
Keiko makan dengan gelisah. Semua hidangan berkualitas terbaik di hadapannya terlihat biasa saja, sama sekali tidak bisa memancing nafsu makannya. Ini sudah hampir pukul 13.00, tapi belum ada tanda-tanda Andrew akan muncul. Ia menanti dengan cemas, berharap tidak terjadi sesuatu yang membahayakan nyawa Andrew.
Setiap kali ada pengawal yang masuk dan mencari Kim, Keiko ikut menajamkan telinga dan mendengarkan berita yang disampaikan. Seperti saat ini, ia sedang mencoba mendengarkan pembicaraan seorang pengawal dengan Kim di sudut ruangan. Kedua orang itu berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arahnya, benar-benar mencurigakan.
“Bagaimana keadaan Andrew? Apa yang terjadi?” tanya Keiko begitu sang pengawal keluar dari ruangan itu.
Kim tersenyum. Ia mengambil air minum dari dispenser kemudian menghampiri Keiko. Untung saja ia berhasil memindahkan Keiko ke bangsal perawatan di lantai 11 tepat waktu. Kalau tidak, pasti pergerakan Kapten Andrew akan semakin sulit jika kekasihnya dijadikan sandera. Untunglah sekarang semua sudah berakhir.
“Tenanglah, Nona. Kapten baik-baik saja. Dia sedang menuju ke sini,” ujarnya seraya menyerahkan air dalam gelas.
“Terima kasih,” kata Keiko seraya menerima pemberian Kim.
Ia menenggak habis isi gelas, kemudian meletakkannya di atas nampan bersama piring dan mangkuk bekas makan siang. Tak lama kemudian, seorang perawat masuk dan membawa keluar nampan itu.
“Bagaimana perasaan Anda, Nona?” tanya Kim, “Sudah jauh lebih baik?”
“Lumayan,” jawab Keiko sambil menyentuh perban di pinggangnya perlahan, “Tidak sesakit tadi. Dokter dan obat di tempat ini sangat mujarab.”
Kim terkekeh pelan dan berkata, “Tentu saja. Itu karena Kapten yang meminta agar Anda mendapatkan pelayanan nomor satu, jadi obat-obatan yang dipakai adalah yang terbaik, begitu pun dokter dan—“
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Keiko dan Kim sama-sama menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara bariton yang magnetis itu. Tanpa menunggu diusir oleh Kaptennya, Kim diam-diam mundur dari sisi ranjang Keiko dan berjalan keluar dari ruangan. Setelah ketegangan yang seolah tanpa akhir, ia akan membiarkan bosnya berduaan sebentar dengan Nona Keiko.
“Andrew!” seru Keiko dengan mata berbinar. Mimik wajahnya dipenuhi kelegaan dan kegembiraan yang tidak ditutup-tutupi. Kalau saja tidak sedang terpasang jarum infus di tangannya, mungkin gadis itu sudah melompat turun dan menghambur ke pelukan kekasihnya.
Melihat antusiasme Keiko, seulas senyum lebar dan hangat tersungging di bibir Andrew. Ia berjalan dengan langkah lebar dan cepat ke ranjang, kemudian mengulurkan tangan untuk merengkuh Keiko ke dalam dekapannya.
“Merindukanku?” bisik pria itu seraya merapikan anak rambut Keiko yang mencuat di dekat pelipis.
“Hum,” gumam Keiko seraya menyusupkan kepada ke dada Andrew dan mengangguk malu-malu. Seluruh syaraf yang tegang dalam tubuhnya kini terasa relaks.
“Aku takut sesuatu terjadi padamu” aku Keiko seraya melingkarkan satu tangannya ke pinggang Andrew, “Kamu baik-baik saja?”
Andrew mendesis pelan ketika tangan Keiko tanpa sengaja menyentuh luka di punggung dan panggulnya. Tubuhnya menegang dan secara alamiah sedikit menjauh dari Keiko.
“Ada apa? Kamu terluka?” tanya Keiko seraya memegang ujung kemeja Andrew dan menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja,” jawab Andrew seraya puncak kepala Keiko.
“Mana, tunjukkan padaku."
“Aku harus membuka baju kalau kamu ingin melihatnya,” ujar Andrew sambil mengangkat alisnya dan menatap Keiko dengan ekspresi menggoda, “Aku tidak keberatan, tapi kamu ....”
Keiko mendelik dan meninju perut Andrew pelan.
“Aku kenapa? Aku ‘kan hanya ingin memeriksa lukamu saja,” balas gadis dengan bibir mengerucut, “Kenapa raut wajahmu itu mesum sekali.”
Andrew tertawa hingga matanya menyipit. Hatinya benar-benar lega. Akhirnya semua sudah berakhir. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada penghalang, tidak ada pengganggu ... kini semua seharusnya berjalan lancar, bukan?
“Jangan khawatir, Baby. Lukaku sudah diobati, aku juga sudah mandi dan berganti pakaian sebelum ke sini agar bisa segera memelukmu.” Andrew mengulurkan tangan untuk mencubit hidung Keiko dengan gemas. “Aku sudah tidak sabar untuk memberimu hadiah yang kujanjikan sebelumnya.”
“Aw ... sakit!” Keiko menepis tangan Andrew dan menggosok-gosok ujung hidungnya. “Hadiah? Hadiah apa?”
“Tutup matamu,” pinta Andrew sambil tersenyum misterius, “Aku akan menghitung sampai tiga, baru kamu boleh membuka mata. Oke?”
“Kamu tidak akan melakukan hal yang—“
“Tidak. Aku janji.”
“Baiklah.” Akhirnya Keiko mengalah dan memejamkan matanya perlahan. “Cepat hitung ....”
“Satu ....”
Andrew mengambil tangan Keiko dan menengadahkannya.
“Dua ....”
Ia merogoh ke dalam saku jas dan mengeluarkan benda yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
“Tunggu sebentar.”
Keiko mengangguk dengan patuh. Jantungnya berdentam-dentam, menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh Andrew ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Apakah pria itu pergi? Meninggalkannya di kamar? Aneh ... bukankah dia bilang ingin memberi hadiah?
“Pssst ... jangan mengintip ....”
Keiko mengangguk lagi ketika mendengar suara Andrew datang dari hadapannya. Rupanya pria itu masih ada di sana. Ia pikir ....
“Tiga.”
Andrew meletakkan sesuatu di telapak tangan Keiko dan melanjutkan, “Buka matamu.”
Dengan sangat perlahan Keiko membuka matanya dan mendapati Andrew sedang berlutut di depannya. Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah jemari Andrew yang memegang tangannya dengan lembut. Kemudian, apa yang ada dalam genggaman pria itu pun tampak menarik perhatian karena langsung tertimpa cahaya matahari yang masuk menembus dari jendela kaca.
“A-apa ini?” tanya Keiko meski dapat melihat dengan jelas bahwa yang dipegang oleh Andrew adalah kartu identitas diri, paspor, dan visa.
Ia tidak mengerti apa maksud pria itu menyerahkan barang-barang itu kepadanya. Lagipula, dari mana ia mendapatkannya? Bukankah rumahnya sudah dihancurkan oleh para penjahat?
“Sakamoto Keiko, ikut denganku ke Paris, ya?” pinta Andrew dengan hati-hati.
Keiko mematung. Mendadak lembaran kertas yang tidak seberapa itu terasa sangat berat. Tanpa sadar tangannya sedikit gemetaran.
Ia sudah menghabiskan hampir seumur hidupnya di Jepang. Jika harus ke luar negeri, itu hanya untuk pelesir sebentar, juga dilakukan bersama ayahnya ataupun Hiro. Lalu sekarang ... seorang pria yang baru saja dikenalnya tidak begitu lama memintanya untuk ikut ke Paris.
“Aku ....” Keiko berdeham untuk menjernihkan suaranya yang tercekat. “Tidakkah ini terlalu terburu-buru?”
“Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin meninggalkanmu di sini. Kalau kamu setuju, kita akan mengaturnya sesuai dengan kemauanmu. Tempat tinggal, pekerjaan. Apa pun yang kamu mau, akan kuberikan. Oke?”
Keiko menggigit bibir dan mengalihkan pandangannya. Sepersekian detik kemudian, mata jernih gadis itu membulat sempurna. Ia baru menyadari jika seluruh ruangan itu sudah dipenuhi oleh rangkaian bunga mawar dan lily yang sangat indah. Kelopaknya yang bermekaran menguarkan wangi yang khas, membuat Keiko benar-benar merasa terharu.
Gadis itu kembali menatap Andrew, seolah ingin menelisik ke dalam jiwa pria itu. Pada akhirnya ia hanya mendapati kesungguhan dan ketulusan yang terpancar dari sana.
Haruskah ia menerima tawarannya?
***