha agar Nona Alicia berhasil tanpa gangguan." Balas Andrew
"Nona...." Andrew menoleh kebelakang melihat Alice yang masih duduk dengan mata yang terpejam.
Angin dingin semakin kencang meniup ke arah mereka. Mereka tidak begitu tahu akan perubahan massa udara yang sejak tadi terjadi di sekeliling mereka bisa-bisa membuat terjadinya badai. Langit mulai ikut bergemuruh, Kilat Petir terlihat dari balik awan bak seekor naga dari timur.
Andrew, Leon dan Amy tetap berusaha mempertahankan posisi mereka demi melindungi Alice. Tapi saat mereka kembali melihat ke langit. Entah mengapa sesuatu tiba-tiba membuat bulu kuduk mereka merinding ketakutan.
"Langitnya...."
Apakah langit itu berlubang atau yang di atas mereka tampak seperti sebuah mata?
Langit di sekeliling mereka terlihat gelap sedangkan di atas altar terlihat cerah. Apa yang sedang terjadi?
~
Marianne sedang melihat berkas-berkas yang ada di tangannya. Berkas itu merupakan penilaian, komplain, saran dan hal-hal lainnya yang menyangkut para murid di akademi. Setelah cukup lama duduk dan akhirnya menyelesaikan tugasnya. Marianne merentangkan tangannya ke atas. "Akhirnya selesai juga." Leganya.
Ketika ia berdiri dari kursinya dan melihat ke luar jendela. Marianne kaget melihat fenomena langit di luar.
"Itu.... bukankah.." Marianne mengerutkan alisnya. Dengan menjentikkan jarinya, sosok wanita muncul dari balik bayangan.
"Master." Wanita itu berdiri di belakang Marianne sambil menundukkan kepalanya.
"Dimana Andrew dan Amy?" Tanpa sadar Marianne menggigit ibu jarinya.
"Mereka bersama Nona Alicia."
"Lalu, dimana mereka sekarang?" Nada bicaranya mulai terdengar gelisah. Apakah dugaannya benar? Tapi satu-satunya orang yang ia tahu yang bisa menimbulkan fenomena itu hanyalah seorang kultivator yang sedang melakukan penerobosannya dan orang yang ia tahu tak lain adalah Alice.
"Mereka berkata ingin menemani nona Alicia ke barat."
"Barat?!" Marianne berbalik pada wanita itu.
"Ya, Master. Dan mereka juga menyebutkan sesuatu tentang menerobos."
Marianne mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ia berbalik kembali dengan wajah kesal dan berjalan menuju pintu. "Kumpulkan semuanya! Kita akan menyusul mereka." Tandasnya.
Semoga ia tidak terlambat, semoga tidak terjadi sesuatu pada kakaknya, harap cemas Marianne meninggalkan Akademi.
Tak hanya Marianne saja. Kebanyakan orang menyadari fenomena itu dan beberapa orang penting dan kuat segera bergerak menuju tempat di mana fenomena alam itu terjadi. Kebanyakan dari mereka mengira kalau itu adalah sebuah harta dari langit yang jatuh ke Aria. Namun, bagi Istana kerajaan yang juga mengirimkan pasukannya. Mereka takut kalau ras iblis sudah mulai bergerak.