Remember Me, Baby.

Remember Me, Baby.
Jovanka Mengintai



Clark menatap layar mini komputer di hadapannya dengan tatapan fokus, menunggu informasi dari Kim mengenai situasi di markas utama. Sekarang pergerakkannya cukup sulit. Jovanka dan Mr. Tanaka mengawasi setiap gerak-geriknya dengan teliti. Meski mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan, tapi ia tahu kedua orang itu menyadap ponselnya, juga mengaktifkan alat pelacak yang terpasang dalam benda itu.


Untungnya, Andrew sudah mengantisipasi semua itu dengan menyediakan alat komunikasi cadangan yang hanya dapat diakses oleh tim mereka. Meski begitu, ia tetap harus sangat berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai Jovanka dan Mr. Tanaka mengetahui hal itu, kalau tidak ... entah apa yang akan mereka lakukan nanti.


Untuk saat ini memang belum ada titik terang apakah Jovanka dan Mr. Tanaka yang membocorkan informasi keluar, atau apakah salah satu di antara mereka bekerja sama dengan Ryuchi. Hanya saja, semua yang terjadi terlalu kebetulan. Jika hanya satu kali, bisa dikatakan itu adalah sebuah ketidaksengajaan. Akan tetapi, ketika hal yang sama terus berulang, maka sudah pasti ada pengkhianat di dalam kelompok organisasi mereka.


Kemudian secara kompak mereka menimpakan semua kesalahan kepada Andrew. Apalagi dalam semua kekacauan ini, orang-orang itu masih menargetkan Sakamoto Keiko. Hal itu telah menyentuh batas kesabaran Andrew Roux dan tentu saja membuatnya marah. Kemarahannya sama seperti badai yang menggulung ombak di lautan lepas, membawa pusaran air dan menerjang apa pun yang menghalangi jalannya.


“Ah, sudah datang,” gumam Clark pada layar komputer di hadapannya.


Ia mengetik kata sandi dan mengakses file yang baru masuk. Ia mempelajari berkas-berkas itu dengan cepat, lalu memindahkan data ke dalam memori internal yang tersambung ke The Eyes dan menyimpan benda itu kembali ke dalam kotaknya.


Tidak boleh ada barang bukti sedikit pun. Oleh karena itu Clark segera memasukkan dua baris kode program di komputer sehingga semua file hancur tak tersisa. Dengan begitu tidak akan ada seorang pun yang dapat mengetahui informasi apa pun jika komputer itu jatuh ke tangan orang lain.


Mau tidak mau Clark mengakui kemampuan Garry dalam mencari informasi. Pemuda yang terlihat semaunya dan susah diatur itu ternyata benar-benar pintar. Tidak salah Andrew mengandalkannya. Dibandingkan dengan tim kecil yang berkerja di bawah perintah Andrew, kemampuan Garry 1000 kali lipat lebih unggul. Hanya bermodalkan foto dari kamera CCTV yang buram dan wajah yang tidak terlihat sama sekali, dia bisa menemukan seluruh orang-orang yang saling terlibat. Benar-benar luar biasa.


Clark mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dan mulai berpikir dengan serius. Setelah mendapat semua informasi tadi, ia kini mengerti ... setidaknya sekarang ia jadi paham mengapa semua ini terlihat begitu kacau.


“Benar-benar kacau ....”


“Apa yang kacau?”


“A-apa? Bagaimana kamu datang? K-kapan kamu masuk?” tanya Clark dengan tergagap-gagap saat melihat Jovanka sudah berdiri di hadapannya. Pria itu terlihat cukup terkejut dan sedikit cemas. Ia menekan tombol keypad sehingga layar monitor tiba-tiba menjadi gelap.


“Kenapa begitu gugup? Aku hanya mampir untuk memeriksa keadaanmu,” jawab Jovanka sambil tersenyum dan menatap Clark dalam-dalam.


“A-aku ....”


Tangan Clark bergerak dengan kaku, hendak menutup notebook dan menyingkirkannya. Akan tetapi, Jovanka bergeser lebih cepat, tanpa aba-aba meraih komputer di hadapan Clark dan menekan tombol enter. Mulut Clark terbuka lebar seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya.


“Kamu?!” seru Jovanka seraya memelototi Clark. Matanya yang biru terang terlihat hampir keluar dari rongganya, sementara kulit wajahnya yang putih memerah sampai ke daun telinga, mungkin karena menahan emosi yang siap meledak kapan saja.


“Ma-maaf,” gumam pria itu lagi ketika tangannya tidak sengaja memegang pergelangan tangan Jovanka.


Dari layar notebook terdengar suara desahan dan rintihan yang campur aduk antara pria dan wanita yang sedang bergelut tanpa busana. Suara-suara terdengar cukup keras dan menggema dalam ruangan, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa kesal sekaligus malu.


Meskipun sudah terbiasa melakukannya dengan rpia yang ia sukai, Jovanka sama sekali tidak siap menyaksikan salah satu anak buahnya menonton hal-hal intim seperti itu, apalagi di ruang tamu. Di siang hari seperti ini. Apakah pria itu sudah gila? Apakah dia tidak bisa menahan benda yang ada di antara pahanya itu?


Tanpa sadar Jovanka melirik ke arah sana dan bergidik dengan jijik. Ia menggertakkan gigi dan kembali memelototi Clark. Setelah pulih dari rasa terkejutnya, wanita itu memukul permukaan meja dengan cukup keras sambil berseru, “Apa yang kamu lakukan? Hal-hal tidak berguna seperti itu—“


“Bukan tidak berguna, Miss. Setiap pria membutuhkan pelampiasan. Anda tahu itu, saya hanya membutuhkan alat untuk menyalurkan ... Anda tahu maksud saya,” jawab Clark seraya menggosok-gosok ujung hidungnya, “Anda sendiri yang menekan tombol enter sehingga filmnya kembali berputar. Kalau Anda tidak melakukan hal tadi, ini juga tidak akan terjadi.”


“Cukup!” sela Jovanka seraya mengangkat kedua tangannya di udara, “Di mana Andrew? Apakah dia belum menghubungimu?”


“Tidak tahu,” jawab Clark tanpa berpikir dua kali, “Mungkin bedebah tolol itu sudah mati dimakan binatang buas.”


“Binatang buas apanya? Ini Tokyo, bukan hutan amazon!” cetus Jovanka sambil memutar bola matanya dengan kesal.


Wanita itu sudah mengamati gerak-gerik Clark selama beberapa hari terakhir. Ia sengaja menyewa apartemen di seberang jalan agar dapat mengintip melalui teropong. Oleh karena itu ia langsung bergegas ke sini ketika melihat Clark mengutak-atik notebook-nya. Siapa tahu pria itu malah sedang menonton film dewasa! Sialan!


“Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi di masa depan!” ancam Jovanka sebelum berderap meninggalkan ruangan itu.


Ia bahkan tidak mau repot-repot mendengarkan penjelasan Clark yang tidak masuk akal. Suara pria itu yang menyebalkan masih terdengar meski ia telah mencapai pagar. Ia membanting pintu kuat-kuat sebelum berjalan agak jauh dan memutar kembali ke apartemennya.


Clark sendiri menyeringai samar setelah punggung Jovanka menghilang di balik pintu. Pria itu terlalu larut dalam pemikirannya sehingga benar-benar tidak menyadari kehadiran Jovanka yang tiba-tiba tadi. Meski file-file penting itu sudah ia hapus, tetap saja jantungnya berdentam-dentam. Untunglah Garry juga sudah membantunya mengatur tampilan komputernya jika terjadi hal-hal yang tidak terduga seperti ini.


Sikap Clark yang terlihat bodoh dan kekanakan mendadak hilang, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan licik. Ia sudah menduga mungkin telah dimata-matai oleh Jovanka, tapi tetap bersikap tidak tahu apa-apa agar tidak dicurigai. Kedatangan Jovanka kali ini memastikan dugaannya itu.


“Huh. Ingin bermain petak umpet denganku? Kita lihat saja, siapa yang menang ...,” gumam pria itu sebelum menutup pintu rapat-rapat dan berjalan masuk ke dalam kamar.


***